Tag Archives: penelitian kualitatif

Etnografi: Pengantar

Setelah penjelasan tentang metode penelitian kualitatif, ada baiknya kita mengenal metode penelitian sosial yang juga berakar dari pendekatan kualitatif, namun lebih khusus untuk mendalami kehidupan masyarakat dengan memahami suatu pandangan hidup dari sudut pendang masyarakat atau penduduk asli, yakni tentang kehidupan mereka, untuk mendapatkan pandangan mengenai dunia mereka. Jadi benar-benar “menyalin” dunia masyarakat, menurut cara pandang masyarakat, dan kita (peneliti) memberitahukan kepada “dunia kita”. Bukan, menurut cara pandang kita (peneliti), kita “salin untuk kita beritahukan kepada dunia kita”. Peran peneliti di sini “sebagai seseorang yang sedang belajar” kepada masyarakat atau penduduk yang sedang kita teliti. Kata kuncinya adalah: “dari sudut padang masyarakat”. Penelitian sosial ini adalah ‘etnografi’.

Etnografi, merupakan penelitian ilmu sosial yang menggunakan paradigma kualitatif, berakar berakar pada pendekatan kualitatif. Ia berupaya menjelaskan fakta atau realitas sosial secara mendalam, memahami realitas sosial apa adanya berdasarkan struktur pengalaman subjek (native’s point of view)[1]. Ia menangkap makna (meanings) yang diketemukan pada peristiwa atau subjek yang diteliti, bersifat “belajar dari masyarakat” (learning from the people), tidak hanya “mempelajari masyarakat” (learning about the people)[2].

Penelitian etnografi bertujuan untuk menemukan dan mendeskripsikan sistem makna budaya yang digunakan masyarakat dalam mengorganisir tingkah laku mereka serta menginterpretasikan pengalaman mereka[3]. Karenanya, aspek penting penggalian ‘makna dari struktur pengalaman subjek’ inilah yang mencirikan penelitian etnografi ini yang dekat dengan paradigma kualitatif. Etnografi meniscayakan kedekatan peneliti dengan subjek yang diteliti, mempelajari dalam konteks alaminya yang berupaya memahami atau menafsirkan fenomena dilihat dari sisi makna yang dilekatkan manusia (peneliti) kepadanya. Etnografi dilakukan berdasar pada cara kerja penelitian kualitatif yang mencakup penggunaan subjek yang dikaji dan kumpulan berbagai data empiris -studi kasus, pengalaman pribadi, introspeksi, perjalanan hidup, wawancara, teks-teks hasil pengamatan, historis, interaksional dan visual- yang menggambarkan saat-saat dan makna keseharian dan problematis  dalam kehidupan seseorang.

WP_20150827_014Meminjam cara kerja kualitatif sebagai dasar, maka sebagai pengantar metode etnografi ini, sebelum kita bahas lebih lanjut, ada baiknya sedikit merefresh metode kualitatif, yang berhubungan dengan etnografi. Cara kerja penelitian kualitatif, yakni menerapkan aneka metode yang saling berkaitan[4], peneliti kualitatif mengamati (observasi), terlibat dalam peristiwa bersama subjek (partisipatoris) untuk memberikan tafsir (interpretif) terhadapnya hingga menemukan meanings hingga proposisi. Karakter kualitatif ini menjelaskan bahwa metode penelitian kualitatif berparadigma non-positivis. Ia bisa berparadigma post-positivis, interpretif-konstruktif maupun kritis. Sejalan dengan apa yang ditulis Norman K. Denzin dan Yvonna S. Lincoln dalam buku Handbook of  Qualitative Research, bahwa penelitian kualitatif tidak terikat dengan disiplin keilmuan tunggal manapun, juga tidak mempunyai seperangkat metode yang berbeda yang murni miliknya. Peneliti kualitatif memanfaatkan semiotika, analisis naratif, isi, wacana, arsip, dan fonemis, bahkan statistika; juga mendayagunakan pendekatan, metode, dan teknik etnometodologi, fenomenologi, hermeneutika, feminisme, rhizomatika, dekonstruksionisme, etnografi, wawancara, psikoanalisis, kajian-kajian kebudayaan, penelitian survei dan observasi partisipatif dll. Semua praktik penelitian ini “dapat memberikan wawasan dan pengetahuan yang berharga”.[5] Keluasan dan keluwesan penelitian kualitatif dalam menggali makna pengalaman masyarakat ini memberi penekanan pada proses, makna dan sifat realita yang terbangun secara sosial, hubungan erat antara peneliti dan subjek yang diteliti dan tekanan situasi yang membentuk penyelidikan.

