Tag Archives: teori sosial

Pemikiran Pierre Bourdieu Dalam Memahami Realitas Sosial

me n haryatmoko - BourdieuBerikut, adalah percikan pemikiran Bourdieu, sebagai pengantar memahami realitas sosial. Sebagai tulisan pengantar, tulisan ini memperkenalkan gagasan dasar pemikiran Bourdieu dalam memahami bagaimana individu berelasi sehingga membentuk “praktik”. Bagaimana ‘praktik’ tersebut terjadi dan apa saja yang “terlibat” dalam ‘praktik’ itu, dan bagaimana relasi habitus, arena, kapital, praktik dan kuasa dalam pandangan Bourdieu.

Pierre Bourdieu, adalah salah satu teoretisi terkemuka yang pemikirannya digunakan dalam cultural studies. Pemikiran Bourdieu banyak dipengaruhi oleh Aristoteles, Thomas Aquinas, Hegel, Marx, Durkheim, Max Weber, Picasso, Franz Fanon, Jean Paul Sartre, Husserl, Ferdinand de Saussure, Levi Strauss, Wittgenstein, Martin Heidegger, Michel Foucault, dll. Bourdieu meramu pemikiran beberapa pemikir tersebut menjadi bentuk pemikiran baru yang menekankan peran aktor atau subjektivitas yakni yang dikenal dengan metode strukturalisme – konstruktif[1]. Bourdieu dikenal dengan pengembangan kajian sosiologi kultural dan sosiologi reflektif atau metasosiologi.

WP_20161114_105Inti teori sosiologi kultural Bourdieu adalah “teori tentang praktik manusia” yang memadukan teori yang berpusat pada agen atau aktor (agent centred) dengan penjelasan objektivisme yang menekankan dimensi struktur dalam  membentuk kehidupan sosial[2].

Dasar pembentukan teorinya tak lepas dari pengalaman Bourdieu sendiri yang kemudian mempengaruhi bangunan  teorinya dalam karya-karyanya, yakni pengalamannya selama di Aljiers, Aljazair yang melakukan penelitian di masyarakat Aljiers sambil menjadi asisten dosen, setelah ia lulus dari sekolah filsafat terkemuka di Paris, Prancis, yakni Lycèe Louis le Griand dan Ècole Normale Supèrieure pada tahun 1951. Selama di perguruan tinggi kedua ini, Bourdieu bertemu dan berkenalan dengan Michel Foucault, Jacques Derrida dan Emmanuel Le Roy Ladurie[3]. Pengalaman pribadi dalam keluarga juga membentuk habitus Bourdieu dan juga mempengaruhi karyanya. Terlahir dengan nama Pierre Fèlix Bourdieu (1930 – 2002), di sebuah desa kecil yang bernama Denguin, di wilayah Béarn, Pyrénées, Perancis pada 1 Agustus 1930.  Ia berasal dari keluarga biasa dan besar di lingkungan kelas menengah ke bawah, dan kemudian berhasil menembus perguruan tinggi elit dengan lingkungan bergaya borjuis. Perubahan habitus dan arena yang menyolok ini juga mempengaruhi karyanya yang kemudian membawanya menjadi seorang sosiolog kultural, etnolog, antropolog dan filsuf yang diperhitungkan[4].

WP_20150827_014Teori yang dikembangkan Bourdieu berorientasi pada hubungan dialektik antara struktur objektif dan fenomena subjektif dalam melihat realitas sosial, yang disebut strukturalisme konstruktif, atau konstruktivis strukturalisme (constructivist structuralism), atau Bourdieu menyebutnya “strukturalisme genetis”, yaitu pemaduan analisis struktur objektif dengan asal – usul  mental individual, yang menurut Bourdieu, tidak dapat dipisahkan dari analisis asal-usul struktur sosial itu sendiri. Tampak bahwa Bourdieu mengambil sebagian perspektif strukturalisme dan melihat “struktur objektif sebagai bebas dari kesadaran dan kemauan agen, yang mampu membimbing dan mengendalikan praktik mereka atau representasi mereka” [5]. Struktur subjektif Bourdieu tampak pada dinamika aktor, yang menurutnya mampu berimprovisasi secara teratur, meski dihasilkan tanpa sengaja. Ritzer, mengutip Jenkins, menunjukkan kelemahan teori Bourdieu adalah pada ketidakmampuannya mengatasi subjektivitas. Namun Bourdieu menjembatani subjektivisme dan objektivisme sebagai inti karyanya, yakni terletak pada habitus dan lingkungan, dan hubungan dialektika antara keduanya.

20131124_095906Sederhananya, Bourdieu memahami realitas sosial sebagai relasi dialektika antara individu (agen, struktur subjektif) dengan struktur objektif yakni struktur itu sendiri. relasi dialektika ini melibatkan unsur-unsur subjektif seperti mental individual, struktur pengalaman individual, sruktur kognitif, dsb yang berdialektika dengan struktur objektif. Dialektika ini menghasilkan “praktik”. Dan dalam relasi dialektika ini, Bourdieu memunculkan konsep-konsep untuk menjelaskan “struktur subjektif” dan “objektif” tersebut yakni yang disebutnya sebagai “habitus” dan arena (ranah, field). Habitus mengacu pada “apa yang ada dan dimiliki oleh agen (individu). Pertemuan habitus dalam arena memunculkan modal (kapital), yang dapat merupakan kapital sosial, ekonomi, kultural dan simbolik. Habitus, arena, kapital menghasilkan apa yang disebut Bourdieu sebagai kuasa simbolik. Berikut penjelasan dan relasi di antara habitus, arena, kapital dan kuasa.

Habitus ada di dalam pikiran aktor, lingkungan (field, arena) berada di luar pikiran mereka[6]. Dialektika atau penetrasi timbal balik antara struktur objektif dan subjektif atau antara struktur dan keagenan, merupakan upaya untuk keluar dari kebuntuan struktur dan agensi, oleh Bourdieu disebut ‘praktik’[7]. Praktik, menurut Bourdieu terjadi antara individu atau kelompok sosial, dalam proses internalisasi eksternalitas dan eksternalisasi internalitas, yang mana praktik ini harus dianalisis sebagai hasil interaksi habitus dan ranah (arena)[8].

WP_20150827_020Habitus, adalah struktur kognitif yang memperantarai individu dan realitas sosial. Individu menggunakan habitus dalam berurusan dengan realitas sosial. Habitus merupakan struktur subjektif yang terbentuk dari pengalaman  individu berhubungan dengan individu lain dalam jaringan struktur objektif yang ada dalam ruang sosial. Struktur kognitif memberi kerangka tindakan kepada individu dalam hidup keseharian bersama orang-orang lain. Habitus merupakan hasil pembelajaran lewat pengasuhan, aktivitas bermain, dan juga pendidikan masyarakat dalam arti luas. Dalam interaksi dengan orang lain atau pihak luar ini, terbentuklah ranah (arena), yang merupakan jaringan relasi posisi-posisi objektif[9]. Habitus juga  mencakup pengetahuan dan pemahaman seseorang tentang dunia, yang memberikan kontribusi tersendiri pada realita dunia itu. Oleh karenanya, pengetahuan memiliki kekuasaan konstitutif atau kemampuan menciptakan bentuk realitas dunia[10]. Richard Shusterman mencatat bahwa habitus meliputi keseluruhan relasi sosial dan makna:

The  habitus  acts through  its bodily incorporation of social relationships and meanings (i.e.  those  involving  reference  to  others)  but  without  needing  to articulate them  in terms of explicit  rules or reasons[11].

(habitus muncul dalam keseluruhan relasi-relasi sosial dan makna, misalnya dalam keterlibatan interaksi dengan orang lain, akan tetapi terjadi tanpa artikulasi eksplisit).

 

Hubungan habitus dengan arena, Shusterman menyatakan bahwa keduanya memiliki jalinan makna yang saling bertautan. Berikut pernyataannya:

K1Bourdieu’s theory of the dynamics of habitus (not a rigidly  fixed  or mechanical  habit) and  of  field  (not  a  stationary  space  but  a  dynamic  field  constituted by  struggles over changing  positions) demonstrates  that social structures and identities must be understood not as static, typological, and hard-edged categories but rather as dynamic formations of organized diachronic complexity, poised between stability and change, whose edges arc best construed (in terms of non-linear dynamics) as fuzzy, shifting  fractal basin  boundaries between complex attractors with relatively hard cores (ibid., 18).

(Teori Bourdieu tentang dinamika habitus dan arena, bukan ruang hampa tetapi sebuah ranah, arena, yang terkonstitusi oleh perjuangan untuk mendapatkan posisi-posisi, mendemonstrasikan bahwa struktur sosial dan identitas harus dipahami tidak secara statis, tipologik, menurut ketentuan kategoristik yang kaku, tetapi harus dipahami sebagai formasi yang dinamis dari kompleksitas diakronik yang terorganisasi, berada seimbang diantara stabilitas dan perubahan, dengan masing-masing sisi yang ditafsirkan sebagai sesuatu yang kabur, menggeser tepian batas antara kemenarikan yang kompleks dengan ketegaran relatif).

 

Bourdieu juga menyatakan bahwa habitus secara erat berhubungan dengan modal (kapital), karena sebagian habitus tersebut berperan sebagai pengganda berbagai jenis modal yakni modal ekonomi, modal sosial, modal budaya dan modal simbolik. Dan pada kenyataannya, ia menciptakan modal simbolik. Modal dipandang Bourdieu sebagai basis dominasi dan legitimit. Modal simbolik merupakan modal yang dapat ditukar dan membawa posisi yang dapat memunculkan kekuasaan, yakni kekuasaan untuk merepresentasikan dunia sosial yang legitimit atau kekuasaan simbolik[12]. Fauzi Fashri juga mencatat, mereka yang menguasai keempat modal tersebut dalam jumlah yang besar akan memperoleh kekuasaan yang besar pula. Dengan demikian, modal harus ada dalam sebuah ranah (arena) agar ranah memiliki daya-daya yang memberikan arti. Karakteristik modal dihubungkan dengan skema habitus sebagai pedoman tindakan dan klasifikasi dan ranah (arena) selaku tempat beroperasinya modal[13]. Bourdieu juga meyakini bahwa kekuasaan bersifat tidak sederhana, dan sistemik atau bukan merupakan perkara personal, sebagaimana ditulis Craig Calhoun.

diskusi politik1Kuasa simbolik Bourdieu hadir dalam arena dari relasi dialektiknya dengan habitus dan modal (kapital), terutama kapital simbolik. Seseorang yang menguasai kapital dengan habitus yang memadai akan menguasai arena dan memenangkan pertarungan sosial karena di dalam arena selalu terjadi pertarungan sosial[14].

Sekian dulu perkenalan dengan Bourdieu ini, nanti kita lanjutkan dengan diskusi bagaimana habitus membentuk kapital dalam arena, juga kuasa. Dan bagaimana kuasa simbolik berlangsung dalam praktik sosial. Selanjutnya kita kembangkan diskusi kita dengan mengelaborasi praktik sosial, modal simbolik dan kekuasaan simbolik, seperti:

1. Praktik sosial seperti apa sajakah yang dapat didekati dengan teori Bourdieu ini?

2. Bagaimanakah kuasa simbolik bekerja pada suatu arena atau ranah?

3. Benarkah setiap relasi sosial selalu terjadi pertarungan sosial?

4. Bagaimana pertarungan sosial terjadi dan bagaimana peran serta posisi habitus dan kapital dalam arena pertarungan sosial tersebut? Benarkah ini semua adalah “praktik sosial”?

5. Dalam bidang politik, bagaimanakah habitus, kapital dan arena dapat menjelaskan relasi partai politik, pemilih, pemilihan umum? Dan bagaimana menjelaskan relasi pemerintah dan masyarakat?

6. Adakah kekuasaan simbolik yang beroperasi di arena yang melibatkan partai politik, pemerintah dan masyarakat?

Dan masih banyak elaborasi permasalahan sosial, budaya dan politik yang berjalin berkelindan dalam kehidupan sosial kita. Akan kita bahas satu per satu.. dan akan kita kembangkan untuk menganalisis berbagai persoalan sosial dan politik 🙂

Untuk mengelaborasi permasalahan sosial untuk memperoleh penjelasan yang benar-benar mencerminkan kondisi masyarakat, dengan sendirinya teori sosial memerlukan metode untuk mengoperasionalkan ‘pencarian’ dan ‘pencarian kebenaran’ hingga menghasilkan penjelasan ilmiah. Penggunaan teori Bourdieu sangat baik jika dioperasionalkan dalam aktivitas ‘pencarian kebenaran’ (baca: penelitian) dengan menggunakan metode etnografi, seperti yang Bourdieu lakukan di Aljiers, Aljazair hingga ia merumuskan teori habitus-nya itu.

Semua akan yang saya tulis dalam artikel-artikel berikutnya.

 

 

 


Referensi:


Fashri, Fauzi. Pierre Bourdieu: Menyingkap Kuasa Simbol. Yogyakarta: Jalasutra, 2014.

Grenfell, Michael. Ed. Pierre Bourdieu: Key Concepts. North Yorkshire, UK: Acumen Publishing Limited, 2010.

Ritzer, George Teori Sosiologi Modern. Edisi Ketujuh. Terj. Triwibowo BS, Jakarta: Kencana, 2014.

Shusterman, Richard. Bourdieu: A Critical Reader. Massachusetts, USA: Blacwell Publishers Inc., 2000.

Bekerja Dengan Hati n Pikiran Positif - FULL

 

Teori Kritis

Artikel Pendahuluan:

Kritik Atas Teori Modernitas

Teori Modernitas

Memahami Realitas Sosial

TEORI KRITIS:

Jembatan Emas Menuju Pemahaman Realitas Sosial Kontemporer

 

Diberi judul seperti di atas karena kontribusi besar Teori Kritis pada kritik atas pemikiran deterministik pada teori Marxis (determinisme ekonomi) dalam memahami realitas sosial yang cenderung positivistik yang memandang realitas sosial berjalan sebagai proses alamiah, gejala sosial ditimbulkan oleh gejala sosial yang lain secara searah. Padahal pemahaman terhadap realitas sosial tidak dapat dilakukan secara deterministik tunggal (ekonomi) saja; dan seperti dikatakan Ritzer, berparadigma ganda. Teori Kritis –dengan pemikiran dialektikanya-, berupaya membongkar tradisi pemikiran deterministik dan meletakkan dasar pemikiran revolusioner pada pemikiran-pemikiran baru, untuk lebih mampu memahami realitas sosial kontemporer (masa kini) secara lebih akurat. (WK).

 

Teori Kritis, adalah produk sekelompok pemikir neo-Marxis Jerman (didirikan di Frankfurt, karenanya disebut aliran atau mazhab Frankfurt) yang tidak puas terhadap teori Marxian. Mereka menentang determinisme ekonomi dalam teori Marx, yang dari padanya menjadi titik tolak  bagi kritik selanjutnya terhadap positivisme, kritik terhadap masyarakat modern yang disebutnya “didominasi oleh elemen kultural” dan mengalami “penindasan kultural atas individu”, dan kemudian, kritik terhadap kultur. Teori Kritis adalah sebuah gerakan. Yakni gerakan pemikiran baru, untuk menentang determinisme tunggal teori sosial Marxian tadi itu.

20131117_141253Kontribusi besar Teori Kritis adalah, pertama, analisis kebudayaan (fokus pada super-struktur kultural), yang berawal dari penggeseran orientasi pemikiran basis (struktur) ekonomi dari tradisi Marxian ke arah elemen subyektif dan kultural dari kehidupan sosial. Kedua, pendekatan dialektika, yang ditandai dengan pemikiran mengenai “umpan balik” dan interaksi timbal balik secara terus-menerus antara berbagai sektor masyarakat. Pemikiran dialektika ini berfokus pada “totalitas sosial”, dengan argumen bahwa kehidupan sosial tidak memiliki aspek parsial, dan tidak ada fenomena yang terisolasi, sehingga pemahaman terhadapnya harus dikaitkan dengan sejarah secara keseluruhan.

