Tag Archives: sosiologi

Teori Kritis

Artikel Pendahuluan:

Kritik Atas Teori Modernitas

Teori Modernitas

Memahami Realitas Sosial

TEORI KRITIS:

Jembatan Emas Menuju Pemahaman Realitas Sosial Kontemporer

 

Diberi judul seperti di atas karena kontribusi besar Teori Kritis pada kritik atas pemikiran deterministik pada teori Marxis (determinisme ekonomi) dalam memahami realitas sosial yang cenderung positivistik yang memandang realitas sosial berjalan sebagai proses alamiah, gejala sosial ditimbulkan oleh gejala sosial yang lain secara searah. Padahal pemahaman terhadap realitas sosial tidak dapat dilakukan secara deterministik tunggal (ekonomi) saja; dan seperti dikatakan Ritzer, berparadigma ganda. Teori Kritis –dengan pemikiran dialektikanya-, berupaya membongkar tradisi pemikiran deterministik dan meletakkan dasar pemikiran revolusioner pada pemikiran-pemikiran baru, untuk lebih mampu memahami realitas sosial kontemporer (masa kini) secara lebih akurat. (WK).

 

Teori Kritis, adalah produk sekelompok pemikir neo-Marxis Jerman (didirikan di Frankfurt, karenanya disebut aliran atau mazhab Frankfurt) yang tidak puas terhadap teori Marxian. Mereka menentang determinisme ekonomi dalam teori Marx, yang dari padanya menjadi titik tolak  bagi kritik selanjutnya terhadap positivisme, kritik terhadap masyarakat modern yang disebutnya “didominasi oleh elemen kultural” dan mengalami “penindasan kultural atas individu”, dan kemudian, kritik terhadap kultur. Teori Kritis adalah sebuah gerakan. Yakni gerakan pemikiran baru, untuk menentang determinisme tunggal teori sosial Marxian tadi itu.

20131117_141253Kontribusi besar Teori Kritis adalah, pertama, analisis kebudayaan (fokus pada super-struktur kultural), yang berawal dari penggeseran orientasi pemikiran basis (struktur) ekonomi dari tradisi Marxian ke arah elemen subyektif dan kultural dari kehidupan sosial. Kedua, pendekatan dialektika, yang ditandai dengan pemikiran mengenai “umpan balik” dan interaksi timbal balik secara terus-menerus antara berbagai sektor masyarakat. Pemikiran dialektika ini berfokus pada “totalitas sosial”, dengan argumen bahwa kehidupan sosial tidak memiliki aspek parsial, dan tidak ada fenomena yang terisolasi, sehingga pemahaman terhadapnya harus dikaitkan dengan sejarah secara keseluruhan.

Teori Kritis menentang Teori Marx, yakni terhadap pemikiran determinisme ekonomi Marx yang dianggapnya mekanistis dan kurang lengkap. Menurut Teori Kritis, pemusatan perhatian pada determinan ekonomi seharusnya memperhatikan “kehidupan sosial yang lain” untuk dapat memberikan penjelasan yang lebih akurat pada realitas sosial. Penentangan tersebut dilandasi pula karena teori Marxian terpengaruh pemikiran positivisme yang cenderung melihat kehidupan sosial sebagai proses alamiah, terjadi secara mekanis, satu variabel (sosial) mempengaruhi variabel lain. Variabel ekonomi mempengaruhi seluruh aspek sosial yang lain. Aliran Kritis ini berpendapat bahwa realitas sosial tidak hanya dipahami melalui determinisme ekonomi saja, tetapi melibatkan elemen-elemen lain dalam kehidupan sosial.

20140115_084242Hal yang paling ditentang oleh Teori Kritis di sini adalah karena positivisme dianggap mengabaikan (peran) aktor (subyek). Atas dasar ini pula teori Kritis juga melakukan kritik terhadap sosiologi karena “keilmiahan” sosiologi sehingga bercorak positivistik. Juga, sosiologi yang terlalu memperhatikan masyarakat sebagai satu kesatuan daripada (interaksi) individu dalam masyarakat, menjadi  sasaran kritik pula dari Teori Kritis yang lebih menyukai aktivitas manusia sebagai fokus. Karenanya, Teori Kritis sebagian besar adalah kritik terhadap aspek kehidupan sosial dan intelektual yang menjadi dasar bagi struktur kebudayaan. Tujuan utamanya adalah mengungkapkan sifat masyarakat secara lebih akurat. Kelahiran Teori Kritis ini secara tidak langsung adalah atas “jasa” seorang pengikut Marx yang menentang teori Marx, yakni Georg Lukacs, yang membongkar ajaran Marx dengan memunculkan konsep “reifikasi” dan “kesadaran kelas”.  Konsep reifikasi Lukacs merujuk pada pengertian bahwa komoditas yang diciptakan manusia (konsepsi Marx) kemudian “menjadi hidup” dan berbalik menguasai manusia.

1337076134595Aliran Kritis ini percaya bahwa sistem kebudayaan itu bertumpu pada aktor (subyek, manusia). Akan tetapi, manusia tidak lagi berada pada struktur kebudayaannya karena kebudayaan telah mengalami pengorganisasian dan mengalami konstruksi dan terstruktur secara ekonomi dan berbalik menguasai manusia yang menciptakannya (sejalan dengan konsep reifikasi Lukacs). Inilah yang dicemaskan oleh para teoretikus Kritis. Subyek manusia menjadi terancam oleh struktur kebudayaan yang diciptakannya sendiri! Inilah yang terdapat pada masyarakat modern sekarang ini. Masyarakat modern ditandai dengan adanya dominasi oleh elemen kultural (yang tadinya elemen ekonomi, pada teori Marxian yang ditentangnya) atau “penindasan kultural atas individu dalam masyarakat”. Penindasan kultural atas individu ini terjadi pada elemen-elemen kehidupan sosial yang menjangkau relung-relung sosial hingga ke wilayah gaya hidup, pemikiran, penggunaan alat-alat dan apa yang disebut “(produk) teknologi modern”. Menurut pandangan teori Kritis, penindasan kultural dalam masyarakat modern (menggantikan dominasi ekonomi) dihasilkan oleh rasionalitas. Kemudian, dominasi dan penindasan kultural menghasilkan irasionalitas; sehingga muncullah “irrasionalitas di dalam rasionalitas” (ciri masyarakat modern!). Inilah yang menjadi perhatian Teori Kritis pada konteks analisis kebudayaan masyarakat modern, dengan elemen “rasionalitas dan teknologi modern”, yang berperan penting sebagai “metode pengendalian eksternal” terhadap individu! Teknologi modern (produk kebudayaan) telah menguasai rakyat!  Ia tampak “netral” ketika diciptakan tetapi kemudian ia menjelma menjadialat bantu efektif penindas individu! Seperti yang diyakini oleh Herbert Marcuse (salah seorang tokoh Teori Kritis, selain Max Horkheimer dan Theodore Adorno) bahwa teknologi tidaklah netral. Ia sebenarnya memperbudak, dan membantu menindas manusia! Kebebasan batin aktor (individu) dilanggar dan dikurangi oleh teknologi modern, sehingga memunculkan apa yang disebut Marcuse sebagai “masyarakat berdimensi tunggal”, yakni ketika individu telah kehilangan kontrol atas pikiran kritis dan masyarakatnya. Di sinilah munculnya apa yang disebut (dan dikritik keras) oleh para teoretisi Kritis sebagai “industri kultur”, yang bisa dibentuk, diatur, dimaterialkan, distrukturkan, dikonstruksikan, didefinisikan. Pelaku pengendali dari “sistem kultural baru” ini bisa jadi adalah elit baik individual maupun korporasi, menggunakan instrumen “produk kebudayaan” juga seperti media massa, berpadu dengan kekuatan kultural, sosial, politik dan ekonomi. Di titik inilah yang dikawatirkan dan dikritik keras oleh teoretisi Kritis sebagai “kultur yang diatur, tak spontan, dan palsu”, atau yang dikenal dengan “kultur massal” atau pop culture.

IMG_1685Kontribusi besar kedua dari Teori Kritis setelah analisis budaya, adalah pendekatan dialektika, yaitu pemikiran yang bertumpu pada interelasi berbagai level realitas sosial (kesadaran individu, superstruktur kultural, struktur ekonomi) yang berjalan secara timbal balik. Dialektika adalah rumusan metodologis untuk memahami realitas sosial, yang melibatkan elemen pengetahuan dan kepentingan, seperti yang dikembangkan oleh Jurgen Habermas. Namun, Teori Kritis gagal untuk mengintegrasikan teori dan praktik, karena ia sejak kelahirannya terdorong oleh kritik atas keterbatasan teori sebelumnya (Marxian), dan dianggap ahistori serta sempat disebut oleh Greisman sebagai “paradigma yang gagal”. Akan tetapi, Teori Kritis telah berjasa besar dalam pembongkaran pemikiran determinis dalam tradisi Marxian yang tidak relevan dengan konteks kekinian. Teori Kritis (terutama pelestarian pemikiran dialektika warisan Marx-Hegel) juga menjadi landasan pacu bagi pertumbuhan pemikiran kritis selanjutnya dalam pemahaman realitas sosial kontemporer yang tidak linier, kompleks, penuh kejutan dan full variasi.***

 

Wah.. jika Theodore Adorno ngobrol kayak gini sama Max Horkheimer….. 😀

Kritik Atas Teori Modernitas

 

KRITIK ATAS TEORI MODERNITAS

 

Setelah kemunculan Teori Modernitas yang berusaha menjelaskan realitas sosial dunia modern, kemudian diketahui terdapat beberapa “kekurang-cocokan” teori modernitas. Artikel ini juga menjelaskan realitas sosial dunia modern secara kritis.

