Tag Archives: tengger

Dimensi Spiritual Gunung Bromo dan Peran Dukun Dalam Masyarakat Tengger

[Nusantara/Bromo-Tengger]

Dimensi Spiritual Gunung Bromo dan Peran Dukun Dalam Masyarakat Tengger

[youtube]https://youtu.be/HmqZyEtuZ2k[/youtube]Gunung Bromo dan Dukun memiliki makna dan dimensi spiritual yang istimewa bagi warga Tengger. Bagi orang luar, bolehlah gunung Bromo dipersepsi sebagai sebuah kawasan wisata yang indah, sejuk segar alami nan eksotis lagi menawan. Memang secara fisik sangat bagus (asalkan tetap terpelihara dari kerusakan). Di balik itu, ada makna spiritual magis yang tersembunyi. Dan dukun, pemandu spiritual warga Tengger, dalam konteks peribadatan, spiritualitas (pujan), merupakan figur sentral yang menghubungkan insan Tengger dengan anasir adi kodrati melalui simbol Bromo (Brahma). Dukun di sini memiliki peran spiritual, sosial dan politik. Dan jangan berpikir bahwa makna dukun di sini sama dengan “dukun” dalam bayangan pikiran manusia modern yang sedang bertransformasi-balik menuju pra-modern, yang menganggap dukun sebagai “dukun pelet”, “dukun santet”, kayak di TV itu.. (pasti korban TV tu.. wkwkwk.. :D). Sama sekali bukan! Dukun Tengger ini sama maknanya dengan kiai, ustad, pendeta, pastor, rabbi.

Sebenarnya ulasan tentang Gunung Bromo dan dukun telah saya sajikan di artikel Budaya dan Kearifan Lokal Tengger, namun untuk mempermudah pembaca menemukan tulisan tentang dimensi spiritualitas gunung Bromo dan peran dukun dalam masyarakat Tengger, maka saya jadikan artikel tersendiri.

Gunung Bromo, merupakan gunung berapi yang masih aktif dan paling terkenal sebagai obyek wisata di Jawa Timur. Sebagai sebuah obyek wisata, gunung Bromo menjadi menarik karena statusnya sebagai gunung berapi yang masih aktif. Gunung Bromo mempunyai ketinggian 2.392 meter di atas permukaan laut, berada dalam empat wilayah, yakni Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Kabupaten Malang. Bentuk tubuh gunung Bromo bertautan antara lembah dan ngarai dengan kaldera dan lautan pasir seluas sekitar 10 kilometer persegi. Gunung Bromo mempunyai sebuah kawah dengan garis tengah ± 800 meter (utara-selatan) dan ± 600 meter (timur-barat). Sedangkan daerah bahayanya berupa lingkaran dengan jari-jari 4 km dari pusat kawah Bromo. Di kawasan sekitar gunung Bromo terdapat beberapa gunung kecil: gunung Batok (2.470 m), gunung Kursi (3.392 m), gunung Watangan (2.601 m), gunung Widodaren (2.600 m), dengan suhu rata-rata 7 – 18 ºC.

Penyebaran komunitas Tengger ke empat arah mata angin yang mengelilingi Gunung Bromo seolah menyimpan misteri mistik tersendiri. Semacam konsep kearifan kejawen yang berbunyi kiblat papat limo pancer, Suku Tengger seolah mengidentifikasi diri sebagai kiblat papat dan gunung Bromo sebagai pancer-nya. Artinya, keseluruhan aktivitas ritual suku Tengger terpusat di Gunung Bromo.

Bromo (gunung Bromo), bagi masyarakat Tengger memiliki makna sakral dan suci, serta tidak hanya berdimensi spiritual (pusat pemujaan), sekaligus berdimensi sosial. Bromo, berasal dari kata “Brahma”[1], merujuk pada nama dewa dalam ajaran agama Hindu. Brahma juga berarti singgasana, tempat bertahta, landasan, chakra (pusat kehidupan atau pusat kekuatan). Tak heran jika masyarakat Hindu Tengger ini sangat menghormati gunung Bromo. Pada dimensi spiritual, Bromo bagi masyarakat Tengger merupakan punjêré kauripan (pusat kehidupan), dan dianggap gunung suci, walaupun mereka menolak dikatakan sebagai pemuja gunung Bromo. Bagi mereka, sesembahan adalah Sang Hyang Widhi Wasa. Gunung Bromo adalah pusat kekuasaan dan tahtanya. Pada dimensi sosial, Bromo merupakan arena bersosialisasi antar sesama warga Tengger (nglumpuke wong Tengger) yakni pada saat upacara Yadnya Kasada (dijelaskan pada artikel “Yadnya Kasada”). Juga merupakan arena bersosialisasi atau berkomunikasi dengan alam. Karena masyarakat secara mayoritas hidup dari bercocok tanam, dan kesuburan lahan pertanian mereka tergantung dari semburan abu vulkanik dari gunung Bromo (masyarakat mengetahui dan memahami hal ini), maka mereka menganggap gunung Bromo ini membawa berkah bagi kehidupan mereka.

Tradisi dan adat kehidupan masyarakat Tengger tidak dapat dilepaskan dari konsep tentang Bromo (gunung Bromo). Ikatan spiritual masyarakat Tengger dengan Gunung Bromo (Brahma) ini seolah-olah telah menjadi identitas spiritual masyarakat Tengger. Di dalamnya terdapat ajaran tentang kehidupan: berhubungan dengan kekuatan supranatural secara transendental, berhubungan dengan sesama makhluk dan dengan alam.

Konsep anTeng – seGer (Teng-Ger) yang berarti damai dan makmur dan Tri Hita Karana ini begitu dihayati oleh masyarakat Tengger. Yang dapat dilihat pada masyarakat Tengger sekarang, adalah bahwa di Tengger tidak dikenal adanya praktik tindakan social delinquency dan kekerasan sosial, seperti pencurian, perzinahan, perselingkuhan, perkelahian, dsb. Fakta ini juga disampaikan oleh Ayu Sutarto[2].

Praktik penghayatan ajaran tersebut yang membedakan antara praktik Hindu Tengger dengan Hindu Bali, walaupun bersumber dari ajaran yang sama, yakni agama Hindu. Orang Tengger berpendapat bahwa Hindu adalah satu, namun tidak ada keharusan bagi orang Tengger untuk sama dengan orang Bali dalam hal praktik peribadatan. Perbedaan ini misalnya tampak pada pola penataan sesaji, disamping tentu saja penghayatan tentang Bromo dan Yadnya Kasada, serta eksistensi dukun. Menurut Parisada Hindu Darma, masyarakat Tengger disebut memeluk agama Buddha Mahayana[3]. Tidak seperti Hindu, orang Tengger tidak memiliki candi-candi dalam melakukan upacara, namun peribadatan (pujan) dilakukan di poten atau punden.

 

Dukun Tengger        

Pada kehidupan sosial masyarakat Tengger, ada hal yang menarik, yaitu, walaupun masyakat suku Tengger ini tersebar dan terpisah di empat kawasan administratif (Probolinggo, Pasuruan, Lumajang dan Malang), orang-orang Tengger satu sama lain memiliki ikatan emosionalitas yang cukup tinggi. Wilayah administratif hanya menunjukkan batas wilayah fisik, tetapi ikatan batin antara mereka terjalin secara historis dan turun temurun yang tidak bisa dibatasi oleh garis perbatasan. Kuatnya ikatan antar masyarakat di pegunungan Tengger, utamanya masyarakat yang selama ini mengidentifikasi diri sebagai “masyarakat adat Tengger”, terutama dipengaruhi oleh kesamaan identitas dan adat istiadat yang mereka miliki. Artinya, kuatnya masyarakat Tengger dalam memegang nilai-nilai adat istiadat selama ini memberikan pengaruh positif bagi kuatnya ikatan batin antar masyarakat dalam komunitas Tengger. Singkatnya, yang dapat disebut sebagai masyarakat Tengger (wong Tengger), adalah masyarakat yang mendiami lereng pegunungan Bromo-Semeru di wilayah Probolinggo, Pasuruan, Lumajang dan Malang, beragama Hindu dan memegang teguh adat istiadat Tengger.

