Tag Archives: perempuan

Teori Feminis Eksistensialis Fenomenologis

Artikel Pendahuluan:

Memahami Realitas Sosial

Fenomenologi

 

Perempuan dan dunia perempuan, peran sosial perempuan, konstruk perempuan, konstruksi sosial atas perempuan, termasuk konstruksi media atas perempuan, adalah realitas sosial. Bagaimana kita memahaminya?

 

Teori Feminis Eksistensialis Fenomenologis

Teori feminis muncul dan berkembang untuk menjawab problematika sosial yang menyangkut hubungan sosial antara aktor laki-laki dan perempuan dalam praktik sosial, agar tercipta keadilan dan keseimbangan dalam hubungan sosial tersebut. Gelombang pemikiran feminis, yang dimulai pada abad ke-18 yang ditandai dengan pemikiran feminis liberal ketika itu, ditujukan untuk menciptakan masyarakat yang adil dan peduli pada kebebasan. Hanya dalam masyarakat yang seperti itu perempuan, dan juga laki-laki dapat mengembangkan diri (Putnam Tong, 2010: 18).  Tokoh penting feminis pada masa itu adalah Mary Wollstonecraft, dengan karyanya yang berjudul “A Vindication of the Right of Women”, yang menulis tentang perempuan “beruntung” yakni memperoleh cara bereksistensi secara lebih manusiawi, dan perempuan yang terkekang, yakni perempuan “peliharaan” yang digambarkan sebagai “burung  yang disimpan dalam sangkar yang tidak memiliki pekerjaan kecuali memamerkan sayapnya dan berjalan dengan keagungan yang palsu”.  Wollstonecraft mencatat, bahwa perempuan kelas menengah ini tidak diijinkan untuk beraktivitas di luar rumah seperti berolah raga karena kawatir akan menggelapkan kulitnya yang putih seperti bunga lili. Karenanya, mereka dihambat untuk mengambil keputusan sendiri dan tidak memiliki kebebasan (ibid, halm. 19). Inilah awal mula pembedaan-pembedaan sosial antara perempuan dan laki-laki sehingga memunculkan pemikiran dan teori feminis liberal, untuk membebaskan perempuan dari usaha pembedaan peran jender yang dikonstruksi secara sosial oleh masyarakat (yang didominasi oleh laki-laki). Dari sini lahirlah budaya patriarkhi dengan dominasi pada laki-laki, dan tentu saja, perempuan sebagai pihak yang didominasi dan ter-subordinasi.

 

Putnam Tong mencatat, bahwa subordinasi perempuan berakar dari serangkaian hambatan berdasarkan adat kebiasaan dan hambatan hukum, yang membatasi masuknya –serta keberhasilan-  perempuan pada apa yang disebut sebagai dunia publik, karena masyarakat mempunyai keyakinan yang salah bahwa perempuan secara alamiah tidak secerdas dan sekuat laki-laki, masyarakat meminggirkan perempuan dari akademi,  forum dan pasar. Sebagai akibat dari politik peminggiran ini, potensi yang sesungguhnya dari perempuan tidak terpenuhi. Feminis liberal menekankan, pertama, bahwa  keadilan jender menuntut kita untuk membuat aturan permainan yang adil, kedua, untuk memastikan tidak satupun dari pelomba untuk kebaikan dan pelayanan bagi masyarakat dirugikan secara sistematis (ibid., halm. 2-3). Akan tetapi,  lanjut Putnam Tong, teori feminis liberal tidak cukup drastis dalam menjelaskan fenomena opresi terhadap perempuan. Muncullah pemikiran feminis radikal, yang mengklaim bahwa sistem patriarkhal ditandai oleh kuasa, dominasi, hirarki dan kompetisi. Sistem patriarkhal tidak dapat dibentuk ulang tetapi harus dicabut dari akar dan cabang-cabangnya (ibid halm 3).

 

Fenomena opresi terhadap perempuan yang berisi subordinasi, peminggiran dan pelenyapan identitas sosial dan eksistensi sosial manusia perempuan ini bisa dijelaskan dengan merunut teori feminis mulai dari teori feminis liberal sebagai pembuka jalan atau pendobrak pertama paham subordinasi dan peminggiran terhadap perempuan sebagaimana ditulis Putnam Tong, yang kemudian terfokus pada teori feminis eksistensialis-fenomenologis, yang diperkenalkan oleh Simone de Beauvoir yang merupakan pemikir feminis yang menawarkan analisis fenomenologis dan eksistensial. Beauvoir memberikan penjelasan ontologis-eksistensial atas marginalisasi perempuan sebagai Other dalam kultur yang diciptakan laki-laki. Rumusan klasik tema ini ada dalam analisis eksistensial oleh Beauvoir  dalam bukunya “The Second Sex”, ia mencatat bahwa dunia yang didiami manusia dikembangkan dari kultur yang diciptakan laki-laki dan mengasumsikan  pria sebagai subjek yakni sebagai kesadaran yang darinya dunia dilihat didefinisikan. Kultur yang paling banter mendorong pengalaman perempuan dan cara mengenal diri mereka sendiri ke pinggiran kerangka konseptual dan, yang paling mengerikan, menciptakan sebuah konstruk tentang perempuan sebagai “orang lain” (the Other), sebuah makhluk yang diobjektifkan (objectified), yang pembawaannya mempresentasikan sisi yang bertentangan dari pria (Ritzer, 2014:395). Lebih detil, dalam tulisan yang dihimpun oleh Putnam Tong (2010:8-9), analisis Beauvoir ini berargumentasi bahwa perempuan diopresi melalui ke-liyan-annya (otherness). Perempuan  adalah “Liyan” (the Other) karena perempuan adalah “bukan laki-laki”. Laki-laki adalah bebas, makhluk yang menentukan dirinya sendiri yang mendefinisi makna esksistensinya. Perempuan adalah “Liyan” (the Other), objek yang tidak menentukan makna eksistensinya sendiri. Konsepsi subjek (perempuan) yang dalam teori feminis eksistensialis-fenomenologis disebutkan adanya konstruk atas perempuan sebagai “orang lain” (“liyan, the other”), atau yang diobjektifkan (objectified) dalam relasinya dengan laki-laki, Beauvoir (mengikuti Hegel, Heidegger dan Sartre) telah menerima begitu saja bahwa otherness adalah kategori fundamental dari pemikiran manusia. Perbedaan perempuan dan laki-laki sebagian berasal dari konstruksi sosial yang meminggirkan perempuan dan sebagian dari internalisasi dari “the otherness” (Ritzer, op.cit., halm.395).***

Sisi lain (pendapat tentang) feminisme….

Bagaimana pendapat anda?

Bacaan lain:

Penggunaan Teori Feminis

Teori Kritis

 

 

Mengapa Perempuan Menjadi Laki-laki

Mengapa Perempuan “Menjadi” Laki-laki?

Membedah Subjek Perempuan Dalam Perspektif Fenomenologis Eksistensialis dan Subjektivasi Bahasa

Tulisan  ini bukan membahas trans-seksual maupun trans-jender, tetapi “berubahnya identitas kultural” perempuan menjadi laki-laki. Fenomena ini masih ada. Yaitu fenomena melenyapnya nama diri perempuan –terganti dengan nama orang lain (laki-laki) ketika perempuan bersinggungan secara kultural-struktural dengan laki-laki, misalnya menikah. Jika “Rini Susanti” menikah dengan “Rano Susanto”, maka namanya menjadi “Rini Susanti Susanto” bahkan “Nyonya Susanto” atau “Bu Susanto”. Rini Susanti-nya melenyap entah ke mana.

Pelenyapan identitas, pelenyapan eksistensi, pengingkaran eksistensi manusia perempuan ini menarik untuk dibahas. Fenomena pelenyapan dan  pengingkaran eksistensi ini terjadi dalam kehidupan dan hubungan sosial, ketika masyarakat tidak lagi mengenal dan mengakui “Rini Susanti” (dan banyak “Rini Susanti” yang lain). Identitasnya telah hilang dari peredaran walaupun fisik orangnya tetap ada. Terdapat suatu bentuk pelenyapan identitas total atau pengingkaran eksistensi diri.

Fenomena pelenyapan dan pengingkaran identitas ini menjadi baku dan terpatenkan di masyarakat, dan menciptakan identitas baru bagi perempuan-perempuan kita. Bahkan terjadi pada masyarakat Jawa di era Soekarno, yang didokumentasikan oleh Kwie Kek Beng (1958) dalam sebuah bukunya yang berjudul “Stalin yang diterbitkan pada zaman Soekarno, pernah menyitir kelakuan para perempuan kita (waktu itu) yang dinilai bangga mendompleng sosok laki-laki, melalui sebuah ungkapan budaya, yang waktu itu sangat akrab di telinga masyarakat: “Pet-pet tahu, kedempet bilang Ci-hu (paman), pet-pet tahu kedempet bilang a Gak-hu (mertua), pet-pet bakmi, kedempet ngadu suami”. Hingga kini pun masih dapat dilihat, berapa banyak perempuan yang menyandang nama berjenis laki-laki di  belakang namanya. Kecuali nama marga untuk menandai marga (silsilah keturunan), kecenderungan pemakaian nama laki-laki ini terjadi pada masyarakat yang tidak mengenal nama marga (di Jawa). Mengapa para perempuan ini tidak muncul sebagai dirinya sendiri tanpa atribut lain, serta berada di bawah bayang-bayang laki-laki? Orang lebih mengenal dan menghargai seorang perempuan tatkala ia tercatat sebagai istri laki-laki yang menjabat ini atau itu. Nilai budaya tersebut menempatkan perempuan pada posisi-tak-berperan. Dan pada kalangan masyarakat awam pun terdapat praktik yang sama. Nama perempuan menjadi hilang dan muncullah nama laki-laki, baik seluruhnya maupun sebagian.

Fenomena melenyapnya identitas diri dan pengingkaran eksistensi manusia perempuan melalui pelenyapan nama-diri perempuan dan penggunaan nama-diri laki-laki ini dijelaskan dengan menggunakan teori feminis, khususnya teori feminis eksistensialis-fenomenologis yang dibantu dengan pendekatan subjektivasi bahasa dari Jacques Lacan.