Teori Modernitas, yang menjelaskan fenomena modernitas (dunia modern) yaitu suatu kondisi sosial yang bercirikan efisiensi, kecepatan, rasionalitas formal, praktis, cepat, instan, terstandard, serba uang, keterasingan pengalaman dan akhirnya (menjadi) tidak rasional yang terbalut rasionalitas.

 

Fenomena modernitas yang menawarkan aneka kemudahan, kecepatan, fasilitas, kenyamanan, kenikmatan hidup sejatinya menyisakan beberapa persoalan yang mengancam sosialitas dan eksistensi humanitas manusia: (1) grand narrative yang “mendesain” kehidupan sosial dan peradaban dunia dalam satu skenario tunggal-seragam yang mendominasi sehingga memunculkan (2) dominasi struktural budaya (dengan kesadaran palsu-nya) dan melahirkan (4) dunia berdimensi tunggal. Sedangkan ancaman ke-5, adalah apa yang saya namakan ”silence world” (dunia senyap) akibat pengaruh teknologi informasi yang berakhir pada alienasi (keterasingan), together but alone (kesepian dalam keramaian).

 

Tulisan singkat ini memberikan kritik atas Teori Modernitas yang didasarkan atas beberapa kelemahan karakteristikal fenomena modernitas tersebut.

 

Pendahuluan: Review Teori Modernitas

 

bareng Jember, Lumajang n PapuaTeori tentang modernitas adalah teori-teori sosial yang memberi penjelasan dan interpretasi umum tentang kekuatan-kekuatan sosial yang telah membentuk dunia modern, yakni pemikiran modern untuk memahami “dunia modern” yang berisi totalitas kekuatan-kekuatan yang bekerja dalam membentuk masyarakat modern[1]. Pemikiran ini tak lepas dari hakikat ilmu yang melekat dengan pembahasan terhadap konteks sosial dan gambaran “dunia modern”. Modernitas (modernity), atau “kemodernan”, atau merujuk pada kehidupan masyarakat modern, yaitu suatu masyarakat dengan keadaan sosial yang telah mengalami perubahan dan telah berbeda dari keadaan masyarakat sebelumnya yakni pada abad pertengahan. Modernitas ini muncul terdorong oleh perubahan pemikiran di bidang ilmu pengetahuan (revolusi ilmu pengetahuan), perubahan di bidang tata kelola ekonomi (revolusi industri Inggris) dan tata kelola sosial (revolusi Prancis). Perubahan-perubahan tersebut membawa konsekuensi kelahiran elemen-elemen modernitas: sains, teknologi, demokrasi dan kapitalisme[2]. Kondisi keberbedaan (dari masyarakat sebelumnya/ “pra-modern”) yang melambari pemahaman ‘modernitas; ini juga diberikan oleh Outhwaite yang menyebut ‘modernitas’ sebagai “konsep yang bertentangan”. Dikatakannya, modernitas ini mengambil makna dari hal-hal yang ditolaknya dan dari hal-hal yang didukungnya[3]. Pengertian ini mengisyaratkan adanya perubahan kontinyu pada masyarakat, yaitu perubahan dari masyarakat tradisional, kemudian “berevolusi” menjadi masyarakat industri dengan adanya revolusi industri yang segera dibarengi kemunculan masyarakat ekonomi kapitalis dalam konsepsi Marx. Dengan mengumpulkan gagasan-gagasan modernitas dari Marx, Weber, Durkheim dan Simmel, dan dipadukan dengan pemikiran Outhwaite dan Donny Gahral Adian di atas, modernitas dapat diartikan suatu kondisi sosial yang telah berubah dan bertentangan dari kondisi sebelumnya dan perubahan itu ditentukan oleh ekonomi kapitalis (Marx), rasionalitas formal (Weber), solidaritas organik dan pelemahan kesadaran kolektif (Durkheim) serta dipenuhi oleh iklim ekslorasi potensi, besarnya pengaruh uang beserta akibat ikutannya terutama alienasi (Simmel).[4] Kondisi akumulatif yang seperti ini telah menjadikan masyarakatnya mengutamakan efisiensi, yang bermakna “cara terbaik untuk mencapai tujuan” dan itu berarti: cepat, praktis, tak jarang juga instan.

 

IMG_7109.jpgDan ketika konteks sosialnya adalah “masyarakat modern”, maka teori sosial  yang relevan adalah “teori (sosial) tentang modernitas. Teori-teori tentang modernitas bersumber dari karya pemikir sosiologi dari klasik hingga modern seperti Marx, Weber, Durkheim, Simmel, Giddens, Beck, Baumans, Habermas dan Castells. Modernitas, menurut Marx ditentukan oleh ekonomi kapitalis, sedangkan menurut Weber, rasionalitas formal. Adapun Durkheim, solidaritas organik dan pelemahan kesadaran kolektif. Sementara itu, Simmel memandang modernitas memberikan keuntungan karena memungkinkan untuk mengeksplorasi berbagai potensi dan kemampuan instrinsik manusia. Simmel juga mengajukan pemikiran tentang pengaruh uang beserta akibat ikutannya (terutama alienasi) dalam modernitas. Anthony Giddens, menggambarkan modernitas (kehidupan modern) laksana sebuah panser raksasa (disebut “juggernaut”) yang terlepas dan tak terkendalikan lagi, untuk menggilas kehidupan manusia, sehingga menghasilkan “dunia yang tak terkendali” juga (runaway world). Gagasan ini sejalan dengan teori Strukturasi Giddens, yakni tentang ruang dan waktu dan juggernaut ini melebihi kekuasaan agent dalam mempengaruhi struktur.[5]. Giddens  mendefinisikan modernitas dilihat dari empat institusi mendasar yaitu: kapitalisme, industrialisme, kemampuan mengawasi (surveillance capacities), dan pengendalian atas alat-alat kekerasan, dengan memusatkan kajian pada negara-bangsa (nation-state). Dinamisme modernitas dari teori strukturasi Giddens, melalui tiga aspek: distanciation (pemisahan ruang dan waktu), disembedding (keterlepasan), dan reflexivity (refleksivitas). Ketiga aspek ini yang kemudian menyeret “manusia modern” menuju “keterasingan pengalaman” (sequestration of experience) yaitu suatu proses yang berkait dengan penyembunyian yang memisahkan rutinitas kehidupan sehari-hari dari fenomena-fenomena seperti kegilaan, kriminalitas, penyakit, kematian dan seksualitas. Keterasingan pengalaman ini sebagai akibat dari meningkatnya peran sistem abstrak dalam kehidupan sehari-hari.[6]

 

20130723_225035Sementara itu, Beck, mengusung gagasan tentang “masyarakat berisiko”, yakni “masyarakat baru” yang terlahir dari pelarutan masyarakat industri, atau yang disebut masyarakat dengan “tipe modernitas lain” (modernitas refleksif, reflexive modernity).[7]. Zygmunt Bauman,  mengajukan gagasan bahwa modern rasionalitas formal adalah holocaust atau pembunuhan massal (seperti pada zaman Nazi Hitler terhadap Yahudi) yakni “pembunuhan massal” melalui birokrasi rasional-modern (meminjam rasionalitas Weber) dan menggunakan kekuasaan. Ciri-ciri rasionalisasi yang sesuai dengan holocaust adalah irrasionalitas dari rasionalitas dan dehumanisasi[8]. Habermas, menyatakan bahwa modernitas sebagai “proyek yang belum selesai”.  Dan, Castells, berkontribusi dengan pemikirannya tentang informasionalisme dan masyarakat jaringan sebagai akibat dari revolusi teknologi informasi yang kemudian melahirkan “kultur virtual”, kultur virtualitas riil dan kapitalisme informasional. Castells menyebut bahwa di titik ini negara semakin tak berdaya dan tergantung pasar kapital global.[9]

 

Kritik Atas Teori Modernitas: Ancaman Terhadap Sosialitas dan Humanitas

 

 

IMG_0078Kritik atas teori modernitas, saya mengadopsi pemikiran F. Budi Hardiman sebagai pembuka jalan, yakni gagasannya tentang corak-corak kesadaran yang terungkap dari studi tentang manusia modern, yang menurutnya lebih merupakan proses daripada esensi yang dialami dalam kesadaran manusia tersebut yakni individuasi, distansi, progress, rasionalisasi, dan sekularisasi.[10]. Proses-proses tersebut memberi pencerahan  akan makna konteks kehidupan modern yang melibatkan individuasi (pengindividuan) sebagai antitesis “grand narrative” yang mendominasi masyarakat modern. Distansi individu baik antar individu maupun dalam konteks sosial dalam progress, rasionalisasi dan sekularisasi memunculkan beberapa pemahaman kritis akan adanya ancaman humanitas dan sosialitas kehidupan dan peradaban manusia. Yaitu: grand narrative (beserta fenomena juggernaut) versus little winner,  dominasi struktural budaya (beserta kesadaran palsu-nya), dunia berdimensi tunggal, dan apa yang saya namakan ”silence world” (dunia senyap).

 

Grand Narrative versus Little Winner

 

wkklom1Modernitas, mengasumsikan masyarakat modern dan perubahannya, yakni yang meliputi perilaku, sosial, politik, seksualitas, dan segenap skenario perkembangannya, didasarkan atas sebuah narasi besar (grand narratives) yakni suatu konstruks dunia yang meliputi kriteria kebenaran dan validasi ilmu pengetahuan tentang dunia modern, bahwa masyarakat (dan dunia) modern tunduk pada “aturan grand narasi” ini. Yaitu, dunia yang terstruktur, terdominasi oleh arus besar (struktur) piranti-piranti modernitas: efektif-rasional (Weber), cepat-instant yang menyerbu perilaku manusia, perikehidupan sosial, politik bahkan seksualitas. Grand naratives ini dalam dunia modern digambarkan oleh Giddens sebagai juggernaut yang melindas kehidupan manusia.