Sistem sosial masyarakat suku Tengger tidak bisa dilepaskan dari peran dukun. Dalam masyarakat Tengger, secara adat, dukun merupakan  pewaris tradisi Tengger, memegang peranan yang sangat strategis, sama dengan kedudukan kiai dalam masyarakat Muslim dan pendeta dalam masyarakat Kristen serta pastor dalam hirarki Katolik. Di Tengger, pengertian dukun sangat jauh berbeda dengan pengertian dukun pada masyarakat lain. Seorang dukun Tengger merupakan tokoh panutan masyarakat yang mempunyai fungsi spiritual, yaitu memimpin upacara keagamaan/ adat, memimpin upacara perkawinan, kematian dan berbagai keperluan religius lainnya. Sedangkan pada fungsi sosial, dukun berperanan sebagai mediator antara urusan warga masyarakat (selain urusan yang berhubungan dengan pemerintahan). Memang kadang-kadang para dukun juga dimintai tolong oleh warga untuk urusan pengobatan, namun ini di luar fungsi dan tugas utama seorang dukun Tengger. Biasanya, hal seperti ini hanya terjadi karena kebetulan sang dukun secara pribadi memiliki kemampuan linuwih (kelebihan secara spiritual). Namun fungsi utama dukun Tengger ini adalah sebagai pemandu spiritual warga. Masing-masing desa Tengger memiliki satu orang dukun desa. Desa yang memiliki kepadatan penduduk yang tinggi dan wilayah yang luas, dapat memiliki lebih dari satu dukun (biasanya dua orang dukun) untuk dapat menjangkau umat tersebut. Untuk dapat menjadi seorang dukun, syaratnya harus memiliki kemampuan khusus tentang agama Hindu dan mampu menghapal mantra-mantra, dan disegani oleh masyarakat (mirip dengan konsep kiai dalam masyarakat Muslim dari sub kultur NU). Dari tradisi Tengger sejak jaman dahulu, jabatan dukun senantiasa turun temurun (dari garis keturunan yang sama dengan pendahulunya, dan selalu laki-laki), walaupun ada ujian khusus bagi para calon dukun sebelum disahkan dan dilantik oleh kepala dukun pada waktu upacara Yadnya Kasada. Uji kompetensi calon dukun ini berkisar pada penguasaan agama Hindu dan penguasaan mantra-mantra. Para calon dukun ini diuji kemampuan membaca mantra di hadapan dukun senior. Setiap calon dukun harus mampu menghapal sekitar 153 seloka (judul mantra) dari 63 bab.

Seorang dukun (dukun desa) “hanya” bertanggungjawab terhadap umat yang ada di desanya. Di setiap desa Tengger, baik yang berada di Probolinggo maupun Pasuruan, Lumajang maupun Malang, masing-masing memiliki seorang dukun. Dukun-dukun desa ini dikoordinasi oleh dukun yang bertindak selaku “koordinator wilayah” untuk masing-masing distrik Probolinggo, Pasuruan, Lumajang dan Malang. Pembagian wilayah “kekuasaan” ini, untuk daerah timur (disebut Brang Wetan) yaitu Probolinggo dan Lumajang dikoordinasi oleh seorang Dukun Brang Wetan. Demikian pula untuk Brang Kulon (wilayah Barat) yaitu Pasuruan dan Malang, dikoordinasi oleh seorang Dukun Brang Kulon. Dan untuk mengkoordinasi semua dukun, mulai dari Dukun Desa (dukun desa biasanya hanya disebut dukun saja) hingga Dukun Brang, adalah seorang Kepala Dukun. Kepala dukun ini dipilih oleh semua dukun dan sesepuh desa, termasuk kepala desa. Pemilihan dilakukan secara musyawarah kekeluargaan, yang dilakukan secara santai sambil menikmati malam di kawasan gunung Bromo, tanpa ada pemilihan secara formal menggunakan biting[4] atau surat suara. Biasanya pemilihan kepala dukun ini dilakukan pada saat semua dukun berkumpul, yakni pada waktu (setelah) upacara Yadnya Kasada. Syarat untuk menjadi kepala dukun ini, mirip dengan syarat menjadi dukun, yakni berkisar pada penguasaan ajaran agama Hindu, termasuk penguasaan mantra-mantra. Dan tidak kalah penting adalah unsur senioritas, sehingga biasanya mereka yang menjabat kepala dukun ini adalah mereka yang sudah berumur, dan tidak selalu berdasar garis keturunan. Kepala dukun yang sekarang (pada saat penulis berkunjung, tahun 2007) dijabat oleh Moejono (dukun dari desa Ngadas, Probolinggo), yang sebelumnya menjabat selaku wakil kepala dukun pada waktu jabatan kepala dukun dipegang oleh Soedjai[5] (telah meninggal dunia). Sekarang (2015) jabatan kepala dukun dipegang oleh Sutomo. Kepala dukun bertugas mengkoordinasi semua dukun Tengger yang tersebar di empat wilayah (Probolinggo, Pasuruan, Lumajang dan Malang). Termasuk dalam tugas kepala dukun adalah menyelesaikan konflik yang ada antar dukun, memfasilitasi pemecahan permasalahan umat Tengger di daerahnya masing-masing. Selain menggunakan media berkumpul pada waktu upacara Yadnya Kasada. Seorang kepala dukun biasanya melakukan kunjungan ke empat daerah masyarakat Tengger (Probolinggo, Pasuruan, Lumajang dan Malang). Maka, secara tradisi, seorang kepala dukun biasanya berasal dari kalangan berkemampuan finansial cukup baik. Dalam struktur sosial masyarakat Tengger, posisi dukun, lebih-lebih kepala dukun, menduduki posisi teratas. Karena itulah, jabatan kepala dukun merupakan jabatan yang sangat strategis dalam struktur sosial masyarakat Tengger. Disamping memiliki legitimasi spiritual dan sosial yang sangat kuat, ia juga memiliki power. Dan uniknya, seorang kepala dukun tidak bertindak selaku kepala dukun, tetapi selaku dukun desa (mewakili desa tempat asalnya). Dalam pembacaan doa (mantra), seorang kepala dukun tidak membacakan doa atas nama seluruh umat Tengger, tetapi atas nama desanya masing-masing. Artinya, walaupun kepala dukun memiliki otoritas sosial (juga politik), dalam hal membaca doa (pada upacara Yadnya Kasada), seolah-olah tidak memiliki otoritas relijius (urusan doa justru menjadi wilayah dukun desa, atas nama desa masing-masing).

Inilah menarik dan khasnya masyarakat di pegunungan Tengger. Ketaatan pada adat istiadat telah memberikan kontribusi bagi relasi sosial yang cukup kondusif serta kuatnya kemampuan masyarakat dalam mempertahankan identitas kulturalnya sebagai masyarakat adat. Sumber dari aktivitas kehidupan masyarakat Tengger adalah bagaimana mereka mempertahankan, mewarisi dan menghidup-hidupkan nilai-nilai adat istiadat yang sudah ada dan melembaga sejak bertahun-tahun lamanya.***


[1] Dewa Brahma dalam literatur Hindu juga disebut Dewa Api. Dalam pemahaman masyarakat Tengger, dianggap sebagai Dewa Pandai Besi yang bersemayam di gunung Bromo.

[2] Ayu Sutarto, op.cit., hal. 1, dan Ayu Sutarto, “Tinjauan  Historis dan Sosio-Kultural Orang Tengger”, dalam Majalah Argopura, Vol. 18 No. 1 dan 2, Th.1998: 21 – 37.

[3] Bandingkan dengan pengakuan orang Tengger, yang menyebut keyakinannya dengan ”Shiwa Buddha”.

[4] Biting adalah rautan batang bambu yang dipotong kecil-kecil mirip tusuk gigi. Dalam pengertian ini biasanya digunakan untuk menghitung suara dalam pemilihan kepala desa.

[5] Soedjai adalah seorang dukun desa Ngadisari, Probolinggo (telah meninggal dunia). Penggantinya adalah: Sutomo.

 

Yadnya Kasada

[Bromo – Tengger]

 

Telah dijelaskan pada artikel “Budaya dan Kearifan Lokal Tengger”, bahwa kehidupan budaya masyarakat suku Tengger tidak dapat terlepas dari Bromo (Brahma) dan Yadnya Kasada. Pembahasan tentang masyarakat Tengger selalu  terkait dengan Yadnya Kasada, dukun dan Bromo sebagai posisi sentral dari tradisi budaya masyarakat Tengger.

Yadnya Kasada, atau sering disebut dan diucapkan “Kasada”, “Kasodo”, atau “Kesodo”[1], diperingati setiap tahun oleh masyarakat Tengger, pada malam bulan purnama pada tanggal 14 sampai 15 bulan Kasada (bulan ke dua belas berdasarkan hitungan kalender Jawa Kuna/ Tengger)[2]. Dalam kelender Masehi, Kasada ini bertepatan dengan bulan antara September s.d. Januari[3]. Yadnya Kasada dirayakan untuk mengekspresikan rasa syukur masyarakat Tengger atas karunia Sang Hyang Widhi Wasa, permohonan berkah dalam kehidupan, dan penghormatan terhadap leluhur, yakni Sang Hyang Dewa Kusuma[4].

Secara etimologis, yadnya berarti “kurban suci”, dan kasada berarti “bulan ke dua belas”. Jadi, Yadnya Kasada, berarti kurban suci yang dilaksanakan pada bulan ke dua belas (menurut hitungan tahun Çaka, kalender Jawa Kuna).

Tempat Berlangsungnya Upacara Yadnya Kasada

Tidak seperti pemeluk agama Hindu pada umumnya yang melakukan peribadatan di candi-candi, masyarakat Tengger melakukan peribadatan di poten, punden dan danyang. Poten merupakan sebidang lahan dan bangunan mirip pura, yang terletak di tengah lautan pasir, sebagai tempat berlangsungnya upacara Kasada. Di Tengger, disebut Pura Luhur  Poten Bromo.