Teori feminis eksistensialis-fenomenologis dihadirkan untuk menjelaskan realitas opresi perempuan, sedangkan subjektivasi bahasa dari Lacan diperlukan untuk menjelaskan realitas tanda dan makna (subjektivasi bahasa) yang meluncur dalam relasi opresi tersebut. [Baca: Lacan dan Epistemologi Feminis]

 

Teori Feminis Eksistensialis Fenomenologis

Teori feminis muncul dan berkembang untuk menjawab problematika sosial yang menyangkut hubungan sosial antara aktor laki-laki dan perempuan dalam praktik sosial, agar tercipta keadilan dan keseimbangan dalam hubungan sosial tersebut. Gelombang pemikiran feminis, yang dimulai pada abad ke-18 yang ditandai dengan pemikiran feminis liberal ketika itu, ditujukan untuk menciptakan masyarakat yang adil dan peduli pada kebebasan. Hanya dalam masyarakat yang seperti itu perempuan, dan juga laki-laki dapat mengembangkan diri (Putnam Tong, 2010: 18).  Tokoh penting feminis pada masa itu adalah Mary Wollstonecraft, dengan karyanya yang berjudul “A Vindication of the Right of Women”, yang menulis tentang perempuan “beruntung” yakni memperoleh cara bereksistensi secara lebih manusiawi, dan perempuan yang terkekang, yakni perempuan “peliharaan” yang digambarkan sebagai “burung  yang disimpan dalam sangkar yang tidak memiliki pekerjaan kecuali memamerkan sayapnya dan berjalan dengan keagungan yang palsu”.  Wollstonecraft mencatat, bahwa perempuan kelas menengah ini tidak diijinkan untuk beraktivitas di luar rumah seperti berolah raga karena kawatir akan menggelapkan kulitnya yang putih seperti bunga lili. Karenanya, mereka dihambat untuk mengambil keputusan sendiri dan tidak memiliki kebebasan (ibid, halm. 19). Inilah awal mula pembedaan-pembedaan sosial antara perempuan dan laki-laki sehingga memunculkan pemikiran dan teori feminis liberal, untuk membebaskan perempuan dari usaha pembedaan peran jender yang dikonstruksi secara sosial oleh masyarakat (yang didominasi oleh laki-laki). Dari sini lahirlah budaya patriarkhi dengan dominasi pada laki-laki, dan tentu saja, perempuan sebagai pihak yang didominasi dan ter-subordinasi.

Putnam Tong mencatat, bahwa subordinasi perempuan berakar dari serangkaian hambatan berdasarkan adat kebiasaan dan hambatan hukum, yang membatasi masuknya –serta keberhasilan-  perempuan pada apa yang disebut sebagai dunia publik, karena masyarakat mempunyai keyakinan yang salah bahwa perempuan secara alamiah tidak secerdas dan sekuat laki-laki, masyarakat meminggirkan perempuan dari akademi,  forum dan pasar. Sebagai akibat dari politik peminggiran ini, potensi yang sesungguhnya dari perempuan tidak terpenuhi. Feminis liberal menekankan, pertama, bahwa  keadilan jender menuntut kita untuk membuat aturan permainan yang adil, kedua, untuk memastikan tidak satupun dari pelomba untuk kebaikan dan pelayanan bagi masyarakat dirugikan secara sistematis (ibid., halm. 2-3). Akan tetapi,  lanjut Putnam Tong, teori feminis liberal tidak cukup drastis dalam menjelaskan fenomena opresi terhadap perempuan. Muncullah pemikiran feminis radikal, yang mengklaim bahwa sistem patriarkhal ditandai oleh kuasa, dominasi, hirarki dan kompetisi. Sistem patriarkhal tidak dapat dibentuk ulang tetapi harus dicabut dari akar dan cabang-cabangnya (ibid halm 3).

Fenomena opresi terhadap perempuan yang berisi subordinasi, peminggiran dan pelenyapan identitas sosial dan eksistensi sosial manusia perempuan ini bisa dijelaskan dengan merunut teori feminis mulai dari teori feminis liberal sebagai pembuka jalan atau pendobrak pertama paham subordinasi dan peminggiran terhadap perempuan sebagaimana ditulis Putnam Tong, yang kemudian terfokus pada teori feminis eksistensialis-fenomenologis, yang diperkenalkan oleh Simone de Beauvoir yang merupakan pemikir feminis yang menawarkan analisis fenomenologis dan eksistensial. Beauvoir memberikan penjelasan ontologis-eksistensial atas marginalisasi perempuan sebagai Other dalam kultur yang diciptakan laki-laki. Rumusan klasik tema ini ada dalam analisis eksistensial oleh Beauvoir  dalam bukunya “The Second Sex”, ia mencatat bahwa dunia yang didiami manusia dikembangkan dari kultur yang diciptakan laki-laki dan mengasumsikan  pria sebagai subjek yakni sebagai kesadaran yang darinya dunia dilihat didefinisikan. Kultur yang paling banter mendorong pengalaman perempuan dan cara mengenal diri mereka sendiri ke pinggiran kerangka konseptual dan, yang paling mengerikan, menciptakan sebuah konstruk tentang perempuan sebagai “orang lain” (the Other), sebuah makhluk yang diobjektifkan (objectified), yang pembawaannya mempresentasikan sisi yang bertentangan dari pria (Ritzer, 2014:395). Lebih detil, dalam tulisan yang dihimpun oleh Putnam Tong (2010:8-9), analisis Beauvoir ini berargumentasi bahwa perempuan diopresi melalui ke-liyan-annya (otherness). Perempuan  adalah “Liyan” (the Other) karena perempuan adalah “bukan laki-laki”. Laki-laki adalah bebas, makhluk yang menentukan dirinya sendiri yang mendefinisi makna esksistensinya. Perempuan adalah “Liyan” (the Other), objek yang tidak menentukan makna eksistensinya sendiri. Konsepsi subjek (perempuan) yang dalam teori feminis eksistensialis-fenomenologis disebutkan adanya konstruk atas perempuan sebagai “orang lain” (“liyan, the other”), atau yang diobjektifkan (objectified) dalam relasinya dengan laki-laki, Beauvoir (mengikuti Hegel, Heidegger dan Sartre) telah menerima begitu saja bahwa otherness adalah kategori fundamental dari pemikiran manusia. Perbedaan perempuan dan laki-laki sebagian berasal dari konstruksi sosial yang meminggirkan perempuan dan sebagian dari internalisasi dari “the otherness” (Ritzer, op.cit., halm.395).

Jika perempuan ingin menjadi Diri, suatu subjek, perempuan, seperti juga laki-laki, harus mentransendensi definisi, label, dan esensi yang membatasi eksistensinya. Perempuan harus menjadikan dirinya sebagaimana yang diinginkannya. Pendefinisian, pelabelan dan esensi dalam konteks ini  meliputi penggunaan bahasa sebagai ekspresi “penanda” dan “petanda” dalam konsepsi Saussure yang digunakan oleh Jacques Lacan dalam pemikiran psikoanalisanya. Pemunculan nama-diri adalah sebuah penggunaan “tanda” dan relasi tanda – makna yang digunakan oleh subjek yang bergerak mencari kepastian diri, yang oleh Lacan dinyatakan bahwa subjek bersifat tidak pasti karena ia terpecah dari efek bahasa, sebagaimana ungkapan Lacan yang dikutip Lisa Lukman dalam teks berjudul “Proses Pembentukan Subjek: Antropologi Filosofis Jacques Lacan” :

What, I, Lacan, following the traces of the Freudian excavation, am telling you is that the subject such is uncertain because he is divided by the effect of language. Through the effect of speech, the subject always realizes himself more in the Other.

Apa yang saya, Lacan, ikuti dari jabaran Freud, saya katakan pada anda bahwa subjek itu bersifat tidak pasti karena terbelah oleh efek bahasa melalui efek tutur (speech), subjek selalu merealisasikan dirinya melalui (keberadaan) “Liyan” (the Other).

Lacan juga menjelaskan bahwa linguistik telah memperkenalkan perbedaan struktur diakronis dan sinkronis dalam bahasa, untuk memahami dengan lebih baik makna perkataan (ungkapan) seseorang berkaitan dengan hal-hal yang disembunyikannya atau yang berada di wilayah “tidak sadar” yang merupakan “struktur yang tersembunyi (repressed) dan memiliki struktur sama seperti bahasa. (Lukman, 2011: 60-61). Menurut konsepsi Lacan, bahasa merupakan perwujudan diskursus pembentuk keinginan dan fantasi seseorang, merumuskan konsep subjek dalam kenyataan. Lacan juga menyatakan bahwa seseorang menyatakan dirinya dalam bahasa, justru kehilangan dirinya dan menjadi sebuah objek dan subjek teralienasi dari dirinya sendiri, serta memnuculkan gap antara subjek dan “Yang Lain”, “Liyan” (‘The Other”). (ibid. halm. 66).

 

Pelenyapan Eksistensi Perempuan: Teori Feminis Eksistensialis-Fenomenologis

 

Realitas pelenyapan nama diri perempuan dengan penggantian nama laki-laki (suami) pada perempuan Jawa pasca nikah, sangatlah menarik untuk dikaji. Asumsinya adalah bahwa pelenyapan ini terdorong oleh konstruksi sosial masyarakat di area budaya Jawa, dengan  budaya patriarkhi yang melingkupinya. Karenanya, tulisan ini menggunakan beberapa teori yang digunakan untuk menjelaskan fenomena melenyapnya nama diri perempuan pasca nikah pada masyarakat Jawa dalam perspektif teori feminis eksistensialis-fenomenologis dengan menggunakan kerangka analisis subjektivasi bahasa dari Jacques Lacan.