 

Fenomena ketakberdayaan subjek manusia dalam skenario grand narratives  ini mengisyaratkan dengan jelas, ketertundukan subjek atas struktur yang menghegemoni. Padahal realitas sosial senantiasa mengenal peran-peran subjek (aktor, individu) yang bersumber dari “kecerdasan budaya”, local wisdom, local genius, dan praktik-praktik sosial ini tak jarang membawa solusi bagi masalah sosial masyarakat, dan ini layak untuk diakui sebagai sumber pengetahuan. Peran-peran kecil dan “praktik-cerdas” (little winner) dari praktik-praktik sosial ini bahkan menjadi the sacred wisdom yang tumbuh dari masyarakat. Secara sosiologi pengetahuan, praktik “little winner” ini mampu menjadi “rujukan kecil” (mini narratives) yang berguna bagi kehidupan sosial, tidak hanya “grand narratives”.

 

Dominasi Budaya dan Runaway World

 

Karakter masyarakat modern, menurut Outhwaite, adalah masyarakat industrial dan ilmiah, berdasarkan filsafat rasionalisme dan utilitarianisme. Ia menolak kultur masa lalu, kultur yang tidak bisa dipahami. Modernitas selalu menatap masa depan[11]. Pandangan  Outhwaite tentang modernitas (masyarakat modern) sejalan dengan konsep dasar masyarakat yang berkarakter dinamis, senantiasa berubah. Karakter serba cepat dan instan berpadu dengan serba rasional (rasionalis) dan berdaya-guna (utilitarianis) yang didukung oleh teknologi (termasuk teknologi informasi) sebagai fasilitas penting masyarakat modern,  telah “sempurna” menjadikan masyarakat modern ini tergilas oleh “aturan modernitasnya sendiri” yang digambarkan oleh Anthony Giddens sebagai juggernaut (panser raksasa)[12] yang menggilas apa-apa yang di depannya termasuk kesadaran humanisme manusia dalam masyarakat modern tersebut tanpa dapat dikendalikan lagi sehingga disebut dunia yang tak terkendali (runaway world)[13].

 

Dominasi budaya yang kemudian merembes ke ranah gaya hidup dan cara hidup manusia modern, telah benar-benar menunjukkan bahwa masyarakat modern ditandai dengan adanya dominasi oleh elemen kultural atau “penindasan kultural atas individu dalam masyarakat”. Penindasan ini terjadi pada elemen-elemen kehidupan sosial yang menjangkau relung-relung sosial hingga ke wilayah gaya hidup, pemikiran, penggunaan alat-alat dan apa yang disebut “(produk) teknologi modern”. Penindasan kultural dalam masyarakat modern dihasilkan oleh rasionalitas. Kemudian, dominasi dan penindasan kultural menghasilkan irasionalitas; sehingga muncullah “irrasionalitas di dalam rasionalitas” yang menjadi ciri masyarakat modern.

 

Dunia Berdimensi Tunggal

 

 

Elemen “rasionalitas dan teknologi modern”, yang sejatinya berisi ketidakrasionalan tadi, berperan penting sebagai suatu “metode pengendalian eksternal” terhadap individu manusia modern. Teknologi modern (produk kebudayaan) telah menguasai manusia!  Ia tampak “netral” ketika diciptakan tetapi kemudian ia menjelma menjadi “alat bantu efektif” penindas individu! Seperti yang diyakini oleh Herbert Marcuse bahwa teknologi tidaklah netral. Ia sebenarnya memperbudak, dan membantu menindas manusia! Kebebasan batin aktor (individu) dilanggar dan dikurangi oleh teknologi modern, sehingga memunculkan apa yang disebut Marcuse sebagai “masyarakat berdimensi tunggal”, yakni ketika individu telah kehilangan kontrol atas pikiran kritis dan masyarakatnya. Di sinilah munculnya apa yang disebut sebagai “industri kultur”, yang bisa dibentuk, diatur, dimaterialkan, distrukturkan, dikonstruksikan, didefinisikan. Pelaku pengendali dari “sistem kultural baru” ini bisa jadi adalah elit baik individual maupun korporasi, menggunakan instrumen “produk kebudayaan” juga seperti media massa berpadu dengan kekuatan kultural, sosial, politik dan ekonomi. Di titik inilah muncul “kultur yang diatur, tak spontan, dan palsu”, atau yang dikenal dengan “kultur massal” atau pop culture.

 

Dunia Senyap (Silence World)

 

FB_20141115_09_14_00_Saved_PictureIstilah “dunia senyap (silence world) ini bikinan saya sendiri, belum ada dalam literatur ilmu sosial. Modernitas, salah satunya menampilkan fenomena kehidupan sosial yang dipenuhi oleh penggunaan alat-alat teknologi informasi-komunikasi semacam komputer, laptop, internet, yang memungkinkan orang untuk berinteraksi dengan siapa saja di mana saja dan dari mana saja bahkan tanpa beranjak dari tempat tidurnya. Dan kemudian fungsi-fungsi ini diperkecil dalam bentuk perangkat jinjing-gerak (portable) berbentuk “hand-phone” (telepon genggam) dengan kemampuan jelajah internet (online) yang kemudian dikemas dalam teknologi android, blackberry, windows phone, iPad dsb, sehingga memungkinkan setiap orang untuk tetap  bergerak dan beraktivitas sosial selayaknya orang-orang “biasa” namun sesungguhnya mereka ini sedang “berinteraksi sosial” dengan “orang-orang nun jauh di sana”. Fenomena yang seringkali kita saksikan adalah anak-anak muda yang berkelompok dan sedang asyik memainkan gadget mereka. Walaupun mereka duduk berkelompok dan secara fisik berdekatan, namun sebenarnya mereka  tidak sedang berinteraksi dan bersosialisasi dalam kelompok itu, tetapi sedang berinteraksi dan bersosialisasi dengan orang-orang di tempat lain yang jauh jaraknya, tanpa ada batas wilayah dan bahkan negara. Mereka dekat, tetapi tidak saling interaksi. Dari habituasi semacam ini melahirkan “filosofi pergaulan modern” yang berbunyi “teknologi informasi itu mendekatkan yang jauh dan sekaligus menjauhkan yang dekat”. Dunia para “manusia modern” seperti ini adalah “dunia senyap” (noiseless world), dunia bisu. Penghuninya merasa sepi di tengah keramaian (together but alone).

 

Modernitas, yang juga bercirikan penggunaan teknologi informasi secara masif dan berbaur  dengan “irasionalitas dalam rasionalitas” manusia modern, sehingga menambah asupan ke arah masyarakat konsumtif, masyarakat cepat, instant, praktis, masyarakat virtual (online community), maka lahirlah insan-insan “selfish” dan tampak “cuek” karena selalu fokus pada dirinya sendiri, dan gadget-nya sendiri daripada kepada lingkungan sosialnya. Produk “tongsis” (tongkat narsis) yakni sebuah tongkat yang berfungsi memotret diri sendiri yang dilakukan sendiri, adalah bukti produk budaya selfish modernitas. Apalagi didukung dengan gadget yang memenuhi kebutuhan selfish ini: online, bercakap-diri (sehingga “sepi dalam keramaian”), memotret diri sendiri secara swalayan! Benar-benar sendiri, senyap, dan akhirnya terasing dari dunia konteks (sosial)-nya! Mengerikan!

 

Kondisi yang disebut terakhir ini memunculkan generasi yang “kesepian dalam keramaian” dan menghasilkan filosofi baru “mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat” akibat penggunaan gadget yang begitu khusyuk sehingga menyandera pikiran dan tindakan manusia modern serta mencerabut kesadaran humanisnya terhadap kehidupan sosial. Dunia yang dihuni oleh “manusia-manusia jenis baru” ini adalah “dunia senyap” (noiseless world) namun high product (efisien dan efektif) tetapi pada suatu ketika “noiseless technology of human-race habituation” ini akan mengendalikan kehidupan dan nasib manusia seperti yang digambarkan dalam film “The Net” yang dibintangi oleh Sandra Bullock, tentang kehidupan otomasi-terkendali-terkomputerisasi sehingga nasib manusia tergantung tombol dan bisa dipermainkan dalam hitungan menit! Mengerikan. Inilah salah satu contoh juggernaut gambaran Giddens. Awas, HP-mu adalah juggernaut ! Renungkan, kamu yang mengendalikan HP atau HP yang mengendalikanmu? Wkwkwk… 😀

 

Produk modernitas (salah satunya adalah gadget online) telah membawa kemudahan, kepraktisan, kenyamanan, dan kecepatan. Intinya, memenuhi kriteria modernitas yang serba cepat dan rasional (Weber). Rasionalitas ini kemudian terganggu dengan adanya fenomena “mendekatkan yang jauh dan sekaligus menjauhkan yang dekat” tadi itu yang menyebabkan para manusia dalam masyarakat modern ini bergerak secara selfish. Muncullah irrasionalitas dalam rasionalitas, yang merupakan anomali dan bekerjanya fenomena juggernaut ilustrasi Giddens yang sedang menggilas para korbannya yakni “manusia rasional” yang tetap merasa rasional dan tetap tidak merasa terjajah ataupun terhegemoni oleh dominasi kultur modernitas yang tengah menyandera dan menindasnya dengan nikmat.***

 

___________________

Bacaan lain:

Teori Kritis (Mazhab Frankfurt)

 

Teori Modernitas Kontemporer

Artikel Pendahuluan:

Memahami Realitas Sosial

[youtube]https://youtu.be/_FtzHwkdhas[/youtube]

TEORI MODERNITAS KONTEMPORER

Teori ini berusaha menjelaskan realitas sosial dunia modern

Teori Modernitas merupakan gugusan pemikiran untuk menjelaskan fenomena modernitas (dunia modern) yaitu suatu kondisi sosial yang bercirikan efisiensi, kecepatan, rasionalitas formal, praktis, cepat, instan, terstandard, serba uang, keterasingan pengalaman dan akhirnya (menjadi) tidak rasional yang terbalut rasionalitas. Tulisan ini berusaha memberi gambaran tentang Teori Modernitas yang disajikan secara ringkas, dengan bahasan tentang: Pengertian Modernitas,Karakteristik, Produk dan Dampak Modernitas, Pengertian Teori Modernitas, Analisis Menggunakan Teori Modernitas, dan Membaca Realitas Modern (Contoh Aplikasi Teori).  