Prosesi Upacara Yadnya Kasada

Masyarakat Tengger (penganut agama Hindu, atau Buddha Mahayana menurut Parisada Hindu Jawa Timur) mempersiapkan upacara Yadnya Kasada (selanjutnya disebut Kasada) pada 44 hari sebelum tanggal 14 bulan Kasada. Pada waktu itu dukun desa bersama masyarakat dan sesepuh desa telah bersiap-siap menyambut Kasada. Syarat utama upacara Kasada adalah disediakannya ongkek sebagai tandu sesaji. Tiap-tiap desa wajib menyediakan satu buah ongkek, dengan syarat desa tersebut dinilai resik (bersih), artinya, tidak ada warga desa yang meninggal dunia. Jika ada seorang warga suatu desa yang meninggal dunia, maka desa tersebut dianggap “tidak bersih”, sehingga tidak wajib menyediakan ongkek, walaupun warga desanya tetap mengikuti upacara Kasada. Desa yang tidak bersih tersebut tetap diperbolehkan menyediakan sesaji yang lain, asal bukan ongkek. Patut dicatat, bahwa pada waktu digelar upacara Kasada ini, terdapat bermacam-macam sesaji dari upacara-upacara lain yang pelaksanaannya berbarengan dengan upacara Kasada, sehingga jenis sesajinya juga bermacam-macam. Sesaji “standard” dan wajib dalam upacara Kasada adalah sesaji ongkek, yang berisi aneka tanaman hasil bumi Tengger (tetuwuhan) atau tumbuh-tumbuhan, yakni aneka palawija.

Pada malam ke-14 Bulan Kasada, masyarakat Tengger berbondong-bondong menaiki puncak Gunung Bromo, dengan membawa ongkek yang berisi sesaji dari berbagai hasil pertanian, ternak dan sebagainya, lalu dilemparkan ke kawah Gunung Bromo sebagai sesaji kepada Dewa Bromo (Brahma) yang dipercayainya bersemayam di Gunung Bromo. Upacara korban ini memohon agar masyarakat Tengger mendapatkan berkah dan diberi keselamatan oleh Yang Maha Kuasa.

Sebelum upacara Kasada dimulai, didahului dengan melakukan gotong royong membersihkan Pura Luhur Poten Bromo, serta diikuti acara odalan[5] atau wedalan, dan acara mendhak tirta atau pengambilan air suci dari Goa Widodaren[6]. Upacara Kasada diawali dengan pengukuhan sesepuh Tengger dan pementasan sendratari Rara Anteng – Jaka Seger di panggung terbuka desa Ngadisari[7]. Kemudian tepat pada pukul 00.00 dini hari (tanggal 14 Kasada) diadakan pelantikan dukun dan pemberkatan umat di poten lautan pasir Gunung Bromo. Ketika upacara Kasada dilangsungkan, para warga Tengger yang bermukim di sekitar kawasan Gunung Bromo, yaitu yang berada di wilayah Pasuruan, Probolinggo, Lumajang dan Malang, bersembahyang di Pura Luhur Poten Bromo[8], mulai pukul 00.00 WIB, yang dipimpin oleh dukun desa masing-masing .

Rangkaian upacara Kasada meliputi: sembahyang bersama, membaca pujian, pembacaan sejarah Tengger dan Kasada, kemudian dilanjutkan dengan pengukuhan / pelantikan dukun baru, pemberkatan umat, dan di penghujung acara, diadakan pemujaan ucapan terimakasih, setelah seluruh rangkaian acara selesai terlaksana. Prosesi pembacaan doa (mantra) dipimpin oleh dukun desa, yang membacakan mantra untuk keselamatan desa dan keperluan warga desanya. Dalam hal ini kepala dukun tidak membaca doa atas nama umat, namun selaku dukun desanya. Selesai berdoa (membaca mantra di Pura Luhur Poten Bromo), umat Hindu Tengger mulai mengusung tandu ongkek yang berisi sesaji untuk dilabuhkan ke kawah gunung Bromo. Mulailah iring-iringan manusia menuju puncak kawah gunung Bromo hingga acara labuhan (pelemparan) sesaji ke kawah gunung Bromo, yaitu sekitar pukul 03.30 WIB hingga pukul 05.00 WIB (tanggal 15 Kasada). Labuhan sesaji ongkek ini dilakukan oleh dukun terlebih dahulu, kemudian diikuti oleh warga.

Pada waktu akan menuju Pura Luhur Poten Bromo untuk bersembahyang dahulu sebelum membawa sesaji ongkek ke puncak kawah gunung Bromo, seluruh umat Hindu Tengger baik yang berasal dari kawasan Probolinggo, maupun dari kawasan Pasuruan, Lumajang dan Malang, bersama beriring-iringan sambil membawa sesaji yang dikumpulkan dahulu di Pura Luhur Poten Bromo. Iring-iringan umat tersebut melalui dua pintu gerbang masuk Gunung Bromo, yaitu gerbang dari arah Probolinggo dan gerbang dari arah Pasuruan. Sesaji pada upacara Kasada disamping dimaksudkan sebagai wujud rasa syukur masyarakat Tengger kepada Tuhannya, juga merupakan pengharapan bagi masyarakat untuk memperoleh hasil panen yang melimpah dan upaya untuk menolak bala dan penyakit. Iring-iringan warga Hindu Tengger pada saat membawa sesaji ongkek berjalan cepat untuk ukuran orang luar non Tengger. Mereka menempuh jarak sekitar 10 km hingga ke puncak kawah gunung Bromo, memakan waktu sekitar 2 jam berjalan kaki. Pada prosesi ini orang luar (peminat atau wisatawan) diperkenankan melihat iring-iringan ongkek dari dekat. Orang luar tersebut bisa ikut berjalan kaki, bisa pula naik kendaraan (biasanya ojek sepeda motor) jika menginginkan. Kecuali, di dalam Pura Luhur Poten Bromo, orang luar tidak diperkenankan masuk. Di dalam pura tersebut, hanya warga Hindu Tengger dan kerabat dukun yang boleh masuk.

Keseluruhan prosesi ini terjadi pada tanggal 14 Kasada dini hari mulai pukul 00.00 WIB hingga tanggal 15 Kasada esok harinya, sekitar pukul 05.00 WIB. Setelah itu (tanggal 15 Kasada pagi hari tersebut), upacara dilanjutkan di desa masing-masing.

Ritual Lain

Selain upacara Kasada, umat Hindu Tengger juga menyelenggarakan upacara ritual lainnya. Sebagian ritual lain tersebut dilaksanakan bertepatan dengan penyelenggaraan upacara Kasada. Upacara tersebut adalah :

  1. Upacara Karo. Karo, artinya kedua. Upacara Karo atau Hari Raya Karo ini merupakan hari raya terbesar masyarakat Tengger, diperingati pada bulan kedua tahun Çaka. Masyarakat menyambutnya dengan penuh suka cita, mereka mengenakan pakaian baru kadang membeli pakaian baru hingga 2-5 pasang, perabot rumah tangga juga baru. Makanan dan minumanpun melimpah. Tujuan penyelenggaraan upacara karo adalah: mengadakan pemujaan terhadap Sang Hyang Widdhi Wasa dan menghormati leluhurnya. Memperingati asal usul manusia. Untuk kembali pada kesucian, dan memusnahkan angkara murka.
  2. Upacara Kapat. Kapat, artinya keempat. Upacara Kapat jatuh pada bulan keempat (papat) menurut tahun Çaka disebut pujan kapat, bertujuan untuk memohon berkah keselamatan serta selamat kiblat, yaitu pemujaan terhadap arah mata angin.
  3. Upacara Kawolu. Kawolu artinya ke delapan. Upacara ini jatuh pada bulan kedelapan (wolu) tahun Çaka. Pujan Kawolu sebagai penutupan megeng. Masyarakat mengirimkan sesaji kepada kepala desa, dengan tujuan untuk keselamatan bumi, air, api, angin, matahari, bulan dan bintang.
  4. Upacara Kasanga. Upacara ini jatuh pada bulan sembilan (sanga) tahun Çaka. Masyarakat berkeliling desa dengan membunyikan kentongan dan membawa oncor (obor). Upacara diawali oleh para wanita yang mengantarkan sesaji ke rumah kepala desa, untuk dimantrai oleh pendeta. Selanjutnya dukun dan para sesepuh desa membentuk barisan, berjalan mengelilingi desa. Tujuan upacara ini adalah memohon kepada Sang Hyang Widi Wasa untuk keselamatan Masyarakat Tengger.
  5. Upacara Unan-Unan. Upacara ini diadakan setiap lima tahun sekali. Tujuan dari unan-unan adalah untuk mengadakan penghormatan terhadap roh leluhur. Dalam upacara ini selalu diadakan penyembelihan binatang ternak yaitu kerbau. Kepala kerbau dan kulitnya diletakkan diatas ancak (nampan terbuat dari bambu) besar, diarak ke sanggar pamujan (sanggar pemujaan).
  6. Upacara Entas-entas. Upacara ini dilakukan setiap 1000 hari sekali. Dilaksanakan untuk mengantar roh leluhur supaya bisa masuk nirwana (sorga). Upacara entas-entas ini mirip ngaben di Bali, namun pada entas-entas yang dibakar adalah boneka dari si mati (orang yang meninggal dibuatkan tiruan berupa boneka terbuat dari dedaunan). Entas-entas boleh dilakukan setelah 44 hari dari hari kematian seseorang.