Opresi perempuan melalui pelenyapan nama diri perempuan dengan penggantian nama laki-laki (suami) ini berawal dari perbedaan tafsir relasi jender dalam masyarakat Jawa yang patriarkhi. Tafsir sosial-budaya ini melekat pada manusia baik laki-laki maupun perempuan, yang dikonstruksi secara sosial maupun kultural, adalah sesuatu yang sangat berbeda dengan konsep jender berdasarkan biologis yang menyatakan bahwa perempuan itu selalu lembut, cantik, emosional dan keibuan, sementara laki-laki selalu dianggap kuat, rasional, jantan, macho dan perkasa. Tafsir jender (peran sosial laki-laki dan perempuan) yang mengemuka dalam tulisan ini adalah fakta yang menunjukkan ketidakberdayaan perempuan untuk membendung akses “power” dari pihak lain, yaitu laki-laki. Hal ini dikarenakan, meminjam konsep jender, bahwa telah tercipta “konstruksi” masyarakat yang menempatkan kaum perempuan dalam posisi yang lemah, mengalah, dan feminin. Perbedaan jender telah mengakibatkan lahirnya sifat dan streotip yang oleh masyarakat dianggap sebagai ketentuan kodrati atau ketentuan Tuhan. Sifat dan stereotip yang sebetulnya merupakan konstruksi maupun rekayasa sosial akhirnya terkukuhkan menjadi kodrat kultural dalam proses yang panjang. Konstruk ini telah membawa pikiran dan tindakan subordinatif terhadap perempuan. Perempuan dalam tahap ini berada dalam kondisi dan tafsir ketidakberdayaan sosial-budaya untuk masuk ke wilayah publik (karena publik dikonstruksi milik laki-laki), sehingga perempuan yang masuk ruang publik atau keluar dari sangkar emas atau kurungan domestiknya, harus menggunakan simbol-simbol atau tanda-tanda laki-laki, mulai dari penambahan nama laki-laki (suami) dan mengganti dengan nama laki-laki (suami). Perempuan tetap dikonstruksi mendiami wilayah dosmestik. Bank pun menggunakan nama perempuan sebagai “password” untuk mengamankan transaksi keuangan nasabahnya, dengan menggunakan “nama ibu kandung” sang nasabah. Mungkin atas dasar pemikiran tentang mendomestiknya dan merahasianya nama perempuan sehingga layak untuk pengaplikasikannya pada urusan sensitif-rahasia-privat seperti keuangan (administrasi keuangan bank) yang menggunakan nama “ibu kandung” sebagai “password”. Asumsinya adalah, nama ibu (perempuan) sangat jarang diketahui orang lain (domestik, tidak memublik).

Opresi subordinasi telah benar-benar meminggirkan dan meniadakan perempuan. Posisi perempuan yang mengalami ketidakadilan seperti ini muncul dalam berbagai bentuk. Pertama, perbedaan jender melahirkan kekerasan terhadap kaum perempuan, baik secara fisik maupun secara mental serta social dan budaya, dalam hal ini “peniadaan” (not exist). Kedua, perbedaan dan pembagian jender dengan segenap manifestasinya mangakibatkan tersosialisasinya citra posisi, kodrat dan penerimaan nasib perempuan yang ada yakni domestik, non-publik; dan jika ingin memublik maka ia harus “menjadi laki-laki”, menggunakan identitas (nama-diri) laki-laki. Ia harus “menghilangkan diri” dalam “selimut kabut” nama dan identitas laki-laki. Dengan kata lain segenap manifestasi ketidakadilan jender itu sendiri juga merupakan proses kooptasi peran jender perempuan, sehingga kaum perempuan sendiri menganggap bahwa kondisi dan posisi yang ada seperti sekarang ini sebagai sesuatu yang normal dan kodrati. Maka mereka “menikmatinya” bahkan bangga menyandang “titel” kelaki-lakian (suami, apalagi ada status sosial yang tinggi). Realitas jender ini menyangkut masalah struktural dan kultural masyarakat pada masyarakat. Intervensi identitas (maskulin terhadap perempuan) menjadi persoalan jender apabila pihak laki-laki melihat ketidakberdayaan perempuan untuk menolak “paksaan” menjejalkan identitas maskulinnya atas nama penghormatan kultural terhadap sosok laki-laki (budaya patriarkhi). Permasalahan jender dalam hal ini, kenyataan bahwa laki-laki mudah menghindar dari tanggung jawab yang harus diembannya berkaitan dengan “pemaksaan” atau “pemerkosaan identitas”. Dalam relasi ini, laki-laki menguasai perempuan. Ada relasi kekuasaan yang bermain di sini. Pihak terakhir berusaha mengubah kualitas hubungan tersebut untuk meningkatkan keberdayaannya, sedangkan pihak pertama berusaha tetap mempertahankan status quo agar hegemoni kekuasaan tetap berada di tangannya.  Pengalaman sosial ini terjadi akibat pembedaan jender dalam keluarga dan masyarakat. Suatu pembedaan yang diperkuat oleh sosialisasi dan enkulturasi, yang dalam penjelasan Fakih (1996) dinyatakan bahwa terbentuknya perbedaan-perbedaan jender dikarenakan banyak hal, di antaranya: dibentuk, disosialisasikan, diperkuat bahkan dikonstruksikan secara sosial atau kultural melalui ajaran keagamaan maupun negara.

Pembahasan mengenai konsep diri seseorang (perempuan) tidak lengkap tanpa pembahasan mengenai hubungannya dengan orang-orang di sekitarnya, yaitu laki-laki. Perspektif laki-laki selama ini terhadap perempuan memang bias. Karena selalu melihat perempuan sebagai figur lemah, maka diapa-apakan terserah kepada sang laki-laki (suami). Masih adanya pandangan salah dalam masyarakat.yang mengatakan bahwa keluarga adalah wilayah perempuan, laki-laki mendominasi arena public yang meliputi politik, budaya dan pekerjaan atau bisnis. Perempuan bertanggungjawab membesarkan anak dan mengurus rumah; sedangkan laki-laki menanggung keuangan keluarga. Bahkan ketika perempuan tampil di wilayah publik, seringkali apa yang dikerjakan adalah yang berkaitan dengan pekerjaan yang stereotipik jender.

Keterbatasan sosial-budaya yang dimiliki perempuan dalam peran dan akses publik atau jika keluar dari wilayah domestiknya, perempuan mengalami pelenyapan nama-diri dan penggantian dengan nama laki-laki. Penyebutan nama oleh mereka sendiri (perempuan) dalam menyebut nama-diri misalnya ketika memperkenalkan diri dalam lingkungan dan kehidupan sosial, dengan nama laki-laki baik sebagian seluruhnya, dimaknai sebagai “penghormatan terhadap laki-laki”, dengan melenyapkan dirinya. Penggunaan nama (laki-laki) sebagai simbol atau tanda dalam berbahasa yang digunakan, adalah ekspresi ketakberdayaan dan penyerahan identitas yang digunakan  oleh subjek perempuan untuk mencari kepastian diri (konsepsi Lacan), karena subjek (perempuan) bersifat tidak pasti dan  terpecah dari efek (penggunaan) bahasa. Perempuan, yang identitas nama-dirinya melenyap (berganti dengan nama laki-laki), merealisasikan dirinya melalui keberadaan sebagai “liyan” (“the other”). Pelabelan nama laki-laki dalam relasi opresif perempuan ini  berkaitan dengan hal-hal yang disembunyikannya atau yang berada di wilayah “tidak sadar” yang merupakan “struktur yang tersembunyi (repressed) dari subjek perempuan. Mengikut konsepsi Lacan, bahasa (penggunaan nama laki-laki pada perempuan) merupakan perwujudan diskursus pembentuk keinginan dan fantasi perempuan. Perempuan merumuskan konsep subjek (konsep diri) dalam kenyataan, karena perempuan telah kehilangan dirinya dan menjadi sebuah objek serta telah teralienasi dari dirinya sendiri, serta telah menjadi pribadi  “Yang Lain”, “Liyan” (‘The Other”).

Pemikiran Pembaruan

Realitas opresi perempuan melalui pelenyapan nama-diri ini membawa pemikiran baru tentang pemaknaan kembali atau rekonseptualisasi relasi jender. Ada hal penting yang diperjuangkan kaum feminis (Dorothy Smith, The Conceptual Practices of Power: A Feminist Sociology of Knowledge) – dimana ia mengangkat perlunya memandang kejadian atas opresi seperti pada pelenyapan nama diri ini dari struktur pengalaman perempuan sendiri, bukan sebagai obyek yang pada umumnya menurut pandangan kaum pria (male bias). Ia memperkenalkan Theory of Bifurcation dimana dunia dipandang berdasarkan pengalaman dan pengetahuan (science) dari perempuan itu sendiri yang oleh Alfred Schutz disebut sebagai phenomenal perspective: (dunia ilmu pengetahuan dengan common sense). Perempuan diharapkan dapat menyuarakan suara kritik (critical voice) atas situasi yang dihadapinya (Smith, 1990:467).

Pelabelan nama laki-laki sebagai pemaknaan (signification) simbol dan lambang yang ternyatakan dalam bahasa (lisan) sebagai efek dari struktur dalam bahasa sebagaimana disebut Saussure dan Lacan, yang mewujud dalam bentuk fenomena cultural yang spesifik atau dalam manusia yang berbicara, bukan produk dari niat pelaku-pelaku. Pemaknaan atau produksi makna yang muncul dalam wujud bahasa ini, yang menurut Saussure, diproduksi lewat sebuah seleksi dan kombinasi tanda-tanda dalam dua aksis (poros), aksis sintakmatik, dan aksis paradigmatic, yang diorganisasi menjadi sebuah sistem pemaknaan. Sebuah tanda, yang terdiri dari penanda (mediumnya), dan petanda (maknanya), bisa dipahami bahwa makna adalah kesepakatan social yang diorganisasi lewat relasi-relasi antartanda. Karenanya,  “representasi” atau diskursus eksternal seperti ini dapat mengemuka menjadi sebuah gerakan kebudayaan yang menjadi, –meminjam  terminologi Fritjof Capra–, titik balik peradaban (manusia) perempuan. Bahasa tutur ungkapan budaya masyarakat (pelabelan), yang melekat pada budaya manusia, merangkai makna simbolik dalam kerangka sistem yang dalam istilah Fritjof Capra (2004:360), dilukiskan bahwa kelompok-kelompok manusia, masyarakat dan kebudayaan mempunyai jiwa kolektif, dan oleh karena itu juga memiliki kesadaran kolektif sebagai konsepsi yang digunakan manusia untuk menafsirkan hidup dan menentukan sikap terhadapnya.