 

Pengertian Modernitas

 

wklompshootModernitas (modernity), atau “kemodernan”, atau merujuk pada kehidupan masyarakat modern, yaitu suatu masyarakat dengan keadaan sosial yang telah mengalami perubahan dan telah berbeda dari keadaan masyarakat sebelumnya yakni pada abad pertengahan. Modernitas ini muncul terdorong oleh perubahan pemikiran di bidang ilmu pengetahuan (revolusi ilmu pengetahuan), perubahan di bidang tata kelola ekonomi (revolusi industri Inggris) dan tata kelola sosial (revolusi Prancis). Perubahan-perubahan tersebut membawa konsekuensi kelahiran elemen-elemen modernitas: sains, teknologi, demokrasi dan kapitalisme[1]. Kondisi keberbedaan (dari masyarakat sebelumnya/ “pra-modern”) yang melambari pemahaman ‘modernitas; ini juga diberikan oleh Outhwaite yang menyebut ‘modernitas’ sebagai “konsep yang bertentangan”. Dikatakannya, modernitas ini mengambil makna dari hal-hal yang ditolaknya dan dari hal-hal yang didukungnya[2]. Pengertian ini mengisyaratkan adanya perubahan kontinyu pada masyarakat, yaitu perubahan dari masyarakat tradisional, kemudian “berevolusi” menjadi masyarakat industri dengan adanya revolusi industri yang segera dibarengi kemunculan masyarakat ekonomi kapitalis dalam konsepsi Marx.

 

Dengan mengumpulkan gagasan-gagasan modernitas dari Marx, Weber, Durkheim dan Simmel, dan dipadukan dengan pemikiran Outhwaite dan Donny Gahral Adian di atas, modernitas dapat diartikan suatu kondisi sosial yang telah berubah dan bertentangan dari kondisi sebelumnya dan perubahan itu ditentukan oleh ekonomi kapitalis (Marx), rasionalitas formal (Weber), solidaritas organik dan pelemahan kesadaran kolektif (Durkheim) serta dipenuhi oleh iklim ekslorasi potensi, besarnya pengaruh uang beserta akibat ikutannya terutama alienasi (Simmel).[3] Kondisi akumulatif yang seperti ini telah menjadikan masyarakatnya mengutamakan efisiensi, yang bermakna “cara terbaik untuk mencapai tujuan” dan itu berarti: cepat, praktis, tak jarang juga instan.

 

Karakteristik, Produk dan Dampak Modernitas

 

Karakter masyarakat modern, menurut Outhwaite, adalah masyarakat industrial dan ilmiah, berdasarkan filsafat rasionalisme dan utilitarianisme. Ia menolak kultur masa lalu, kultur yang tidak bisa dipahami. Modernitas selalu menatap masa depan[4]. Pandangan  Outhwaite tentang modernitas (masyarakat modern) sejalan dengan konsep dasar masyarakat yang berkarakter dinamis, senantiasa berubah. Karakter serba cepat dan instan berpadu dengan serba rasional (rasionalis) dan berdaya-guna (utilitarianis) yang didukung oleh teknologi (termasuk teknologi informasi) sebagai fasilitas penting masyarakat modern,  telah “sempurna” menjadikan masyarakat modern ini tergilas oleh “aturan modernitasnya sendiri” yang digambarkan oleh Anthony Giddens sebagai juggernaut (panser raksasa)[5] yang menggilas apa-apa yang di depannya termasuk kesadaran humanisme manusia dalam masyarakat modern tersebut tanpa dapat dikendalikan lagi sehingga disebut dunia yang tak terkendali (runaway world)[6].

 

Produk dan dampak modernitas adalah “hasil” perpaduan antara teknologi informasi dan rasionalitas (yang kemudian menjadi irrasional), yakni: masyarakat konsumtif, masyarakat cepat, instant, praktis, masyarakat virtual (online community) sebagai pribadi-pribadi yang “selfish” dan tampak “cuek” karena selalu fokus pada gadget-nya sendiri daripada kepada lingkungan sosialnya. Kondisi yang disebut terakhir ini memunculkan generasi yang “kesepian dalam keramaian” dan menghasilkan filosofi baru “mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat” akibat penggunaan gadget yang begitu khusyuk sehingga menyandera pikiran dan tindakan manusia modern serta mencerabut kesadaran humanisnya terhadap kehidupan sosial. Dunia yang dihuni oleh “manusia-manusia jenis baru” ini adalah “dunia yang sepi” (noiseless world) namun high product (efisien dan efektif) tetapi pada suatu ketika “noiseless technology of human-race habituation” ini akan mengendalikan kehidupan dan nasib manusia seperti yang digambarkan dalam film “The Net” yang dibintangi oleh Sandra Bullock, tentang kehidupan otomasi-terkendali-terkomputerisasi sehingga nasib manusia tergantung tombol dan bisa dipermainkan dalam hitungan menit! Mengerikan. Inilah salah satu contoh juggernaut gambaran Giddens.

 

Teori tentang Modernitas

 

ket dpkp inspeksiTeori tentang modernitas adalah teori-teori sosial yang memberi penjelasan dan interpretasi umum tentang kekuatan-kekuatan sosial yang telah membentuk dunia modern, yakni pemikiran modern untuk memahami “dunia modern” yang berisi totalitas kekuatan-kekuatan yang bekerja dalam membentuk masyarakat modern[7]. Pemikiran ini tak lepas dari hakikat ilmu yang melekat dengan pembahasan terhadap konteks sosial. Dan ketika konteks sosialnya adalah “masyarakat modern”, maka teori sosial  yang relevan adalah “teori (sosial) tentang modernitas. Teori-teori tentang modernitas bersumber dari karya pemikir sosiologi dari klasik hingga modern seperti Marx, Weber, Durkheim, Simmel, Giddens, Beck, Baumans, Habermas dan Castells.

 

Modernitas, menurut Marx ditentukan oleh ekonomi kapitalis, sedangkan menurut Weber, rasionalitas formal. Adapun Durkheim, solidaritas organik dan pelemahan kesadaran kolektif. Sementara itu, Simmel memandang modernitas memberikan keuntungan karena memungkinkan untuk mengeksplorasi berbagai potensi dan kemampuan instrinsik manusia. Simmel juga mengajukan pemikiran tentang pengaruh uang beserta akibat ikutannya (terutama alienasi) dalam modernitas.

 

Anthony Giddens, menggambarkan modernitas (kehidupan modern) laksana sebuah panser raksasa (disebut “juggernaut”) yang terlepas dan tak terkendalikan lagi, untuk menggilas kehidupan manusia, sehingga menghasilkan “dunia yang tak terkendali” juga (runaway world). Gagasan ini sejalan dengan teori Strukturasi Giddens, yakni tentang ruang dan waktu dan juggernaut ini melebihi kekuasaan agent dalam mempengaruhi struktur.[8]. Giddens  mendefinisikan modernitas dilihat dari empat institusi mendasar yaitu: kapitalisme, industrialisme, kemampuan mengawasi (surveillance capacities), dan pengendalian atas alat-alat kekerasan, dengan memusatkan kajian pada negara-bangsa (nation-state). Dinamisme modernitas dari teori strukturasi Giddens, melalui tiga aspek: distanciation (pemisahan ruang dan waktu), disembedding (keterlepasan), dan reflexivity (refleksivitas). Ketiga aspek ini yang kemudian menyeret “manusia modern” menuju “keterasingan pengalaman” (sequestration of experience) yaitu suatu proses yang berkait dengan penyembunyian yang memisahkan rutinitas kehidupan sehari-hari dari fenomena-fenomena seperti kegilaan, kriminalitas, penyakit, kematian dan seksualitas. Keterasingan pengalaman ini sebagai akibat dari meningkatnya peran sistem abstrak dalam kehidupan sehari-hari.[9]

 

Ulrich Beck, mengusung gagasan tentang “masyarakat berisiko”, yakni “masyarakat baru” yang terlahir dari pelarutan masyarakat industri, atau yang disebut masyarakat dengan “tipe modernitas lain” (modernitas refleksif, reflexive modernity).[10]. Zygmunt Bauman,  mengajukan gagasan bahwa modern rasionalitas formal adalah holocaust atau pembunuhan massal (seperti pada zaman Nazi Hitler terhadap Yahudi) yakni “pembunuhan massal” melalui birokrasi rasional-modern (meminjam rasionalitas Weber) dan menggunakan kekuasaan. Ciri-ciri rasionalisasi yang sesuai dengan holocaust adalah irrasionalitas dari rasionalitas dan dehumanisasi[11]. Habermas, menyatakan bahwa modernitas sebagai “proyek yang belum selesai”.  Dan, Castells, berkontribusi dengan pemikirannya tentang informasionalisme dan masyarakat jaringan sebagai akibat dari revolusi teknologi informasi yang kemudian melahirkan “kultur virtual”, kultur virtualitas riil dan kapitalisme informasional. Castells menyebut bahwa di titik ini negara semakin tak berdaya dan tergantung pasar kapital global.[12]

 

Analisis Menggunakan Teori tentang Modernitas

 

Analisis menggunakan teori-teori tentang modernitas dapat digunakan sepanjang teori itu mampu menjelaskan realitas sosial yang bersangkutan. Modernitas, atau dunia  modern, memiliki karakter sebagaimana dideskripsikan di atas. Analisis terhadapnya seyogyanya memperhatikan karakter realitasnya. Dalam hal ini pemikiran F. Budi Hardiman dapat membantu membuka jalan. Dia mengajukan gagasan tentang corak-corak kesadaran yang terungkap dari studi tentang manusia modern, yang menurutnya lebih merupakan proses daripada esensi yang dialami dalam kesadaran manusia tersebut yakni individuasi, distansi, progress, rasionalisasi, dan sekularisasi.[13].  