[1] Pengucapan yang benar menurut orang Tengger adalah ”Kasada”, bukan “Kasodo” (berakhiran bunyi ”a”, bukan ”o”). Orang Tengger sebenarnya tidak suka istilah adatnya diucapkan secara keliru.

[2] Penulis menemukan kesalahan pada beberapa tulisan tentang Tengger, yaitu Kasada seringkali ditulis sebagai bulan ke sepuluh. Yang benar adalah bulan ke dua belas (bulan ke sepuluh adalah ”kadasa”). Termasuk penulisan Kasada, seringkali ditulis Kasodo atau Kesodo.

[3] Pada tahun 2006, Kasada bertepatan dengan tanggal 7 – 8 September 2006. Pada tahun 2015, Kasada dilaksanakan pada 30 Agustus 2015.

[4] Lihat pembahasan pada Bagian II: Asal-Usul Masyarakat Tengger: Legenda.

[5] Odalan, merupakan kata dari bahasa Bali. Istilah Tenggernya adalah pawedalan. Artinya pengeluaran atau peresmian. Maksudnya, peresmian acara inti (Kasada). Atau dapat diartikan seagai ”hari lahir”, untuk menandai akan dibukanya upacara Yadnya Kasada. Odalan atau pawedalan sendiri bukan merupakan paket rangkaian upacara Kasada.

[6] Goa Widodaren adalah salah satu tempat yang dianggap suci oleh umat Tengger. Terdapat sumber mata air yang dianggap suci pula. Sumber air ini juga boleh digunakan untuk keperluan sehari-hari warga Tengger, misalnya untuk air minum.

[7] Desa Ngadisari adalah desa Tengger terdekat dengan lokasi lautan pasir tempat poten berada.

[8] Pura Luhur Poten Bromo terletak di hamparan pasir sekitar 1 km dari kawah Gunung Bromo. Lokasi ini terletak persis di antara Gunung Bromo dengan Gunung Batok.

 

Ditulis oleh:

Wawan E. Kuswandoro

 

Budaya dan Kearifan Lokal Tengger

[Nusantara/Bromo – Tengger]

[youtube]https://youtu.be/HmqZyEtuZ2k[/youtube]Dalam artikel “Masyarakat dan Budaya Tengger” telah dipaparkan bahwa masyarakat suku Tengger mayoritas beragama Hindu (mereka menyebutnya “Shiwa-Buddha”), memiliki tokoh panutan spiritual yang disebut “dukun”. Dan yang menarik, simbol sentral dalam relijiusitas umat Tengger adalah gunung Bromo (Brahma), yang memiliki dimensi spiritual dan makna tersendiri dalam tuntunan perilaku hidup umat Tengger.

Terdapat banyak tafsir atas kata “Tengger”. Umumnya adalah terkait legenda Rara Anteng dan Jaka Seger. Banyak orang Tengger percaya bahwa istilah Tengger terkait erat dengan legenda maupun cerita-cerita lisan rakyat Tengger  yang sudah melembaga dan hidup bertahun-tahun lamanya. Istilah Tengger dianggap bersifat magis mistik, karena merupakan penggabungan dari legenda populer masyarakat yaitu legenda Roro Anteng dan Joko Seger. Dua manusia yang dipertemukan sebagai suami istri, dan berasal dari dua status sosial yang berbeda pula. Yang satu (Rara Anteng) merupakan  putri raja Majapahit (Prabu Brawijaya) dan yang satunya (Jaka Seger) adalah putera seorang Brahmana (Begawan Pananjakan). Berbagai versi perihal legenda tersebut telah disampaikan oleh banyak peneliti, termasuk juga dalam tulisan ini. Legenda tersebut, sebagaimana disampaikan oleh sesepuh desa (dukun) adalah sebagai berikut:

Rara Anteng dan Jaka Seger, yang konon, nama “Tengger” diambil dari padanya, menurut legenda, Jaka Seger dan Rara Anteng (pasangan suami istri) telah lama tidak mendapatkan keturunan. Setelah bersemadi, ia mendapatkan suara gaib. Mereka akan diberi 25 anak, dengan syarat ia harus rela menyerahkan anak bungsunya untuk diambil kembali pada Bulan Kasada, Purnama ke-14, bang wetan (fajar timur). Namun, setelah Kusuma, anak bungsunya, berusia 10 tahun, Jaka Seger dan Rara Anteng yang teringat akan janjinya dulu, tidak menyerahkan Kusuma sebagai korban, malah mengungsikan ke-25 anaknya ke Gunung Penanjakan. Ia takut kehilangan salah satu putranya. Meskipun demikian, Sang Hyang Kuasa tetap mengambil Kusuma, tepat di Bulan Kasada, sebagaimana yang pernah dijanjikan. Akhirnya, Kusuma pun melalui suara gaibnya berpesan kepada seluruh saudaranya di sekitar Poten untuk merelakannya kepergiannya. Kusuma juga berpesan agar mereka hidup rukun. Untuk mengingat dirinya, Kusuma hanya meminta warga Tengger agar menyisihkan sebagian hasil buminya kepadanya. Inilah awal mula upacara Yadnya Kasada, yang selalu dirayakan oleh masyarakat Tengger secara turun temurun. Yadnya Kasada diartikan sebagai ”hari kurban yang sakral”. Bagi warga Tengger, Yadnya Kasada mempunyai makna khusus dalam hidup mereka. Terbukti, ketika malam Kasada mencapai puncaknya, ribuan warga suku Tengger dengan perlahan berbondong-bondong menapaki Gunung Bromo. Mereka membawa berbagai hasil bumi yang mereka tanam di ladang masing-masing, untuk kemudian dipersembahkan kepada sang lelulur, yakni Kusuma, di Kawah Gunung Bromo. Jauh dan terjalnya medan pegunungan tak menyurutkan mereka untuk mencapai puncak kawah dan melemparkan hasil bumi dan ternak. Pria, wanita, tua, muda, maupun bocah, tidak mau ketinggalan mendaki Gunung Bromo. Dengan diterangi sejumlah oncor (obor), mereka mendaki kaki Gunung Bromo yang berpasir itu secara perlahan. Gamelan kepyek, yang bergemerincing maupun tabuhan ketipung yang mengiringi prosesi ini, semakin menambah kehikmatan dan kesakralan Upacara Yadnya Kasada. Di atas puncak gunung itu, keturunan Rara Anteng dan Joko Seger ini mengucap syukur kepada Sang Hyang Widhi Wasa atas karunia yang mereka terima selama satu tahun.

Tentang  Yadnya Kasada, diuraikan pada artikel tersendiri.

Keberadaan Rara Anteng dan Jaka Seger ini, semula diyakini sebagai sosok yang merupakan cikal bakal masyarakat Tengger. Legenda ini kemudian, menurut sesepuh Tengger, dilogikakan untuk keperluan penghayatan ajaran agama (Hindu). Legenda Rara Anteng dan Jaka Seger kemudian ditafsirkan sebagai personifikasi dari ajaran kehidupan tentang tujuan hidup. Menurut nilai kerarifan budaya lokal Tengger, dikatakan bahwa apapun keyakinan umat manusia, pasti menuju kepada tujuan hidup yang anteng (tenang) dan seger (makmur). Ketenangan dan kemakmuran inilah sebenarnya sajatining urip (kehidupan sejati), yang didambakan umat manusia. Sintesis anteng dan seger[1] yang dicita-citakan orang Tengger ini diekspresikan dengan pemujaan-pemujaan kepada Sang Hyang Widdhi Wasa dan kepada leluhur, yaitu Kusuma, atau Raden Kusuma, atau Sang Dewa Kusuma, anak bungsu (personifikasi) Rara Anteng dan Jaka Seger, dengan menggunakan pusat pemujaan yaitu Gunung Bromo.

 

Gunung Bromo dan Dukun Bagi Masyarakat Tengger

Gunung Bromo, merupakan gunung berapi yang masih aktif dan paling terkenal sebagai obyek wisata di Jawa Timur. Sebagai sebuah obyek wisata, gunung Bromo menjadi menarik karena statusnya sebagai gunung berapi yang masih aktif. Gunung Bromo mempunyai ketinggian 2.392 meter di atas permukaan laut, berada dalam empat wilayah, yakni Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Kabupaten Malang. Bentuk tubuh gunung Bromo bertautan antara lembah dan ngarai dengan kaldera dan lautan pasir seluas sekitar 10 kilometer persegi. Gunung Bromo mempunyai sebuah kawah dengan garis tengah ± 800 meter (utara-selatan) dan ± 600 meter (timur-barat). Sedangkan daerah bahayanya berupa lingkaran dengan jari-jari 4 km dari pusat kawah Bromo. Di kawasan sekitar gunung Bromo terdapat beberapa gunung kecil: gunung Batok (2.470 m), gunung Kursi (3.392 m), gunung Watangan (2.601 m), gunung Widodaren (2.600 m), dengan suhu rata-rata 7 – 18 ºC.