Teori Kritis menentang Teori Marx, yakni terhadap pemikiran determinisme ekonomi Marx yang dianggapnya mekanistis dan kurang lengkap. Menurut Teori Kritis, pemusatan perhatian pada determinan ekonomi seharusnya memperhatikan “kehidupan sosial yang lain” untuk dapat memberikan penjelasan yang lebih akurat pada realitas sosial. Penentangan tersebut dilandasi pula karena teori Marxian terpengaruh pemikiran positivisme yang cenderung melihat kehidupan sosial sebagai proses alamiah, terjadi secara mekanis, satu variabel (sosial) mempengaruhi variabel lain. Variabel ekonomi mempengaruhi seluruh aspek sosial yang lain. Aliran Kritis ini berpendapat bahwa realitas sosial tidak hanya dipahami melalui determinisme ekonomi saja, tetapi melibatkan elemen-elemen lain dalam kehidupan sosial.

20140115_084242Hal yang paling ditentang oleh Teori Kritis di sini adalah karena positivisme dianggap mengabaikan (peran) aktor (subyek). Atas dasar ini pula teori Kritis juga melakukan kritik terhadap sosiologi karena “keilmiahan” sosiologi sehingga bercorak positivistik. Juga, sosiologi yang terlalu memperhatikan masyarakat sebagai satu kesatuan daripada (interaksi) individu dalam masyarakat, menjadi  sasaran kritik pula dari Teori Kritis yang lebih menyukai aktivitas manusia sebagai fokus. Karenanya, Teori Kritis sebagian besar adalah kritik terhadap aspek kehidupan sosial dan intelektual yang menjadi dasar bagi struktur kebudayaan. Tujuan utamanya adalah mengungkapkan sifat masyarakat secara lebih akurat. Kelahiran Teori Kritis ini secara tidak langsung adalah atas “jasa” seorang pengikut Marx yang menentang teori Marx, yakni Georg Lukacs, yang membongkar ajaran Marx dengan memunculkan konsep “reifikasi” dan “kesadaran kelas”.  Konsep reifikasi Lukacs merujuk pada pengertian bahwa komoditas yang diciptakan manusia (konsepsi Marx) kemudian “menjadi hidup” dan berbalik menguasai manusia.

1337076134595Aliran Kritis ini percaya bahwa sistem kebudayaan itu bertumpu pada aktor (subyek, manusia). Akan tetapi, manusia tidak lagi berada pada struktur kebudayaannya karena kebudayaan telah mengalami pengorganisasian dan mengalami konstruksi dan terstruktur secara ekonomi dan berbalik menguasai manusia yang menciptakannya (sejalan dengan konsep reifikasi Lukacs). Inilah yang dicemaskan oleh para teoretikus Kritis. Subyek manusia menjadi terancam oleh struktur kebudayaan yang diciptakannya sendiri! Inilah yang terdapat pada masyarakat modern sekarang ini. Masyarakat modern ditandai dengan adanya dominasi oleh elemen kultural (yang tadinya elemen ekonomi, pada teori Marxian yang ditentangnya) atau “penindasan kultural atas individu dalam masyarakat”. Penindasan kultural atas individu ini terjadi pada elemen-elemen kehidupan sosial yang menjangkau relung-relung sosial hingga ke wilayah gaya hidup, pemikiran, penggunaan alat-alat dan apa yang disebut “(produk) teknologi modern”. Menurut pandangan teori Kritis, penindasan kultural dalam masyarakat modern (menggantikan dominasi ekonomi) dihasilkan oleh rasionalitas. Kemudian, dominasi dan penindasan kultural menghasilkan irasionalitas; sehingga muncullah “irrasionalitas di dalam rasionalitas” (ciri masyarakat modern!). Inilah yang menjadi perhatian Teori Kritis pada konteks analisis kebudayaan masyarakat modern, dengan elemen “rasionalitas dan teknologi modern”, yang berperan penting sebagai “metode pengendalian eksternal” terhadap individu! Teknologi modern (produk kebudayaan) telah menguasai rakyat!  Ia tampak “netral” ketika diciptakan tetapi kemudian ia menjelma menjadialat bantu efektif penindas individu! Seperti yang diyakini oleh Herbert Marcuse (salah seorang tokoh Teori Kritis, selain Max Horkheimer dan Theodore Adorno) bahwa teknologi tidaklah netral. Ia sebenarnya memperbudak, dan membantu menindas manusia! Kebebasan batin aktor (individu) dilanggar dan dikurangi oleh teknologi modern, sehingga memunculkan apa yang disebut Marcuse sebagai “masyarakat berdimensi tunggal”, yakni ketika individu telah kehilangan kontrol atas pikiran kritis dan masyarakatnya. Di sinilah munculnya apa yang disebut (dan dikritik keras) oleh para teoretisi Kritis sebagai “industri kultur”, yang bisa dibentuk, diatur, dimaterialkan, distrukturkan, dikonstruksikan, didefinisikan. Pelaku pengendali dari “sistem kultural baru” ini bisa jadi adalah elit baik individual maupun korporasi, menggunakan instrumen “produk kebudayaan” juga seperti media massa, berpadu dengan kekuatan kultural, sosial, politik dan ekonomi. Di titik inilah yang dikawatirkan dan dikritik keras oleh teoretisi Kritis sebagai “kultur yang diatur, tak spontan, dan palsu”, atau yang dikenal dengan “kultur massal” atau pop culture.

IMG_1685Kontribusi besar kedua dari Teori Kritis setelah analisis budaya, adalah pendekatan dialektika, yaitu pemikiran yang bertumpu pada interelasi berbagai level realitas sosial (kesadaran individu, superstruktur kultural, struktur ekonomi) yang berjalan secara timbal balik. Dialektika adalah rumusan metodologis untuk memahami realitas sosial, yang melibatkan elemen pengetahuan dan kepentingan, seperti yang dikembangkan oleh Jurgen Habermas. Namun, Teori Kritis gagal untuk mengintegrasikan teori dan praktik, karena ia sejak kelahirannya terdorong oleh kritik atas keterbatasan teori sebelumnya (Marxian), dan dianggap ahistori serta sempat disebut oleh Greisman sebagai “paradigma yang gagal”. Akan tetapi, Teori Kritis telah berjasa besar dalam pembongkaran pemikiran determinis dalam tradisi Marxian yang tidak relevan dengan konteks kekinian. Teori Kritis (terutama pelestarian pemikiran dialektika warisan Marx-Hegel) juga menjadi landasan pacu bagi pertumbuhan pemikiran kritis selanjutnya dalam pemahaman realitas sosial kontemporer yang tidak linier, kompleks, penuh kejutan dan full variasi.***

 

Wah.. jika Theodore Adorno ngobrol kayak gini sama Max Horkheimer….. 😀

Kritik Atas Teori Modernitas

 

KRITIK ATAS TEORI MODERNITAS

 

Setelah kemunculan Teori Modernitas yang berusaha menjelaskan realitas sosial dunia modern, kemudian diketahui terdapat beberapa “kekurang-cocokan” teori modernitas. Artikel ini juga menjelaskan realitas sosial dunia modern secara kritis.

Teori Modernitas, yang menjelaskan fenomena modernitas (dunia modern) yaitu suatu kondisi sosial yang bercirikan efisiensi, kecepatan, rasionalitas formal, praktis, cepat, instan, terstandard, serba uang, keterasingan pengalaman dan akhirnya (menjadi) tidak rasional yang terbalut rasionalitas.

 

Fenomena modernitas yang menawarkan aneka kemudahan, kecepatan, fasilitas, kenyamanan, kenikmatan hidup sejatinya menyisakan beberapa persoalan yang mengancam sosialitas dan eksistensi humanitas manusia: (1) grand narrative yang “mendesain” kehidupan sosial dan peradaban dunia dalam satu skenario tunggal-seragam yang mendominasi sehingga memunculkan (2) dominasi struktural budaya (dengan kesadaran palsu-nya) dan melahirkan (4) dunia berdimensi tunggal. Sedangkan ancaman ke-5, adalah apa yang saya namakan ”silence world” (dunia senyap) akibat pengaruh teknologi informasi yang berakhir pada alienasi (keterasingan), together but alone (kesepian dalam keramaian).

 

Tulisan singkat ini memberikan kritik atas Teori Modernitas yang didasarkan atas beberapa kelemahan karakteristikal fenomena modernitas tersebut.

 

Pendahuluan: Review Teori Modernitas

 

bareng Jember, Lumajang n PapuaTeori tentang modernitas adalah teori-teori sosial yang memberi penjelasan dan interpretasi umum tentang kekuatan-kekuatan sosial yang telah membentuk dunia modern, yakni pemikiran modern untuk memahami “dunia modern” yang berisi totalitas kekuatan-kekuatan yang bekerja dalam membentuk masyarakat modern[1]. Pemikiran ini tak lepas dari hakikat ilmu yang melekat dengan pembahasan terhadap konteks sosial dan gambaran “dunia modern”. Modernitas (modernity), atau “kemodernan”, atau merujuk pada kehidupan masyarakat modern, yaitu suatu masyarakat dengan keadaan sosial yang telah mengalami perubahan dan telah berbeda dari keadaan masyarakat sebelumnya yakni pada abad pertengahan. Modernitas ini muncul terdorong oleh perubahan pemikiran di bidang ilmu pengetahuan (revolusi ilmu pengetahuan), perubahan di bidang tata kelola ekonomi (revolusi industri Inggris) dan tata kelola sosial (revolusi Prancis). Perubahan-perubahan tersebut membawa konsekuensi kelahiran elemen-elemen modernitas: sains, teknologi, demokrasi dan kapitalisme[2]. Kondisi keberbedaan (dari masyarakat sebelumnya/ “pra-modern”) yang melambari pemahaman ‘modernitas; ini juga diberikan oleh Outhwaite yang menyebut ‘modernitas’ sebagai “konsep yang bertentangan”. Dikatakannya, modernitas ini mengambil makna dari hal-hal yang ditolaknya dan dari hal-hal yang didukungnya[3]. Pengertian ini mengisyaratkan adanya perubahan kontinyu pada masyarakat, yaitu perubahan dari masyarakat tradisional, kemudian “berevolusi” menjadi masyarakat industri dengan adanya revolusi industri yang segera dibarengi kemunculan masyarakat ekonomi kapitalis dalam konsepsi Marx. Dengan mengumpulkan gagasan-gagasan modernitas dari Marx, Weber, Durkheim dan Simmel, dan dipadukan dengan pemikiran Outhwaite dan Donny Gahral Adian di atas, modernitas dapat diartikan suatu kondisi sosial yang telah berubah dan bertentangan dari kondisi sebelumnya dan perubahan itu ditentukan oleh ekonomi kapitalis (Marx), rasionalitas formal (Weber), solidaritas organik dan pelemahan kesadaran kolektif (Durkheim) serta dipenuhi oleh iklim ekslorasi potensi, besarnya pengaruh uang beserta akibat ikutannya terutama alienasi (Simmel).[4] Kondisi akumulatif yang seperti ini telah menjadikan masyarakatnya mengutamakan efisiensi, yang bermakna “cara terbaik untuk mencapai tujuan” dan itu berarti: cepat, praktis, tak jarang juga instan.

 

IMG_7109.jpgDan ketika konteks sosialnya adalah “masyarakat modern”, maka teori sosial  yang relevan adalah “teori (sosial) tentang modernitas. Teori-teori tentang modernitas bersumber dari karya pemikir sosiologi dari klasik hingga modern seperti Marx, Weber, Durkheim, Simmel, Giddens, Beck, Baumans, Habermas dan Castells. Modernitas, menurut Marx ditentukan oleh ekonomi kapitalis, sedangkan menurut Weber, rasionalitas formal. Adapun Durkheim, solidaritas organik dan pelemahan kesadaran kolektif. Sementara itu, Simmel memandang modernitas memberikan keuntungan karena memungkinkan untuk mengeksplorasi berbagai potensi dan kemampuan instrinsik manusia. Simmel juga mengajukan pemikiran tentang pengaruh uang beserta akibat ikutannya (terutama alienasi) dalam modernitas. Anthony Giddens, menggambarkan modernitas (kehidupan modern) laksana sebuah panser raksasa (disebut “juggernaut”) yang terlepas dan tak terkendalikan lagi, untuk menggilas kehidupan manusia, sehingga menghasilkan “dunia yang tak terkendali” juga (runaway world). Gagasan ini sejalan dengan teori Strukturasi Giddens, yakni tentang ruang dan waktu dan juggernaut ini melebihi kekuasaan agent dalam mempengaruhi struktur.[5]. Giddens  mendefinisikan modernitas dilihat dari empat institusi mendasar yaitu: kapitalisme, industrialisme, kemampuan mengawasi (surveillance capacities), dan pengendalian atas alat-alat kekerasan, dengan memusatkan kajian pada negara-bangsa (nation-state). Dinamisme modernitas dari teori strukturasi Giddens, melalui tiga aspek: distanciation (pemisahan ruang dan waktu), disembedding (keterlepasan), dan reflexivity (refleksivitas). Ketiga aspek ini yang kemudian menyeret “manusia modern” menuju “keterasingan pengalaman” (sequestration of experience) yaitu suatu proses yang berkait dengan penyembunyian yang memisahkan rutinitas kehidupan sehari-hari dari fenomena-fenomena seperti kegilaan, kriminalitas, penyakit, kematian dan seksualitas. Keterasingan pengalaman ini sebagai akibat dari meningkatnya peran sistem abstrak dalam kehidupan sehari-hari.[6]

 

20130723_225035Sementara itu, Beck, mengusung gagasan tentang “masyarakat berisiko”, yakni “masyarakat baru” yang terlahir dari pelarutan masyarakat industri, atau yang disebut masyarakat dengan “tipe modernitas lain” (modernitas refleksif, reflexive modernity).[7]. Zygmunt Bauman,  mengajukan gagasan bahwa modern rasionalitas formal adalah holocaust atau pembunuhan massal (seperti pada zaman Nazi Hitler terhadap Yahudi) yakni “pembunuhan massal” melalui birokrasi rasional-modern (meminjam rasionalitas Weber) dan menggunakan kekuasaan. Ciri-ciri rasionalisasi yang sesuai dengan holocaust adalah irrasionalitas dari rasionalitas dan dehumanisasi[8]. Habermas, menyatakan bahwa modernitas sebagai “proyek yang belum selesai”.  Dan, Castells, berkontribusi dengan pemikirannya tentang informasionalisme dan masyarakat jaringan sebagai akibat dari revolusi teknologi informasi yang kemudian melahirkan “kultur virtual”, kultur virtualitas riil dan kapitalisme informasional. Castells menyebut bahwa di titik ini negara semakin tak berdaya dan tergantung pasar kapital global.[9]

 

Kritik Atas Teori Modernitas: Ancaman Terhadap Sosialitas dan Humanitas

 

 

IMG_0078Kritik atas teori modernitas, saya mengadopsi pemikiran F. Budi Hardiman sebagai pembuka jalan, yakni gagasannya tentang corak-corak kesadaran yang terungkap dari studi tentang manusia modern, yang menurutnya lebih merupakan proses daripada esensi yang dialami dalam kesadaran manusia tersebut yakni individuasi, distansi, progress, rasionalisasi, dan sekularisasi.[10]. Proses-proses tersebut memberi pencerahan  akan makna konteks kehidupan modern yang melibatkan individuasi (pengindividuan) sebagai antitesis “grand narrative” yang mendominasi masyarakat modern. Distansi individu baik antar individu maupun dalam konteks sosial dalam progress, rasionalisasi dan sekularisasi memunculkan beberapa pemahaman kritis akan adanya ancaman humanitas dan sosialitas kehidupan dan peradaban manusia. Yaitu: grand narrative (beserta fenomena juggernaut) versus little winner,  dominasi struktural budaya (beserta kesadaran palsu-nya), dunia berdimensi tunggal, dan apa yang saya namakan ”silence world” (dunia senyap).

 

Grand Narrative versus Little Winner

 

wkklom1Modernitas, mengasumsikan masyarakat modern dan perubahannya, yakni yang meliputi perilaku, sosial, politik, seksualitas, dan segenap skenario perkembangannya, didasarkan atas sebuah narasi besar (grand narratives) yakni suatu konstruks dunia yang meliputi kriteria kebenaran dan validasi ilmu pengetahuan tentang dunia modern, bahwa masyarakat (dan dunia) modern tunduk pada “aturan grand narasi” ini. Yaitu, dunia yang terstruktur, terdominasi oleh arus besar (struktur) piranti-piranti modernitas: efektif-rasional (Weber), cepat-instant yang menyerbu perilaku manusia, perikehidupan sosial, politik bahkan seksualitas. Grand naratives ini dalam dunia modern digambarkan oleh Giddens sebagai juggernaut yang melindas kehidupan manusia.