 

Membaca Realitas Modern (Aplikasi Teori)

 

WP_20161126_004Satu contoh fenomena kehidupan (dunia) modern adalah dunia pergaulan sosial yang dipenuhi oleh penggunaan alat-alat teknologi informasi-komunikasi semacam komputer, laptop, internet, yang memungkinkan orang untuk berinteraksi dengan siapa saja di mana saja dan dari mana saja bahkan tanpa beranjak dari tempat tidurnya. Dan kemudian fungsi-fungsi ini diperkecil dalam bentuk perangkat jinjing-gerak (portable) berbentuk “hand-phone” (telepon genggam) dengan kemampuan jelajah internet (online) yang kemudian dikemas dalam teknologi android, blackberry, windows phone, iPad dsb, sehingga memungkinkan setiap orang untuk tetap  bergerak dan beraktivitas sosial selayaknya orang-orang “biasa” namun sesungguhnya mereka ini sedang “berinteraksi sosial” dengan “orang-orang nun jauh di sana”. Fenomena yang seringkali kita saksikan adalah anak-anak muda yang berkelompok dan sedang asyik memainkan gadget mereka. Walaupun mereka duduk berkelompok dan secara fisik berdekatan, namun sebenarnya mereka  tidak sedang berinteraksi dan bersosialisasi dalam kelompok itu, tetapi sedang berinteraksi dan bersosialisasi dengan orang-orang di tempat lain yang jauh jaraknya, tanpa ada batas wilayah dan bahkan negara. Mereka dekat, tetapi tidak saling interaksi. Dari habituasi semacam ini melahirkan “filosofi pergaulan modern” yang berbunyi “teknologi informasi itu mendekatkan yang jauh dan sekaligus menjauhkan yang dekat”. Dunia para “manusia modern” seperti ini adalah dunia yang sepi (noiseless world), dunia bisu. Penghuninya merasa sepi di tengah keramaian.

 

Produk modernitas (gadget online) telah membawa kemudahan, kepraktisan, kenyamanan, dan kecepatan. Intinya, memenuhi kriteria modernitas yang serba cepat dan rasional (Weber). Rasionalitas ini kemudian terganggu dengan adanya fenomena “mendekatkan yang jauh dan sekaligus menjauhkan yang dekat” tadi itu yang menyebabkan para manusia dalam masyarakat modern ini bergerak secara selfish. Inilah muncul irrasionalitas dalam rasionalitas. Anomali seperti inilah kekhawatiran fenomena juggernaut sebagaimana ilustrasi Giddens sedang menggilas para korbannya yakni “manusia (yang menjadi) irasional” yang tetap merasa rasional dan tetap tidak merasa terjajah ataupun terhegemoni oleh dominasi kultur modernitas yang tengah menyandera dan menindasnya dengan nikmat. Maka, muncullah kritik atas Teori Modernitas.*****

 


Bacaan lain:

Kritik Atas Teori Modernitas
Teori Fungsionalisme Struktural
Konstruksi Sosial Atas Realitas

TIPS MEMAHAMI ISI BUKU TEKS DENGAN LEBIH MUDAH!

 

 

Teori Fungsionalisme Struktural Parsons

Artikel Pendahuluan:

Memahami Realitas Sosial

TEORI FUNGSIONALISME STRUKTURAL PARSONS

Dasar dan gagasan utama teori Fungsionalisme Struktural ini memandang realitas sosial sebagai hubungan sistem: sistem masyarakat, yang berada dalam keseimbangan, yakni kesatuan yang terdiri dari bagian-bagian yang saling tergantung, sehingga perubahan satu bagian dipandang  menyebabkan perubahan lain dari sistem.

 

[youtube]https://youtu.be/mpDVs3Uifjg[/youtube]Teori fungsionalisme struktural, yang diperkenalkan oleh Talcott Parsons, merupakan teori dalam paradigma fakta sosial dan paling besar pengaruhnya dalam ilmu sosial di abad sekarang, sehingga dapat disinonimkan dengan sosiologi (Ritzer, 2005:117). Teori ini memfokuskan kajian pada struktur makro (sosiologi makro) yakni pada sistem sosial, yang melalui teori ini Parsons menunjukkan pergeseran dari teori tindakan ke fungsionalisme struktural. Kekuatan teoretis Parsons terletak pada kemampuannya melukiskan hubungan antara struktur sosial berskala besar dan pranata sosial (Ritzer 2005:82). Bangunan teori fungsionalisme struktural Parsons banyak terpengaruh oleh pemikiran Durkheim, Weber, Freud dan Pareto, dan yang disebut terakhir inilah yang paling besar pengaruhnya bagi pengembangan teori fungsionalisme struktural, terutama gagasan Pareto tentang masyarakat yang dilihatnya dalam hubungan sistem (Ritzer, 2011:280). Konsepsi Pareto yang sistematis tentang masyarakat, yang dipandangnya sebagai sebuah sistem yang berada dalam keseimbangan, yakni kesatuan yang terdiri dari bagian-bagian yang saling tergantung, sehingga perubahan satu bagian dipandang  menyebabkan perubahan lain dari sistem, dan dilebur dengan pandangan Comte, Durkheim dan Spencer yang menganalogikan masyarakat dengan organisme, memainkan peran sentral dalam pengembangan teori fungsionalisme struktural Parsons (Ritzer, 2005:54-55).

Cbs4Teori fungsionalisme struktural Parsons berkonsentrasi pada struktur masyarakat dan antar hubungan berbagai struktur tersebut yang dilihat saling mendukung menuju keseimbangan dinamis. Perhatian dipusatkan pada bagaimana cara keteraturan dipertahankan di antara berbagai elemen masyarakat (ibid., halm.83). Pemerhatian teori ini pada unsur struktur dan fungsi dalam  meneliti proses sosial dalam masyarakat (ibid., halm 118), dan pandangannya pada masyarakat sebagai sebuah sistem yang terdiri dari bagian-bagian atau subsistem yang saling tergantung, teori ini menganggap integrasi sosial merupakan fungsi utama dalam sistem sosial. Integrasi sosial ini mengonseptualisasikan masyarakat ideal yang di dalamnya nilai-nilai budaya diinstitusionalisasikan dalam sistem sosial, dan individu (sistem kepribadian) akan menuruti ekspektasi sosial. Maka, kunci menuju integrasi sosial menurut Parsons adalah proses kesalingbersinggungan antara sistem kepribadian, sistem budaya dan sistem sosial, atau dengan kata lain, stabilitas sistem (Ritzer 2011:280-281).

Kontribusi pada Perkembangan Teori Sosial

20131027_101749Kontribusi teori Parsons pada perkembangan teori sosial adalah pada pengembangan teori dan analisis sosial, sistem sosial, integrasi sosial dan sistem tindakan dalam sistem sosial (dioperasionalkan dalam empat skema tindakan: AGIL). Prioritas Parsons adalah bagaimana membakukan suatu teori yang memadai tentang sistem sosial, yang mampu memberikan seperangkat acuan struktural yang konsisten untuk analisis (Turner 2012:160). Analisis sistem sosial Parsons memandang sistem sosial sebagai satu kesatuan, meliputi semua jenis kehidupan kolektif (Ritzer 2005:127), sehingga ia mengutamakan dominasi sistem sosial atas bagian-bagian atau subsistem/ individu yang dikatakannya, mengendalikan individu, dan individu bertindak menurut ekspektasi logis dari sistem masyarakat. Dengan kata lain, subsistem  memang ingin patuh pada sistem. (Ritzer 2011:282). Dalam mengoperasionalkan fungsi sistem sosial yang terkait dengan subsistem, Parsons mengajukan empat skema fungsi penting untuk semua sistem tindakan, yang terkenal dengan sebutan “skema AGIL”, yang dipercaya Parsons diperlukan oleh semua sistem sosial. Menurut Parsons, suatu sistem sosial agar tetap bertahan (survive), harus memiliki empat fungsi AGIL ini, yaitu: A (Adaptation, adaptasi) – G (Goal Attainment, pencapaian tujuan) – I (Integration, integrasi) – L (Latency, latensi, pemeliharaan pola), yang keempat-empatnya  beroperasi dalam relasi input-output dalam pertemuan yang kompleks, dan didudukkan sebagai konsep analitis, bukan deskripsi empiris tentang kehidupan sosial (Ritzer 2011:301-302).

20130519_215208-2Skema AGIL ini yang dapat juga disebut sebagai “empat sistem tindakan”, merupakan inti pemikiran Parsons, dan merupakan jalan keluar dari problem Hobessian tentang keteraturan, dengan argumen keteraturan dan keseimbangan sistem, integrasi dan pemeliharaan keseimbangan diri. Argumen ini menyebabkan Parsons menempatkan analisis struktur keteraturan masyarakat pada prioritas utama (Ritzer 2005:123).