Penyebaran komunitas Tengger ke empat arah mata angin yang mengelilingi Gunung Bromo seolah menyimpan misteri mistik tersendiri. Semacam konsep kearifan kejawen yang berbunyi kiblat papat limo pancer, Suku Tengger seolah mengidentifikasi diri sebagai kiblat papat dan gunung Bromo sebagai pancer-nya. Artinya, keseluruhan aktivitas ritual suku Tengger terpusat di Gunung Bromo.

Bromo (gunung Bromo), bagi masyarakat Tengger memiliki makna sakral dan suci, serta tidak hanya berdimensi spiritual (pusat pemujaan), sekaligus berdimensi sosial. Bromo, berasal dari kata “Brahma”[2], merujuk pada nama dewa dalam ajaran agama Hindu. Brahma juga berarti singgasana, tempat bertahta, landasan, chakra (pusat kehidupan atau pusat kekuatan). Tak heran jika masyarakat Hindu Tengger ini sangat menghormati gunung Bromo. Pada dimensi spiritual, Bromo bagi masyarakat Tengger merupakan punjêré kauripan (pusat kehidupan), dan dianggap gunung suci, walaupun mereka menolak dikatakan sebagai pemuja gunung Bromo. Bagi mereka, sesembahan adalah Sang Hyang Widhi Wasa. Gunung Bromo adalah pusat kekuasaan dan tahtanya. Pada dimensi sosial, Bromo merupakan arena bersosialisasi antar sesama warga Tengger (nglumpuke wong Tengger) yakni pada saat upacara Yadnya Kasada (dijelaskan pada artikel “Yadnya Kasada”). Juga merupakan arena bersosialisasi atau berkomunikasi dengan alam. Karena masyarakat secara mayoritas hidup dari bercocok tanam, dan kesuburan lahan pertanian mereka tergantung dari semburan abu vulkanik dari gunung Bromo (masyarakat mengetahui dan memahami hal ini), maka mereka menganggap gunung Bromo ini membawa berkah bagi kehidupan mereka.

Tradisi dan adat kehidupan masyarakat Tengger tidak dapat dilepaskan dari konsep tentang Bromo (gunung Bromo). Ikatan spiritual masyarakat Tengger dengan Gunung Bromo (Brahma) ini seolah-olah telah menjadi identitas spiritual masyarakat Tengger. Di dalamnya terdapat ajaran tentang kehidupan: berhubungan dengan kekuatan supranatural secara transendental, berhubungan dengan sesama makhluk dan dengan alam.

Tengger bisa juga berarti an-Teng (tenang) dan se-Ger (segar). Masyarakat Tengger menghayati betul ajaran ini. Konsep anTeng – seGer (Teng-Ger) yang berarti damai dan makmur ini begitu dihayati oleh masyarakat Tengger. Yang dapat dilihat pada masyarakat Tengger sekarang, adalah bahwa di Tengger tidak dikenal adanya praktik tindakan social delinquency dan kekerasan sosial, seperti pencurian, perzinahan, perselingkuhan, perkelahian, dsb. Fakta ini juga disampaikan oleh Ayu Sutarto[3].

Praktik penghayatan ajaran tersebut yang membedakan antara praktik Hindu Tengger dengan Hindu Bali, walaupun bersumber dari ajaran yang sama, yakni agama Hindu. Orang Tengger berpendapat bahwa Hindu adalah satu, namun tidak ada keharusan bagi orang Tengger untuk sama dengan orang Bali dalam hal praktik peribadatan. Perbedaan ini misalnya tampak pada pola penataan sesaji, disamping tentu saja penghayatan tentang Bromo dan Yadnya Kasada, serta eksistensi dukun. Menurut Parisada Hindu Darma, masyarakat Tengger disebut memeluk agama Buddha Mahayana[4]. Tidak seperti Hindu, orang Tengger tidak memiliki candi-candi dalam melakukan upacara, namun peribadatan (pujan) dilakukan di poten atau punden.

Dukun Tengger        

Pada kehidupan sosial masyarakat Tengger, ada hal yang menarik, yaitu, walaupun masyakat suku Tengger ini tersebar dan terpisah di empat kawasan administratif (Probolinggo, Pasuruan, Lumajang dan Malang), orang-orang Tengger satu sama lain memiliki ikatan emosionalitas yang cukup tinggi. Wilayah administratif hanya menunjukkan batas wilayah fisik, tetapi ikatan batin antara mereka terjalin secara historis dan turun temurun yang tidak bisa dibatasi oleh garis perbatasan. Kuatnya ikatan antar masyarakat di pegunungan Tengger, utamanya masyarakat yang selama ini mengidentifikasi diri sebagai “masyarakat adat Tengger”, terutama dipengaruhi oleh kesamaan identitas dan adat istiadat yang mereka miliki. Artinya, kuatnya masyarakat Tengger dalam memegang nilai-nilai adat istiadat selama ini memberikan pengaruh positif bagi kuatnya ikatan batin antar masyarakat dalam komunitas Tengger. Singkatnya, yang dapat disebut sebagai masyarakat Tengger (wong Tengger), adalah masyarakat yang mendiami lereng pegunungan Bromo-Semeru di wilayah Probolinggo, Pasuruan, Lumajang dan Malang, beragama Hindu dan memegang teguh adat istiadat Tengger.

Sistem sosial masyarakat suku Tengger tidak bisa dilepaskan dari peran dukun. Dalam masyarakat Tengger, secara adat, dukun merupakan  pewaris tradisi Tengger, memegang peranan yang sangat strategis, sama dengan kedudukan kiai dalam masyarakat Muslim dan pendeta dalam masyarakat Kristen serta pastor dalam hirarki Katolik. Di Tengger, pengertian dukun sangat jauh berbeda dengan pengertian dukun pada masyarakat lain. Seorang dukun Tengger merupakan tokoh panutan masyarakat yang mempunyai fungsi spiritual, yaitu memimpin upacara keagamaan/ adat, memimpin upacara perkawinan, kematian dan berbagai keperluan religius lainnya. Sedangkan pada fungsi sosial, dukun berperanan sebagai mediator antara urusan warga masyarakat (selain urusan yang berhubungan dengan pemerintahan). Memang kadang-kadang para dukun juga dimintai tolong oleh warga untuk urusan pengobatan, namun ini di luar fungsi dan tugas utama seorang dukun Tengger. Biasanya, hal seperti ini hanya terjadi karena kebetulan sang dukun secara pribadi memiliki kemampuan linuwih (kelebihan secara spiritual). Namun fungsi utama dukun Tengger ini adalah sebagai pemandu spiritual warga. Masing-masing desa Tengger memiliki satu orang dukun desa. Desa yang memiliki kepadatan penduduk yang tinggi dan wilayah yang luas, dapat memiliki lebih dari satu dukun (biasanya dua orang dukun) untuk dapat menjangkau umat tersebut. Untuk dapat menjadi seorang dukun, syaratnya harus memiliki kemampuan khusus tentang agama Hindu dan mampu menghapal mantra-mantra, dan disegani oleh masyarakat (mirip dengan konsep kiai dalam masyarakat Muslim dari sub kultur NU). Dari tradisi Tengger sejak jaman dahulu, jabatan dukun senantiasa turun temurun (dari garis keturunan yang sama dengan pendahulunya, dan selalu laki-laki), walaupun ada ujian khusus bagi para calon dukun sebelum disahkan dan dilantik oleh kepala dukun pada waktu upacara Yadnya Kasada. Uji kompetensi calon dukun ini berkisar pada penguasaan agama Hindu dan penguasaan mantra-mantra. Para calon dukun ini diuji kemampuan membaca mantra di hadapan dukun senior. Setiap calon dukun harus mampu menghapal sekitar 153 seloka (judul mantra) dari 63 bab.