WP_20150827_020Dari keluwesan metode kualitatif, maka kedudukan teori dalam penelitian kualitatif tidak seketat pada penelitian kuantitatif yang menjadi bingkai yang memagari peneliti. Pada penelitian kualitatif, teori merupakan guidance awal untuk memandu peneliti, yang selanjutnya  peneliti menganalisis dan memahami realitas yang ditelitinya secara alami. Alur pikir yang digunakan adalah induktif (bukan deduktif seperti pada kuantitatif). Karena tujuan penelitian kualitatif adalah mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang menyoroti cara munculnya pengalaman sosial sekaligus perolehan maknanya (hal yang sebaliknya pada penelitian kuantitatif yang menitikberatkan pada pengukuran dan analisis sebab-akibat antara bermacam-macam variabel, bukan prosesnya)[6]  maka keluasan dan kedalaman makna yang direngkuh oleh penelitian kualitatif ini membutuhkan kecakapan penelitinya untuk dapat berinteraksi dengan subjek dengan baik dan mampu menyerap makna dari subjek. Kemampuan ini digambarkan oleh Denzin sebagai seorang “bricoleur” yakni seorang yang “serba bisa” atau seorang yang mandiri-profesional. Bricoleur ini menghasilkan “brikolase” yaitu serangkaian praktik yang disatupadukan dan disusun secara rapi sehingga menghasilkan solusi bagi persoalan dalam situasi nyata. Bricoleur memanfaatkan paradigma interpretif (feminisme, Marxisme, kajian-kajian kebudayaan, konstruktivisme) yang dapat difungsikan untuk memecahkan masalah, dan sekaligus memahami bahwa penelitian kualitatif itu merupakan proses interaksi yang dibentuk oleh perjalanan  hidup, biografi, gender, kelas sosial, ras dan kesukuannya sendiri sekaligus oleh hal-hal yang berada dalam konteks. Hasil kerja bricoleur berupa brikolase yakni sebuah ciptaan kompleks, padat, refleksif, dan mirip klipping yang mewakili citra, pemahaman, dan interpretasi peneliti mengenai dunia atau fenomena yang dianalisis.[7]

WP_20161114_105Karakter holistik-integratif penelitian kualitatif dalam pemahaman di atas dan kedalaman makna hingga menguak behind the fact, beyond the reality, (mengungkap ada apa sebenarnya di balik realitas yang tampak ini)[8] dalam penelitian kualitatif ini memberi penjelasan bahwa dalam metodologinya, penelitian kualitatif menghendaki adanya thick description untuk menelusuri dan membongkar realitas sosial yang didapatkan melalui in-depth interview (wawancara mendalam) dalam pengumpulan datanya (penelitian lapang)[9]. Wawancara mendalam dilakukan terhadap informan atau narasumber, yang mana informan atau narasumber ini adalah orang-orang yang memahami konteks masalah yang sedang diteliti. Mereka adalah pelaku peristiwa, orang yang sangat tahu, paham dan ahli serta dekat dalam bidang atau masalah yang sedang diteliti, sehingga yang penting dari informan atau narasumber ini adalah kualitasnya, bukan jumlahnya seperti dalam penelitian kuantitatif. Karenanya, bukan jumlah informan atau narasumber yang dipentingkan, tetapi kedalaman, intensitas dan kualitas data yang diperoleh / digali dari mereka-lah yang penting. Apa yang disebut sebagai “tingkat kepercayaan” dalam penelitian kuantitatif yang direpresentasikan dengan ukuran sampel (semakin besar ukuran sampel atau jumlah responden maka penelitian akan semakin bisa dipercaya atau memperkecil margin of error), dalam penelitian kualitatif adalah kedalaman dan kualitas data yang dapat digali inilah yang penting. Karenanya, pemilihan informan atau narasumber menjadi penting.