 

Fenomena ketakberdayaan subjek manusia dalam skenario grand narratives  ini mengisyaratkan dengan jelas, ketertundukan subjek atas struktur yang menghegemoni. Padahal realitas sosial senantiasa mengenal peran-peran subjek (aktor, individu) yang bersumber dari “kecerdasan budaya”, local wisdom, local genius, dan praktik-praktik sosial ini tak jarang membawa solusi bagi masalah sosial masyarakat, dan ini layak untuk diakui sebagai sumber pengetahuan. Peran-peran kecil dan “praktik-cerdas” (little winner) dari praktik-praktik sosial ini bahkan menjadi the sacred wisdom yang tumbuh dari masyarakat. Secara sosiologi pengetahuan, praktik “little winner” ini mampu menjadi “rujukan kecil” (mini narratives) yang berguna bagi kehidupan sosial, tidak hanya “grand narratives”.

 

Dominasi Budaya dan Runaway World

 

Karakter masyarakat modern, menurut Outhwaite, adalah masyarakat industrial dan ilmiah, berdasarkan filsafat rasionalisme dan utilitarianisme. Ia menolak kultur masa lalu, kultur yang tidak bisa dipahami. Modernitas selalu menatap masa depan[11]. Pandangan  Outhwaite tentang modernitas (masyarakat modern) sejalan dengan konsep dasar masyarakat yang berkarakter dinamis, senantiasa berubah. Karakter serba cepat dan instan berpadu dengan serba rasional (rasionalis) dan berdaya-guna (utilitarianis) yang didukung oleh teknologi (termasuk teknologi informasi) sebagai fasilitas penting masyarakat modern,  telah “sempurna” menjadikan masyarakat modern ini tergilas oleh “aturan modernitasnya sendiri” yang digambarkan oleh Anthony Giddens sebagai juggernaut (panser raksasa)[12] yang menggilas apa-apa yang di depannya termasuk kesadaran humanisme manusia dalam masyarakat modern tersebut tanpa dapat dikendalikan lagi sehingga disebut dunia yang tak terkendali (runaway world)[13].

 

Dominasi budaya yang kemudian merembes ke ranah gaya hidup dan cara hidup manusia modern, telah benar-benar menunjukkan bahwa masyarakat modern ditandai dengan adanya dominasi oleh elemen kultural atau “penindasan kultural atas individu dalam masyarakat”. Penindasan ini terjadi pada elemen-elemen kehidupan sosial yang menjangkau relung-relung sosial hingga ke wilayah gaya hidup, pemikiran, penggunaan alat-alat dan apa yang disebut “(produk) teknologi modern”. Penindasan kultural dalam masyarakat modern dihasilkan oleh rasionalitas. Kemudian, dominasi dan penindasan kultural menghasilkan irasionalitas; sehingga muncullah “irrasionalitas di dalam rasionalitas” yang menjadi ciri masyarakat modern.

 

Dunia Berdimensi Tunggal

 

 

Elemen “rasionalitas dan teknologi modern”, yang sejatinya berisi ketidakrasionalan tadi, berperan penting sebagai suatu “metode pengendalian eksternal” terhadap individu manusia modern. Teknologi modern (produk kebudayaan) telah menguasai manusia!  Ia tampak “netral” ketika diciptakan tetapi kemudian ia menjelma menjadi “alat bantu efektif” penindas individu! Seperti yang diyakini oleh Herbert Marcuse bahwa teknologi tidaklah netral. Ia sebenarnya memperbudak, dan membantu menindas manusia! Kebebasan batin aktor (individu) dilanggar dan dikurangi oleh teknologi modern, sehingga memunculkan apa yang disebut Marcuse sebagai “masyarakat berdimensi tunggal”, yakni ketika individu telah kehilangan kontrol atas pikiran kritis dan masyarakatnya. Di sinilah munculnya apa yang disebut sebagai “industri kultur”, yang bisa dibentuk, diatur, dimaterialkan, distrukturkan, dikonstruksikan, didefinisikan. Pelaku pengendali dari “sistem kultural baru” ini bisa jadi adalah elit baik individual maupun korporasi, menggunakan instrumen “produk kebudayaan” juga seperti media massa berpadu dengan kekuatan kultural, sosial, politik dan ekonomi. Di titik inilah muncul “kultur yang diatur, tak spontan, dan palsu”, atau yang dikenal dengan “kultur massal” atau pop culture.

 

Dunia Senyap (Silence World)

 

FB_20141115_09_14_00_Saved_PictureIstilah “dunia senyap (silence world) ini bikinan saya sendiri, belum ada dalam literatur ilmu sosial. Modernitas, salah satunya menampilkan fenomena kehidupan sosial yang dipenuhi oleh penggunaan alat-alat teknologi informasi-komunikasi semacam komputer, laptop, internet, yang memungkinkan orang untuk berinteraksi dengan siapa saja di mana saja dan dari mana saja bahkan tanpa beranjak dari tempat tidurnya. Dan kemudian fungsi-fungsi ini diperkecil dalam bentuk perangkat jinjing-gerak (portable) berbentuk “hand-phone” (telepon genggam) dengan kemampuan jelajah internet (online) yang kemudian dikemas dalam teknologi android, blackberry, windows phone, iPad dsb, sehingga memungkinkan setiap orang untuk tetap  bergerak dan beraktivitas sosial selayaknya orang-orang “biasa” namun sesungguhnya mereka ini sedang “berinteraksi sosial” dengan “orang-orang nun jauh di sana”. Fenomena yang seringkali kita saksikan adalah anak-anak muda yang berkelompok dan sedang asyik memainkan gadget mereka. Walaupun mereka duduk berkelompok dan secara fisik berdekatan, namun sebenarnya mereka  tidak sedang berinteraksi dan bersosialisasi dalam kelompok itu, tetapi sedang berinteraksi dan bersosialisasi dengan orang-orang di tempat lain yang jauh jaraknya, tanpa ada batas wilayah dan bahkan negara. Mereka dekat, tetapi tidak saling interaksi. Dari habituasi semacam ini melahirkan “filosofi pergaulan modern” yang berbunyi “teknologi informasi itu mendekatkan yang jauh dan sekaligus menjauhkan yang dekat”. Dunia para “manusia modern” seperti ini adalah “dunia senyap” (noiseless world), dunia bisu. Penghuninya merasa sepi di tengah keramaian (together but alone).

 

Modernitas, yang juga bercirikan penggunaan teknologi informasi secara masif dan berbaur  dengan “irasionalitas dalam rasionalitas” manusia modern, sehingga menambah asupan ke arah masyarakat konsumtif, masyarakat cepat, instant, praktis, masyarakat virtual (online community), maka lahirlah insan-insan “selfish” dan tampak “cuek” karena selalu fokus pada dirinya sendiri, dan gadget-nya sendiri daripada kepada lingkungan sosialnya. Produk “tongsis” (tongkat narsis) yakni sebuah tongkat yang berfungsi memotret diri sendiri yang dilakukan sendiri, adalah bukti produk budaya selfish modernitas. Apalagi didukung dengan gadget yang memenuhi kebutuhan selfish ini: online, bercakap-diri (sehingga “sepi dalam keramaian”), memotret diri sendiri secara swalayan! Benar-benar sendiri, senyap, dan akhirnya terasing dari dunia konteks (sosial)-nya! Mengerikan!

 

Kondisi yang disebut terakhir ini memunculkan generasi yang “kesepian dalam keramaian” dan menghasilkan filosofi baru “mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat” akibat penggunaan gadget yang begitu khusyuk sehingga menyandera pikiran dan tindakan manusia modern serta mencerabut kesadaran humanisnya terhadap kehidupan sosial. Dunia yang dihuni oleh “manusia-manusia jenis baru” ini adalah “dunia senyap” (noiseless world) namun high product (efisien dan efektif) tetapi pada suatu ketika “noiseless technology of human-race habituation” ini akan mengendalikan kehidupan dan nasib manusia seperti yang digambarkan dalam film “The Net” yang dibintangi oleh Sandra Bullock, tentang kehidupan otomasi-terkendali-terkomputerisasi sehingga nasib manusia tergantung tombol dan bisa dipermainkan dalam hitungan menit! Mengerikan. Inilah salah satu contoh juggernaut gambaran Giddens. Awas, HP-mu adalah juggernaut ! Renungkan, kamu yang mengendalikan HP atau HP yang mengendalikanmu? Wkwkwk… 😀

 

Produk modernitas (salah satunya adalah gadget online) telah membawa kemudahan, kepraktisan, kenyamanan, dan kecepatan. Intinya, memenuhi kriteria modernitas yang serba cepat dan rasional (Weber). Rasionalitas ini kemudian terganggu dengan adanya fenomena “mendekatkan yang jauh dan sekaligus menjauhkan yang dekat” tadi itu yang menyebabkan para manusia dalam masyarakat modern ini bergerak secara selfish. Muncullah irrasionalitas dalam rasionalitas, yang merupakan anomali dan bekerjanya fenomena juggernaut ilustrasi Giddens yang sedang menggilas para korbannya yakni “manusia rasional” yang tetap merasa rasional dan tetap tidak merasa terjajah ataupun terhegemoni oleh dominasi kultur modernitas yang tengah menyandera dan menindasnya dengan nikmat.***

 

___________________

Bacaan lain:

Teori Kritis (Mazhab Frankfurt)

 

Teori Modernitas Kontemporer

Artikel Pendahuluan:

Memahami Realitas Sosial

[youtube]https://youtu.be/_FtzHwkdhas[/youtube]

TEORI MODERNITAS KONTEMPORER

Teori ini berusaha menjelaskan realitas sosial dunia modern

Teori Modernitas merupakan gugusan pemikiran untuk menjelaskan fenomena modernitas (dunia modern) yaitu suatu kondisi sosial yang bercirikan efisiensi, kecepatan, rasionalitas formal, praktis, cepat, instan, terstandard, serba uang, keterasingan pengalaman dan akhirnya (menjadi) tidak rasional yang terbalut rasionalitas. Tulisan ini berusaha memberi gambaran tentang Teori Modernitas yang disajikan secara ringkas, dengan bahasan tentang: Pengertian Modernitas,Karakteristik, Produk dan Dampak Modernitas, Pengertian Teori Modernitas, Analisis Menggunakan Teori Modernitas, dan Membaca Realitas Modern (Contoh Aplikasi Teori).  

 

Pengertian Modernitas

 

wklompshootModernitas (modernity), atau “kemodernan”, atau merujuk pada kehidupan masyarakat modern, yaitu suatu masyarakat dengan keadaan sosial yang telah mengalami perubahan dan telah berbeda dari keadaan masyarakat sebelumnya yakni pada abad pertengahan. Modernitas ini muncul terdorong oleh perubahan pemikiran di bidang ilmu pengetahuan (revolusi ilmu pengetahuan), perubahan di bidang tata kelola ekonomi (revolusi industri Inggris) dan tata kelola sosial (revolusi Prancis). Perubahan-perubahan tersebut membawa konsekuensi kelahiran elemen-elemen modernitas: sains, teknologi, demokrasi dan kapitalisme[1]. Kondisi keberbedaan (dari masyarakat sebelumnya/ “pra-modern”) yang melambari pemahaman ‘modernitas; ini juga diberikan oleh Outhwaite yang menyebut ‘modernitas’ sebagai “konsep yang bertentangan”. Dikatakannya, modernitas ini mengambil makna dari hal-hal yang ditolaknya dan dari hal-hal yang didukungnya[2]. Pengertian ini mengisyaratkan adanya perubahan kontinyu pada masyarakat, yaitu perubahan dari masyarakat tradisional, kemudian “berevolusi” menjadi masyarakat industri dengan adanya revolusi industri yang segera dibarengi kemunculan masyarakat ekonomi kapitalis dalam konsepsi Marx.

 

Dengan mengumpulkan gagasan-gagasan modernitas dari Marx, Weber, Durkheim dan Simmel, dan dipadukan dengan pemikiran Outhwaite dan Donny Gahral Adian di atas, modernitas dapat diartikan suatu kondisi sosial yang telah berubah dan bertentangan dari kondisi sebelumnya dan perubahan itu ditentukan oleh ekonomi kapitalis (Marx), rasionalitas formal (Weber), solidaritas organik dan pelemahan kesadaran kolektif (Durkheim) serta dipenuhi oleh iklim ekslorasi potensi, besarnya pengaruh uang beserta akibat ikutannya terutama alienasi (Simmel).[3] Kondisi akumulatif yang seperti ini telah menjadikan masyarakatnya mengutamakan efisiensi, yang bermakna “cara terbaik untuk mencapai tujuan” dan itu berarti: cepat, praktis, tak jarang juga instan.

 

Karakteristik, Produk dan Dampak Modernitas

 

Karakter masyarakat modern, menurut Outhwaite, adalah masyarakat industrial dan ilmiah, berdasarkan filsafat rasionalisme dan utilitarianisme. Ia menolak kultur masa lalu, kultur yang tidak bisa dipahami. Modernitas selalu menatap masa depan[4]. Pandangan  Outhwaite tentang modernitas (masyarakat modern) sejalan dengan konsep dasar masyarakat yang berkarakter dinamis, senantiasa berubah. Karakter serba cepat dan instan berpadu dengan serba rasional (rasionalis) dan berdaya-guna (utilitarianis) yang didukung oleh teknologi (termasuk teknologi informasi) sebagai fasilitas penting masyarakat modern,  telah “sempurna” menjadikan masyarakat modern ini tergilas oleh “aturan modernitasnya sendiri” yang digambarkan oleh Anthony Giddens sebagai juggernaut (panser raksasa)[5] yang menggilas apa-apa yang di depannya termasuk kesadaran humanisme manusia dalam masyarakat modern tersebut tanpa dapat dikendalikan lagi sehingga disebut dunia yang tak terkendali (runaway world)[6].

 

Produk dan dampak modernitas adalah “hasil” perpaduan antara teknologi informasi dan rasionalitas (yang kemudian menjadi irrasional), yakni: masyarakat konsumtif, masyarakat cepat, instant, praktis, masyarakat virtual (online community) sebagai pribadi-pribadi yang “selfish” dan tampak “cuek” karena selalu fokus pada gadget-nya sendiri daripada kepada lingkungan sosialnya. Kondisi yang disebut terakhir ini memunculkan generasi yang “kesepian dalam keramaian” dan menghasilkan filosofi baru “mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat” akibat penggunaan gadget yang begitu khusyuk sehingga menyandera pikiran dan tindakan manusia modern serta mencerabut kesadaran humanisnya terhadap kehidupan sosial. Dunia yang dihuni oleh “manusia-manusia jenis baru” ini adalah “dunia yang sepi” (noiseless world) namun high product (efisien dan efektif) tetapi pada suatu ketika “noiseless technology of human-race habituation” ini akan mengendalikan kehidupan dan nasib manusia seperti yang digambarkan dalam film “The Net” yang dibintangi oleh Sandra Bullock, tentang kehidupan otomasi-terkendali-terkomputerisasi sehingga nasib manusia tergantung tombol dan bisa dipermainkan dalam hitungan menit! Mengerikan. Inilah salah satu contoh juggernaut gambaran Giddens.

 

Teori tentang Modernitas

 

ket dpkp inspeksiTeori tentang modernitas adalah teori-teori sosial yang memberi penjelasan dan interpretasi umum tentang kekuatan-kekuatan sosial yang telah membentuk dunia modern, yakni pemikiran modern untuk memahami “dunia modern” yang berisi totalitas kekuatan-kekuatan yang bekerja dalam membentuk masyarakat modern[7]. Pemikiran ini tak lepas dari hakikat ilmu yang melekat dengan pembahasan terhadap konteks sosial. Dan ketika konteks sosialnya adalah “masyarakat modern”, maka teori sosial  yang relevan adalah “teori (sosial) tentang modernitas. Teori-teori tentang modernitas bersumber dari karya pemikir sosiologi dari klasik hingga modern seperti Marx, Weber, Durkheim, Simmel, Giddens, Beck, Baumans, Habermas dan Castells.