Seorang dukun (dukun desa) “hanya” bertanggungjawab terhadap umat yang ada di desanya. Di setiap desa Tengger, baik yang berada di Probolinggo maupun Pasuruan, Lumajang maupun Malang, masing-masing memiliki seorang dukun. Dukun-dukun desa ini dikoordinasi oleh dukun yang bertindak selaku “koordinator wilayah” untuk masing-masing distrik Probolinggo, Pasuruan, Lumajang dan Malang. Pembagian wilayah “kekuasaan” ini, untuk daerah timur (disebut Brang Wetan) yaitu Probolinggo dan Lumajang dikoordinasi oleh seorang Dukun Brang Wetan. Demikian pula untuk Brang Kulon (wilayah Barat) yaitu Pasuruan dan Malang, dikoordinasi oleh seorang Dukun Brang Kulon. Dan untuk mengkoordinasi semua dukun, mulai dari Dukun Desa (dukun desa biasanya hanya disebut dukun saja) hingga Dukun Brang, adalah seorang Kepala Dukun. Kepala dukun ini dipilih oleh semua dukun dan sesepuh desa, termasuk kepala desa. Pemilihan dilakukan secara musyawarah kekeluargaan, yang dilakukan secara santai sambil menikmati malam di kawasan gunung Bromo, tanpa ada pemilihan secara formal menggunakan biting[5] atau surat suara. Biasanya pemilihan kepala dukun ini dilakukan pada saat semua dukun berkumpul, yakni pada waktu (setelah) upacara Yadnya Kasada. Syarat untuk menjadi kepala dukun ini, mirip dengan syarat menjadi dukun, yakni berkisar pada penguasaan ajaran agama Hindu, termasuk penguasaan mantra-mantra. Dan tidak kalah penting adalah unsur senioritas, sehingga biasanya mereka yang menjabat kepala dukun ini adalah mereka yang sudah berumur, dan tidak selalu berdasar garis keturunan. Kepala dukun yang sekarang (pada saat penulis berkunjung, tahun 2007) dijabat oleh Moejono (dukun dari desa Ngadas, Probolinggo), yang sebelumnya menjabat selaku wakil kepala dukun pada waktu jabatan kepala dukun dipegang oleh Soedjai[6] (telah meninggal dunia). Sekarang (2015) jabatan kepala dukun dipegang oleh Sutomo (dukun desa Ngadisari). Kepala dukun bertugas mengkoordinasi semua dukun Tengger yang tersebar di empat wilayah (Probolinggo, Pasuruan, Lumajang dan Malang). Termasuk dalam tugas kepala dukun adalah menyelesaikan konflik yang ada antar dukun, memfasilitasi pemecahan permasalahan umat Tengger di daerahnya masing-masing. Selain menggunakan media berkumpul pada waktu upacara Yadnya Kasada. Seorang kepala dukun biasanya melakukan kunjungan ke empat daerah masyarakat Tengger (Probolinggo, Pasuruan, Lumajang dan Malang). Maka, secara tradisi, seorang kepala dukun biasanya berasal dari kalangan berkemampuan finansial cukup baik. Dalam struktur sosial masyarakat Tengger, posisi dukun, lebih-lebih kepala dukun, menduduki posisi teratas. Karena itulah, jabatan kepala dukun merupakan jabatan yang sangat strategis dalam struktur sosial masyarakat Tengger. Disamping memiliki legitimasi spiritual dan sosial yang sangat kuat, ia juga memiliki power. Dan uniknya, seorang kepala dukun tidak bertindak selaku kepala dukun, tetapi selaku dukun desa (mewakili desa tempat asalnya). Dalam pembacaan doa (mantra), seorang kepala dukun tidak membacakan doa atas nama seluruh umat Tengger, tetapi atas nama desanya masing-masing. Artinya, walaupun kepala dukun memiliki otoritas sosial (juga politik)[7], dalam hal membaca doa (pada upacara Yadnya Kasada), seolah-olah tidak memiliki otoritas relijius (urusan doa justru menjadi wilayah dukun desa, atas nama desa masing-masing).

Inilah menarik dan khasnya masyarakat di pegunungan Tengger. Ketaatan pada adat istiadat telah memberikan kontribusi bagi relasi sosial yang cukup kondusif serta kuatnya kemampuan masyarakat dalam mempertahankan identitas kulturalnya sebagai masyarakat adat. Sumber dari aktivitas kehidupan masyarakat Tengger adalah bagaimana mereka mempertahankan, mewarisi dan menghidup-hidupkan nilai-nilai adat istiadat yang sudah ada dan melembaga sejak bertahun-tahun lamanya.

Tradisi dan Bahasa

Masyarakat Tengger merupakan salah satu komunitas masyarakat di kepulauan Jawa yang masih setia terhadap adat istiadat warisan nenek moyang. Masyarakat adat Tengger tidak pernah bisa lepas dari tradisi luhur yang telah diwarisinya selama ini. Kemampuan untuk mempertahankan tradisi tersebut menjadikan masyarakat Tengger dianggap sebagai bagi dari masyarakat adat di nusantara. Penghormatan terhadap tradisi tersebut memberikan bukti bahwa mereka cenderung ‘berbeda’ dengan masyarakat Jawa pada umumnya, meskipun sama-sama menggunakan bahasa Jawa dalam pergaulan sehari-hari, tetapi dialek yang dipergunakan adalah bahasa Jawa dialek Tengger. Ciri bahasa Jawa dialek Tengger ini adalah dominasi ucapan berbunyi “a” pada akhir suku kata, bukannya diucapkan “o” seperti pada kebanyakan bahasa Jawa dialek Jawa Tengah atau Jawa Timur. Sepintas mirip dialek Banyumas namun cengkokan (intonasi) kalimatnya datar. Jika penulis amati, dialek Tengger ini mirip perpaduan antara bahasa Jawa dialek Banyumas (bunyi “a”, bukan “o”) bercampur dialek Banyuwangi dan sedikit pengaruh bahasa Bali. Misalnya, sira (artinya kamu, bentuk lugas) diucapkan “sira”, bukan “siro”; rika (artinya anda, atau kamu dalam bentuk sopan) diucapkan “rika, bukan “riko”. Ada sedikit pembeda dalam penyebutan kata ganti orang menurut jenis kelamin seperti lazimnya pada bahasa Perancis atau Spanyol. Misalnya “reang” untuk menyebut saya (bagi orang laki-laki). Sedangkan para perempuan akan menggunakan kata “ingsun” untuk menyebut saya. Pengaruh bahasa Bali misalnya muncul pada kata “odalan” (nama salah satu upacara di Tengger), yang digunakan (diucapkan) warga Tengger, bersamaan artinya dengan kata wedalan (keluaran, mengeluarkan, bahasa Jawa). Satu lagi yang unik (berbeda dengan bahasa Jawa) dalam dialek Tengger ini, adalah mengucapkan kata yang berarti “…kan” (bahasa Indonesia) seperti pada kata “mengumpulkan”, yang dalam bahasa Jawa disebut “nglumpuknaatau “nglumpukke”, dalam dialek Tengger diucapkan “nglumpuken”.  Begitu juga dengan “nglebokna atau “nglebokke(artinya: memasukkan), diucapkan “ngleboken”. Dan sebagainya, yang kalau ditulis, akan menghabiskan puluhan halaman. Dan banyak keunikan lainnya dalam hal bahasa, yang juga penulis minati. Penulis menduga, dialek ini bisa ditelusuri untuk memperkirakan dialek yang digunakan orang Jawa pada jaman kerajaan Majapahit dahulu.

Menurut Vina Salviana[8],  kemampuan kohesi sosial antar warga Tengger di manapun mereka berada ditengarai karena dalam kehidupannya, masyarakat adat Tengger cenderung mengadakan hubungan dengan sesama yang berkembang menjadi hubungan dengan alam sebagai usahanya menanggapi secara aktif dan responsif terhadap lingkungan. Pola ini berkembang menjadi pola kebudayaan yang menjadi dasar dan suatu interaksi sosial dalam kelompok masyarakatnya. Bahkan dalam konstruksi sosialnya, dalam sistem kekeluargaannya, masyarakat adat Tengger memiliki ikatan keluarga dan kekerabatan antar sesama manusia yang sangat erat, sehingga tercipta suasana tenteram dan damai tanpa kekerasan dan konflik (sesuai dengan doktrin anteng dan seger, lihat halaman 13).

Komunitas masyarakat Tengger memiliki keragaman budaya yang sarat dengan nilai-nilai ritual yang menjadi tuntunan kehidupan warganya. Keberagaman budaya yang yang diwariskan dari nenek moyang secara turun temurun itu selalu ditaati dan dijunjung tinggi, yang pelaksanaannya diwujudkan dalam bentuk-bentuk upacara adat seperti; upacara ritual Yadnya Kasada, Karo dan Unang-unang[9].


[1] Namun belum ada penjelasan tentang makna anteng yang dipersonifikasikan dengan jenis perempuan (dari Rara Anteng) dan seger yang berjenis laki-laki (dari Jaka Seger).

[2] Dewa Brahma dalam literatur Hindu juga disebut Dewa Api. Dalam pemahaman masyarakat Tengger, dianggap sebagai “Dewa Pandai Besi” yang bersemayam di gunung Bromo.

[3] Ayu Sutarto, op.cit., hal. 1, dan Ayu Sutarto, “Tinjauan  Historis dan Sosio-Kultural Orang Tengger”, dalam Majalah Argopura, Vol. 18 No. 1 dan 2, Th.1998: 21 – 37.

[4] Bandingkan dengan pengakuan orang Tengger, yang menyebut keyakinannya dengan ”Shiwa Buddha”.

[5] Biting adalah rautan batang bambu yang dipotong kecil-kecil mirip tusuk gigi. Dalam pengertian ini biasanya digunakan untuk menghitung suara dalam pemilihan kepala desa.