WP_20150614_039Penelitian kualitatif memilih informan atau narasumber tidak secara acak, tetapi dipilih berdasarkan kriteria kepahaman dan kedekatan akan suatu masalah yang sedang diteliti. Biasanya dilakukan dengan teknik snow-ball dengan terlebih dahulu menentukan seorang informan atau narasumber kunci (purposive) yang darinya menjalar kepada informan atau narasumber lain atas referensi informan atau narasumber sebelumnya. Demikian dilakukan terus hingga informan atau narasumber ke-x ketika data telah jenuh yakni ketika informan atau narasumber telah tidak lagi bisa memunculkan konstruksi yang berbeda dan baru. Instrumen penelitian, menggunakan “panduan wawancara kualitatif” yang tidak bersifat terstruktur (ketat) seperti dalam penelitian kuantitatif, tetapi lebih fleksibel, dengan tipe pertanyaan open-ended, yakni tiap pertanyaan akan berakhir dengan membuka jalan bagi pertanyaan berikutnya yang mengikuti alur semi-terstruktur maupun tidak terstruktur (peneliti bebas melakukan improvisasi di lapangan namun tetap dalam koridor desain penelitian). Ini bedanya dengan kuantitatif yang baku-kaku. Mengikuti alur ini, maka analisis data kualitatif bisa dilakukan sambil melakukan pengumpulan data, yang dilakukan setiap saat selama pengumpulan data, yang biasanya dicatat dalam jurnal harian atau logbook. Data-data dari informan kemudian dianalisis dengan teknik tertentu yang berpusat pada peneliti (interpretif-kritis) dan bisa juga menggunakan alat bantu software CDC-EZ Text, semacam SPSS-nya kualitatif. Software ini membantu mempermudah peneliti kualitatif untuk memilah dan mengklasifikasi data dari jawaban-jawaban informan atau narasumber (catatan: analisis, interpetasi tetap pada peneliti). Analisis data dilakukan selama pengumpulan data.

Hasil penelitian kualitatif bersifat memahami realitas sosial, menyentuh sisi praxis, bertujuan membangun teori, memunculkan pemahaman atau konsepsi atau teori baru atau memberikan kritik atas teori yang ada atau memperbarui teori.

Lebih lanjut tentang etnografi, tentang manfaat, mengapa menggunakan etnografi, keunggulan metode etnografi, hasil yang didapat dari metode etnografi, problem sosial apa saja yang sesuai diteliti dengan metode etnografi, hingga aspek teknis, kita bahas nanti ya…  🙂

Dan untuk lebih menyambungkan pemahaman dan temuan dalam menjelaskan realitas sosial, pada artikel mendatang akan saya tuliskan juga pertautan antara metode dan teori sosial dalam aplikasi yang kita gunakan dalam penelitian sosial.

 


 

Artikel terkait:

Etnografi Konstruktivis dan Penggunaannya Untuk Meneliti Komunitas Virtual

 

 

Referensi:

Denzin, Norman K. dan Yvonna S. Lincoln. Handbook of Qualitative Research. Terj. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009.

Spradley, James P. Metode Etnografi. Terj. Yogyakarta: Tiara Wacana,  1997.