 

Modernitas, menurut Marx ditentukan oleh ekonomi kapitalis, sedangkan menurut Weber, rasionalitas formal. Adapun Durkheim, solidaritas organik dan pelemahan kesadaran kolektif. Sementara itu, Simmel memandang modernitas memberikan keuntungan karena memungkinkan untuk mengeksplorasi berbagai potensi dan kemampuan instrinsik manusia. Simmel juga mengajukan pemikiran tentang pengaruh uang beserta akibat ikutannya (terutama alienasi) dalam modernitas.

 

Anthony Giddens, menggambarkan modernitas (kehidupan modern) laksana sebuah panser raksasa (disebut “juggernaut”) yang terlepas dan tak terkendalikan lagi, untuk menggilas kehidupan manusia, sehingga menghasilkan “dunia yang tak terkendali” juga (runaway world). Gagasan ini sejalan dengan teori Strukturasi Giddens, yakni tentang ruang dan waktu dan juggernaut ini melebihi kekuasaan agent dalam mempengaruhi struktur.[8]. Giddens  mendefinisikan modernitas dilihat dari empat institusi mendasar yaitu: kapitalisme, industrialisme, kemampuan mengawasi (surveillance capacities), dan pengendalian atas alat-alat kekerasan, dengan memusatkan kajian pada negara-bangsa (nation-state). Dinamisme modernitas dari teori strukturasi Giddens, melalui tiga aspek: distanciation (pemisahan ruang dan waktu), disembedding (keterlepasan), dan reflexivity (refleksivitas). Ketiga aspek ini yang kemudian menyeret “manusia modern” menuju “keterasingan pengalaman” (sequestration of experience) yaitu suatu proses yang berkait dengan penyembunyian yang memisahkan rutinitas kehidupan sehari-hari dari fenomena-fenomena seperti kegilaan, kriminalitas, penyakit, kematian dan seksualitas. Keterasingan pengalaman ini sebagai akibat dari meningkatnya peran sistem abstrak dalam kehidupan sehari-hari.[9]

 

Ulrich Beck, mengusung gagasan tentang “masyarakat berisiko”, yakni “masyarakat baru” yang terlahir dari pelarutan masyarakat industri, atau yang disebut masyarakat dengan “tipe modernitas lain” (modernitas refleksif, reflexive modernity).[10]. Zygmunt Bauman,  mengajukan gagasan bahwa modern rasionalitas formal adalah holocaust atau pembunuhan massal (seperti pada zaman Nazi Hitler terhadap Yahudi) yakni “pembunuhan massal” melalui birokrasi rasional-modern (meminjam rasionalitas Weber) dan menggunakan kekuasaan. Ciri-ciri rasionalisasi yang sesuai dengan holocaust adalah irrasionalitas dari rasionalitas dan dehumanisasi[11]. Habermas, menyatakan bahwa modernitas sebagai “proyek yang belum selesai”.  Dan, Castells, berkontribusi dengan pemikirannya tentang informasionalisme dan masyarakat jaringan sebagai akibat dari revolusi teknologi informasi yang kemudian melahirkan “kultur virtual”, kultur virtualitas riil dan kapitalisme informasional. Castells menyebut bahwa di titik ini negara semakin tak berdaya dan tergantung pasar kapital global.[12]

 

Analisis Menggunakan Teori tentang Modernitas

 

Analisis menggunakan teori-teori tentang modernitas dapat digunakan sepanjang teori itu mampu menjelaskan realitas sosial yang bersangkutan. Modernitas, atau dunia  modern, memiliki karakter sebagaimana dideskripsikan di atas. Analisis terhadapnya seyogyanya memperhatikan karakter realitasnya. Dalam hal ini pemikiran F. Budi Hardiman dapat membantu membuka jalan. Dia mengajukan gagasan tentang corak-corak kesadaran yang terungkap dari studi tentang manusia modern, yang menurutnya lebih merupakan proses daripada esensi yang dialami dalam kesadaran manusia tersebut yakni individuasi, distansi, progress, rasionalisasi, dan sekularisasi.[13].  

 

Membaca Realitas Modern (Aplikasi Teori)

 

WP_20161126_004Satu contoh fenomena kehidupan (dunia) modern adalah dunia pergaulan sosial yang dipenuhi oleh penggunaan alat-alat teknologi informasi-komunikasi semacam komputer, laptop, internet, yang memungkinkan orang untuk berinteraksi dengan siapa saja di mana saja dan dari mana saja bahkan tanpa beranjak dari tempat tidurnya. Dan kemudian fungsi-fungsi ini diperkecil dalam bentuk perangkat jinjing-gerak (portable) berbentuk “hand-phone” (telepon genggam) dengan kemampuan jelajah internet (online) yang kemudian dikemas dalam teknologi android, blackberry, windows phone, iPad dsb, sehingga memungkinkan setiap orang untuk tetap  bergerak dan beraktivitas sosial selayaknya orang-orang “biasa” namun sesungguhnya mereka ini sedang “berinteraksi sosial” dengan “orang-orang nun jauh di sana”. Fenomena yang seringkali kita saksikan adalah anak-anak muda yang berkelompok dan sedang asyik memainkan gadget mereka. Walaupun mereka duduk berkelompok dan secara fisik berdekatan, namun sebenarnya mereka  tidak sedang berinteraksi dan bersosialisasi dalam kelompok itu, tetapi sedang berinteraksi dan bersosialisasi dengan orang-orang di tempat lain yang jauh jaraknya, tanpa ada batas wilayah dan bahkan negara. Mereka dekat, tetapi tidak saling interaksi. Dari habituasi semacam ini melahirkan “filosofi pergaulan modern” yang berbunyi “teknologi informasi itu mendekatkan yang jauh dan sekaligus menjauhkan yang dekat”. Dunia para “manusia modern” seperti ini adalah dunia yang sepi (noiseless world), dunia bisu. Penghuninya merasa sepi di tengah keramaian.

 

Produk modernitas (gadget online) telah membawa kemudahan, kepraktisan, kenyamanan, dan kecepatan. Intinya, memenuhi kriteria modernitas yang serba cepat dan rasional (Weber). Rasionalitas ini kemudian terganggu dengan adanya fenomena “mendekatkan yang jauh dan sekaligus menjauhkan yang dekat” tadi itu yang menyebabkan para manusia dalam masyarakat modern ini bergerak secara selfish. Inilah muncul irrasionalitas dalam rasionalitas. Anomali seperti inilah kekhawatiran fenomena juggernaut sebagaimana ilustrasi Giddens sedang menggilas para korbannya yakni “manusia (yang menjadi) irasional” yang tetap merasa rasional dan tetap tidak merasa terjajah ataupun terhegemoni oleh dominasi kultur modernitas yang tengah menyandera dan menindasnya dengan nikmat. Maka, muncullah kritik atas Teori Modernitas.*****

 


Bacaan lain:

Kritik Atas Teori Modernitas
Teori Fungsionalisme Struktural
Konstruksi Sosial Atas Realitas

TIPS MEMAHAMI ISI BUKU TEKS DENGAN LEBIH MUDAH!

 

 

Teori Fungsionalisme Struktural Parsons

Artikel Pendahuluan:

Memahami Realitas Sosial

TEORI FUNGSIONALISME STRUKTURAL PARSONS

Dasar dan gagasan utama teori Fungsionalisme Struktural ini memandang realitas sosial sebagai hubungan sistem: sistem masyarakat, yang berada dalam keseimbangan, yakni kesatuan yang terdiri dari bagian-bagian yang saling tergantung, sehingga perubahan satu bagian dipandang  menyebabkan perubahan lain dari sistem.

 

[youtube]https://youtu.be/mpDVs3Uifjg[/youtube]Teori fungsionalisme struktural, yang diperkenalkan oleh Talcott Parsons, merupakan teori dalam paradigma fakta sosial dan paling besar pengaruhnya dalam ilmu sosial di abad sekarang, sehingga dapat disinonimkan dengan sosiologi (Ritzer, 2005:117). Teori ini memfokuskan kajian pada struktur makro (sosiologi makro) yakni pada sistem sosial, yang melalui teori ini Parsons menunjukkan pergeseran dari teori tindakan ke fungsionalisme struktural. Kekuatan teoretis Parsons terletak pada kemampuannya melukiskan hubungan antara struktur sosial berskala besar dan pranata sosial (Ritzer 2005:82). Bangunan teori fungsionalisme struktural Parsons banyak terpengaruh oleh pemikiran Durkheim, Weber, Freud dan Pareto, dan yang disebut terakhir inilah yang paling besar pengaruhnya bagi pengembangan teori fungsionalisme struktural, terutama gagasan Pareto tentang masyarakat yang dilihatnya dalam hubungan sistem (Ritzer, 2011:280). Konsepsi Pareto yang sistematis tentang masyarakat, yang dipandangnya sebagai sebuah sistem yang berada dalam keseimbangan, yakni kesatuan yang terdiri dari bagian-bagian yang saling tergantung, sehingga perubahan satu bagian dipandang  menyebabkan perubahan lain dari sistem, dan dilebur dengan pandangan Comte, Durkheim dan Spencer yang menganalogikan masyarakat dengan organisme, memainkan peran sentral dalam pengembangan teori fungsionalisme struktural Parsons (Ritzer, 2005:54-55).

Cbs4Teori fungsionalisme struktural Parsons berkonsentrasi pada struktur masyarakat dan antar hubungan berbagai struktur tersebut yang dilihat saling mendukung menuju keseimbangan dinamis. Perhatian dipusatkan pada bagaimana cara keteraturan dipertahankan di antara berbagai elemen masyarakat (ibid., halm.83). Pemerhatian teori ini pada unsur struktur dan fungsi dalam  meneliti proses sosial dalam masyarakat (ibid., halm 118), dan pandangannya pada masyarakat sebagai sebuah sistem yang terdiri dari bagian-bagian atau subsistem yang saling tergantung, teori ini menganggap integrasi sosial merupakan fungsi utama dalam sistem sosial. Integrasi sosial ini mengonseptualisasikan masyarakat ideal yang di dalamnya nilai-nilai budaya diinstitusionalisasikan dalam sistem sosial, dan individu (sistem kepribadian) akan menuruti ekspektasi sosial. Maka, kunci menuju integrasi sosial menurut Parsons adalah proses kesalingbersinggungan antara sistem kepribadian, sistem budaya dan sistem sosial, atau dengan kata lain, stabilitas sistem (Ritzer 2011:280-281).

Kontribusi pada Perkembangan Teori Sosial

20131027_101749Kontribusi teori Parsons pada perkembangan teori sosial adalah pada pengembangan teori dan analisis sosial, sistem sosial, integrasi sosial dan sistem tindakan dalam sistem sosial (dioperasionalkan dalam empat skema tindakan: AGIL). Prioritas Parsons adalah bagaimana membakukan suatu teori yang memadai tentang sistem sosial, yang mampu memberikan seperangkat acuan struktural yang konsisten untuk analisis (Turner 2012:160). Analisis sistem sosial Parsons memandang sistem sosial sebagai satu kesatuan, meliputi semua jenis kehidupan kolektif (Ritzer 2005:127), sehingga ia mengutamakan dominasi sistem sosial atas bagian-bagian atau subsistem/ individu yang dikatakannya, mengendalikan individu, dan individu bertindak menurut ekspektasi logis dari sistem masyarakat. Dengan kata lain, subsistem  memang ingin patuh pada sistem. (Ritzer 2011:282). Dalam mengoperasionalkan fungsi sistem sosial yang terkait dengan subsistem, Parsons mengajukan empat skema fungsi penting untuk semua sistem tindakan, yang terkenal dengan sebutan “skema AGIL”, yang dipercaya Parsons diperlukan oleh semua sistem sosial. Menurut Parsons, suatu sistem sosial agar tetap bertahan (survive), harus memiliki empat fungsi AGIL ini, yaitu: A (Adaptation, adaptasi) – G (Goal Attainment, pencapaian tujuan) – I (Integration, integrasi) – L (Latency, latensi, pemeliharaan pola), yang keempat-empatnya  beroperasi dalam relasi input-output dalam pertemuan yang kompleks, dan didudukkan sebagai konsep analitis, bukan deskripsi empiris tentang kehidupan sosial (Ritzer 2011:301-302).

20130519_215208-2Skema AGIL ini yang dapat juga disebut sebagai “empat sistem tindakan”, merupakan inti pemikiran Parsons, dan merupakan jalan keluar dari problem Hobessian tentang keteraturan, dengan argumen keteraturan dan keseimbangan sistem, integrasi dan pemeliharaan keseimbangan diri. Argumen ini menyebabkan Parsons menempatkan analisis struktur keteraturan masyarakat pada prioritas utama (Ritzer 2005:123).

[Catatan: tentang skema A-G-I-L ini mengapa dimulai dari A (Adaptation), kemudian G dst. Mengapa tidak G (Goal Attainment) terlebih dahulu kemudian I (Integration) terus L (Latency) dan A (Adaptation)… pernahkah ditanyakan?] wkwk… 😀

Teori fungsionalisme struktural ini tampak konservatif, terlalu mengagungkan dominasi struktur dan enggan memberi ruang bagi konflik, sehingga seringkali dianggap “anti perubahan sosial”. Parsons sendiri menganggap perubahan sosial itu menyusahkan dan membahayakan imperatif-imperatif sistem. Namun, pemikiran Parsons masih relevan dengan studi perubahan sosial.

mendemsurveyPerubahan sosial dalam pemikiran Parsons dilakukan dari perspektif evolusioner yang tertib. Kompleksitas kemasyarakatan membutuhkan diferensiasi subsistem yang lebih luas dan transformasi terjadi sebagai akibat ketegangan-ketegangan sistem yang meningkat karena mal-integrasi di antara komponen-komponennya. Masyarakat digambarkan bergerak melewati tahap-tahap ekuilibrium temporer, perubahan sosial berlangsung mengikuti urutan tertib dan dipolakan sesuai kebutuhan sistem yang bersifat swatata. (Ritzer 2011:281). Integrasi sosial, menurut Parsons, bisa dicapai jika bagian-bagian saling sesuai dan setelah tercapai ekuilibrium, selanjutnya tidak memerlukan syarat mekanisme khusus apapun. (ibid., halm 282). Dapat disimpulkan bahwa isu teoretis utama teori fungsionalisme struktural Parsons, sebagaimana dikatakan oleh Alexander yang dikutip Ritzer (2011:297) adalah tatanan  sosial dan tindakan sosial. Pemikiran fungsionalisme struktural Parsons dikembangkan –dengan beberapa perubahan- oleh Robert Merton, murid Parsons, yang lebih menyukai teori yang terbatas dan menengah. (Ritzer 2005:136).

Kritik dan Perkembangan Berikutnya

20140301_143402-1Dominasi dan penetrasi sistem sosial kepada sistem kepribadian Parsons, dikritik oleh Niklas Luhmann dan para teoretikus kritis mazhab Frankfurt yang berkiblat pada karya-karya Marx. Luhmann menyatakan bahwa hubungan antar sistem dan lingkungannya lebih kompleks daripada apa yang dideskripsikan oleh Parsons. Luhmann menganggap penekanan Parsons pada konsensus nilai dan penetrasi sistem sosial terhadap sistem kepribadian, membatasi jenis-jenis hubungan sosial. (Ritzer 2011:287). Walaupun teori Parsons sempat dinyatakan cacat dan tidak layak hingga akhir 1960-an dan 1970-an, namun kembali mencuat pada 1980-an bahkan melahirkan mazhab neofungsionalisme yang dipelopori Jeff Alexander. Dan pemikiran Parsons tentang sistem-tindakan dan sistem sosial merupakan titik tolak bagi kajian selanjutnya dalam teori sistem, teori pertukaran sosial, teori kekuasaan, tatanan konflik, dan dengan bantuan rekannya, Neil Smelser, diperluas dalam bidang sosiologi ekonomi, sosiologi institusi dsb sehingga Parsons dianggap pembaru kreatif dari tradisi sosiologi klasik.***

 

Bacaan lain:

Teori Modernitas

Teori Kritis (Mazhab Frankfurt)

Belajar Dengan Hati n Pikiran Positif - FULL

Memahami Realitas Sosial

Memahami Realitas Sosial

DSCF5414Pokok penting dalam teori sosial adalah kemampuan untuk menjelaskan dan memahami realitas sosial. Berikut ini adalah penjelasan dan pemahaman  atas realitas sosial dan pengetahuan manusia tentang realitas sosial yakni posisi teori sosial dalam menjelaskan dan memahami realitas sosial sehingga memunculkan aneka perspektif teori sosial dalam beberapa paradigma.