[6] Soedjai adalah seorang dukun desa Ngadisari, Probolinggo (telah meninggal dunia). Penggantinya adalah: Sutomo.

[7] Lihat bagan struktur hirarki kepala dukun di atas.

[8] Vina Salviana,  “Modal Sosial Masyarakat Adat Tengger Dalam Menjaga Tatanan Sosial” dalam Nurudin, dkk, 2003, Agama Tradisional, Potret Kearifan Masyarakat Samin dan Tengger, Yogyakarta, LKiS, halm. 88).

[9] Juli Astutik, “Makna Ritual Upacara Kasada dalam Perspektif Antropologi” dalam Nurudin, dkk, 2003, Agama Tradisional, Potret Kearifan Masyarakat Samin dan Tengger, Yogyakarta, LKiS, halm. 98). Pada kutipan dari Juli Astutik, disebutkan upacara ”Unang-unang”. Sengaja penulis kutip sesuai dengan aslinya. Namun, yang nama yang benar adalah ”unan-unan” (tanpa bunyi ”ng”). Unan-unan adalah upacara di luar Kasada, yang dilangsungkan setiap 5 tahun sekali.

Ditulis oleh:

Wawan E. Kuswandoro

 

[bersambung ya…] 😀

 

 

TIPS MEMAHAMI ISI BUKU TEKS DENGAN LEBIH MUDAH!

Masyarakat dan Budaya Tengger

[Nusantara/Bromo-Tengger]

WK dan kepala dukun TenggerTengger dan Bromo tak bisa dipisahkan. Dalam pengertian harfiah, positivis maupun spiritual. Memang secara fisik keduanya menyatu karena wong Tengger bertempat tinggal di lereng gunung Bromo. Keindahan gunung Bromo telah diketahui oleh banyak orang, dalam dan luar Indonesia. Namun, yang belum banyak diketahui adalah Tengger, termasuk budaya dan kearifan lokal Tengger, Yadnya Kasada, makna spiritual gunung Bromo dan peran dukun Tengger dalam spritualitas dan sosial wong Tengger.

Tulisan ini masih membahas masyarakat dan sekilas budaya Tengger. Perihal ke-Tengger-an yang lain, di artikel lain ya… 😀

Masyarakat suku Tengger, adalah komunitas tersendiri yang mendiami kawasan lereng pegunungan Bromo – Semeru, yang terletak di wilayah Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang, Jawa Timur. Jumlah komunitas ini tidak banyak, yakni sekitar 100.000-an jiwa. Walaupun berdiam di lereng gunung, komunitas ini bukanlah suku terasing, primitif atau terisolasi, karena mereka masih berhubungan dengan masyarakat lain. Secara administratif, masyarakat suku Tengger ini mendiami beberapa desa yang merupakan bagian dari wilayah pemerintahan Kabupaten Probolinggo, Lumajang, Pasuruan dan Malang). ”Desa Tengger”[1] tempat bermukimnya masyarakat suku Tengger tersebut adalah desa Jetak, Wonotoro, Ngadirejo, Ngadisari dan Cemara Lawang (Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo); Ledokombo, Pandansari,  dan Wonokerto (Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo); Tosari, Wonokitri, Sedaeng, Ngadiwono, Podokoyo (Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan); Keduwung (Kecamatan Puspo, Kabupaten Pasuruan); Ngadas (Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang); dan Argosari serta Ranupani (kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang). ”Desa Tengger” yang berada pada puncak tertinggi gunung Bromo adalah desa Ngadisari. Di desa-desa tersebut (tempat masyarakat Hindu Tengger bermukim), juga terdapat sistem pemerintahan desa, yang dipimpin oleh seorang kepala desa yang dipilih oleh masyarakat. Misalnya, desa Ngadisari, secara administratif dipimpin oleh kepala desa yang bernama Soepoyo, yang berasal dari desa Ngadisari (beragama Hindu)[2], telah berpendidikan S2[3]. Kini, (2015), kepala desa Ngadisari dijabat oleh istri Supoyo, telah dilantik sejak 10 September 2015. Supoyo kini (2015) menjabat anggota DPRD Kabupaten Probolinggo dari Partai Nasional Demokrat dan tetap sebagai tokoh masyarakat yang disegani di wilayah Tengger khususnya desa Ngadisari.

Mulai memasuki desa-desa ini (terdapat tugu batas desa), terlihat kekhasan perkampungan masyarakat Hindu, yakni terdapatnya bangunan mirip candi atau pura berukuran kecil (tinggi sekitar 150 cm – 200 cm, lebar 50 cm) di depan rumah-rumah penduduk, mirip di Bali.

Bentuk rumah-rumah pada umumnya disesuaikan dengan tekstur tanah yang berbukit, walaupun tidak tampak berbeda dengan rumah-rumah orang Jawa pada umumnya. Beberapa tampak seperti bangunan rumah seperti banyak terdapat di perkotaan (gaya modern), terutama di pinggir jalan umum. Biasanya rumah-rumah ini milik orang kaya di Tengger, yang jumlahnya tidak terlalu banyak. Kebanyakan rumah warga Tengger berbentuk ”rumah biasa”, berbahan semen (tembok), dan papan. Strata ekonomi menengah ke bawah biasanya menempati rumah-rumah yang terletak agak masuk ke dalam, yakni daerah perbukitan. Desa Tengger adalah semua desa yang berada di lereng gunung Bromo.

Kawasan ini adalah kawasan wisata. Warung dan layanan bisnis lain terpampang papan nama identitas mereka. Warung, dan tempat-tempat layanan umum, semua ditulis dengan bahasa Indonesia.  Setelah batas desa Jetak, pemandangan menjadi lain sama sekali yakni rumah-rumah yang pada halamannya dilengkapi dengan bangunan mirip candi atau pura. Di kawasan puncak Bromo, terdapat banyak tempat layanan umum seperti hotel, rumah penginapan, rumah makan, wartel, dsb. Umumnya menggunakan bahasa Indonesia, bahasa Inggris dan bahasa Perancis untuk menandai jenis layanan mereka. (Foto: dok WK)

DSCF5446

Mayoritas (95%) warga masyarakat suku Tengger hidup dari bercocok tanam di kebun, ladang dan lahan pertanian yang terdapat di lereng pegunungan Bromo-Semeru. Mereka dikenal sebagai petani yang sangat tangguh, yang mampu bekerja di ladang (tegil) sejak pagi hingga sore hari. Umumnya mereka bertanam tanaman yang lazim tumbuh pada daerah berhawa dingin, yaitu kentang, kol (kubis), dan bawang prei atau bawang daun. Kawasan Tengger di lereng gunung Bromo – Semeru ini berhawa dingin (sekitar 4º C pada malam hari dan sekitar 18º C pada siang hari). Pada masa panen, banyak pedagang dari luar Tengger yang berdatangan ke daerah Tengger untuk mengambil barang-barang komoditi pertanian tersebut untuk dijual  di pasar Kota dan Kabupaten Probolinggo, Lumajang, dan Pasuruan. Sebagian kecil dari mereka (5%) berprofesi sebagai pegawai negeri, buruh, dan pengusaha jasa. Para pemuda, sebagian berprofesi sebagai sopir angkutan pedesaan yang menghubungkan desa-desa suku Tengger dengan desa lain di Kabupaten dan Kota Probolinggo dan Pasuruan. Biasanya mereka menggunakan kendaraan jenis pick up dan L300 atau Bison. Sebagian menyediakan jasa transportasi dan penyewaan kendaraan bagi para wisatawan yang datang ke Gunung Bromo, yaitu kendaraan jenis jeep, hard-top dan kuda tunggang. Kendaraan-kendaraan ini untuk mengarungi lautan pasir hingga mendekati kawasan Pura Luhur Poten Bromo dan kaldera Gunung Bromo. Para wisatawan biasanya setelah mengarungi lautan pasir dengan berkuda atau jeep ini melanjutkan perjalanan ke kaldera Gunung Bromo dengan berjalan kaki, naik tangga buatan. Para perempuan suku Tengger biasanya mencari kayu di hutan lereng pegunungan Bromo dan Pananjakan, disamping bekerja di lahan pertanian lereng gunung.