[Catatan: tentang skema A-G-I-L ini mengapa dimulai dari A (Adaptation), kemudian G dst. Mengapa tidak G (Goal Attainment) terlebih dahulu kemudian I (Integration) terus L (Latency) dan A (Adaptation)… pernahkah ditanyakan?] wkwk… 😀

Teori fungsionalisme struktural ini tampak konservatif, terlalu mengagungkan dominasi struktur dan enggan memberi ruang bagi konflik, sehingga seringkali dianggap “anti perubahan sosial”. Parsons sendiri menganggap perubahan sosial itu menyusahkan dan membahayakan imperatif-imperatif sistem. Namun, pemikiran Parsons masih relevan dengan studi perubahan sosial.

mendemsurveyPerubahan sosial dalam pemikiran Parsons dilakukan dari perspektif evolusioner yang tertib. Kompleksitas kemasyarakatan membutuhkan diferensiasi subsistem yang lebih luas dan transformasi terjadi sebagai akibat ketegangan-ketegangan sistem yang meningkat karena mal-integrasi di antara komponen-komponennya. Masyarakat digambarkan bergerak melewati tahap-tahap ekuilibrium temporer, perubahan sosial berlangsung mengikuti urutan tertib dan dipolakan sesuai kebutuhan sistem yang bersifat swatata. (Ritzer 2011:281). Integrasi sosial, menurut Parsons, bisa dicapai jika bagian-bagian saling sesuai dan setelah tercapai ekuilibrium, selanjutnya tidak memerlukan syarat mekanisme khusus apapun. (ibid., halm 282). Dapat disimpulkan bahwa isu teoretis utama teori fungsionalisme struktural Parsons, sebagaimana dikatakan oleh Alexander yang dikutip Ritzer (2011:297) adalah tatanan  sosial dan tindakan sosial. Pemikiran fungsionalisme struktural Parsons dikembangkan –dengan beberapa perubahan- oleh Robert Merton, murid Parsons, yang lebih menyukai teori yang terbatas dan menengah. (Ritzer 2005:136).

Kritik dan Perkembangan Berikutnya

20140301_143402-1Dominasi dan penetrasi sistem sosial kepada sistem kepribadian Parsons, dikritik oleh Niklas Luhmann dan para teoretikus kritis mazhab Frankfurt yang berkiblat pada karya-karya Marx. Luhmann menyatakan bahwa hubungan antar sistem dan lingkungannya lebih kompleks daripada apa yang dideskripsikan oleh Parsons. Luhmann menganggap penekanan Parsons pada konsensus nilai dan penetrasi sistem sosial terhadap sistem kepribadian, membatasi jenis-jenis hubungan sosial. (Ritzer 2011:287). Walaupun teori Parsons sempat dinyatakan cacat dan tidak layak hingga akhir 1960-an dan 1970-an, namun kembali mencuat pada 1980-an bahkan melahirkan mazhab neofungsionalisme yang dipelopori Jeff Alexander. Dan pemikiran Parsons tentang sistem-tindakan dan sistem sosial merupakan titik tolak bagi kajian selanjutnya dalam teori sistem, teori pertukaran sosial, teori kekuasaan, tatanan konflik, dan dengan bantuan rekannya, Neil Smelser, diperluas dalam bidang sosiologi ekonomi, sosiologi institusi dsb sehingga Parsons dianggap pembaru kreatif dari tradisi sosiologi klasik.***

 

Bacaan lain:

Teori Modernitas

Teori Kritis (Mazhab Frankfurt)

Belajar Dengan Hati n Pikiran Positif - FULL

Memahami Realitas Sosial

Memahami Realitas Sosial

DSCF5414Pokok penting dalam teori sosial adalah kemampuan untuk menjelaskan dan memahami realitas sosial. Berikut ini adalah penjelasan dan pemahaman  atas realitas sosial dan pengetahuan manusia tentang realitas sosial yakni posisi teori sosial dalam menjelaskan dan memahami realitas sosial sehingga memunculkan aneka perspektif teori sosial dalam beberapa paradigma.

Realitas sosial, merupakan kehidupan manusia yang terbentuk dalam proses yang terus-menerus, yakni gejala sosial sehari-hari, yang dalam pengertian sehari-hari dinamakan “pengalaman bermasyarakat”. Atau dengan kata lain, realitas sosial itu tersirat dalam pergaulan sosial yang diungkapkan secara sosial melalui tindakan sosial seperti komunikasi lewat bahasa, bekerjasama lewat organisasi-organisasi sosial. “Pengalaman bermasyarakat” inilah sebenarnya esensi masyarakat itu. Realitas sosial seperti ini ditemukan dalam pengalaman intersubjektif (intersubjektivitas), merujuk pada struktur kesadaran umum ke kesadaran individual dalam kelompok yang saling berinteraksi. Maka jika ingin mengetahui, mempelajari, menjelaskan dan memahami esensi masyarakat, didapat melalui mempelajari “pengalaman bermasyarakat” atau realitas sosial (Berger, 2013:xv).

DSCF5446Dan “pengalaman bermasyarakat”, yang merupakan agregasi pengalaman-pengalaman individual yang membawa subjektivitasnya masing-masing, mengandung unsur pengetahuan sosial, kesadaran, persepsi individual (sistem nilai, dsb) dan memiliki dimensi subjektif  dan objektif yang berbeda-beda sehingga berciri paradoksal dan kompleks, membawa kompleksitas realitas sosial. Pengalaman intersubjektivitas ini dapat dijelaskan, bahwa pada proses sosial, masing-masing individu pada dimensi subjektif-nya menghadirkan kenyataan sosial dalam konstruksinya dan ia memanifestasikannya melalui proses eksternalisasi (sebagai kenyataan objektif, dimensi objektif) yang kemudian mempengaruhi kembali manusianya melalui proses internalisasi (realitas subjektif). Di sini terdapat dialektika antara diri (self) dengan dunia sosio-kultural, yang berlangsung dalam satu proses, melibatkan 3 momen simultan: eksternalisasi (penyesuaian diri dengan dunia sosio-kultural), objektivasi (interaksi sosial dalam dunia intersubjektivasi), dan internalisasi (identifikasi diri dengan lembaga sosial). Maka dapat dikatakan bahwa “masyarakat sebagai produk manusia dan manusia sebagai produk masyarakat” seperti dikatakan Berger. Inilah realitas sosial yang dikonstruksikan, atau konstruksi sosial atas realitas (social construction of reality).

Maka bagaimana menjelaskan dan memahami realitas sosial yang sebenarnya?

IMG-20161025-WA0020Untuk menjelaskan dan memahami realitas sosial (dengan kompleksitasnya tersebut), diperlukan perangkat sistem pengetahuan sosial yang mampu menangkap gejala-gejala sosial yang bersifat intersubjektif (relativitas sosial) itu dan men-sintesa-kan gejala sosial yang kelihatan paradoksal dan kontradiktif ke dalam suatu sistem penafsiran yang sistematis, ilmiah dan meyakinkan; yakni yang disebut ‘teori sosial’. Teori sosial ini dibangun di atas bangunan sosial dari realitas yang paradoksal-kontradiktif, intersubjektif dan relatif itu tadi. Karenanya, bangunan teori yang memadai adalah yang bercorak dialektis, yaitu pendekatan dialektika untuk menjelaskan dan memahami realitas sosial yang berciri relativitas sosial, paradoksal, dan intersubjektif, yang berlangsung dalam 3 momen simultan tadi itu.  Jika di-meta-konsepkan (meminjam terminologi “meta-teori), konsepsi “relativitas sosial, paradoksal, dan intersubjektif” terdiri dari anasir konteks sosial spesifik dan hubungan-hubungannya yakni pengetahuan-pengetahuan “kecil” yang tumbuh di masyarakat, konstruksi individual atas realitas sosial dan proses-proses sosial yang membawa serta perangkat “pengetahuan kecil” tadi. Variasi empiris ini semua terpelihara dalam  berbagai situasi sosial yang akhirnya membentuk suatu kenyataan, atau pembentukan kenyataan oleh masyarakat (social construction of reality). Di sinilah bidang gerak teori sosial (sosiologi) dimaksud, teori sosial yang relevan dengan konteksnya, memuat analisis sosiologis yang memadai mengenai konteks-konteks itu. Konteksnya adalah berbasis pada berbagai kenyataan yang dianggap sebagai “diketahui”  oleh masyarakat, atau dengan kata lain, suatu “sosiologi pengetahuan”, yang akan menjawab social construction of reality tadi itu.

20131103_081544Sosiologi pengetahuan ini lebih kepada konsep filosofis keilmuan sosial, yang memberikan napas bahkan ruh pada teori sosial yang “relevan dengan konteks” tadi itu. Konsep sosiologi pengetahuan ini awal diciptakan oleh Max Scheler yang kemudian diperbarui rumusannya oleh Karl Mannheim (dalam bukunya “Ideologi dan Utopia), -dan Berger juga menggunakannya-, menjelaskan bahwa masyarakat telah memiliki pengetahuannya sendiri atau interpretasi tentang kehidupannya sendiri, yang bersifat kompleks, maka dalam melihat realitas sosial harus memperhatikan pengetahuan dalam struktur kesadaran masyarakat. Karena itulah, sosiologi pengetahuan memfokuskan kajiannya pada hubungan antara pemikiran manusia dan konteks sosial di mana pemikiran itu timbul, sehingga kesadaran manusia ditentukan  oleh keberadaan sosialnya. Rumusan Mannheim memberikan ruh pada sosiologi pengetahuan, dengan konsep “relasionisme” sebagai perspektif epistemologis dari sosiologi pengetahuannya, yakni pengetahuan yang senantiasa berelasi dalam relativitas sosio-historisnya, sehingga pengetahuan itu selalu merupakan pengetahuan dari segi suatu posisi tertentu.