Realitas sosial, merupakan kehidupan manusia yang terbentuk dalam proses yang terus-menerus, yakni gejala sosial sehari-hari, yang dalam pengertian sehari-hari dinamakan “pengalaman bermasyarakat”. Atau dengan kata lain, realitas sosial itu tersirat dalam pergaulan sosial yang diungkapkan secara sosial melalui tindakan sosial seperti komunikasi lewat bahasa, bekerjasama lewat organisasi-organisasi sosial. “Pengalaman bermasyarakat” inilah sebenarnya esensi masyarakat itu. Realitas sosial seperti ini ditemukan dalam pengalaman intersubjektif (intersubjektivitas), merujuk pada struktur kesadaran umum ke kesadaran individual dalam kelompok yang saling berinteraksi. Maka jika ingin mengetahui, mempelajari, menjelaskan dan memahami esensi masyarakat, didapat melalui mempelajari “pengalaman bermasyarakat” atau realitas sosial (Berger, 2013:xv).

DSCF5446Dan “pengalaman bermasyarakat”, yang merupakan agregasi pengalaman-pengalaman individual yang membawa subjektivitasnya masing-masing, mengandung unsur pengetahuan sosial, kesadaran, persepsi individual (sistem nilai, dsb) dan memiliki dimensi subjektif  dan objektif yang berbeda-beda sehingga berciri paradoksal dan kompleks, membawa kompleksitas realitas sosial. Pengalaman intersubjektivitas ini dapat dijelaskan, bahwa pada proses sosial, masing-masing individu pada dimensi subjektif-nya menghadirkan kenyataan sosial dalam konstruksinya dan ia memanifestasikannya melalui proses eksternalisasi (sebagai kenyataan objektif, dimensi objektif) yang kemudian mempengaruhi kembali manusianya melalui proses internalisasi (realitas subjektif). Di sini terdapat dialektika antara diri (self) dengan dunia sosio-kultural, yang berlangsung dalam satu proses, melibatkan 3 momen simultan: eksternalisasi (penyesuaian diri dengan dunia sosio-kultural), objektivasi (interaksi sosial dalam dunia intersubjektivasi), dan internalisasi (identifikasi diri dengan lembaga sosial). Maka dapat dikatakan bahwa “masyarakat sebagai produk manusia dan manusia sebagai produk masyarakat” seperti dikatakan Berger. Inilah realitas sosial yang dikonstruksikan, atau konstruksi sosial atas realitas (social construction of reality).

Maka bagaimana menjelaskan dan memahami realitas sosial yang sebenarnya?

IMG-20161025-WA0020Untuk menjelaskan dan memahami realitas sosial (dengan kompleksitasnya tersebut), diperlukan perangkat sistem pengetahuan sosial yang mampu menangkap gejala-gejala sosial yang bersifat intersubjektif (relativitas sosial) itu dan men-sintesa-kan gejala sosial yang kelihatan paradoksal dan kontradiktif ke dalam suatu sistem penafsiran yang sistematis, ilmiah dan meyakinkan; yakni yang disebut ‘teori sosial’. Teori sosial ini dibangun di atas bangunan sosial dari realitas yang paradoksal-kontradiktif, intersubjektif dan relatif itu tadi. Karenanya, bangunan teori yang memadai adalah yang bercorak dialektis, yaitu pendekatan dialektika untuk menjelaskan dan memahami realitas sosial yang berciri relativitas sosial, paradoksal, dan intersubjektif, yang berlangsung dalam 3 momen simultan tadi itu.  Jika di-meta-konsepkan (meminjam terminologi “meta-teori), konsepsi “relativitas sosial, paradoksal, dan intersubjektif” terdiri dari anasir konteks sosial spesifik dan hubungan-hubungannya yakni pengetahuan-pengetahuan “kecil” yang tumbuh di masyarakat, konstruksi individual atas realitas sosial dan proses-proses sosial yang membawa serta perangkat “pengetahuan kecil” tadi. Variasi empiris ini semua terpelihara dalam  berbagai situasi sosial yang akhirnya membentuk suatu kenyataan, atau pembentukan kenyataan oleh masyarakat (social construction of reality). Di sinilah bidang gerak teori sosial (sosiologi) dimaksud, teori sosial yang relevan dengan konteksnya, memuat analisis sosiologis yang memadai mengenai konteks-konteks itu. Konteksnya adalah berbasis pada berbagai kenyataan yang dianggap sebagai “diketahui”  oleh masyarakat, atau dengan kata lain, suatu “sosiologi pengetahuan”, yang akan menjawab social construction of reality tadi itu.

20131103_081544Sosiologi pengetahuan ini lebih kepada konsep filosofis keilmuan sosial, yang memberikan napas bahkan ruh pada teori sosial yang “relevan dengan konteks” tadi itu. Konsep sosiologi pengetahuan ini awal diciptakan oleh Max Scheler yang kemudian diperbarui rumusannya oleh Karl Mannheim (dalam bukunya “Ideologi dan Utopia), -dan Berger juga menggunakannya-, menjelaskan bahwa masyarakat telah memiliki pengetahuannya sendiri atau interpretasi tentang kehidupannya sendiri, yang bersifat kompleks, maka dalam melihat realitas sosial harus memperhatikan pengetahuan dalam struktur kesadaran masyarakat. Karena itulah, sosiologi pengetahuan memfokuskan kajiannya pada hubungan antara pemikiran manusia dan konteks sosial di mana pemikiran itu timbul, sehingga kesadaran manusia ditentukan  oleh keberadaan sosialnya. Rumusan Mannheim memberikan ruh pada sosiologi pengetahuan, dengan konsep “relasionisme” sebagai perspektif epistemologis dari sosiologi pengetahuannya, yakni pengetahuan yang senantiasa berelasi dalam relativitas sosio-historisnya, sehingga pengetahuan itu selalu merupakan pengetahuan dari segi suatu posisi tertentu.

Pada perkembangan teori sosial, konsepsi sosiologi pengetahuan Mannheim (yang lebih  mengemuka ke gejala ideologi) ini hadir pada pemikiran sosiologi misalnya Robert Merton pada teori struktural fungsional yang merupakan “pembaruan” dari gurunya, Talcott Parsons yang tidak terlalu memasukkan ide sosiologi pengetahuan dalam bangunan teorinya, C. Wright Mills yang membahas sosiologi pengetahuan berupa penjelasan. Yang menarik adalah apa yang dilakukan Werner Stark, yang menggeser sosiologi pengetahuan dari ideologi ala Mannheim ke telaah sistematis kondisi-kondisi sosial bagi pengetahuan sebagai pengetahuan, sehingga mengarah pada sosiologi kebenaran.

20131027_101749Ringkasnya, sosiologi pengetahuan menekuni segala sesuatu yang dianggap sebagai pengetahuan oleh masyarakat. Pada perumusan teoretisnya, sosiologi pengetahuan pertama-tama harus sibuk dengan “apa saja yang “diketahui” oleh masyarakat sebagai “kenyataan” dalam kehidupan sehari-hari, yang tidak teoretis (prateoretis) atau pra-ilmiah, yakni pengetahuan akal sehat (common sense), yang hidup di masyarakat. Karenanya, sosiologi pengetahuan harus mengarahkan perhatiannya pada pembentukan kenyataan oleh masyarakat (social construction of reality).

Artinya, bahwa sosiologi pengetahuan merupakan konsep dasar, yang menyemangati teori sosial dan upaya teorisasi sosial. Karena untuk menjelaskan dan memahami realitas sosial, (dengan segala karakter seperti deskripsi di atas) diperlukan teori yang relevan dengan karakter itu. Sosiologi pengetahuan, hadir sebagai suluh-pemandu.

Pada perkembangan teori sosial, tentu saja tidak semua teori sosial bersemangatkan esensi konsepsi sosiologi pengetahuan ini karena konsep sosiologi pengetahuan baru dikenal dan diperkenalkan oleh Max Scheler pada tahun 1925 melalui eseinya “Probleme einer Soziologie des Wissens” yang terbit pada tahun itu.

Pada periode sebelumnya, ketika munculnya teori-teori sosial sejak zaman August Comte (positivisme) hingga periode Max Scheler dan Karl Mannheim ini dst: Talcott Parsons, Robert Merton (fungsionalisme struktural) dst hingga teori modernitas dan teori kritis, -dengan  aneka teori yang diperkenalkan dan dikembangkan– adalah tahap-tahap perkembangan teori sosial yang ingin menjelaskan dan memahami realitas sosial. Tidak ada yang salah dengan teori-teori sosial yang telah berkembang itu. Penjelasannya adalah, bagaimana teori-teori itu bisa menjelaskan dan memahami realitas sosial, tergantung dari paradigma yang digunakan, bagaimana teori dan pemikirnya memandang atau memaknai realitas sosial. Dan, teori terdahulu merupakan penyumbang ide bagi teori berikutnya, tentu saja dengan beberapa pembaruan.

Pada era Comte (1798 – 1957), pertama kali nama “sosiologi” diperkenalkan, realitas sosial dipandang sebagai mirip gejala alam, dengan mengembangkan “fisika sosial” yang kemudian disebut “sosiologi”, Comte menghendaki sosiologi meniru “hard science”. Lahirlah positivisme (filsafat positif), sebagai perlawanan dari “filsafat negatif dan destruktif” dari Abad Pertengahan (Ritzer, 2014:17). Comte berada pada garis terdepan pada perkembangan sosiologi positif, dan sebagai peletak dasar perkembangan teori sosiologi berikutnya.

Pengaruh  pemikiran Comte besar sekali pada Herbert Spencer dan Emile Durkheim (1858 – 1917). Tradisi konservatif Comte berlanjut ke Durkheim, namun karya Durkheim menjadi kekuatan dominan pada perkembangan sosiologi. Durkheim mengembangkan konsep pokok  sosiologi melalui uji empiris, yakni melalui karyanya “The Rule of Sociological Methods”, ia menekankan bahwa sosiologi mempelajari apa yang ia sebut “fakta sosial”, yang dibedakan menjadi: fakta sosial materiel dan non-materiel. (Ritzer, 2014:24).

mendemsurveyPerkembangan berikutnya, fakta sosial non-materiel menempati posisi lebih sentral, yang dalam karya terakhirnya, The Elementary Forms of Religious Life”, Durkheim memusatkan bentuk terakhir fakta sosial non-materiel yakni agama. Dari sini kita mengenal arus besar paradigma sosiologi, yakni: fakta sosial, definisi sosial dan perilaku sosial.

Dari overview di atas, maka ada beberapa teori sosial yang digunakan untuk menjelaskan dan memahami realitas sosial yang relevan dengan karakter realitas sosial tersebut; yang pokok untuk diketahui adalah (sambil kita perhatikan perkembangan dan perbedaannya).

 

Jadi kesimpulan dari deskripsi dan brainstorming di atas, adalah, bahwa yang disebut ‘realitas’ atau ‘realitas sosial’ itu bukanlah realitas yang sebenarnya, tetapi ‘persepsi atas realitas’ atau ‘realitas sosial yang telah dikonstruksikan’. Dan dalam persepsi itu, terdapat anasir prasangka, modal pengetahuan, harapan, asumsi, dan kepentingan, yang semuanya itu turut serta bermain ketika melihat “realitas” (WK)

Karenanya, ada dua macam realitas sosial, yaitu realitas sosial subjektif yakni ‘realitas sosial hasil konstruksi individu; dan realitas sosial objektif, yakni ‘realitas sosial yang dikonstruksikan secara kolektif’.

Lha………. yang manakah ‘realitas sosial yang sebenarnya’….?

Selanjutnya, boleh kita baca:

Baca: Fenomenologi: Membaca Realitas Sosial Tanpa Prasangka

 ______________________________________

Struktural Fungsional (Talcott Parsons)

Teori Modernitas

Kritik Atas Teori Modernitas

Teori Kritis (Mazhab Frankfurt)

Teori Postmodern

Teori Feminis

Fenomenologi

Fenomenologi Husserlian

Penjelajahan Fenomenologi Husserlian Untuk Memahami Masyarakat

Cultural Studies

Metode dan Teori Dalam Cultural Studies

Teori Pierre Bourdieu

 

________________________________

Bacaan lain:

Memahami Metode Penelitian Sosial

Realitas Sosial Baru: Social Entrepreneur

 

Belajar Dengan Hati n Pikiran Positif - FULL

Fenomenologi Husserlian

Dasar Teori Fenomenologi Husserlian

Artikel sebelumnya:

Mengenal Fenomenologi

 

WP_20161114_030Fenomenologi, digunakan mengiringi teori Konstruksi Sosial Atas Realitas (Social Construction of Reality) yang bersifat “netral” karena berbasis pengetahuan dan konstruksi subjek, untuk lebih memberikan acuan pemikiran netral dan natural untuk menjembatani secara metodik dalam hal menjelaskan fenomena sosial. Fenomenologi sesuai untuk menjelaskan fenomena ini karena, pertama, diperlukan pendekatan yang naturalis terkait penjelasan atas fenomena, yang berarti bahwa objek-objek bersifat independen dari subjek pengetahuan dan memiliki hukum-hukumnya secara objektif di luar kesadaran[1]. Naturalisme objek diperlukan dalam pengamatan untuk memahami fenomena secara apa adanya. Kedua, bahwa objek tersebut menyimpan makna yang dapat memberitahu kita secara apa adanya atau sebagai objek itu sendiri (back to the things themselves)[2]  tanpa adanya prasangka atau prakondisi atau prakonsepsi dari pengamat atau peneliti sehingga bisa mengganggu keaslian makna yang hendak dipancarkan oleh fenomena tersebut. Kedua anasir tersebut merupakan ciri khas fenomenologi yang diperkenalkan oleh Edmund Husserl.  Selanjutnya, pemaknaan objek atau sesuatu sebagai sesuatu itu sendiri, membentuk relasi eksistensi diri dengan realitas-dunia (life-world) yang dari sini menggugah kapasitas kesadaran peneliti untuk mampu memaknai fenomena. Cara pandang fenomenologi adalah membaca fenomena sebagaimana adanya “genuine”, atau, dalam pengalaman keseharian yang memiliki makna kontributif dengan karakter kedalaman yang unik dan khas[3], sehingga fenomena itu memberitahu kepada peneliti tentang dirinya (menyingkap) dengan tanpa prasangka[4], atau yang disebut Husserl “vorfinden” (to find before oneself)[5].

 

WP_20161114_105Fenomenologi, sebagaimana dikenalkan oleh Edmund Husserl, merupakan gerakan pemikiran filsafat (cara berpikir) untuk memahami fenomena (penampakan)[6], yang kemudian, dari gerakan filsafat, fenomenologi dapat dimaknai sebagai sebuah teori dan juga metode. Hal ini dapat dirunut dari pernyataan Husserl, bahwa hal yang paling penting adalah  mengembangkan suatu metode yang akurat sehingga mampu mendorong para filsuf dan ilmuwan untuk mencapai “sesuatu itu sendiri” (things themselves)[7]. Dan, “sesuatu itu sendiri” itu tak lain adalah dasar-dasar pengertian tentang “fenomena”, yang dimulai dengan pemahaman terhadap “dunia kehidupan yang secara langsung kita alami” atau yang oleh Husserl disebut “lebenswelt”. Pemahaman terhadap lebenswelt ini diperoleh dengan metode “reduksi” dan memahami karakter dasar kesadaran yaitu “intensionalitas” dan “intersubjektivitas”[8]. Sebelum melanjutkan jabaran tentang fenomenologi Husserlian perlu dideskripsikan tentang “fenomena”. Selanjutnya, bahasan fenomenologi lebih mengemukakan fenomenologi sebagai teori dan metode. Fenomena, berasal dari kata dalam bahasa Yunani, phainomenon (phainomai, menampakkan diri), sehingga fenomenologi adalah ilmu tentang apa yang menampakkan diri ke pengalaman subjek[9].