Hawa dingin rupanya membawa pengaruh pada ”mode” pakaian sehari-hari warga masyarakat suku Tengger. Orang-orang laki-laki pada umumnya selalu mengenakan kain sarung yang dibelitkan dan disarungkan menutupi badan hingga ke kepala (kemulan sarung), menutupi pakaian luar seperti orang kebanyakan (kemeja dan celana panjang). Sehingga muncul guyonan pada masyarakat perkotaan di Probolinggo, jika menemukan orang ber-kemulan sarung, dianggap seperti orang Tengger (kaya wong Tengger). Para pemuda lebih menyukai mengenakan jaket tebal.  Para perempuan, biasa mengenakan selembar kain untuk menutupi bagian depan dari pakaian luarnya (dipakai mirip mengenakan celemek namun berukuran lebih lebar). Umumnya ”celemek” ini bermotif kembang dan dipakai para perempuan jika mereka keluar rumah. ”Celemek” ini tidak lazim dikenakan oleh laki-laki, dan perempuan ketika di dalam rumah. Para perempuan juga mengenakan topi jenis ”topi gunung” yang biasa dikenakan anggota pecinta alam. Sebagian juga suka mengenakan jaket tebal dengan penutup kepala, terutama perempuan muda, baik yang belum menikah maupun yang telah menikah. Para perempuan paruh baya hingga tua, biasanya mengenakan pakaian khas mereka, tetap ”pakaian standard Tengger”, namun lebih sederhana, yaitu cukup berupa pakaian biasa[8] dan dilengkapi dengan kain selendang mirip gendongan bayi, yang berfungsi untuk mengendong sesuatu (biasanya barang-barang bawaan, kayu, dsb). Singkatnya, penutup kepala dan telinga menjadi ”mode” pakaian harian khas Tengger. Hanya saja bentuknya berlainan.(Foto: dok WK)

DSCF5414

Berbeda dengan pakaian adat, yang biasanya dikenakan para dukun ketika melangsungkan upacara adat. Pakaian adat Tengger ini sepintas mirip pakaian adat Bali, yakni pakaian mirip pakaian khas Jawa Timur (PKJ) berwarna putih, kerah model kerah Cina, berlilit sarung di atas celana dan bertutup kepala (udheng). Ditambah selendang berwarna kuning bersilang di depan dada.

Masyarakat Tengger memang memiliki kekhasan tersendiri. Salah satu ciri khas masyarakat Tengger, selain beragama  Hindu[9], adalah keberadaan dukun yang berperanan pada fungsi spiritual dan sosial. Dan upacara Yadnya Kasada, yang menggambarkan ekspresi terimakasih masyarakat suku Tengger kepada kekuatan supranatural (Tuhan), yang dalam ajaran Hindu yang dianut masyarakat suku Tengger direpresentasikan pada sebutan “Sang Hyang Widdhi Wasa”. Ungkapan rasa terimakasih ini diwujudkan dalam bentuk pengorbanan berupa hasil bumi kepada dewa, yang dilabuhkan ke dalam kawah Gunung Bromo (inilah asal mula Yadnya Kasada)[10].

Ayu Sutarto, budayawan dari Universitas Jember, dalam makalahnya berjudul “Sekilas Tentang Masyarakat Tengger”, yang disampaikan pada pembekalan Jelajah Budaya 2006 yang diselenggarakan oleh Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional, di Yogyakarta pada tanggal 7 – 10 Agustus 2006, mengemukakan bukti-bukti sejarah terkait keberadaan masyarakat Tengger ini. Ayu Sutarto, mengutip Pigeaud, “Java in The 14th Century” (The  Hague: Martinus Nijhoff, 1960-1963, jilid I-IV, halaman 443-444), menyebutkan tentang keberadaan prasasti berangka tahun 1327 Çaka (1407 M), yang menyebutkan tentang sebuah daerah yang disebut hila-hila, dihuni oleh hulun hyang, dan masyarakatnya taat beribadah, melakukan pemujaan kepada gunung Bromo, sebuah gunung yang dikeramatkan. Prasasti tersebut dihadiahkan oleh Bathara Hyang Wekas ing Sukha (Hayam Wuruk) pada bulan Asada. Nama “Walandit” juga dirujuk dalam Kakawin Nagarakartagama, yang ditulis oleh Mpu Prapanca, seorang pujangga kenamaan dari kerajaan Majapahit. Walandhit adalah nama tempat suci yang sangat dihormati oleh kerajaan Majapahit. Di tempat ini bermukim kelompok masyarakat yang beragama Buddha dan Shaiwa. Masih menurut Ayu Sutarto, kemungkinan besar Walandhit pada waktu itu merupakan mandala yang dipimpin oleh seorang dewa guru. Dewa Guru adalah seorang siddhapandhita (pendeta yang telah sempurna ilmunya) yang memimpin sebuah mandala.  Sebenarnya mandala adalah tempat tinggal pendeta yang sangat jauh dari keramaian, yang biasanya disebut wanasrama. Tempat seperti ini mungkin juga dihuni oleh para resi atau kaum pertapa yang hidup mengasingkan diri.

Bukti-bukti sejarah tersebut, patut dikaji ulang. Jika memang keterangan yang menyebutkan adanya pelarian asal Majapahit dapat dibenarkan, merujuk keterangan dari informan penulis (dukun Tengger, pewaris tradisi Tengger) dan temuan Ayu Sutarto, penulis mengajukan dua argumen. Pertama, terlepas dari fakta sejarah apakah orang-orang Walandhit yang mendiami gunung Bromo ini mempunyai hubungan dengan orang-orang Majapahit atau tidak, setidaknya praktik peribadatan mereka memiliki kesamaan dengan praktik peribadatan orang-orang Majapahit (sehingga raja Majapahit berkenan, dan membuat prasasti). Artinya orang Walandhit adalah “sebagian warga Jawa pada zaman itu” (warga Majapahit atau Singhasari?) yang secara kebetulan bertempat tinggal di “nun jauh di sana” (yakni di gunung Bromo), hal yang belum terjangkau oleh kerajaan. Keberadaan prasasti dapat bermakna “pengakuan raja atas warga yang berada di nun jauh di sana”. Kedua, jika tesis tentang adanya pelarian asal Majapahit itu benar, terdapat penerimaan secara penuh oleh orang-orang Walandhit terhadap para pelarian ini. Mereka kemudian hidup bersama, beranak-pinak dan menurunkan orang-orang Tengger yang dikenal sekarang ini.***


[1] Sebutan “desa Tengger” pada saat ini sudah agak membingungkan, karena beberapa desa yang dulu pernah dikenal sebagai ”desa Tengger”, saat ini tidak lagi melaksanakan adat istiadat Tengger. Karenanya, sebutan “Desa Tengger” pada makalah ini adalah desa-desa yang mayoritas penduduknya beragama Hindu dan masih memegang teguh adat istiadat Tengger.

[2] Semua warga desa Ngadisari (termasuk Jetak dan Cemara Lawang) memeluk agama Hindu.

[3] Warga Hindu Tengger sekarang telah sadar pendidikan. Telah banyak warga Tengger yang berpendidikan tinggi, hingga S1 dan S2, terutama desa Ngadisari. Warga mereka telah banyak yang menempuh pendidikan (terutama pendidikan keguruan) di Universitas Jember (UJ). Tiap tahun UJ memberikan jatah 1 orang warga Tengger untuk melanjutkan pendidikan S1 di universitas tersebut. Uniknya, setelah warga Tengger ini lulus dan telah mengajar di sekolah-sekolah di kawasan desa di Tengger, mereka tidak melupakan ”pekerjaan adatnya” yakni bertani. Tidak jarang mereka membawa pakaian seragam guru ke tanah pertanian. Dan mereka mtidak kehilangan ”ketenggerannya”. Beberapa warga Tengger juga menempuh pendidikan keagamaan Hindu di Pendidikan Guru Agama Hindu di Blitar, Jawa Timur. Mereka ini yang mengajar agama Hindu dan bahasa Sansekerta di berbagai sekolah di kawasan Tengger.

[4] Jetak adalah desa yang berbatasan langsung dengan desa non Tengger yang terletak di bagian bawah desa Jetak.

[5] Belum ada keterangan dalam hukum positif tentang perlindungan desa adat terhadap wilayah adat Tengger.

[6] Tentang dukun dan persyaratan menjadi dukun, terdapat pada bagian bawah makalah ini.

[7] Dari batas akhir Kota Probolinggo hingga ke desa tertinggi di Tengger (desa Cemara Lawang), berjarak sekitar 55 km (sekitar 1 jam perjalanan dengan kendaraan bermotor dengan kecepatan sedang, yang disesuaikan dengan kondisi jalan bergunung).

[8] Biasanya bercelana panjang atau sepanjang lutut dan baju berbahan kaos, dan sebagian mengenakan jarit ringkas dan berkebaya harian.

[9] Masyarakat Tengger sejak dahulu menganut kepercayaan yang mereka sebut ”Shiwa-Buddha”, dengan ritual keagamaan mirip dengan ajaran agama Hindu. Mereka tidak menyebut diri mereka umat Hindu (karena memang tidak tahu nama ajaran mereka). Baru pada tahun 1973, pemerintah RI (bersama para pakar berbagai agama setelah melakukan penelitian), menyebut agama masyarakat Tengger dan memberitahu (ndunungen, dialek  Tengger) bahwa ritual seperti praktik orang Tengger tersebut bernama Hindu. Sejak saat itulah orang Tengger ”resmi” mengetahui bahwa ajaran mereka bernama ”Hindu”.

[10] Tentang Yadnya Kasada selengkapnya dijelaskan pada artikel tersendiri.

 

Ditulis oleh:

Wawan E. Kuswandoro

 

bersambung yaa…. 😀

[youtube]https://www.youtube.com/watch?v=ZqifHjF3y9o[/youtube]

Belajar Dengan Hati n Pikiran Positif - FULL