15556429_1794445987476491_1111699394_o

Metode dan Teori Dalam Cultural Studies

Metode dan Teori Dalam Cultural Studies

Metode Dalam Cultural Studies

Pendekatan dan paradigma yang digunakan cultural studies, menurut Barker adalah: etnografi (kulturalis dan mendasarkan pada pengalaman nyata), tekstual (semiotika, pascastrukturalis, dekonstruksi Derridean), dan studi resepsi (reception study, eklektis)[1]. Sedangkan metode, secara keseluruhan, cultural studies memilih metode kualitatif, dengan fokus pada makna budaya[2]. Mengikut karakter kualitatif yang beroperasi di ranah penemuan meanings (makna, yakni makna budaya) dari struktur pengalaman subjek, dan sejalan dengan pemikiran post-modernisme, maka karya-karya dan penelitian cultural studies menggunakan metode berpikir dinamis, kontekstual, plural dan lokal dan menghindari model berpikir linear, dualis dan statis[3]. Metode berpikir ini merupakan dasar pijakan bagi karya cultural studies untuk menentukan metode (juga teori) yang sesuai. Beberapa metode yang sesuai bagi cultural studies, menurut catatan Akhyar Yusuf Lubis[4], diantaranya adalah:

satu

Hermeneutika, dengan berbagai variannya, seperti semiotika.

dua

Multiperspektif, dengan memasukkan politik, budaya dan kekuasaan. Metode yang diajukan oleh McGuigan ini meneliti hubungan antara ekonomi politik, representasi, teks, dan audiens bersama dalam keterlibatannya dengan kebijakan budaya. Metode ini disebut juga “pluralitas perspektif”, digunakan dalam penelitian-penelitian yang bersifat lokal, dengan hasil berupa narasi-narasi kecil (little naration). Di sini, kebenaran dianggap sebagai produksi dalam permainan bahasa, yang didasarkan pada aspek lokalitas.

tiga

Fenomenologi. Adalah metode untuk menangkap fenomena, atau metode untuk melihat segala sesuatu yang memberikan-dirinya (self-given) menurut cara keterberiannya masing-masing yang khas dan singular/ perspectival (its manner of givenness).  Kuncinya, terletak pada: cara-bagaimana sesuatu itu memberikan-dirinya/ menyingkapkan-dirinya; atau dengan kata lain: cara-berada dari sesuatu [5]. Lebih lanjut tentang fenomenologi.

empat

Etnografi. Menurut James P. Spradley, metode ini menjelaskan fakta atau realitas sosial secara mendalam, memahami realitas sosial apa adanya berdasarkan struktur pengalaman subjek (native’s point of view)[6]. Ia menangkap makna (meanings) yang diketemukan pada peristiwa atau subjek yang diteliti, bersifat “belajar dari masyarakat” (learning from the people), tidak hanya “mempelajari masyarakat” (learning about the people)[7].

lima

Dekonstruksi. Metode ini merupakan “perlucutan” yang dilakukan oleh Derrida atas oposisi biner dalam filsafat Barat, untuk menampakkan titik kosong teks dan asumsi yang tidak dikenal[8]. Untuk ini Derrida menciptakan metode “pembacaan-mendalam” atas teks yang mirip psikoanalisis, menggunakan prosedur memeriksa unsur-unsur kecil dalam momen yang tidak dapat dipastikan atau dipersepsi[9].

dan, enam, penelitian partisipatoris.

wklompshootMenurut saya, metode dalam karya-karya cultural studies tidaklah sebatas keenam metode yang diunjukkan Akhyar Yusuf Lubis tersebut, tetapi bisa lebih banyak lagi, namun tetap berada dalam koridor metode kualitatif dan berdasar pada epistemologi post-positivisme (teori kritis, post-strukturalisme, post-modernisme). Satu karya cultural studies patut diperhitungkan adalah kritik kebudayaan psikoanalisis, sebagaimana diungkap oleh Mark Bracher[12]. Dalam bukunya, ia menyinggung tentang kritik kebudayaan psikoanalisis yang bersumber dari pemikiran Jacques Lacan. Bracher menukil Richard Johnson yang menyatakan bahwa pertanyaan kunci yang terus menerus diajukan cultural studies adalah terkait pengaruh artefak budaya dan diskursus kebudayaan. Diskursus kebudayaan ini terkait pada popularitas, kenikmatan (pleasure), nilai guna (use value) [10] , dan membutuhkan pembacaan, pencerapan artefak kebudayaan dan pengaruhnya pada budaya yang menjadi tempat seseorang berada, tetapi ini sering ditinggalkan. Menurut amatan Richard Johnson, hal ini karena tiadanya teori subjektivitas post-strukturalis yang memadai. Karenanya, kebutuhan mendesak dalam cultural studies adalah adanya sebuah teori subjektivitas yang bisa menjelaskan bagaimana artefak kebudayaan bisa memengaruhi manusia. Maka, jawabannya adalah: teori subjektivitas dari psikoanalisis Lacan[11]; dan ini sedang saya jadikan disertasi saya dengan harapan bisa memberikan kontribusi pada khazanah teori ini. Mohon doanya ya…. 😀