Pada perkembangan teori sosial, konsepsi sosiologi pengetahuan Mannheim (yang lebih  mengemuka ke gejala ideologi) ini hadir pada pemikiran sosiologi misalnya Robert Merton pada teori struktural fungsional yang merupakan “pembaruan” dari gurunya, Talcott Parsons yang tidak terlalu memasukkan ide sosiologi pengetahuan dalam bangunan teorinya, C. Wright Mills yang membahas sosiologi pengetahuan berupa penjelasan. Yang menarik adalah apa yang dilakukan Werner Stark, yang menggeser sosiologi pengetahuan dari ideologi ala Mannheim ke telaah sistematis kondisi-kondisi sosial bagi pengetahuan sebagai pengetahuan, sehingga mengarah pada sosiologi kebenaran.

20131027_101749Ringkasnya, sosiologi pengetahuan menekuni segala sesuatu yang dianggap sebagai pengetahuan oleh masyarakat. Pada perumusan teoretisnya, sosiologi pengetahuan pertama-tama harus sibuk dengan “apa saja yang “diketahui” oleh masyarakat sebagai “kenyataan” dalam kehidupan sehari-hari, yang tidak teoretis (prateoretis) atau pra-ilmiah, yakni pengetahuan akal sehat (common sense), yang hidup di masyarakat. Karenanya, sosiologi pengetahuan harus mengarahkan perhatiannya pada pembentukan kenyataan oleh masyarakat (social construction of reality).

Artinya, bahwa sosiologi pengetahuan merupakan konsep dasar, yang menyemangati teori sosial dan upaya teorisasi sosial. Karena untuk menjelaskan dan memahami realitas sosial, (dengan segala karakter seperti deskripsi di atas) diperlukan teori yang relevan dengan karakter itu. Sosiologi pengetahuan, hadir sebagai suluh-pemandu.

Pada perkembangan teori sosial, tentu saja tidak semua teori sosial bersemangatkan esensi konsepsi sosiologi pengetahuan ini karena konsep sosiologi pengetahuan baru dikenal dan diperkenalkan oleh Max Scheler pada tahun 1925 melalui eseinya “Probleme einer Soziologie des Wissens” yang terbit pada tahun itu.

Pada periode sebelumnya, ketika munculnya teori-teori sosial sejak zaman August Comte (positivisme) hingga periode Max Scheler dan Karl Mannheim ini dst: Talcott Parsons, Robert Merton (fungsionalisme struktural) dst hingga teori modernitas dan teori kritis, -dengan  aneka teori yang diperkenalkan dan dikembangkan– adalah tahap-tahap perkembangan teori sosial yang ingin menjelaskan dan memahami realitas sosial. Tidak ada yang salah dengan teori-teori sosial yang telah berkembang itu. Penjelasannya adalah, bagaimana teori-teori itu bisa menjelaskan dan memahami realitas sosial, tergantung dari paradigma yang digunakan, bagaimana teori dan pemikirnya memandang atau memaknai realitas sosial. Dan, teori terdahulu merupakan penyumbang ide bagi teori berikutnya, tentu saja dengan beberapa pembaruan.

Pada era Comte (1798 – 1957), pertama kali nama “sosiologi” diperkenalkan, realitas sosial dipandang sebagai mirip gejala alam, dengan mengembangkan “fisika sosial” yang kemudian disebut “sosiologi”, Comte menghendaki sosiologi meniru “hard science”. Lahirlah positivisme (filsafat positif), sebagai perlawanan dari “filsafat negatif dan destruktif” dari Abad Pertengahan (Ritzer, 2014:17). Comte berada pada garis terdepan pada perkembangan sosiologi positif, dan sebagai peletak dasar perkembangan teori sosiologi berikutnya.

Pengaruh  pemikiran Comte besar sekali pada Herbert Spencer dan Emile Durkheim (1858 – 1917). Tradisi konservatif Comte berlanjut ke Durkheim, namun karya Durkheim menjadi kekuatan dominan pada perkembangan sosiologi. Durkheim mengembangkan konsep pokok  sosiologi melalui uji empiris, yakni melalui karyanya “The Rule of Sociological Methods”, ia menekankan bahwa sosiologi mempelajari apa yang ia sebut “fakta sosial”, yang dibedakan menjadi: fakta sosial materiel dan non-materiel. (Ritzer, 2014:24).

mendemsurveyPerkembangan berikutnya, fakta sosial non-materiel menempati posisi lebih sentral, yang dalam karya terakhirnya, The Elementary Forms of Religious Life”, Durkheim memusatkan bentuk terakhir fakta sosial non-materiel yakni agama. Dari sini kita mengenal arus besar paradigma sosiologi, yakni: fakta sosial, definisi sosial dan perilaku sosial.

Dari overview di atas, maka ada beberapa teori sosial yang digunakan untuk menjelaskan dan memahami realitas sosial yang relevan dengan karakter realitas sosial tersebut; yang pokok untuk diketahui adalah (sambil kita perhatikan perkembangan dan perbedaannya).

 

Jadi kesimpulan dari deskripsi dan brainstorming di atas, adalah, bahwa yang disebut ‘realitas’ atau ‘realitas sosial’ itu bukanlah realitas yang sebenarnya, tetapi ‘persepsi atas realitas’ atau ‘realitas sosial yang telah dikonstruksikan’. Dan dalam persepsi itu, terdapat anasir prasangka, modal pengetahuan, harapan, asumsi, dan kepentingan, yang semuanya itu turut serta bermain ketika melihat “realitas” (WK)

Karenanya, ada dua macam realitas sosial, yaitu realitas sosial subjektif yakni ‘realitas sosial hasil konstruksi individu; dan realitas sosial objektif, yakni ‘realitas sosial yang dikonstruksikan secara kolektif’.

Lha………. yang manakah ‘realitas sosial yang sebenarnya’….?

Selanjutnya, boleh kita baca:

Baca: Fenomenologi: Membaca Realitas Sosial Tanpa Prasangka

 ______________________________________

Struktural Fungsional (Talcott Parsons)

Teori Modernitas

Kritik Atas Teori Modernitas

Teori Kritis (Mazhab Frankfurt)

Teori Postmodern

Teori Feminis

Fenomenologi

Fenomenologi Husserlian

Penjelajahan Fenomenologi Husserlian Untuk Memahami Masyarakat

Cultural Studies

Metode dan Teori Dalam Cultural Studies

Teori Pierre Bourdieu

 

________________________________

Bacaan lain:

Memahami Metode Penelitian Sosial

Realitas Sosial Baru: Social Entrepreneur

 

Belajar Dengan Hati n Pikiran Positif - FULL

Islam Nusantara dan Shock Therapy Intoleran

Menyeruaknya kembali gagasan yang disebut ‘Islam moderat’, ‘Islam toleran’, dsb ke permukaan hingga kemudian memunculkan wacana “Islam Nusantara”, tampaknya merupakan respons sosial atas berbagai penampakan fenomena sosial yang berkaitan dengan isu agama (Islam), dengan berbagai persepsi yang mengemuka sehingga dirasa perlu adanya sebuah upaya “penjernih suasana” atas berbagai reaksi terhadap “fenomena dunia Islam”, baik di Indonesia maupun di luar Indonesia. Ini jelas mengisyaratkan belum tuntasnya masalah keberagamaan di tengah keberagaman budaya dan praktik keberagamaan di Indonesia.  Ini adalah wilayah sosial, tentang tafsir sosial atas aplikasi dan tafsir dari sebuah ajaran agama (Islam). Sama sekali bukan “mengindonesiakan Islam” atau “mengislamkan Indonesia”. Hanya sebatas tafsir sosial. Sebenarnya, pertanyaan kritisnya adalah, mengapa perlu muncul “Islam Nusantara”? Tidak cukupkah dengan apa yang disebut “Islam” tanpa embel-embel?

Okay, kita runut konteks sosialnya. Dalam masyarakat muslim yang mayoritas pun masih diwarnai kegamangan dalam perilaku beragama dan bersosial di antara mereka, dikarenakan adanya berbagai aliran dalam Islam yang berimbas pada perbedaan perilaku sosial yang kemudian mengemukanya corak hubungan sosial di antara warga masyarakat muslim. Perbedaan tafsir atas ajaran agama Islam dalam tubuh masyarakat muslim sendiri pun masih mewarnai dan menentukan pola hubungan sosial. Masyarakat muslim Indonesia belum sepenuhnya terlatih untuk menafsir “perbedaan adalah rahmat” yang menjelma menjadi praktik hubungan sosial yang benar-benar harmonis dan saling menghormati atas perbedaan tersebut, namun justru terjerumus dalam kepicikan berpikir yang dibangun dari egositas kelompok, egositas fragmen pemikiran yang berbalut dan atas nama ajaran agama. Kekosongan ruang berpikir berorientasi sosial ini membawa pada perilaku intoleran antar kelompok dalam masyarakat muslim sendiri. Perbedaan-perbedaan tafsir atas ajaran agama yang seharusnya tidak perlu mengganggu kelompok lain yang berbeda, justru menjadi komoditas sosial dan bahkan politik untuk kemudian seolah melegalkan permusuhan bahkan kekerasan suatu kelompok muslim terhadap kelompok muslim lain yang berbeda aplikasi tafsir ajaran. Men-stigma “sesat” dan “kafir” pada kelompok lain yang berbeda telah menjadi kebiasaan. Konflik antara kelompok muslim Sunni – Syiah di Sampang (sebelumnya juga sering terjadi antara lain di Sidoarjo, Bangil, Jawa Timur) yang hingga kini belum menampakkan solusi yang humanis.

Perilaku intoleran secara intelektual yang terpicu dari tafsir-sektarian-egois atas ajaran agama, juga terjadi di kalangan intelektual menengah ke atas. Kita bisa menyaksikan betapa pembicaraan tentang perbedaan mazhab dalam Islam saja berkembang dahsyat dengan pengkafiran pada kelompok lain yang tidak sejalan dengan dirinya. Isu perbedaan Sunni – Syi’ah yang semakin mengembang tidak jelas jluntrungannya dan tidak jelas apa yang diperebutkan itu juga bagian dari perkembangan wacana yang berpotensi membawa kepada perpecahan umat, bisa mengancam perpecahan bangsa.