K1Fenomena, berarti segala sesuatu yang menyingkapkan-diri atau sesuatu yang memberikan-dirinya dalam ketersingkapannya yang khusus[10]. Maka, fenomenologi, adalah metode untuk menangkap fenomena, atau metode untuk melihat segala sesuatu yang memberikan-dirinya (self-given) menurut cara keterberiannya masing-masing yang khas dan singular/ perspectival (its manner of givenness).  Kuncinya, terletak pada: cara-bagaimana sesuatu itu memberikan-dirinya/ menyingkapkan-dirinya; atau dengan kata lain: cara-berada dari sesuatu [11]. Lantas, bagaimana “sesuatu” itu dapat memberikan-dirinya menurut cara keterberiannya masing-masing, atau secara “apa adanya”, sehingga “sesuatu” itu “mewujud” atau “meng-ada” (being)? Supaya “sesuatu” (fenomena) itu dapat   memberikan-dirinya apa adanya tanpa ada prasangka, pra-konsepsi yang mencemari “wujud keasliannya”, maka fenomenologi Husserlian memberikan cara yakni menangguhkan atau “menempatkan di dalam kurung” segala konstruksi pengetahuan yang melekat dalam cara berpikir kita dan selalu kita andaikan tentang sesuatu itu, untuk kemudian dari titik tanpa pengandaian (presuppositionless) itu kita dapat melihat sesuatu itu sebagai sesuatu itu sendiri, bukan konstruksi pengetahuan kita tentang sesuatu itu. Metode ini oleh Husserl disebut “epoche”[12]. Di sini, fenomenologi hendak memprovokasi kesadaran kita dengan memalingkan pengamatan dari dunia-keseharian yang artifisial, kembali kepada dunia-kehidupan yang mendasar, fundamental dan transendental[13].

banner-wk-laut.jpgPrinsip fenomenologi Husserl adalah pada kemampuan manusia untuk memaknai hidupnya dengan bersikap tepat di hadapan realitas[14]. Dan, realitas itu bersifat transenden, artinya melampaui daya jangkau persepsi dan pemahaman manusia, atau bersifat tidak terbatas. Sifat transenden realitas ini membuat dunia-kehidupan (lebenswelt) selalu memberikan kemungkinan pemaknaan yang tidak terbatas[15]. Inter-relasi sosial dalam fenomenologi dimaknai sebagai perjumpaan antar subjektivitas yang masing-masing aktor membawa subjektivitasnya masing-masing atau kesadarannya masing-masing, dalam intensional yang sama. Bentuk cara-berada (meng-ada) atau relasi intensional di antara subjek yang sama sekaligus berbeda, relasi timbal balik yang melaluinya tidak lagi terdapat perbedaan antara subjek-objek, yang oleh Husserl dinamakan “intersubjektivitas”. Relasi intersubjektivitas ini merupakan dasar pemahaman terhadap dunia. Ia mengkonstitusikan pemahaman kita dalam horizon pra-refleksivitas yang tidak terbatas[16]. Intersubjektivitas yang terjadi dalam temporalitas tertentu ini memicu kesadaran dan melampaui kesadaran diri sendiri secara intensif yang tidak memiliki cukup akses sehingga memunculkan “kesadaran lain”, dan orang lain (The Others) dan “subjektivitas yang asing” yang kemudian mewujud menjadi “sumber dari segala jenis realitas transenden lainnya”. Hal ini mentransformasi seluruh kategori pemahaman dan pengalaman kita akan realitas. Intersubjektivitas ini melahirkan penegasan diri, yang oleh Husserl disebut “ego-transendental”, yang merupakan momen refleksi diri personal. Inilah rasionalitas kesadaran. Ia sebenarnya tidak benar-benar rasional objektif, tetapi mengandaikan berbagai hal yang tidak disadari[17]. Kekuatan kesadaran manusia terletak pada daya kapasitas / daya aktif-agresif yang dimilikinya[18].

IMG-20140622-01388Kesadaran inilah yang menjadi proyek besar fenomenologi. Kesadaran muncul dari relasi intensional yang memberi makna pada “lebenswelt” (life-world) tempat manusia hidup dengan segala pengalaman hidup dan perasaannya, merupakan momen-afeksi atau kepedulian yang memperlihatkan keterlibatan atau cara-berada (meng-ada) kita yang mendasar dengan realitas atau yang dalam bahasa fenomenologi disebut sebagai “ada-di-dalam-dunia” (being-in-the-world). Momen-afeksi atau kepedulian atau kesadaran ini adalah penghayatan hidup (vivacity), yakni menghayati bahwa sesuatu itu dipahami sebagai sesuatu itu sendiri; atau membiarkan peristiwa itu bercerita kepada kita apa adanya dan memberikan kesadaran kepada kita tentangnya hingga mencapai “ego-transendental” dan bahkan “kesadaran yang lain”. Inilah sebabnya  analisis fenomenologi selalu mengambil posisi atau “perspektif orang pertama” (first person perspective)[19], karena seluruh pengalaman dan pemahaman akan realitas dimungkinkan dari diri sendiri dan refleksi diri.

IMG00063-20120411-1049Momen-afeksi dan penegasan diri yang muncul dalam “first person perspective” ini bagi fenomenologi menjadi awal dari seluruh aktivitas budaya dan kebudayaan. Dengan menegaskan-diri manusia menjadi dirinya sendiri, dan dengan menjadi dirinya sendiri manusia “merawat jiwanya”, merawat dunianya, sesamanya (otentisitas)[20]. Rumusan “merawat jiwa” ini mendapat tempat tersendiri dalam kajian fenomenologi Patocka, seorang penganut fenomenologi Husserlian, yang menganggap problem “penyingkapan-diri”  atau “pemberian-diri” sebagai sesuatu yang bermakna (showing in itself). Bagi Patocka, penegasan-diri, penyingkapan-diri selalu memuat dimensinya yang mendua/ ganda (double meanings), yang mana kemenduaan atau kegandaan cara-berada manusia ini karena digerakkan oleh suatu gerak di dalam dirinya. Gerak yang menggerakkan itu (auto-kineton) tidak lain adalah jiwa (soul). Bagi Patocka kekhasan jiwa telah menetapkan dasar bagi seluruh peradaban manusia berikutnya[21]. Gerak mendua jiwa ini dalam pembacaan Patocka berasal dari sifat alamiah jiwa itu sendiri, dan dalam jawaban untuk bertanggungjawab atas jiwanya, atas sesamanya dan atas dunianya, dan dalam jawaban itulah terletak inti kebebasan manusia[22]. Politik (polis), dalam pembacaan Patocka, adalah sebuah wilayah yang di dalamnya jiwa manusia memberikan-diri melalui berbagai caranya yang beragam (self-given in its varieties of manner of givenness).

Sedangkan para fenomenolog lain seperti Mead dan Schutz  berasumsi bahwa dunia kehidupan adalah dunia kehidupan sehari-hari, lingkungan total pengalaman individu, yang mau tidak mau adalah ditentukan secara biografis. Dunia telah ditentukan apa adanya yang di dalamnya para individu berupaya merealisasikan sasaran sasaran obyektif. Husserl dan Merleau Ponty menekankan adanya hubungan kesadaran antara subyek dan dunianya yang bersifat prarefleksi. Artinya mendahului segala refleksi dan kesadaran pada taraf eksistensi. Dalam bahasa Husserl yang lain disebut sebagai reduksi yakni kembali pada dunia pengalaman.

IMG00018-20120406-1358Pengalaman adalah tanah dimana dapat bertumbuh segala macam kebenaran, se-individual apapun dalam fenomenologi. Begitu pula dalam ilmu pengetahuan. Pengalaman pra ilmiah dan ilmu pengetahuan dapat lebih jelas kita lihat jika kita memahami paham-paham seperti ruang dan waktu. Ilmu pengetahuan hanya mengenal ruang obyektif atau geometris yang homogen dan bukannya ruang antropologis dimana kita sungguh-sungguh berada. Dimensi-dimensi ruang obyektif dapat diukur satu dengan lainnya secara eksakta namun bukan ruang yang sesungguhnya kita tempati. Ruang obyektif ini tidak lain adalah suatu obyektifikasi dari ruang yang kita hayati yakni ruang sesungguhnya (atau ruang antropologis), sehingga bagi ilmu pengetahuan, ruang yang abstrak adalah adalah ruang antropologis dimana kita berada sesungguhnya. Demikian pula waktu. Waktu geometris adalah waktu yang diukur dengan titik-titik dalam jam yang diputari jaum-jarumnya. Sedangkan waktu antropologis adalah waktu kehadiran sebagai subyek yang pada saat bersamaan masih menahan waktu lampau (retention)  dan mendahului masa depan (protention). Karenanya, fenomenologi melihat ilmu pengetahuan tidak bisa terlepas dari pengalaman pra ilmiah, meskipun seorang ilmuan melakukan obyektifikasi sebab realitas obyektif yang diandaikan dan diolah ilmu pengetahuan berdasar pada realitas alami sehari-hari.

Fenomenologi Husserl membawa agenda pertama, interaksi intersubjektif sebagai hal sentral pada konstitusi realitas sosial; kedua, menekankan resiprositas sebagai bangunan konstitusi dari intersubjektivitas. Dalam konteks ini individual dapat dilihat sebagai agen yang “mengonstitusi” atau terkonstitusi oleh” partisipasi mereka dalam komunitas di bawah batasan-batasan rekognisi timbal balik. Pandangan ini tidak bermakna atomistik, yang membiarkan identitas individual terkonstitusi secara intersubjektif, ia tetap individualistik hingga ia memasuki entitas kolektif. Pada level epistemologi, hal ini memunculkan dasar-dasar metodologi individualisme pada level normatif hal ini melahirkan tata sosial deliberatif dan legitimasi politik yang bersandar pada prinsip-prinsip moral resiprositas dan tanggungjawab yang setara.

WP_20150601_009Sebagai metode, fenomenologi telah dapat dikatakan sebagai alat untuk memperoleh pengetahuan mengenai sifat-sifat alami kesadaran dan jenis-jenis khusus pengetahuan orang pertama, melalui bentuk-bentuk intuisi. Untuk ini Husserl menjelaskan bahwa fenomena adalah realitas yang esensi, dan pengamatan adalah aktivitas spiritual, sedangkan substansi adalah konkret yang menggambarkan isi dan struktur realitas dan bisa dijangkau. Metode fenomenologi dapat dirunut dari ajaran Husserl tentang epoche, intersubjektivitas, intensionalitas dan reduksi, yang kemudian dikembangkan dan disempurnakan oleh Schutz. Walaupun Husserl adalah orang pertama yang mengajarkan dan meletakkan dasar pemikiran fenomenologi secara filsafati dan teori, namun Schutz-lah sebagai penjembatan pemikiran Husserl secara metodik untuk mengoperasionalkan fenomenologi dalam penelitian ilmu sosial. Itulah sebabnya dalam pembahasan metodologi fenomenologi, Schutz mendapat prioritas yang utama. Selain itu, melalui Schutz-lah pemikiran-pemikiran Husserl yang dirasakan abstrak pada masa itu dimengerti. Schutz mengawali pemikirannya dengan mengatakan bahwa obyek penelitian ilmu sosial pada dasarnya berhubungan dengan interpretasi terhadap realitas. Jadi sebagai peneliti sosial, kitapun harus membuat interpretasi terhadap realitas yang diamati. Orang-orang saling terikat satu sama lain ketika membuat interpretasi ini. Tugas peneliti sosial-lah untuk menjelaskan secara ilmiah proses ini.***


Bacaan lain:

Fenomenologi Selayang Pandang

Fenomenologi Selayang Pandang

Pengantar

Apa yang ada dalam benak kita (bahasa facebook-nya: what’s on your mind 😀 ) ketika melihat gambar di samping ini?

Adakah yang (spontan) mengatakan “itu porno”? “kok gitu ya”, “aaah.. tidak komentar tapi pikirannya ngeres”? Mengapa kita berpikiran atau berkomentar demikian ketika melihat gambar ini? Gambar ini anggap saja sebuah realitas sosial. Ketika kita langsung berkomentar atau berpikir demikian, pastilah karena didahului oleh sebuah “referensi” atau konstruk atau praduga tentang sebuah realitas. Ekspresi-ekspresi dalam tanda kutip di atas adalah cerminan konstruk pikiran kita (yang dimiliki pikiran kita) dalam melihat realitas. Ini mempengaruhi analisis sosial kita dalam melihat dan memahami realitas. Jadinya, kurang “objektif” dalam melihat realitas. Karena itu tadi, terpengaruh konstruk pikiran kita bahwa gambar itu adalah “porno”, “ngeres” dsb. Padahal belum  tentu demikian dalam realitas yang sebenarnya. Gambar seperti ini dalam realitas sosial di desa di Bali ketika foto itu dibuat, ya tidak ada apa-apa, tidak porno dsb seperti pikiran kita tadi. Jika kita menyebut porno atau ngeres ya berarti pikiran kita (konstruk) yang memang mungkin ngeres dan “piktor”.. hehe…. :D. Jika kita terpengaruh konstruk “yang kita persiapkan” sebelum melihat realitas, sesungguhnya realitas yang dimaksud adalah “rekaan kita” sendiri, bukan realitas itu sendiri. Apakah tidak sebaiknya kita membiarkan realitas itu menampak dengan sendirinya tanpa konstruk kita? Supaya realitas itu memberitahu kita tentang dirinya. Inilah pemikiran dasar fenomenologi. Yaitu melihat atau memahami realitas sosial tanpa praduga, tanpa konstruk, agar realitas sosial itu menampak secara alami, dalam kenyataan yang sebenarnya. Kembali pada gambar. Apakah itu porno? Ngeres? Sebutan porno, ngeres adalah bukan realitas, tetapi konstruk. Itu bukan realitas yang sebenarnya. Padahal di realitas sosial desa tersebut hal itu bukan apa-apa. Sebutan-sebutan yang muncul tadi itu adalah sebuah kesimpulan yang tergesa-gesa dalam melihat realitas. Lantas, bagaimana agar kita bisa melihat realitas apa adanya tanpa konstruk? Dalam hal ini, Edmund Husserl mengajari kita untuk “menahan”, membiarkan realitas itu lewat dulu tanpa ada “kesimpulan” apa-apa dari kita supaya realitas itu menampak secara ‘genuine’ dan bisa ditangkap oleh pengamat atau analis sosial secara sebenarnya, realitas yang sebenarnya. Ini oleh Husserl disebut “epoche”.

Tulisan singkat ini mengantarkan pada pemahaman dasar fenomenologi, yakni suatu pendekatan untuk memahami fenomena atau realitas sosial secara natural dan “genuine”, apa adanya, tanpa prasangka, prakonsepsi ataupun konstruk terhadap fenomena tersebut, sehingga memunculkan kesadaran tentang sikap yang harus diambil secara tepat. Ia bicara tentang bentuk relasi fenomena dengan dunia-kehidupannya yakni bentuk cara-berada (way of being).

Kata kunci: fenomenologi, memahami fenomena tanpa konstruk, cara-berada fenomena.

ket dpkp inspeksiFenomenologi, sebagaimana dikenalkan oleh Edmund Husserl, merupakan gerakan pemikiran filsafat (cara berpikir) untuk memahami fenomena (penampakan)[1], yang kemudian, dari gerakan filsafat, fenomenologi dapat dimaknai sebagai sebuah teori dan juga metode. Hal ini dapat dirunut dari pernyataan Husserl, bahwa hal yang paling penting adalah  mengembangkan suatu metode yang akurat sehingga mampu mendorong para filsuf dan ilmuwan untuk mencapai “sesuatu itu sendiri” (things themselves)[2]. Dan, “sesuatu itu sendiri” itu tak lain adalah dasar-dasar pengertian tentang “fenomena”, yang dimulai dengan pemahaman terhadap “dunia kehidupan yang secara langsung kita alami” atau yang oleh Husserl disebut “lebenswelt”. Pemahaman terhadap lebenswelt ini diperoleh dengan metode “reduksi” dan memahami karakter dasar kesadaran yaitu “intensionalitas” dan “intersubjektivitas”[3]. Sebelum melanjutkan jabaran tentang fenomenologi Husserlian dengan karakter “trinitas”-nya (filsafat, ilmu, metode), perlu dideskripsikan tentang “fenomena”. Selanjutnya, bahasan fenomenologi dalam tulisan ini lebih mengemukakan fenomenologi sebagai teori dan metode.