20130723_225035Arus pemikiran post-modernisme dan postrukturalisme dari cultural studies yang memunculkan metode sebagaimana deskripsi di atas, sejalan dengan pemikiran Paula Saukko yang mendeskripsikan metode cultural studies, sebagai kombinasi metode yang bercirikan tema-tema lived experience (pengalaman yang hidup), discourse (wacana), text (teks) dan social context (konteks sosial). Bagi Saukko, hal penting dalam cultural studies adalah:

Pertama,  memahami bahwa metode dalam cultural studies tersusun atas wacana, pengalaman hidup, teks, dan konteks sosial dengan menggunakan analisis yang luas.

Kedua, pemahaman tentang kriteria tentang valid / good research.

ket dpkp inspeksiKetiga, tentang kebenaran dan validitas (triangulasi)[13]. Menurut Saukko, valid/ good research adalah truthfulness (berada pada sisi subjek yang diteliti), self-reflexivity (refleksif tentang personal, sosial, dan wacana paradigmatik yang menuntun pada realitas), dan polivocality (peneliti menyadari bahwa ia sedang tidak meneliti sebuah realitas tetapi banyak realitas)[14]. Saukko mengetengahkan “combining methodologies”, dengan mengambarkan perpotongan antara ordinat paradigm, ontologi, epistemologi, metafora, tujuan penelitian dan politik yang disandingkan dengan model triangulasi, prism, material semiotic dan dialogue. Self-reflexivity ditempatkan pada jalur seperti yang digunakan teori sosial kritis yang dilandaskan pada kritik ideologi dan peran atas basis kesadaran yang merepresentasikan ruang dialog dan wacana saling bertemu, mempengaruhi, mengaitkan berbagai kepentingan, pola kekuasaan serta konteks sosial dan sejarahnya. Polivocality berkenaan dengan berbagai pandangan yang berbeda dengan cakupan teori-teori yang saling mengisi dan dengan mudah dapat didukung satu sama lain, meskipun membutuhkan ketelitian dalam mengkombinasikan pandangan-pandangan lain agar memberikan kesesuaian bagi karakter akademik cultural studies. Paradigma yang digunakan mengambil model triangulasi yang berupaya mengkombinasikan berbagai macam bahan atau metode-metode untuk melihat apakah saling menguatkan satu sama lain. Maka, cultural studies sangat berpotensi memberikan peluang bagi suatu kajian yang baru dan menarik minat pembelajarnya. Validitas (keabsahan) penelitian dalam cultural studies yang menuju ‘kebenaran’ (truth) maka yang dipakai adalah triangulation[15].

Teori

wk@topobrotoBarker menjelaskan teori dalam cultural studies, yaitu narasi yang berusaha membedakan dan menjelaskan ciri-ciri umum yang menjabarkan, mendefinisikan dan menjelaskan terus-menerus kejadian yang dipersepsikan.  Tetapi teori tidak menggambarkan dunia secara akurat, namun ia adalah alat, instrumen, atau “logika untuk mengintervensi dunia” melalui mekanisme deskripsi, definisi, prediksi, dan kontrol. Dalam cultural studies, teori menempati posisi tinggi, yakni sebagai penunjuk jalan atau peta budaya yang memandu[16]. Teori memandu peneliti cultural studies untuk menceburkan diri ke dalam alam realita untuk dilakukan pembacaan-mendalam, dan bertujuan merumuskan teori dan tindakan (praksis) yang bersifat emansipatoris.