Dan beberapa konflik sosial lain, yang kemudian memejal menjadi kekerasan antar kelompok dalam masyarakat, benar-benar menuntut perhatian kita, terutama kasus yang berkenaan dengan konflik dan kekerasan sosial yang mengatasnamakan agama. Teks-teks ajaran agama, yang lebih cenderung dianggap sebagai agama dengan menggunakan ‘teks suci’ oleh pemeluknya, oleh karena itu diperlukan ajaran-ajaran yang menginterpretasikan kembali agar pemahaman dari para pemeluknya dapat menyatu dengan pola-pola dan pedoman yang selama ini dilakukan dalam masyarakatnya. Semua agama pasti menganjurkan keharmonisan dalam membentuk masyarakat agar sejahtera, namun interpretasi dan pemahaman yang dimiliki oleh pengikut agama tersebut yang membuatnya menjadi salah tafsir dan salah pengertian sehingga menjadi berbeda dari ajaran yang seharusnya. Konflik-konflik kerap kali terjadi antar satu agama dengan agama lainnya diperkarakan oleh sebab-sebab yang kecil dan sepele seperti konflik di Papua, konflik di Aceh, konflik di Poso dan konflik di Sambas.

Konflik yang terjadi di Papua misalnya, merupakan konflik antar agama yang banyak memberikan pandangan bahwa konflik tersebut bukanlah karena agama namun lebih karena adanya persoalan ekonomi, sosial dan politik. Selain itu perilaku para pendatang baru yang masuk ke kampung-kampung kemudian menjadi pelaku ekonomi yang berhasil. Sehingga perekonomian yang ada di Papua seringkali dikuasai oleh para pendatang dibandingkan warga asli Papua. Seharusnya konflik antar agama di Papua tidak terjadi, karena pemicunya hanyalah persoalan emosional dari sekelompok anggota masyarakat tertentu saja sehingga persoalan tersebut dibesar-besarkan oleh pihak-pihak lain dan dianggap sebagai persoalan yang berkaitan dengan suku, agama, ras dan antargolongan (SARA). Demikian pula yang terjadi di Aceh, pada tahun 2013 terjadi isu pelarangan perayaan Natal oleh pihak Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU), padahal dari pihak MPU sendiri tidak pernah memberikan pernyataan tentang pelarangan perayaan Natal. Apa yang telah terjadi di Poso juga sebenarnya hanyalah pertikaian yang dilakukan oleh dua orang remaja yang satu beragama Islam dan yang satunya lagi beragama Kristen. Pertikaian dua orang berlainan agama itu akhirnya merembet dan membesar sebagai konflik antar kelompok antara Islam dan Kristen. Meskipun dari versi pemberitaan media yang lain menyatakan tidak terima, karena menurutnya konflik terjadi di Poso memang benar persoalan konflik antar agama, kalaupun pihak pemerintah menutup-nutupi persoalan tersebut sebagai persoalan yang bukan konflik agama hanya akan membuat masyarakat menjadi bodoh. Pembodohan masyarakat terhadap relaitas yang sesungguhnya terjadi di konflik Poso. Kerusuhan di Ambon yang meletus di bulan Januari 1999, yang di mulai dengan konflik antara pendatang Buton-Bugis-Makasar (BBM) yang beragama Islam dengan penduduk asli Ambon beragama Kristen. Kerusuhan tersebut semakin memuncak menjadi konflik antar agama setelah masjid Al-Fatah di Ambon dibakar oleh orang Kristen. Pemicu terjadinya konflik bermula dari persoalan-persoalan yang kecil yang sebenarnya lebih pada persoalan yang terjadi akibat kesalahpahaman yang dibangun akibat interaksi sosial antar individu. Pola hubungan dalam membangun interaksi individu tersebut kemudian menjadi meluas dan di jadikan sebagai kesalahpahaman interaksi sosial antar kelompok. Pola hubungan antar individu menjadi pola hubungan antar kelompok yang akhirnya tercerai berai, karena masing-masing individu tersebut memiliki identitas kegamaan yang berbeda akhirnya pola hubungan antar kelompok menjadi pertikaian dan kerusuhan yang melibatkan identitas agama mereka masing-masing. Padahal yang sebenarnya menjadi pemicu utamanya adalah persoalan-persoalan yang menyakut kehidupan sosial, ekonomi dan politik. Agama menjadi isu menarik untuk menyita perhatian media dan masyarakat secara luas agar pertikaian dan kerusuhan yang terjadi mendapat perhatian secara khusus.

Menilik beberapa konflik sosial terutama yang mengatasnamakan agama, dan penyelesaian yang belum menyentuh dasar permasalahannya, adalah karena konflik tersebut terletak dalam bingkai tafsir egositas sektarian, bukan bingkai tafsir pluralitas sosial yang mengedepankan keutuhan umat dan keutuhan bangsa.

Selanjutnya, dalam pandangan masyarakat di luar Islam pun terdapat berbagai tafsir yang kemudian mengeras menjadi kekhawatiran tersendiri ketika kelompok masyarakat non-muslim ini melihat praktik internal masyarakat muslim. Penajaman kekhawatiran sosial menjadi bentuk-bentuk pemejalan phobia-Islam atau bahkan “takut-Islam” bisa menjadi rasional, dan mengingat penduduk muslim di Indonesia yang mayoritas, maka paduan antara kegamangan masyarakat muslim dan kekhawatiran atau ketakutan masyarakat non-muslim terhadap praktik sosial masyarakat muslim yang dipersepsi sarat kekerasan dapat merupakan bencana sosial yang dapat mengancam keutuhan NKRI.

Persoalan ini tentunya tidak sesederhana memetakan antara dua kutub pemikiran tentang praktik sosial yang berakar dari tafsir atas ajaran agama Islam yang kemudian ditafsir oleh masyarakat di luar Islam sebagai “Islam yang keras”; dan “praktik arogansi mayoritas” yang dipraktikkan oleh sebagian masyarakat muslim, yang kemudian tergeneralisasi yang pada akhirnya juga berujung pada persepsi “Islam yang tak ramah”. Dialektika ini memunculkan wajah “Islam yang tak ramah”, yang secara sosial belum memenuhi kriteria “rahmatan lil alamiin’ . Media massa yang mem-blow up berita tentang konflik dan kekerasan sosial bersenjata yang melibatkan sebagian warga muslim, isu jihad, praktik-praktik kelompok-kelompok masyarakat yang mengatasnamakan “Islam” di luar Indonesia dan juga di Indonesia tak jarang juga turut memperkeras wacana dan perilaku “Islam-intoleran” di Indonesia, yang kemudian menjadi momok baik bagi sebagian warga muslim sendiri dan juga bagi warga non-muslim. Memang, secara kuantitatif perilaku dan praktik “Islam tak ramah” ini tentu jauh lebih sedikit dibanding dengan pelaku “Islam normal”. Namun, secara kualitatif, fenomena “Islam keras” atau “Islam intoleran” adalah realitas sosial.

Realitas sosial ini menyiratkan berbagai pertanyaan tentang mengapa masyarakat muslim di Indonesia begitu rapuh dan rentan terhadap praktik-praktik intoleran terhadap kelompok lain dalam masyarakat Islam, padahal sebagai ajaran, Islam diyakini oleh pemeluknya sebagai “ajaran kebajikan universal” (rahmatan lil alamiin). Di sini, penting untuk menggarisbawahi tentang mengapa masyarakat muslim menemui kendala serius dalam mengaplikasikan ajarannya yang memuat “ajaran kebajikan universal” (rahmatan lil alamiin) itu? Ajaran kebajikan universal (rahmatan lil alamiin) tentu sarat dengan ajaran budi pekerti, toleransi, pluralisme dan humanis. Tetapi internalisasi, sosialisasi dan habituasi ajaran tersebut mendapat permasalahan serius dalam masyarakat pemeluknya yang justru mengembangkan Islam dalam wajah berkebalikan dengan nilai-nilai “rahmatan lil alamiin”, yakni tampilan wajah Islam yang intoleran dan berada dalam bingkai persepsi sosial tak bersahabat. Asumsi yang dapat dibangun di sini  adalah adanya transformasi sosial yang membias-menyimpang dari praktik sosial masyarakat muslim di Indonesia sehingga memunculkan definisi praktik sosial yang berbeda dari ajaran Islam yang toleran dan damai. Ini adalah realitas. Telah terjadi. Mungkin sedikit, secara kuantitatif. Namun, secara kualitatif, ini nyata. Dan telah menimbulkan masalah. Realitas ini memunculkan tafsir baru dan respons sosial. Orang mulai memunculkan gagasan tentang tafsir sosial atas praktik ajaran Islam yang secara sosial bisa dibaca sebagai “Islam yang ramah”, “Islam yang toleran”. Dan terminologi ini diberi nomenklatur (biar ndak repot menyebutnya) yakni “Islam Nusantara”. Jadi, “Islam Nusantara” bukanlah agama baru. Ia hanyalah tafsir sosial atas fenomena yang dimunculkan oleh umat Islam sendiri. Ia adalah semangat “Satu Islam” dalam tafsir yang lebih dekat dengan penerimaan umat tempat Islam tersebut berada.  Atau, bisa jadi gagasan “Islam Nusantara” ini merupakan “shock therapy” sebagai upaya dialektik untuk  mengedukasi umat Islam yang terbelah ini pada pencapaian “wajah Islam-yang-satu dan damai.***

Wawan E. Kuswandoro

Beragama Islam, tinggal di Jawa Timur.