Kesimpulan

kesatu

Pelenyapan identitas dan eksistensi perempuan melalui pelenyapan nama-diri perempuan, merupakan sebuah konsep kekerasan social-budaya, mengacu pada tindakan dan perlakuan secara social dan budaya (opresi) terhadap perempuan, yang muncul dari struktur social dan budaya masyarakat. Masyarakat telah terstruktur atau terpola baik dalam pemikiran, anggapan maupun tindakan, juga perilaku yang memandang perempuan sebagai pribadi-pribadi kelas dua, tersubordinasi, termarginalisasi, Liyan, the Other, tidak penting, tidak mengada. Konsep ini berhubungan dengan budaya patriarkhi, dan tradisi maskulin yang telah menjangkiti dan mengonstruksi masyarakat.

kedua

Perkembangan pemikiran feminis atas fenomena pelenyapan identitas dan eksistensi sosial perempuan, selanjutnya diperlukan upaya lanjutan untuk mencari tahu adakah “perebutan wewenang” sosial budaya dalam pelenyapan nama-diri atau pengingkaran eksistensi perempuan tersebut; serta baik pula untuk mencari tahu adakah peran-peran institusi sosial yang membingkai fenomena ini.

ketiga

Fenomena ini dalam bentangan waktu dan ruang peristiwa, membuka peluang untuk mengeras  dalam manifesto tradisi dan budaya, yang dalam pengertian Koentjaraningrat, “kolektivitas budaya yang dimiliki bersama”,  dan  terinternalisasi dalam sebuah kesadaran akan identitas kelompok atau identitas komunal perempuan termarginalkan (the oppressed women), memunculkan gerakan kultural perempuan untuk melawan kekuatan “adi-kodrati” laki-laki. Maka, diperlukan kajian dan pengembangan teoretik tentang gerakan kultural perempuan tertindas.

 

Referensi:

Dari berbagai referensi: Chris Barker, Fritjof Capra, Fakih Mansour, Lisa Lukman, William Outhwaite, Putnam Tong, Rosemarie (Feminist Thought), George Ritzer, Dorothy Smith (The Conceptual Practices of Power: A Feminist Sociology of Knowledge. Boston: Northeastern University Press) dan Bryan S. Turner. Dan, catatan observasi.

________________________________

Bacaan lain:

Slavoj Zizek: Pembentukan Identitas Subjektif Melalui Bahasa

Perempuan Dalam Politik

 

Kesulitan Partai Politik Merekrut Perempuan

KESULITAN PARTAI POLITIK MEREKRUT PEREMPUAN:

Sebuah Wacana Budaya

“Tiada demokrasi tanpa keterlibatan perempuan”. Demikian ujaran dalam setiap pelajaran politik, yang mengisyaratkan adanya pengakuan fundamental terhadap (aktivitas) perempuan dalam partai politik. Akan tetapi di lapangan berkata lain. Kondisi sosial kultural masyarakat mengonstruksikan hal yang berbeda dari ujaran-ujaran teoritikal tersebut. Rupanya masyarakat  punya “landasan teori” dan aturan main tersendiri. Terdapat konstruksi sosial terhadap perempuan yang kemudian memunculkan aneka tafsir dalam pembicaraan perempuan dan politik. Peran perempuan  dalam ranah politik pun menemui beberapa “hambatan budaya”. Dalam lingkup sederhana saja, misalnya, keikutsertaan perempuan dalam rapat-rapat partai politik, yang biasanya terselenggara dalam waktu malam, terkendala “hambatan kultural” tentang doktrin “kepantasan” dan “kepatutan” perempuan keluar malam apalagi hingga larut malam. Setidaknya terkendala ijin suami. Dan sebagainya.

Tulisan ini diturunkan untuk “menyambut pemilu legislatif 2019”. Menyambut kehadiran partai-partai politik dalam kompetisi politik yang akan menentukan arah biduk pengelolaan negara ini melalui peran partai politik. Ke mana dan bagaimana partai politik akan memerankan fungsinya dalam pengelolaan negara, mempengaruhi kebijakan negara, dsb. Bagaimana partai politik memiliki daya dan kemampuan elektoral dan mampu eksis baik secara institusional maupun substansial fungsional? Bagaimana partai politik memenangkan kompetisi politik ini dengan memenangi hati pemilih yang memilihnya? Dan menjadi pendukung setianya? Yang paling akhir ini yang sulit. Perlu bahasan tersendiri. Bagaimana partai politik mengenal masyarakatnya? Dan bagaimana pula masyarakat itu kini? Akan membutuhkan banyak tulisan untuk menjelaskan ini.

Tulisan ini dibuat untuk memenuhi salah satu dari beberapa pointers pemikiran tersebut yakni tentang bagaimana partai politik mengenali masyarakatnya dan mendayagunakan untuk kepentingan partainya, baik itu dalam konteks perekrutan politik (political recruitment) maupun dalam konteks elektoral (pemilihan, dukungan suara)? Dalam hal ini, adalah masyarakat perempuan. Mengapa perempuan? Tulisan ini akan menjawabnya sekaligus membuka kembali wacana kultural yang melingkupi masyarakat tentang konstruksi sosial terhadap perempuan. Partai politik harus mengetahui hal ini sehingga mendasarkan aktivitas kepartaiannya berdasarkan fakta sosial, bukan asumsi. Memahami masyarakat, termasuk masyarakat perempuan, sangat penting untuk kepentingan institusional dan elektoral partai politik.

20131027_101749Kesulitan sederhana partai politik dalam melibatkan perempuan, semisal merekrut perempuan menjadi pengurus partai atau caleg adalah bukti nyata adanya “hambatan khusus” pelibatan perempuan dalam politik. Konstruksi sosial dan situasi kultural yang menyertai masyarakat tentu saja masih tetap ada di kalangan masyarakat terutama masyarakat berbudaya tradisional. Aktivitas publik perempuan masih terbatasi dalam arena-arena “jelas” dan “terang” misalnya menjadi guru, pegawai pemerintahan dan sejenisnya. Aktivitas dalam ormas dan partai politik pun,  (juga di parlemen) masih sebatas aktivitas yang sama dan sejenis dengan “orang bekerja” di luar rumah secara sementara. Padahal aktivitas politik termasuk di partai politik memerlukan intensitas yang lebih dari tafsir “sekedar bekerja di luar rumah”.

Perempuan Dalam Tafsir Sosial Budaya

DSCF5414Peran politik perempuan diperlukan sebagai penyeimbang konstruksi pemikiran dan tindakan dalam merumuskan kebijakan publik bagi masyarakat yang lebih banyak jumlah penduduk perempuan dibanding laki-laki, agar kebijakan pemerintah tidak bias jender. Data BPS 2010 – 2013 pada setiap kelompok umur jumlah perempuan di atas jumlah laki-laki. Jadi sudah sewajarnya jika kepentingan kaum perempuan terpelihara dengan parameter diantaranya kualitas dan kuantitas program pemerintah untuk masyarakat yang memihak kepada kepentingan perempuan. Perspektif ini sebaiknya dimiliki oleh kaum perempuan dan laki-laki, mulai di lingkungan keluarga hingga pemerintahan. Kepentingan perempuan bisa dikawal melalui aktivitas politik. Di pemerintahan misalnya, secara kuantitas jumlah legislator perempuan lebih sedikit dibanding legislator laki-laki. Namun jika secara kualitas telah memadai untuk kepentingan perempuan, bersanding dengan legislator laki-laki, maka kuantitas tidak lagi terlalu signifikan. Justru yang menjadi masalah ketika terjadi perbedaan persepsi antara legislator laki-laki dan perempuan terhadap suatu isu yang berkaitan dengan perempuan. Perlu pemahaman yang utuh mengenai perempuan di kalangan perempuan dan laki-laki. Kemudian, kuota affirmative action 30 % keterwakilan perempuan dalam parlemen sebagaimana UU, mengesankan “politik belas kasih” terhadap perempuan dan memandang perempuan sebagai pihak yang masih lemah sehingga perlu dijamin. Dalam pelaksanaannya pada Pemilu legislatif 2004, 2009 dan 2014 tampak dipaksakan, sekedar mencukupi kuota tanpa memperhatikan kualitas. Pengakuan kelemahan perempuan oleh konstitusi tersebut baiknya diimbangi dengan mendorong peran politik perempuan. Pendekatan edukasi politik melalui pemberdayaan dan rekonseptualisasi peran publik dan politik perempuan dirasa lebih memanusiakan perempuan daripada pemaksaan kuota. Sehingga perempuan bisa mengaktualisasikan diri dalam kiprah politiknya untuk membela kaumnya secara fair. Cukuplah UU mengatur peran politik perempuan tanpa kuota yang terkesan memaksa dan formalitas.

DSCF5446Kuantitas adalah relatif. Pada tahap sekarang di mana peran politik perempuan masih banyak kendala budaya (cultural constraint) seperti penerimaan masyarakat terhadap perempuan di ruang publik dan politik, maka edukasi publik tentang pentingnya peran politik perempuan perlu terus dilakukan sambil menjaga kualitas peran politik perempuan yang sudah ada. Umumnya masyarakat masih menganggap bahwa perempuan lebih layak untuk mengambil peran domestik. Anggapan ini tercipta di masyarakat berbarengan dengan pemahaman yang kurang tepat terhadap perempuan yang berasal dari tafsir atas ajaran agama. Masalah ini memang masih menjadi perdebatan, namun jika kita  melihat urgensi peran perempuan di ruang publik untuk pemerjuangan terhadap penduduk perempuan yang jumlahnya lebih banyak daripada laki-laki, perdebatan persepsi yang bertolak dari pemahaman dogmatis diharap segera berakhir. Pertanyaan yang harus dijawab bersama adalah, misalnya siapa yang akan memastikan keterjaminan kesehatan ibu hamil, menyusui, kesejahteraan perempuan, pendidikan yang layak bagi perempuan dan anak-anak setidaknya sejak dalam gendongan hingga balita, perhatian kepada perempuan miskin, peningkatan sumberdaya perempuan dari perspektif kaum perempuan sendiri, dsb dari sudut pandang pemberdayaan perempuan? Perlu ada kepastian untuk keterjaminan itu melalui jalur politik. Peran politik perempuan berada dalam posisi memastikan hak-hak perempuan tersebut dipenuhi oleh Negara. Dan, secara sosial dan kultural juga menjamin.

Peluang dan Tantangan Partai Politik

wklompshootSecara eksistensial, partai politik akan memandang perempuan sebagai aset potensial pendukung suara dalam pemilihan umum. Jadi wajar jika partai politik menggunakan pendekatan dalam wajah yang feminis untuk meraih simpati kaum perempuan, misalnya dengan memasang banyak-banyak kader perempuan, membuat dan menjalankan program-program yang dekat dengan kepentingan kaum perempuan. Secara umum orang masih berparadigma perempuan sebagai korban (objek) yang harus dilindungi dan disantuni, bukan sebagai subjek atau actor yang berperan setara dengan laki-laki dan berperan di ruang publik serta masih belum menganggap perempuan sebagai subjek atau actor pembangunan dan actor social-politik yang memiliki peran strategis.