Dan menilik karakternya sebagaimana telah dideskripsikan di atas, maka cultural studies menggunakan berbagai teori dan konsep untuk menjelaskan dan memahami berbagai realitas sosial kontemporer. Beberapa teori yang dapat digunakan dalam cultural studies sebagaimana dikumpulkan oleh Akhyar Yusuf Lubis dalam buku “Dekonstruksi Epistemologi Modern”[17], diantaranya, adalah:

Semiotika (Roland Barthes)

Teori ini memahami aspek budaya melalui semiotika, dengan melihat budaya sebagai tanda. Teori ini digunakan dalam penelitian yang bersifat lokal, etnis dan subkulktur[18].

Habitus (Pierre Bourdieu)

Habitus adalah struktur mental atau kognitif, yang digunakan aktor untuk menghadapi kehidupan sosial budaya. Atau, dalam pengertian Ritzer, yang dikutip Lubis, habitus adalah konstruksi dunia sosial, struktur sosial yang diinternalisasikan dan diwujudkan. Ia mencerminkan posisi sosial, kebiasaan yang terdapat  pada kelas atau kelompok sosial[19].

Teori Industri Budaya (Walter Benyamin)

Teori ini memandang industri budaya sebagai produksi mekanis budaya yang disebarluaskan melalui media cetak dan elektronik[20].

Teori Hegemoni (Antonio Gramsci)

Teori ini berfokus pada kajian tentang negosiasi penguasa dengan kelompok budaya tandingan menuju landasan budaya dan ideologi yang bisa membuatnya mendapatkan posisi kepemimpinan. Hegemoni adalah upaya bagaimana kelompok penguasa dapat mensubordinasi dan tetap dapat mempertahankan status quo[21].

Teori Pendidikan Kritis (Paulo Freire)

Teori ini, yang merupakan cultural studies di bidang pendidikan, mengritik model pendidikan yang disebutnya sebagai bergaya bank. Teori ini berpengaruh besar pada dunia pendidikan[22].

Sementara itu, beberapa pendapat lain seperti John Storey dan Mark Bracher mengemukakan masing-masing teori kultural (Cultural Theory) yang dirumuskan oleh Raymond William[23], dan Teori Subjektivitas Psikoanalisis, yang diperkenalkan oleh Jacques Lacan[24], beserta variannya, Neo Lacanian, yang dikembangkan oleh Slavoj Zizek[25] dan Yannis Stavrakakis[26].

Patut dicatat, bahwa teori dalam cultural studies, adalah teori digunakan untuk memandu awal peneliti untuk kemudian digunakan untuk merumuskan teori (baru) sehingga memunculkan banyak teori baru yang selaras dengan keluasan bidang telaah cultural studies.

Konsep

Representasi

Unsur utama cultural studies, menurut Barker, adalah praktik pemaknaan atas representasi, yaitu bagaimana dunia ini dikonstruksi dan direpresentasikan secara sosial. Untuk ini diperlukan eksplorasi pembentukan makna tekstual. Representasi dan makna budaya memiliki materialitas tertentu, yang melekat pada bunyi, prasasti, objek, citra, buku, majalah, dan program televisi. Mereka diproduksi, ditampilkan, digunakan dan dipahami dalam konteks sosial tertentu[27].