Fenomena, berasal dari kata dalam bahasa Yunani, phainomenon (phainomai, menampakkan diri), sehingga fenomenologi adalah ilmu tentang apa yang menampakkan diri ke pengalaman subjek[4]. Fenomena, berarti segala sesuatu yang menyingkapkan-diri atau sesuatu yang memberikan-dirinya dalam ketersingkapannya yang khusus[5]. Maka, fenomenologi, adalah metode untuk menangkap fenomena, atau metode untuk melihat segala sesuatu yang memberikan-dirinya (self-given) menurut cara keterberiannya masing-masing yang khas dan singular/ perspectival (its manner of givenness).  Kuncinya, terletak pada: cara-bagaimana sesuatu itu memberikan-dirinya/ menyingkapkan-dirinya; atau dengan kata lain: cara-berada dari sesuatu [6]. Lantas, bagaimana “sesuatu” itu dapat memberikan-dirinya menurut cara keterberiannya masing-masing, atau secara “apa adanya”, sehingga “sesuatu” itu “mewujud” atau “meng-ada” (being) ? Supaya “sesuatu” (fenomena) itu dapat   memberikan-dirinya apa adanya tanpa ada prasangka, pra-konsepsi yang mencemari “wujud keasliannya”, maka fenomenologi Husserlian memberikan cara yakni menangguhkan atau “menempatkan di dalam kurung” segala konstruksi pengetahuan yang melekat dalam cara berpikir kita dan selalu kita andaikan tentang sesuatu itu, untuk kemudian dari titik tanpa pengandaian (presuppositionless) itu kita dapat melihat sesuatu itu sebagai sesuatu itu sendiri, bukan konstruksi pengetahuan kita tentang sesuatu itu. Metode ini oleh Husserl disebut “epoche”[7]. Di sini, fenomenologi hendak memprovokasi kesadaran kita dengan memalingkan pengamatan dari dunia-keseharian yang artifisial, kembali kepada dunia-kehidupan yang mendasar, fundamental dan transendental[8].

IMG_7106Prinsip fenomenologi Husserl adalah pada kemampuan manusia untuk memaknai hidupnya dengan bersikap tepat di hadapan realitas[9]. Dan, realitas itu bersifat transenden, artinya melampaui daya jangkau persepsi dan pemahaman manusia, atau bersifat tidak terbatas. Sifat transenden realitas ini membuat dunia-kehidupan (lebenswelt) selalu memberikan kemungkinan pemaknaan yang tidak terbatas[10]. Inter-relasi sosial dalam fenomenologi dimaknai sebagai perjumpaan antar subjektivitas yang masing-masing aktor membawa subjektivitasnya masing-masing atau kesadarannya masing-masing, dalam intensional yang sama. Bentuk cara-berada (meng-ada) atau relasi intensional di antara subjek yang sama sekaligus berbeda, relasi timbal balik yang melaluinya tidak lagi terdapat perbedaan antara subjek-objek, yang oleh Husserl dinamakan “intersubjektivitas”. Relasi intersubjektivitas ini merupakan dasar pemahaman terhadap dunia. Ia mengkonstitusikan pemahaman kita dalam horizon pra-refleksivitas yang tidak terbatas[11]. Intersubjektivitas yang terjadi dalam temporalitas tertentu ini memicu kesadaran dan melampaui kesadaran diri sendiri secara intensif yang tidak memiliki cukup akses sehingga memunculkan “kesadaran lain”, dan orang lain (The Others) dan “subjektivitas yang asing” yang kemudian mewujud menjadi “sumber dari segala jenis realitas transenden lainnya”. Hal ini mentransformasi seluruh kategori pemahaman dan pengalaman kita akan realitas. Intersubjektivitas ini melahirkan penegasan diri, yang oleh Husserl disebut “ego-transendental”, yang merupakan momen refleksi diri personal. Inilah rasionalitas kesadaran. Ia sebenarnya tidak benar-benar rasional objektif, tetapi mengandaikan berbagai hal yang tidak disadari[12]. Kekuatan kesadaran manusia terletak pada daya kapasitas / daya aktif-agresif yang dimilikinya[13].

Kesadaran inilah yang menjadi proyek besar fenomenologi. Kesadaran muncul dari relasi intensional yang memberi makna pada “lebenswelt” (life-world) tempat manusia hidup dengan segala pengalaman hidup dan perasaannya, merupakan momen-afeksi atau kepedulian yang memperlihatkan keterlibatan atau cara-berada (meng-ada) kita yang mendasar dengan realitas atau yang dalam bahasa fenomenologi disebut sebagai “ada-di-dalam-dunia” (being-in-the-world). Momen-afeksi atau kepedulian atau kesadaran ini adalah penghayatan hidup (vivacity), yakni menghayati bahwa sesuatu itu dipahami sebagai sesuatu itu sendiri; atau membiarkan peristiwa itu bercerita kepada kita apa adanya dan memberikan kesadaran kepada kita tentangnya hingga mencapai “ego-transendental” dan bahkan “kesadaran yang lain”. Inilah sebabnya  analisis fenomenologi selalu mengambil posisi atau “perspektif orang pertama” (first person perspective)[14], karena seluruh pengalaman dan pemahaman akan realitas dimungkinkan dari diri sendiri dan refleksi diri.

20130519_215208-2Momen-afeksi dan penegasan diri yang muncul dalam “first person perspective” ini bagi fenomenologi menjadi awal dari seluruh aktivitas budaya dan kebudayaan. Dengan menegaskan-diri manusia menjadi dirinya sendiri, dan dengan menjadi dirinya sendiri manusia “merawat jiwanya”, merawat dunianya, sesamanya (otentisitas)[15]. Rumusan “merawat jiwa” ini mendapat tempat tersendiri dalam kajian fenomenologi Patocka, seorang penganut fenomenologi Husserlian, yang menganggap problem “penyingkapan-diri”  atau “pemberian-diri” sebagai sesuatu yang bermakna (showing in itself). Bagi Patocka, penegasan-diri, penyingkapan-diri selalu memuat dimensinya yang mendua/ ganda (double meanings), yang mana kemenduaan atau kegandaan cara-berada manusia ini karena digerakkan oleh suatu gerak di dalam dirinya. Gerak yang menggerakkan itu (auto-kineton) tidak lain adalah jiwa (soul). Bagi Patocka kekhasan jiwa telah menetapkan dasar bagi seluruh peradaban manusia berikutnya[16]. Gerak mendua jiwa ini dalam pembacaan Patocka berasal dari sifat alamiah jiwa itu sendiri, dan dalam jawaban untuk bertanggungjawab atas jiwanya, atas sesamanya dan atas dunianya, dan dalam jawaban itulah terletak inti kebebasan manusia[17]. Politik (polis), dalam pembacaan Patocka, adalah sebuah wilayah yang di dalamnya jiwa manusia memberikan-diri melalui berbagai caranya yang beragam (self-given in its varieties of manner of givenness).***

 

Apa komentar Anda dengan menggunakan perspektif fenomenologi?

[youtube]https://youtu.be/le1RT6-mqXE[/youtube]


Bacaan lain:

Metode dan Teori Dalam Cultural Studies

Metode dan Teori Dalam Cultural Studies

Metode Dalam Cultural Studies

Pendekatan dan paradigma yang digunakan cultural studies, menurut Barker adalah: etnografi (kulturalis dan mendasarkan pada pengalaman nyata), tekstual (semiotika, pascastrukturalis, dekonstruksi Derridean), dan studi resepsi (reception study, eklektis)[1]. Sedangkan metode, secara keseluruhan, cultural studies memilih metode kualitatif, dengan fokus pada makna budaya[2]. Mengikut karakter kualitatif yang beroperasi di ranah penemuan meanings (makna, yakni makna budaya) dari struktur pengalaman subjek, dan sejalan dengan pemikiran post-modernisme, maka karya-karya dan penelitian cultural studies menggunakan metode berpikir dinamis, kontekstual, plural dan lokal dan menghindari model berpikir linear, dualis dan statis[3]. Metode berpikir ini merupakan dasar pijakan bagi karya cultural studies untuk menentukan metode (juga teori) yang sesuai. Beberapa metode yang sesuai bagi cultural studies, menurut catatan Akhyar Yusuf Lubis[4], diantaranya adalah:

satu

Hermeneutika, dengan berbagai variannya, seperti semiotika.

dua

Multiperspektif, dengan memasukkan politik, budaya dan kekuasaan. Metode yang diajukan oleh McGuigan ini meneliti hubungan antara ekonomi politik, representasi, teks, dan audiens bersama dalam keterlibatannya dengan kebijakan budaya. Metode ini disebut juga “pluralitas perspektif”, digunakan dalam penelitian-penelitian yang bersifat lokal, dengan hasil berupa narasi-narasi kecil (little naration). Di sini, kebenaran dianggap sebagai produksi dalam permainan bahasa, yang didasarkan pada aspek lokalitas.

tiga

Fenomenologi. Adalah metode untuk menangkap fenomena, atau metode untuk melihat segala sesuatu yang memberikan-dirinya (self-given) menurut cara keterberiannya masing-masing yang khas dan singular/ perspectival (its manner of givenness).  Kuncinya, terletak pada: cara-bagaimana sesuatu itu memberikan-dirinya/ menyingkapkan-dirinya; atau dengan kata lain: cara-berada dari sesuatu [5]. Lebih lanjut tentang fenomenologi.

empat

Etnografi. Menurut James P. Spradley, metode ini menjelaskan fakta atau realitas sosial secara mendalam, memahami realitas sosial apa adanya berdasarkan struktur pengalaman subjek (native’s point of view)[6]. Ia menangkap makna (meanings) yang diketemukan pada peristiwa atau subjek yang diteliti, bersifat “belajar dari masyarakat” (learning from the people), tidak hanya “mempelajari masyarakat” (learning about the people)[7].

lima

Dekonstruksi. Metode ini merupakan “perlucutan” yang dilakukan oleh Derrida atas oposisi biner dalam filsafat Barat, untuk menampakkan titik kosong teks dan asumsi yang tidak dikenal[8]. Untuk ini Derrida menciptakan metode “pembacaan-mendalam” atas teks yang mirip psikoanalisis, menggunakan prosedur memeriksa unsur-unsur kecil dalam momen yang tidak dapat dipastikan atau dipersepsi[9].

dan, enam, penelitian partisipatoris.

wklompshootMenurut saya, metode dalam karya-karya cultural studies tidaklah sebatas keenam metode yang diunjukkan Akhyar Yusuf Lubis tersebut, tetapi bisa lebih banyak lagi, namun tetap berada dalam koridor metode kualitatif dan berdasar pada epistemologi post-positivisme (teori kritis, post-strukturalisme, post-modernisme). Satu karya cultural studies patut diperhitungkan adalah kritik kebudayaan psikoanalisis, sebagaimana diungkap oleh Mark Bracher[12]. Dalam bukunya, ia menyinggung tentang kritik kebudayaan psikoanalisis yang bersumber dari pemikiran Jacques Lacan. Bracher menukil Richard Johnson yang menyatakan bahwa pertanyaan kunci yang terus menerus diajukan cultural studies adalah terkait pengaruh artefak budaya dan diskursus kebudayaan. Diskursus kebudayaan ini terkait pada popularitas, kenikmatan (pleasure), nilai guna (use value) [10] , dan membutuhkan pembacaan, pencerapan artefak kebudayaan dan pengaruhnya pada budaya yang menjadi tempat seseorang berada, tetapi ini sering ditinggalkan. Menurut amatan Richard Johnson, hal ini karena tiadanya teori subjektivitas post-strukturalis yang memadai. Karenanya, kebutuhan mendesak dalam cultural studies adalah adanya sebuah teori subjektivitas yang bisa menjelaskan bagaimana artefak kebudayaan bisa memengaruhi manusia. Maka, jawabannya adalah: teori subjektivitas dari psikoanalisis Lacan[11]; dan ini sedang saya jadikan disertasi saya dengan harapan bisa memberikan kontribusi pada khazanah teori ini. Mohon doanya ya…. 😀

20130723_225035Arus pemikiran post-modernisme dan postrukturalisme dari cultural studies yang memunculkan metode sebagaimana deskripsi di atas, sejalan dengan pemikiran Paula Saukko yang mendeskripsikan metode cultural studies, sebagai kombinasi metode yang bercirikan tema-tema lived experience (pengalaman yang hidup), discourse (wacana), text (teks) dan social context (konteks sosial). Bagi Saukko, hal penting dalam cultural studies adalah:

Pertama,  memahami bahwa metode dalam cultural studies tersusun atas wacana, pengalaman hidup, teks, dan konteks sosial dengan menggunakan analisis yang luas.

Kedua, pemahaman tentang kriteria tentang valid / good research.

ket dpkp inspeksiKetiga, tentang kebenaran dan validitas (triangulasi)[13]. Menurut Saukko, valid/ good research adalah truthfulness (berada pada sisi subjek yang diteliti), self-reflexivity (refleksif tentang personal, sosial, dan wacana paradigmatik yang menuntun pada realitas), dan polivocality (peneliti menyadari bahwa ia sedang tidak meneliti sebuah realitas tetapi banyak realitas)[14]. Saukko mengetengahkan “combining methodologies”, dengan mengambarkan perpotongan antara ordinat paradigm, ontologi, epistemologi, metafora, tujuan penelitian dan politik yang disandingkan dengan model triangulasi, prism, material semiotic dan dialogue. Self-reflexivity ditempatkan pada jalur seperti yang digunakan teori sosial kritis yang dilandaskan pada kritik ideologi dan peran atas basis kesadaran yang merepresentasikan ruang dialog dan wacana saling bertemu, mempengaruhi, mengaitkan berbagai kepentingan, pola kekuasaan serta konteks sosial dan sejarahnya. Polivocality berkenaan dengan berbagai pandangan yang berbeda dengan cakupan teori-teori yang saling mengisi dan dengan mudah dapat didukung satu sama lain, meskipun membutuhkan ketelitian dalam mengkombinasikan pandangan-pandangan lain agar memberikan kesesuaian bagi karakter akademik cultural studies. Paradigma yang digunakan mengambil model triangulasi yang berupaya mengkombinasikan berbagai macam bahan atau metode-metode untuk melihat apakah saling menguatkan satu sama lain. Maka, cultural studies sangat berpotensi memberikan peluang bagi suatu kajian yang baru dan menarik minat pembelajarnya. Validitas (keabsahan) penelitian dalam cultural studies yang menuju ‘kebenaran’ (truth) maka yang dipakai adalah triangulation[15].

Teori

wk@topobrotoBarker menjelaskan teori dalam cultural studies, yaitu narasi yang berusaha membedakan dan menjelaskan ciri-ciri umum yang menjabarkan, mendefinisikan dan menjelaskan terus-menerus kejadian yang dipersepsikan.  Tetapi teori tidak menggambarkan dunia secara akurat, namun ia adalah alat, instrumen, atau “logika untuk mengintervensi dunia” melalui mekanisme deskripsi, definisi, prediksi, dan kontrol. Dalam cultural studies, teori menempati posisi tinggi, yakni sebagai penunjuk jalan atau peta budaya yang memandu[16]. Teori memandu peneliti cultural studies untuk menceburkan diri ke dalam alam realita untuk dilakukan pembacaan-mendalam, dan bertujuan merumuskan teori dan tindakan (praksis) yang bersifat emansipatoris.

Dan menilik karakternya sebagaimana telah dideskripsikan di atas, maka cultural studies menggunakan berbagai teori dan konsep untuk menjelaskan dan memahami berbagai realitas sosial kontemporer. Beberapa teori yang dapat digunakan dalam cultural studies sebagaimana dikumpulkan oleh Akhyar Yusuf Lubis dalam buku “Dekonstruksi Epistemologi Modern”[17], diantaranya, adalah:

Semiotika (Roland Barthes)

Teori ini memahami aspek budaya melalui semiotika, dengan melihat budaya sebagai tanda. Teori ini digunakan dalam penelitian yang bersifat lokal, etnis dan subkulktur[18].