Peran ganda perempuan membawa kompleksitas rencana aksi bagi gerakan social yang setara-jender, mengingat peran perempuan yang sangat strategis baik pada fungsi domestic maupun social. Argument bahwa fungsi perempuan paling utama pada penyiapan generasi yang selama ini diklaim sebagai peran domestic, masih membatasi pembahasan dan gerakan pro-jender. Di kalangan perempuan pegiat kesetaraan jender dan peran perempuan di ruang public pun masih terdapat “cultural constraint” yang membatasi terlebih belum adanya penyepakatan pada lembaga perkawinan yang mengikat laki-laki dan perempuan. Secara kultural, yang bersumber dari tafsir atas dasar ajaran agama, kaum laki-laki menganggap memiliki hak veto untuk melarang istrinya (bahkan jika sang istri seorang pegiat pro-jender dan aktivis partai politik sekalipun) berperan di ruang public dengan dalih perempuan lebih dibutuhkan sebagai penyiap kualitas generasi (anak). Peran perempuan pada lini penyiapan generasi yang lebih baik, sesungguhnya berdimensi domestic dan social bahkan politik. Dimensi domestic, sudah jelas, perempuan berperan sangat besar dalam mendidik anak (generasi muda), bukan hanya oleh para perempuan yang memiliki karir sebagai guru atau dosen, tetapi juga oleh para perempuan yang mendedikasikan waktunya secara penuh sebagai ibu rumah tangga (dimensi domestik). Pada dimensi social-politik, justru diperlukan peran perempuan sebagai penyemangat dan motivator bagi sesama perempuan terutama bagi kaum perempuan yang marjinal secara ekonomi, pendidikan dan social, serta menjamin adanya regulasi yang berpihak kepada kaum perempuan. Dari perspektif konstruksi pemikiran pun, perempuan diperlukan pada setiap proses perumusan produk kebijakan public, sebagai penyanding konstruksi pemikiran laki-laki. Produk hukum dan produk kebijakan akan lebih ramah dan berpihak pada kepentingan kaum perempuan jika diproduk juga oleh perempuan secara politik. Ini yang harus dimaknai secara operasional-konkret oleh partai politik. Tidak hanya memenuhi kuota perempuan. Dalam perspektif pragmatis partai politik (pemenangan pemilu), perempuan adalah aset yang sangat potensial. Deskripsi di atas menunjukkan secara kuantitas jumlah perempuan lebih banyak daripada laki-laki. Secara sosio-kultural, perempuan  lebih luwes dan mudah bersosialisasi dan mempengaruhi orang lain (saudara, tetangga, dll) melaui aktivitas kultural. Aktivitas sosial tersebut secara positif dapat didayagunakan. Masyarakat masih asertif terhadap aktivitas ini karena dipersepsi “dekat dengan urusan keluarga”.  Namun untuk aktivitas partai politik, masih memerlukan pendekatan tersendiri. Inilah peluang dan tantangan partai politik dalam mendayagunakan perempuan. Lantas, bagaimanakah nama-nama perempuan yang telah terjajar rapi dalam daftar calon partai politik? Bahkan dalam beberapa partai politik telah mencapai dan melebihi bilangan 30% dari jumlah total calegnya? Bersambung ya… 😀 ***

 

____________________________

Bacaan lain:

Pendidikan Politik

Bagaimana Partai Politik Melakukan “PDKT” Pada Masyarakat Calon Pemilih?

Bagaimana Partai Politik Memenangi Hati Masyarakat Pemilih?

Bagaimana Menjadikan Pemilih Labil (Swing Voters) Menjadi Pemilih Setia?

Mengenal Masyarakat Pemilih

Mengelola Partai Politik Dalam Masyarakat Yang Sedang Berubah

Menakar Kemampuan Elektoral Partai Politik Pasca Pemilu Legislatif 2014

Menakar Daya Survivalitas Partai Politik

Mengenal Pelembagaan Partai Politik

Adakah Partai Politik di Indonesia?

Mendesain Pembangunan Politik Berbasis Partai Politik Sehat: Sebuah Gagasan Utopis?

 

 

 

Etnografi Konstruktivis Untuk Mengeksplorasi Komunitas Virtual di Saudi Arabia

MENGGUNAKAN ETNOGRAFI DALAM PARADIGMA KONSTRUKTIVIS UNTUK MENGEKSPLORASI KOMUNITAS VIRTUAL DI SAUDI ARABIA

Wawan E. Kuswandoro

Saudi Arabia merupakan negara yang membatasi warganya dalam banyak hal. Salah satunya penggunaan internet, apalagi untuk perempuan. Aktivitas sosial perempuan Arab Saudi sangat terbatas (namun bukan berarti ‘tidak dapat beraktivitas sosial’ sama sekali). Dengan pemberitaan tentang musibah haji tahun 2015 ini, mulai jatuhnya crane hingga tragedi Mina, maka kembali Saudi Arabia menjadi “primadona” media massa. Baiknya, orang jadi tahu lebih banyak tentang negara “tertutup” ini. Saya pun teringat dengan review jurnal beberapa tahun yang lalu tentang jurnal hasil penelitian tentang komunitas virtual di Arab Saudi yang dilakukan oleh 2 orang peneliti, berkebangsaan Arab Saudi dan Australia. Banyak temuan menarik dari hasil penelitian ini. Salah satunya adalah aktivitas virtual perempuan Arab Saudi.

Tulisan ini mereview tentang penggunaan metode penelitian kualitatif khususnya metode etnografi (etnografi konstruktivisme), berdasarkan hasil penelitian etnografi konstruktivis tentang komunitas virtual di Saudi Arabia. Penelitian ini menggunakan metode etnografi berparadigma konstrukivisme, dengan teknik observasi terselubung-partisipatif. Kita simak penggunaannya untuk membongkar komunitas tertutup ini, di negara yang amat ketat konstruk agama dan dominasi negara.

 

Artikel yang ditulis oleh Yeslam Al-Saggaf (YAS) dan Kirsty Williamson (KW), keduanya dari Charles Sturt Universty, Australia, merupakan hasil penelitian keduanya tentang keberadaan komunitas virtual di Saudi Arabia. YAS dan KW, dalam artikelnya memfokuskan penggunaan  metode etnografi dalam paradigma konstruktivis, dengan teknik observasi-terselubung dan partisipatif, untuk mengekplorasi partisipasi individual dalam komunitas virtual di Saudi Arabia.

Kata kunci: etnografi, paradigma konstruktivis, etnografi konstruktivis, observasi terselubung, NVIVO, komunitas virtual, Saudi Arabia, perempuan Saudi.

Artikel tersebut, berdasarkan pada penelitian selama 8 bulan melakukan observasi-tersembunyi dan partisipasi (selama 2000-2001), bertujuan untuk menyoroti penggunaan etnografi (observasi-terselubung dan partisipatif) pada studi tentang komunitas virtual pada konteks sosial dan kultural pada masyarakat Saudi. YAS dan KW menyatakan bahwa temuan mereka sangat bermakna, mendalam serta kaya dalam deskripsi, mengingat masyarakat Saudi dikenal lekat pada ajaran agama (Islam), dan pemerintahnya sangat ketat dalam mengontrol masyarakatnya, terutama dalam hal penggunaan internet (namun tidak pada komunitas virtual).

Penelitian YAS dan KW ini, yang sekaligus menjawab kekurangan studi tentang komunitas virtual di negara-negara Teluk Arab, Arab maupun di Barat, merujuk pada studi-studi ekstensif terhadap komunitas virtual yang dinisbahkan pada tujuan sosial di Saudi, yang dilakukan oleh seorang pria Arab yang tinggal dan hidup bersama masyarakat Saudi. Komunitas virtual di Saudi, salah satunya yang terbesar (pada tahun 2000) adalah Al-Saha Al-Siyasia, mencapai jumlah ratusan ribu pengguna. Komunitas ini memungkinkan para pria dan wanita dalam masyarakat konservatif ini (Saudi) untuk berbicara satu sama lain. Hal yang sebelumnya sangat tidak mungkin terjadi, dalam sebuah negara yang memegang teguh ajaran agama (Islam).

Di tengah kelangkaan studi tentang komunitas virtual, baik di Arab maupun di Barat, penelitian YAS dan KW ini memuat beberapa masalah menarik dengan fenomena baru, yaitu:

  1. Partisipasi individual dalam komunikasi offline (dunia nyata) antara pria dan wanita tidaklah mungkin di Saudi.
  2. Pemerintah Saudi sangat ketat mengontrol penggunaan internet, tetapi tidak demikian kepada komunitas virtual.
  3. Partisipasi individu dalam komunitas virtual, online (dunia maya) ini akankah berpengaruh pada kehidupan off-line (di luar line internet) orang Saudi. Misalnya, akankah partisipasi dalam komunitas virtual oleh wanita Saudi yang merupakan 45% pengguna internet di negara ini (Al-Zaharni, 2002), “menular”[1] pada kehidupan sosial (nyata) mereka, dengan  bercakap-cakap dengan pria bukan “muhrim-nya” (Wheeler, 2000; Al-Munajjed, 1997)?
  4. Karena pria dan wanita bisa diamati berbicara satu sama lain secara online, akankah mereka berbicara satu sama lain secara offline sebagai hasil komunikasi mereka secara online? Termasuk pembicaraan-pembicaraan yang berbau “cabul” sebagaimana dapat terjadi pada dunia maya di komunitas virtual Saudi? (Kollock dan Smith, 1999; Wellman dan Gulia, 1999).

 

Terdapat banyak diskusi dan literatur (Preece, 2005; Preece, 2000; Jones dan Kucker, 2001; Kollock dan Smith, 1999; Wellman dan Gulia, 1999) mengenai anasir  yang menyusun sebuah masyarakat virtual. Untuk tujuan artikel ini, komunitas virtual didefinisikan sebagai “agregasi sosial yang muncul dari net (jaringan) ketika sejumlah orang melakukan diskusi publik cukup panjang, dengan perasaan manusia yang memenuhi, untuk membentuk web hubungan pribadi di dunia maya” (Rheingold, 2000:xx).

Komunitas virtual yang diteliti dalam studi ini menggunakan sebuah mode komunikasi “asinkron” daripada “sinkron”, yakni ketika partisipan berinteraksi dalam waktu tertunda, yaitu, tanpa setiap orang berkumpul pada waktu tertentu.

Sebagian besar studi dalam literatur sekarang ini memfokuskan pada metode yang digunakan, bukannya filosofi yang mengikutinya. Penekanan artikel ini adalah pada penggunaan keduanya, viz metode, etnografi, dan fondasi filosofisnya, yakni paradigma konstruktivis.

Fokus juga mengarah pada dua kunci teknik etnografi, yaitu observasi-terselubung dan partisipasi, yang digunakan untuk mengumpulkan data, termasuk seleksi dan deskripsi setting dan mendapatkan masukan. Setelah gambaran analisa data, artikel menampilkan sampel dari penemuan untuk tujuan ilustrasi. Penemuan dalam artikel ini berkaitan dengan karakteristik utama dari partisipasi dalam komunitas virtual di Saudi Arabia dan telah diperoleh menggunakan teknik observasi-terselubung dan partisipasi. Penemuan dari teknik lain, wawancara, dimasukkan dalam artikel yang diterbitkan sebelumnya (Al-Saggaf, 2004). Akhirnya, artikel ini menawarkan beberapa kesimpulan mengenai metode untuk penelitian yang memfokuskan pada komunitas virtual.

 

Paradigma Konstruktivis

Tujuan utama dari studi ini adalah untuk mengeksplorasi partisipasi individual dalam komunitas virtual di Saudi Arabia. Karena ini merupakan hal yang penting untuk menempatkan hasil studi dalam konteks sosial dan kultural dari masyarakat Saudi, pendekatan interpretivist (yang dikaitkan dengan metode penelitian kualitatif) tampak paling cocok. Interpretivist mempercayai bahwa realitas, secara sosial terbentuk dan ditempatkan dan oleh karena itu relatif pada konteks spesifik. Mereka juga mempertimbangkan pemahaman perspektif dan makna yang dibentuk orang secara individual mengenai esensial situasi mereka (Williamson, 2002). Alasan lain untuk pemilihan kerangka kerja interpretivis adalah karena sebuah tujuan sekunder dari studi ini adalah untuk mempelajari mengenai pengalaman individual dan persepsi mereka mengenai efek partisipasi mereka pada kehidupan off-line mereka, yang dicapai melalui penggunaan wawancara semi-terstruktur, dan diskusi.

Salah satu paradigma populer yang muncul di bawah pendekatan interpretivis adalah paradigma konstruktivis. Dalam hal asumsi-asumsi ontologis, paradigma ini menyatakan bahwa realitas mengenai fenomena sosial khusus adalah ganda dan terkonstruksi. Konstruktivis mempercayai bahwa tidak ada realitas obyektif tunggal “di luar sana” mengenai sebuah fenomena khusus; selain itu, terdapat realitas ganda yang terbentuk dalam pikiran orang di bawah studi.

Dalam hal asumsi-asumsi epistemologis-nya, paradigma ini menyatakan bahwa investigator dan responden menciptakan bersama pemahaman dan kemudian, ketika melaporkan penemuan mereka, peneliti cenderung untuk mengakui subyektiftas mereka. Peneliti juga cenderung untuk menerima bahwa mereka sendiri mempengaruhi proses penelitian dan, untuk alasan ini dalam laporan mereka, mereka juga merefleksikan pada peran mereka sendiri (Marshall dan Rossman, 1999). Dalam hal asumsi-asumsi metodologis-nya, konstruktivis mempercayai bahwa mereka harus mempelajari fenomena dalam bidang di mana hal ini terjadi, karena mereka menyadari pentingnya pemahaman praktek-praktek kultural orang dan makna yang mereka bawa pada kultur (Denzin dan Lincoln, 2000; 21). Schwandt (1994:128) mempercayai bahwa penelitian yang dilakukan dalam sebuah paradigma konstruktivis adalah sangat serupa dengan penyelidikan naturalistik seperti yang ditunjukkan dalam Lincoln dan Guba (1985). Penyelidikan naturalistik, contohnya, menyukai metode kualitatif (interpretivist) karena mereka lebih cocok dalam menangani realitas ganda (Lincoln dan Guba, 1985:40). Dalam penyelidikan naturalistik, proses penelitian adalah interaktif dan orang yang tahu (penyelidik) dan yang diketahui adalah tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Penyelidik memilih untuk menegosiasikan makna dan penafsiran dengan sumber daya manusia darimana data diperoleh karena ini adalah realitas mereka di mana penyelidik berusaha untuk merekonstruksinya (Lincoln dan Guba, 1985:41).

Paradigma konstruktivis mencakup dua teori konstruktifis kunci. Pertama, teori konsep personal, pertama kali digambarkan oleh Kelly (1963) dan menekankan realitas individual atau penafsiran dunia. Kedua, teori konsep sosial, pendukung utamanya dimana Berger dan Luckmann (1967) menekankan pengaruh masyarakat, kultur, dan lingkungan sosial pada realitas. Teori konsep personal menyatakan bahwa orang membentuk realitas mengenai dunia mereka secara individual dan itulah mengapa realitas mengenai sebuah fenomena adalah tidak tunggal tetapi majemuk, yang ada dalam pikiran individual (Charmaz, 2000; Denzin dan Lincoln, 2000; Schwandt, 2000). Setiap orang membentuk realitasnya mengenai dunia berdasarkan pada persepsi individual dan setiap orang merasakan/ menerima dunia dalam sebuah cara yang bisa jadi berbeda dari persepsi orang lain terhadapnya (Saule, 2002; Hammersley, 1995; Kelly, 1991; Lincoln dan Guba, 1985). Bagaimanapun, ketika makna diperoleh dari kejadian-kejadian, orang-orang, obyek-obyek (dengan tujuan untuk membuat kesan, atau mengorganisir mereka) adalah realitas yang terbentuk, orang dan obyek dalam pandangan terbentuk adalah dianggap kesatuan nyata (Lincoln dan Guba; 1985; 84).

Konstruksi sosial dari teori realitas menyatakan bahwa makna dikembangkan melalui interaksi orang dan hal-hal seperti: bahasa, kultur, lingkungan dan agama (Berger dan Luckmann, 1967). Konstruksionis sosial menyadari kepentingan bahasa, kultur, dan lingkungan dalam cara orang membuat kesan mengenai dunia mereka (Berger dan Luckmann, 1967). Williamson (2002:30) menyatakan “Konstruksionis sosial memandang orang sebagai alat perkembangan untuk aktivitas mereka bersama, yaitu, mereka secara sosial membentuk realitas”. Ini berarti bahwa, dalam konstruksi sosial atas realitas, orang membentuk realitas mereka bersama. Menurut Schwandt (1994:127) konstruksi sosial realitas tidak fokus pada “aktivitas membuat-makna dari pikiran individual, tetapi pada penghasilan kolektif makna seperti yang dibentuk oleh konvensi bahasa dan proses sosial lainnya”.

Literatur menunjukkan bahwa penelitian pada komunitas virtual telah mendapatkan manfaat dari kedua teori konstruktivis itu (contohnya, Markham, 2005; Manaszewicz, Williamson dan Mckemmish, 2002; Dodge dan Kitchin, 2001; Costigan, 1999; Fernback, 1999). Dalam buku yang sering dikutip, CyberSociety 2.0: Revisiting Computer-Mediated Communication and Community, Jones (1998:5) menyatakan bahwa media komunikasi yang dimediai oleh komputer tidak menciptakan realitas sosial mengenai komunitas virtual, ini adalah percakapan dan interaksi yang terjadi antara orang yang membentuk realitas. Ini menyokong poin yang dibuat Berger dan Luckmann (1967) mengenai realitas yang ada, seperti yang disebutkan diatas, melalui interaksi antara proses sosial. Dengan memperhatikan konstruksi realitas personal, Fernback (1999) dan Markham (1998), keduanya setuju bahwa partisipan membentuk realitas mereka mengenai komunitas virtual yang mereka miliki secara pribadi dan bahwa realitas ini ada dalam pikiran partisipan ini, yang berarti realitas mengenai komunitas virtual juga majemuk dan terbentuk.

Studi ini menggunakan kedua teori sebagai lensa di mana komunitas virtual di Saudi Arabia diinterpretasikan. Konstruksionisme sosial digunakan untuk menafsirkan cara partisipan menjalankan dirinya sendiri dalam hubungan dengan orang lain dan cara komunitas virtual mempengaruhi perilaku mereka. Konstruktivisme personal digunakan untuk memahami bagaimana partisipan secara individual mengembangkan kesan komunitas mereka dan kepemilikan pada komunitas itu.

MASYARAKAT SAUDI adalah masyarakat kolektivis; agama dan kultur secara kuat mempengaruhi bagaimana orang berperilaku, secara umum, pada orang lain, dan juga bagaimana mereka berlaku dalam cara yang serupa dari satu orang dengan orang lain. Adanya konstruktivisme sosial adalah mengenai bagaimana orang mengembangkan makna mereka bersama, kerangka kerja ini adalah lebih cocok bagi konteks Saudi dibandingkan lainnya.

Etnografi Konstruktivis

Etnografi bisa dilakukan dalam beberapa kerangka kerja seperti pasca-modern dan kritis (Saule, 2002). Etnografi yang dilakukan pada studi ini adalah dalam paradigma konstruktivis. Konstruktivis memilih menggunakan etnografi karena ini memungkinkan mereka untuk menampilkan realitas majemuk yang dimiliki bersama oleh partisipan dan juga penafsiran alternatif ketika mereka muncul dari data (Fetterman, 1989). Etnografer meneliti orang dalam konteks sehari-hari mereka (Saule, 2002:180) dengan berpartisipasi dalam aktifitas sosial sehari-hari mereka dengan tujuan untuk mengamati dan memahami mereka (Minichiello et al, 1990:18). Etnografer menggunakan beberapa teknik dalam pengumpulan data seperti wawancara, observasi dan analisa dokumen. Ini seharusnya dicatat bahwa, ketika beberapa peneliti memperlakukan observasi partisipan sebagai sinonim untuk etnografi (Bow, 2002), dalam partisipasi studi sekarang ini adalah diperlakukan sebagai teknik yang bisa digunakan untuk mengumpulkan data. Metode ini dinyatakan dalam cara ini dengan tujuan untuk membedakannya dari metode “observasi partisipan”. Penulis mengambil posisi dari pembedaan antara istilah “teknik” dan “metode”. Yang pertama harus berarti prosedur spesifik yang digunakan untuk mengumpulkan atau menganalisa data. Yang terakhir seharusnya berarti aturan-aturan umum yang mengatur pelaksanaan prosedur ini.