Habitus (Pierre Bourdieu)

Habitus adalah struktur mental atau kognitif, yang digunakan aktor untuk menghadapi kehidupan sosial budaya. Atau, dalam pengertian Ritzer, yang dikutip Lubis, habitus adalah konstruksi dunia sosial, struktur sosial yang diinternalisasikan dan diwujudkan. Ia mencerminkan posisi sosial, kebiasaan yang terdapat  pada kelas atau kelompok sosial[19].

Teori Industri Budaya (Walter Benyamin)

Teori ini memandang industri budaya sebagai produksi mekanis budaya yang disebarluaskan melalui media cetak dan elektronik[20].

Teori Hegemoni (Antonio Gramsci)

Teori ini berfokus pada kajian tentang negosiasi penguasa dengan kelompok budaya tandingan menuju landasan budaya dan ideologi yang bisa membuatnya mendapatkan posisi kepemimpinan. Hegemoni adalah upaya bagaimana kelompok penguasa dapat mensubordinasi dan tetap dapat mempertahankan status quo[21].

Teori Pendidikan Kritis (Paulo Freire)

Teori ini, yang merupakan cultural studies di bidang pendidikan, mengritik model pendidikan yang disebutnya sebagai bergaya bank. Teori ini berpengaruh besar pada dunia pendidikan[22].

Sementara itu, beberapa pendapat lain seperti John Storey dan Mark Bracher mengemukakan masing-masing teori kultural (Cultural Theory) yang dirumuskan oleh Raymond William[23], dan Teori Subjektivitas Psikoanalisis, yang diperkenalkan oleh Jacques Lacan[24], beserta variannya, Neo Lacanian, yang dikembangkan oleh Slavoj Zizek[25] dan Yannis Stavrakakis[26].

Patut dicatat, bahwa teori dalam cultural studies, adalah teori digunakan untuk memandu awal peneliti untuk kemudian digunakan untuk merumuskan teori (baru) sehingga memunculkan banyak teori baru yang selaras dengan keluasan bidang telaah cultural studies.

Konsep

Representasi

Unsur utama cultural studies, menurut Barker, adalah praktik pemaknaan atas representasi, yaitu bagaimana dunia ini dikonstruksi dan direpresentasikan secara sosial. Untuk ini diperlukan eksplorasi pembentukan makna tekstual. Representasi dan makna budaya memiliki materialitas tertentu, yang melekat pada bunyi, prasasti, objek, citra, buku, majalah, dan program televisi. Mereka diproduksi, ditampilkan, digunakan dan dipahami dalam konteks sosial tertentu[27].

IMG-20161119-WA0010Identitas

Dalam cultural studies, identitas adalah konstruksi budaya, yakni konstruksi tentang bagaimana seseorang itu menjadi orang, bagaimana kita diproduksi sebagai subjek dan bagaimana kita menyamakan diri kita (atau secara emosional) dengan  gambaran sebagai laki-laki, perempuan, hitam, putih, tua, muda, dsb. Wacana yang membentuk bahan-bahan untuk formasi identitas tersebut bersifat kultural. Secara khusus, subjek dikonstitusikan sebagai individu dalam sebuah proses sosial yang secara umum dipahami sebagai akulturasi yang tanpa itu, kita tidak dapat menjadi seseorang. Konsep identitas sebagai konstruksi diskursif budaya yang spesifik didasari oleh sikap anti-representasional dalam memahami bahasa, dimana wacana mendefinisikan, mengonstruk dan memproduksi objek pengetahuan[28].

 

Kesimpulan

satu

Cultural studies, atau  disebut mazhab Birmingham (tokoh: Richard Hoggart dan Stuart Hall), adalah sebuah pemikiran perlawanan terhadap gagasan universalitas dan narasi besar seperti ditawarkan teori modernisasi dan terhadap budaya massa atau budaya pop (popular culture), dengan studi budaya sebagai instrumen untuk melakukan perubahan.

dua

Cultural studies hadir untuk  memahami realita budaya sekaligus mengubah struktur dominasi dan struktur masyarakat yang menindas dan bertujuan untuk merumuskan teori-teori sekaligus tindak praksis yang bersifat emansipatoris.

tiga

Cultural studies memusatkan perhatian pada masalah isu-isu kekuasaan, politik, ideologi, serta kebutuhan akan perubahan sosial.

empat

Ruang lingkup cultural studies meliputi kebudayaan, budaya massa (popular), ideologi, makna dan pengetahuan, linguistik, diskursus, post-modernisme, feminisme, politik, politik identitas, politik budaya, globalisasi, media, dan subkultur. Ia meneliti atau mengkaji berbagai kebudayaan dan praktik budaya serta kaitannya dengan kekuasaan dan produksi pengetahuan dalam arena dan konteks kebudayaan yang luas.

lima

Metode cultural studies secara keseluruhan adalah kualitatif, dengan pendekatan etnografi, tekstual dan berfokus pada makna budaya. Prinsipnya, ia menggunakan metode berpikir dinamis, kontekstual, plural dan lokal dan menghindari model berpikir linear, dualis dan statis.

enam

Teori cultural studies menempati posisi tinggi, yakni sebagai penunjuk jalan atau peta budaya yang memandu peneliti cultural studies untuk menceburkan diri ke dalam alam realita untuk dilakukan pembacaan-mendalam, dan bertujuan merumuskan teori baru dan tindakan (praksis) yang bersifat emansipatoris.***

 

 

Referensi yang digunakan dari Chris Barker, Chris Barker dan Dariusz Galasinski, Mark Bracher, Simon During, Stuart Hall, Akhyar Yusuf Lubis, Tony Myers, Slavoj Zizek, Paula Saukko, James Spradley, Yannis Stavrakakis, dan John Storey.

_____________

Related readings:

Fenomenologi

 

TIPS MEMAHAMI ISI BUKU TEKS DENGAN EFEKTIF DAN LEBIH MUDAH!

 

Cultural Studies

Cultural Studies

Artikel Sebelumnya:

Metode Penelitian Kualitatif

Pengertian Cultural Studies

Cultural studies, sebagaimana namanya, “studies” (kajian-kajian), bukan “cultural study” yang memuat makna “study” (kajian) yang bermakna tunggal, memuat pengertian kajian-kajian budaya dalam pengertian dan ruang lingkup yang luas dan multi, seperti dikatakan Stuart Hall, “cultural studies has multiple discourses”[1]. Ia memiliki daya jangkau  lintas disiplin ilmu, dan berusaha menjelaskan realitas sosial kontemporer dari berbagai disiplin ilmu tersebut. Cultural studies, yang muncul dari Universitas Birmingham (Inggris), -karenanya disebut “mazhab Birmingham”-, hendak menggugat pengkotak-kotakan ilmu yang masing-masingnya mengklaim kebenaran dengan versi keilmuannya masing-masing. Cultural studies hadir untuk mendamaikan klaim parsial tersebut dengan menghadirkan kajian-kajian lintas disiplin ilmu, inter dan multidisipliner dengan memasukkan teori dan metode dari berbagai disiplin ilmu yang dipandang strategis untuk lebih mampu menjelaskan realitas sosial maupun representasinya dalam kehidupan sosial kontemporer.

Kajian-kajian lintas disiplin tersebut dinamakan “budaya”, “kajian-kajian budaya” (cultural studies) karena “budaya” mengandung pengertian dan ruang lingkup yang luas, yang dalam hal ini “cultural studies” berbeda dari “the study of culture”[2]. Cultural studies adalah sebuah metode dan teori, dalam ranah paradigma kebudayaan (cultural paradigm)[3], sedangkan “the study of culture” adalah kajian tentang budaya. Budaya, seperti dinyatakan oleh Simon During dalam buku Cultural Studies: A Critical Introduction, bukanlah benda atau bahkan sistem, tetapi mengacu pada pengertian seperangkat transaksi, proses, mutasi, praktik, teknologi, institusi dan segala benda dan peristiwa yang diproduksi untuk menyatu dalam pengalaman hidup, makna-terberi (given meanings), dan nilai-nilai.

Culture is not a thing or even a system: it is a set of transactions, processes, mutations, practices, technologies, institutions, out of which things and events (such as movies, poems or world wrestling bouts) are produced, to be experienced, lived out and given meaning and value to in different ways within the unsystematic network of differences and mutations from which they emerged to start with. [4]

DSCF5446Di sini, cultural studies memandang budaya sebagai teks[5].  Pandangan ini mendapat penguatan dari Raymond Williams yang memaknai budaya (culture) sebagai pengalaman hidup, teks, praktik, makna-makna (meanings) yang dimiliki oleh dan telah menjadi aturan main di masyarakat. Selanjutnya Raymond Williams sebagaimana dikutip oleh Chris Barker dan Dariusz Galasinski, memaknai budaya sebagai “a whole way of life”, meliputi keseluruhan bentuk-bentuk signifikasi dalam makna-makna dan kondisi yang diproduksinya. Mengikut pandangan ini maka, cultural studies berkenaan dengan pemahaman terhadap dunia sehari-hari sebagai bagian dari budaya yang dicermati, yakni hal-hal yang biasa dilakukan, dirasakan, dibicarakan, didengar, dilihat dan dialami dalam kehidupan sehari-hari oleh orang kebanyakan. Ini yang menjadi salah satu ciri terpenting cultural studies. Atau menurut kata William,  cultural studies mengurusi kajian-kajian tentang “intersection of language, meanings and power”[6]. Sejalan dengan ini adalah pemikiran Stuart Hall yang memberikan pengertian cultural studies berkaitan dengan kekuasaan dan politik. Menurut Hall, sebagaimana dikutip Chris Barker, cultural studies merupakan suatu teori yang dibangun oleh para pemikir yang memandang produksi pengetahuan teoretis sebagai praktik politik. Dalam hal ini pengetahuan tidak pernah menjadi fenomena netral atau objektif, tetapi memiliki posisionalitas, tergantung dari posisi mana orang berbicara, kepada siapa dan untuk tujuan apa[7].

Ruang Lingkup Cultural Studies

DSCF5414Cultural studies memiliki ruang lingkup yang luas, dan secara konsisten senantiasa memberi perhatian pada masalah dan isu-isu kekuasaan, politik, ideologi, serta kebutuhan akan perubahan sosial[8].  Ia hadir dalam kajian-kajian tentang produksi pengetahuan, praktik politik, serta berdiri di tengah pemaknaan, bahasa dan kekuasaan, dalam masyarakat kontemporer. Karenanya kajian cultural studies ini mengikuti karakter masyarakat kekinian, dan dalam ulasan Mudji Sutrisno dalam buku yang dieditorinya bersama Hendar Putranto, “Teori-Teori Kebudayaan”, mencakup kajian-kajian budaya sebagai kritik ideologi, masalah-masalah integrasi sosial, transformasi sosial, perilaku, budaya sebagai teks, yang membentang dari strukturalisme hingga post-strukturalisme, psikoanalisis dan post-modernisme[9]. Ulasan lain, dari Chris Barker misalnya, bukunya, Cultural Studies memuat bentangan ruang lingkup cultural studies yang lebih luas lagi  yakni kebudayaan, budaya massa (popular), ideologi, makna dan pengetahuan, linguistik, diskursus, post-modernisme, feminisme, politik, politik identitas, politik budaya, globalisasi, media, dan subkultur. Bentang ruang lingkup kajian cultural studies ini dapat dikatakan bahwa karakter cultural studies adalah bahwa ia meneliti atau mengkaji berbagai kebudayaan dan praktik budaya serta kaitannya dengan kekuasaan[10] dan produksi pengetahuan dalam arena dan konteks kebudayaan yang luas.

Dalam konteks kekuasaan, cultural studies menyingkap dimensi kekuasaan dan pengaruhnya terhadap berbagai bentuk kebudayaan dalam aspek sosial, ekonomi, politik dll[11]. Sama dengan critical theory (mazhab Frankfurt), cultural studies, atau dikenal juga sebagai mazhab Birmingham[12], merupakan pemikiran yang memuat perlawanan/ kritik terhadap budaya massa atau budaya pop (popular culture), dengan menggunakan studi budaya sebagai instrumen untuk melakukan perubahan progresif. Cultural studies menolak narasi besar universalisme seperti ditawarkan teori modernisasi, hal yang dikecam juga oleh teori kritis, menuju ke “narasi kecil” lokal. Ia mendekonstruksi (membongkar) aturan-aturan pengkotak-kotakan ilmiah konvensional lalu berusaha mendamaikan pengetahuan objektif dengan pengetahuan subjektif (intuitif)[13].

wklompshootCultural studies berusaha memahami realita budaya sekaligus mengubah struktur dominasi dan struktur masyarakat yang menindas dan bertujuan untuk merumuskan teori-teori sekaligus tindak praksis yang bersifat emansipatoris. Cultural studies tidak membahasakan kebudayaan yang terlepas dari konteks sosial politik, tetapi mengkaji masalah budaya dalam konteks sosial politik di mana kebudayaan itu tumbuh dan berkembang. Selanjutnya, ia melibatkan diri dalam pertimbangan moral, tindakan politik dan konstruksi sosial[14]. Dengan demikian karakteristik cultural studies tidak memiliki wilayah subjek kajian yang didefinisikan secara jelas, tetapi berpijak pada gagasan tentang budaya yang luas, untuk mempelajari berbagai macam praktik keseharian manusia. Karenanya, ia meliputi seluruh kajian pengetahuan. Keseluruhan struktur pengetahuan berikut relasinya dengan manusia dalam pandangan cultural studies ini sejalan dengan pemikiran post-modernisme bahwa pengetahuan memiliki karakter yang perspektival, dan menganggap tidak mungkin ada pengetahuan yang menyeluruh yang mampu menjelaskan karakter “objektif” dunia. Tetapi diperlukan berbagai sudut pandang atau kebenaran yang digunakan untuk menafsir eksistensi manusia yang kompleks dan heterogen[15].

Sebagaimana dideskripsikan di atas, bahwa cultural studies berkembang sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan sosial budaya kontemporer (post-modern), dengan karakter lintas disiplin dan cair yang dimilikinya, maka paradigma yang sesuai bagi cultural studies, dalam tulisan Akhyar Yusuf Lubis dalam bukunya “Dekonstruksi Epistemologi Modern”,  adalah paradigma teori kritis, dekonstruksi dan konstruktivisme. Paradigma konstruktivisme ini, menurut Lubis, adalah model berpikir yang melihat sosial budaya, dinamis, kontekstual, plural dan lokal (sama sekali bukan model berpikir positivis, universal, linear, dualis dan statis). Menurutnya, dalam paradigma konstruktivis, pengetahuan bukanlah pernyataan (klaim) tentang objek sejati, tetapi konstruksi interpretatif mengenai objek. Karena itu, paradigma konstruktivisme (seperti post-struktural dan post-modernisme) melihat klaim-klaim kebenaran teori lebih dilihat sebagai produksi kebenaran dalam permainan bahasa (language games) tertentu.  Karena itu, paradigma konstruktivis ini lebih tepat menggunakan metode hermeneutik dengan berbagai variannya[16].

Dari karakter inilah diketahui bahwa cultural studies ini merupakan bidang keilmuan yang multi dan lintas disiplin ilmu, memiliki ruang lingkup yang membentang dari budaya dalam kaitannya dengan kekuasaan dan politik, bahasa, komunikasi, jender, diskursus (wacana). Dengan demikian, metode dan teori yang digunakan dalam cultural studies bervariasi atau dengan kata lain, menggunakan berbagai pendekatan, metode dan teori dalam kombinasi yang mampu menjelaskan realitas sosial kontemporer.

 

Nanti berlanjut ke Metode dan Teori dalam Cultural Studies ya… 😀

 

_________________

Referensi yang digunakan dari Chris Barker, Chris Barker dan Dariusz Galasinski, Mark Bracher, Simon During, Stuart Hall, Akhyar Yusuf Lubis, Tony Myers, Slavoj Zizek, Paula Saukko, James Spradley, Yannis Stavrakakis, dan John Storey.