Menurut Saule (2002:180-181), terdapat tiga implikasi untuk melaksanakan etnografi dalam paradigma konstruktivis, yang kesemuanya telah dinyatakan dalam bagian sebelumnya. Konstruktivis, pertama, menerima bahwa sebuah teori tidak bisa memenuhi dan secara kategori menjelaskan sifat fenomena yang ada. Yaitu, karena realitas yang ada hanya dalam pikiran dari masing-masing individual, dan masing-masing persepsi individual dari realitas akan jadi majemuk. Kedua, konstruktivis menyadari bahwa peneliti tidak bisa jadi obyektif dan untuk alasan ini mereka membuat pengaruh potensial mereka pada penafsiran fenomena eksplisit dalam teks etnografi, ini memungkinkan pembaca teks untuk memiliki sebuah pemahaman latar belakang dan posisi peneliti. Ketiga, konstruktivis mempercayai bahwa hanya melalui interaksi peneliti dengan yang diteliti dimana sifat konsep sosial bisa diuraikan. Ini sejalan dengan penelitian etnografi karena etnografer diketahui berpartisipasi secara langsung dalam setting dimana orang dan aktifitas dibawah studi berdampingan.

 

Pengumpulan Data

Pengumpulan data dalam studi YAS dan KW ini menggunakan 4 teknik etnografi:

  1. Observasi-terselubung mengenai sebuah komunitas virtual;
  2. Peran partisipan dengan penelitian dalam komunitas virtual serupa lainnya;
  3. Wawancara semi-terstruktur secara online dengan partisipan reguler;
  4. Wawancara semi-terstruktur face-to-face dengan informan kunci.

Temuan yang diperoleh melalui metode ini ditriangulasi untuk membantu dalam membentuk kepercayaan dari hasil penelitian (Bow, 2002; Maxwell, 1996; Lincoln dan Guba, 1987).

Artikel ini memfokuskan hanya pada partisipasi dan teknik observasi-terselubung:

  1. Sebagai seorang pengamat tersembunyi dalam komunitas pertama, peneliti memastikan bahwa aktifitas biasa komunitas dan perilaku alami mereka tidaklah dipengaruhi (Angrosino dan Mays de Perez, 2000; Locke, Spirsudo, dan Silverman, 2000).
  2. Peneliti sebagai pengamat-tersembunyi juga menjamin bahwa tidak ada distorsi pada penemuan penelitian karena kebingungan dari perannya (yaitu, anggota atau peneliti) (Glesne, 1999; Paccagnella, 1997).
  3. Tidak-berpartisipasi menghindarkan peneliti dari kedekatan secara emosional dengan partisipan; sehingga memungkinkan dia untuk berkonsentrasi pada observasinya.
  4. Menurut literatur, menjadi pengamat dan seorang partisipan dalam waktu yang sama melibatkan dua peran tersendiri, dimana peneliti bisa jadi tidak bisa mencapainya secara berhasil (Tedlock, 2000; North, 1994; Lincoln dan Guba, 1987).
  5. Terdapat keuntungan yang menonjol dari peneliti ketika menjadi seorang partisipan dalam sebuah komunitas virtual yang serupa tetapi berbeda. Menjadi seorang partisipan adalah cara terbaik untuk memahami orang-orang (Suler, 1999). Dalam komunitas dimana dia adalah partisipan, peneliti bisa untuk berhubungan dengan anggota komunitas, memikat dirinya sendiri dalam beragam situasi dan ambil bagian dalam aktifitas komunitas beragam. Ini memungkinkan dia untuk memahami, secara mendalam, kultur komunitas dan mendapatkan wawasan ke dalam persepsi anggota komunitas. Partisipasinya juga memungkinkan dia untuk melaporkan persepsinya mengenai pengalaman virtualnya, yang dianggap sangat penting bagi penemuan penelitian menurut Lincoln dan Guba (1985), Markham (1998), Marshall dan Rossman (1999) dan Locke et al (2000).

 

Tentang Komunitas Virtual Saudi

  1. Komunitas virtual ini merupakan forum berbasis web diskusi publik asinkron, yang bertempat di salah satu website[2] internet provider di Saudi (website ini mulai beroperasi sejak Maret 1997, dua tahun sebelum internet diperkenalkan secara resmi di Saudi).
  2. Pada tahun 2000, mencapai jumlah ratusan ribu pengguna.
  3. Menggunakan internet: web, email, chat, dan MSN Messenger.
  4. Tidak ada biaya langganan, cukup menggunakan user name dan password.
  5. Digunakan oleh 45% perempuan Saudi.
  6. Sebagian besar anggota aktif dalam komunitas menganggap forum sebagai komunitas “riil” (lihat kutipan 1).
  7. Mengijinkan laki-laki dan perempuan Saudi saling berkomunikasi (termasuk pembicaraan-pembicaraan yang ditabukan di dunia nyata), yang tidak dapat dilakukan di dunia nyata (offline).
  8. Para anggotanya rata-rata menjadi ”ketagihan” atau mengalami ketergantungan pada komunitas virtual (lihat kutipan 2).
  9. Beberapa anggota komunitas virtual, dalam melakukan komunikasi, memiliki kecenderungan melakukan komunikasi mengelompok (grouping, mojok). Beberapa di antaranya menjadi intim dan terlibat pembicaraan tentang cinta (lihat kutipan 3), tentang hal-hal yang berbau cabul (lihat kutipan 4). Grouping ini lebih lanjut berkembang menjadi basis kekuatan para anggota untuk saling bertahan dan melindungi kelompok kecilnya dari kelompok lain.
  10. Perluasan hubungan online ke wilayah offline, dunia nyata (lihat kutipan 5).

 

Kutipan 1:

Al-Anood, seorang partisipan wanita, yang menyatakan perasaannya pada komunitas dan anggotanya, membuat poin ini:

”Pada forum bahwa saya merasa bahwa ini adalah bagian dari eksistensi saya dan perasaan saya pada anggotanya keramahan dan cinta, hal-hal yang tidak mengijinkan saya untuk menulisnya di forum lain, saya mendekati anda dengan semua rasa terimakasih dan cinta. Forum ini adalah seperti rumah yang berisi antara dinding-dindingnya seseorang yang hatinya setia dan yang jiwanya bersahabat” (jurnal Observasi, Minggu 15, 24 Oktober, 2001).

 

Kutipan 2:

Thamer, seorang partisipan pria, yang menjelaskan bagi partisipan pria lainnya seberapa sulit untuk meninggalkan komunitas ini, menggambarkan hal ini:

”Masalahnya adalah bahwa saya jatuh cinta dengan komunitas ini. Saya merasa bahwa saya adalah salah satu anggotanya. Saya menghargainya. Dan setiap waktu saya memperketat tas pinggang saya (berarti mencoba pergi), saya menemukan diri saya tertahan, jadi saya membawa kembali tas pinggang saya. Saya tidak bisa. Dan saya menemukan banyak orang menghentikan saya (untuk pergi)”. (Jurnal observasi, Minggu 7, 18 Mei 2001).

 

Kutipan 3:

Hamid, seorang partisipan pria, yang menanyakan ketidak hadiran teman wanitanya:

(nama dihilangkan) ”…ketiadaanmu semakin lama. Dan kerinduanku padamu sangat besar… Kami rindu untuk hari ketika mata kami mendapati tanganmu menulis. Apakah hari itu akan datang segera?” (Jurnal Observasi, Minggu 34, 28 Maret, 2002).

 

Kutipan 4:

Ahlaam, wanita berusia tiga puluh empat tahun yang menggunakan “pria” sebagai metafora untuk ketidak-bisa-tiduran:

Dan ketidak-bisa-tiduranmu masih menciumku. Saya telah terbiasa dengan ciuman panjang dan bodohnya. Dan saya terbiasa ketika dia membawa saya dengannya. Ketika dia datang dia membuka lengan kukuhnya padaku. Dia memelukku dan melingkarkan lengannya di tubuhku. Dia menciumku dan memperlama ciumannya. Saya berusaha untuk keluar dari pelukannya tetapi saya tidak pernah berhasil. Selalu dia lebih kuat dan memiliki tangan yang lebih panjang yang menarik saya padanya sebelum saya pergi”. (Jurnal Observasi, Minggu 24, 3 Januari 2002).

 

Kutipan 5:

Wafa, partisipan wanita, ketika membicarakan partisipan wanita lainnya, berkata:

“Hei, lihat seperti saya memenangkan kamu atas hahahaha (tertawa) Saya akan memberitahumu mengapa ketika kita bertemu malam ini Ok!” (Jurnal observasi, Minggu 5, 29 April 2001).

Al-Wafi, seorang partisipan wanita, berbagi perasaannya setelah rapat offline-nya dengan beberapa peserta dari Jeddah:

”Perasaan sensasional yang saya dapatkan setelah bertemu denganmu adalah sulit bagi manusia untuk menggambarkannya atau menyatakannya, tetapi saya selalu mengulangi bahwa ini adalah kesan kepemilikan, ya, kesan kepemilikan pada sesuatu adalah perasaan menakjubkan yang bisa memberikan pembenaran” (Jurnal observasi, Minggu 25, 12 Januari 2002).

Etika
  1. Perekaman, analisa dan pelaporan isinya, di mana terdapat perlindungan terhadap identitas individual, namun bukanlah merupakan pelanggaran etika jika melaksanakan penelitian dalam lingkungan virtual (Ess, C. AoiR Ethics Working Committee 2002; Eysenbach dan Till,2001; Glesne, 1999; Paccagnella, 1997; Frankel, 1999:King, 1996).
  2. Persetujuan etika untuk studi ini diberikan dari Etika dalam Human Research Committee di Charles Sturt University sebelum studi dimulai. Aplikasi untuk persetujuan etika adalah konsisten dengan standard untuk rangkaian penelitian etika yang ditetapkan oleh Charles Sturt University.

 

Teknik Observasi

  1. Tidak terstruktur

Pada awal penelitian (pertengahan Maret 2001 dan pertengahan Juli 2001), proses observasi adalah sedikit tidak terstruktur. Peneliti selama tahap ini memasuki forum secara reguler tetapi dengan sebuah pandangan luas. Dia melihat pada acara-acara, aktifitas-aktifitas, dan perilaku-perilaku yang menonjol dalam forum dan merekam catatan lapangannya dalam sebuah jurnal. Observasinya dipengaruhi oleh apa yang dilaporkan dalam literatur sekarang pada komunitas virtual (lihat Jones dan Kucker, 2001; Preece, 2000; Rheingold, 2000; Kollock dan Smith, 1999; Wellman dan Gulia, 1999; Holmes, 1997; Jones, 1997; Turkle, 1995). Tahap yang tidak terstruktur memungkinkan peneliti untuk menjadi lazim dengan kultur komunitas virtual, sejarahnya, orang-orangnya, dan sifat aktifitas mereka. Selama tahap ini juga peneliti mencatat sifat-sifat menonjol dalam komunitas, dan membuat sebuah daftar pemeriksaan dari kategori observasi untuk penggunaan dalam tahap selanjutnya.

 

Tabel 1 menetapkan beberapa kategori ini (urutan tidak penting).

 

Pengelompokan Bertemu offline Pembagian informasi Agama Persahabatan
Sejarah Berapi-api Pujian/ salam Penyingkapan Status
Trivia Kultur offline Humor Kecabulan Hubungan cinta
Pengaruh relijius Rasa malu Mempertahankan teman Waktu yang dihabiskan Keintiman
Respek Diskusi intelektual Dukungan emosional Komitmen Atmosfer keluarga
Reputasi Penggunaan aksen Salah paham Menunjukkan nama asli Perhatian

Tabel 1: Kategori observasional yang dikembangkan dalam tahap tak terstruktur

 

  1. Terstruktur

Dalam tahap terstruktur, observasi terkonsentrasi utamanya pada kategori-kategori, beberapa darinya, yang ada di daftar diatas. Selain itu untuk mencatat observasi mengenai topik-topik yang sehari-hari ditempelkan pada forum, peneliti juga menulis reaksinya sendiri, refleksi dan penafsirannya mengenai observasinya. Melakukan ini membantunya mengatasi masalah subyektivitas (dari seorang pengamat tunggal) di mana dia, pada tahap akhir penelitian, melakukan kompensasi dengan menggunakan triangulasi dengan data dari teknik lain seperti wawancara. Komentar-komentar yang mengandung wawasan pada perilaku partisipan atau yang menarik, disalin dan diterjemahkan secara instan dalam dokumen yang sama.

 

Menjadi Partisipan

  1. Untuk mempermudah perbandingan data, situs di mana peneliti harus bertindak sebagai partisipan diperlukan seserupa mungkin dengan situs yang diobservasi. Untuk mencapai hal ini, peneliti menggunakan mesin pencari khusus yang mendaftar sebagian besar forum di negara itu (ditemukan sebanyak 176 forum), dan selanjutnya menyeleksi beberapa untuk observasi sejenak, membandingkan mereka dengan situs dimana dia telah melakukan observasi-tersembunyi.
  2. Selanjutnya peneliti bergabung dengan dua situs dan berpartisipasi selama beberapa hari sebelum memutuskan yang mana yang akan dipilih. Selanjutnya dia menghentikan partisipasi dalam satu situs dan melanjutkan dengan situs lain untuk sisa periode delapan bulan partisipasi.
  3. Peneliti mencatat catatan lapangan harian dalam sebuah jurnal serupa untuk yang digunakan dalam forum yang diamati secara diam-diam tetapi dalam kasus ini mereka adalah mengenai pengalaman virtualnya sendiri (menjadi seorang anggota) yang termasuk reaksi-reaksinya, refleksi-refleksi dan penafsiran-penafsiran.
  4. Proses partisipasi dan pencatatan catatan lapangan mengambil dua hingga tiga jam setiap hari tetapi kadangkala ini membutuhkan lima jam, bergantung pada jumlah topik baru dan volume jawaban bagi topik-topik peneliti atau topik-topik baru yang ditunjukkan oleh partisipan lainnya.

 

Analisis Data

  1. Data dari empat teknik berbeda, termasuk dua yang dibahas disini, dianalisis ketika mereka dikumpulkan. Catatan lapangan observasional dan partisipasi harian dicatat dalam MS Word dan disimpan sebagai dokumen RTF, dengan sebuah dokumen tunggal yang mencakup satu minggu catatan lapangan. Contohnya, Obsv_W2_03_05_05.doc mewakili catatan lapangan observasional yang dikumpulkan dalam minggu kedua yang dimulai pada 3 Mei 2005.
  2. Pada akhir masing-masing minggu, dokumen RTF ini diimpor ke NVIVO (sebuah paket software untuk mengelola data kualitatif) untuk analisa. Ini berarti bahwa analisa catatan lapangan adalah dilakukan pada basis mingguan. Catatan lapangan observasional dan partisipasi dibaca pertama dan kata kunci (dalam masing-masing dan setiap line) yang mencakup ide-ide tertentu, ditandai. Tema berikutnya berdasarkan pada kata kuncinya dibuat dan diubah ke dalam mode-mode dalam NVIVO. Selain fakta bahwa mode-mode ini mewakili tema-tema yang berkembang, mereka juga menyimpan semua data yang berkaitan dengan tema khusus untuk semua dokumen mingguan. Akhirnya muncul strukturisasi lebih lanjut atau pengaturan mode-mode ke dalam kelompok-kelompok dan kategori-kategori berdasarkan pada konsep umum penelitian yang mereka agendakan. Tahap terakhir ini (proses kategorisasi) adalah iteratif, emergent dan iteratif.

 

Temuan dalam Penelitian YAS dan KW

  1. Perluasan hubungan pada media telepon atau tatap muka menyatakan bahwa komunitas virtual tidak selalu tetap hanya online, tetapi bisa jadi menjadi setting offline. Ini adalah penting untuk dicatat bahwa, ketika partisipan pria dan wanita mengakui melakukan komunikasi lintas jender melalui email, chat dan MSN Messenger, tidak ada bukti yang cukup yang menyatakan bahwa partisipan pria telah bertemu tatap muka dengan wanita dari forum. Pembauran orang dewasa yang bukan ”muhrim-nya” ini (dari jenis kelamin yang berlawanan) adalah dianggap salah dalam Islam, dan masyarakat Saudi khususnya, tidak menyetujui dan mentoleransi aktivitas ini. Untuk alasan ini, mungkin, partisipan tidak mengakui/ menerima untuk bertemu tatap muka dengan jenis kelamin yang berbeda.
  2. Grouping, tidak hanya secara sederhana didasarkan pada minat atau pengetahuan umum, tetapi lebih pada hubungan offline yang telah dibuat anggota setelah mereka bertemu dan mengenal satu sama lain online. Contohnya, anggota kelompok X, yang secara reguler bertemu di Riyadh, berbeda dalam hal kapasitas intelektual, gaya menulis dan minat, sekarang mereka mewakili sebuah kelompok kuat.

 

Kesimpulan

  1. Observasi terselubung dan partisipasi telah terbukti efektif dalam penelitian komunitas virtual di Saudi Arabia. Selain biaya rendah mereka, kecepatan hasil, dan kemudahan akses pada sebuah area geografi yang lebih luas dan dari kenyamanan kursi peneliti, ini adalah jelas bahwa mereka memungkinkan peneliti untuk memberikan penemuan yang dalam dan kaya dalam gambaran. Melakukan observasi-tersembunyi dan partisipasi pada dua komunitas virtual yang berbeda, tetapi serupa menghindari peneliti mengganggu aktifitas biasa komunitas dan perilaku alami dan memperkenalkan distorsi pada penemuan penelitian karena kebingungan perannya.
  2. Melakukan studi pada komunitas virtual dalam paradigma konstruktivis memungkinkan peneliti untuk menggali komunitas ini dalam konteks kultural mereka sendiri. Lensa teori konsep pribadi dan sosial telah terbukti berguna untuk pemahaman komunitas virtual dibawah studi. Teori konsep sosial berguna untuk memahami bagaimana anggota secara kolektif berlaku online. Contoh, teori ini berguna untuk pemahaman mengapa partisipan secara umum tidak melawan nilai-nilai kultural dan bertemu dengan jenis kelamin berbeda offline sebagai hasil komunikasi mereka dalam komunitas virtual. Di sisi lain, teori konsep personal adalah berguna untuk memahami cara anggota secara pribadi membentuk kesan komunitas mereka dan persepsi mereka mengenai keberadaan orang lain. Contohnya, teori ini memungkinkan peneliti (penulis pertama) untuk memahami realitas yang dia bentuk sendiri mengenai pengalaman virtualnya dan melaporkan persepsinya mengenai hal itu dalam teks.
  3. Penggunaan metode penelitian kualitatif untuk studi ini yang diberi pedoman oleh sebuah kerangka kerja interpretive juga terbukti tepat. Menggunakan etnografi dalam paradigma konstruktivis memungkinkan pelaksanaan observasi-terselubung dan partisipasi dalam cara yang menghasilkan hasil yang dalam, bermakna dan kaya sifatnya. Ketika sebuah metode penelitian kuantitatif digunakan, penemuan akan jadi faktual dan superficial. Penggunaan sebuah survei oleh kuisioner yang diisi-sendiri, contohnya, untuk penelitian tidak bisa memberikan gambaran kaya seperti yang ditunjukkan oleh observasi dan partisipasi.***

_______________


[1] Dampak komunitas virtual pada kehidupan off-line orang, merupakan subjek yang secara serius kurang diteliti, bahkan di dunia Barat (Dodge dan Kitchin, 2001; Jones dan Kucker, 2001).

[2] Pada waktu observasi, halaman utama dari forum berisi link-link untuk topik yang baru dipasang. Entry (masukan) diatur menurut tanggal di bawah satu sama lain dari yang paling baru hingga paling lama. Link-link kecil pada halaman utama bisa membawa pengguna pada topik yang paling lama yang ada di halaman lainnya. Selanjutnya pada judul topik adalah nama panggilan penulis topik dan sebuah gambar yang menunjukkan berapa kali topik itu dibaca. Ketika angka ini besar, ini diobservasi bahwa lebih banyak pembaca tertarik pada topik, kemungkinan karena mereka menganggap hal itu menarik atau penting.

 

TIPS MEMAHAMI ISI BUKU TEKS DENGAN LEBIH MUDAH!