IMG-20161119-WA0010Identitas

Dalam cultural studies, identitas adalah konstruksi budaya, yakni konstruksi tentang bagaimana seseorang itu menjadi orang, bagaimana kita diproduksi sebagai subjek dan bagaimana kita menyamakan diri kita (atau secara emosional) dengan  gambaran sebagai laki-laki, perempuan, hitam, putih, tua, muda, dsb. Wacana yang membentuk bahan-bahan untuk formasi identitas tersebut bersifat kultural. Secara khusus, subjek dikonstitusikan sebagai individu dalam sebuah proses sosial yang secara umum dipahami sebagai akulturasi yang tanpa itu, kita tidak dapat menjadi seseorang. Konsep identitas sebagai konstruksi diskursif budaya yang spesifik didasari oleh sikap anti-representasional dalam memahami bahasa, dimana wacana mendefinisikan, mengonstruk dan memproduksi objek pengetahuan[28].

 

Kesimpulan

satu

Cultural studies, atau  disebut mazhab Birmingham (tokoh: Richard Hoggart dan Stuart Hall), adalah sebuah pemikiran perlawanan terhadap gagasan universalitas dan narasi besar seperti ditawarkan teori modernisasi dan terhadap budaya massa atau budaya pop (popular culture), dengan studi budaya sebagai instrumen untuk melakukan perubahan.

dua

Cultural studies hadir untuk  memahami realita budaya sekaligus mengubah struktur dominasi dan struktur masyarakat yang menindas dan bertujuan untuk merumuskan teori-teori sekaligus tindak praksis yang bersifat emansipatoris.

tiga

Cultural studies memusatkan perhatian pada masalah isu-isu kekuasaan, politik, ideologi, serta kebutuhan akan perubahan sosial.

empat

Ruang lingkup cultural studies meliputi kebudayaan, budaya massa (popular), ideologi, makna dan pengetahuan, linguistik, diskursus, post-modernisme, feminisme, politik, politik identitas, politik budaya, globalisasi, media, dan subkultur. Ia meneliti atau mengkaji berbagai kebudayaan dan praktik budaya serta kaitannya dengan kekuasaan dan produksi pengetahuan dalam arena dan konteks kebudayaan yang luas.

lima

Metode cultural studies secara keseluruhan adalah kualitatif, dengan pendekatan etnografi, tekstual dan berfokus pada makna budaya. Prinsipnya, ia menggunakan metode berpikir dinamis, kontekstual, plural dan lokal dan menghindari model berpikir linear, dualis dan statis.

enam

Teori cultural studies menempati posisi tinggi, yakni sebagai penunjuk jalan atau peta budaya yang memandu peneliti cultural studies untuk menceburkan diri ke dalam alam realita untuk dilakukan pembacaan-mendalam, dan bertujuan merumuskan teori baru dan tindakan (praksis) yang bersifat emansipatoris.***

 

 

Referensi yang digunakan dari Chris Barker, Chris Barker dan Dariusz Galasinski, Mark Bracher, Simon During, Stuart Hall, Akhyar Yusuf Lubis, Tony Myers, Slavoj Zizek, Paula Saukko, James Spradley, Yannis Stavrakakis, dan John Storey.

_____________

Related readings:

Fenomenologi

 

TIPS MEMAHAMI ISI BUKU TEKS DENGAN EFEKTIF DAN LEBIH MUDAH!

 

Cultural Studies

Cultural Studies

Artikel Sebelumnya:

Metode Penelitian Kualitatif

Pengertian Cultural Studies

Cultural studies, sebagaimana namanya, “studies” (kajian-kajian), bukan “cultural study” yang memuat makna “study” (kajian) yang bermakna tunggal, memuat pengertian kajian-kajian budaya dalam pengertian dan ruang lingkup yang luas dan multi, seperti dikatakan Stuart Hall, “cultural studies has multiple discourses”[1]. Ia memiliki daya jangkau  lintas disiplin ilmu, dan berusaha menjelaskan realitas sosial kontemporer dari berbagai disiplin ilmu tersebut. Cultural studies, yang muncul dari Universitas Birmingham (Inggris), -karenanya disebut “mazhab Birmingham”-, hendak menggugat pengkotak-kotakan ilmu yang masing-masingnya mengklaim kebenaran dengan versi keilmuannya masing-masing. Cultural studies hadir untuk mendamaikan klaim parsial tersebut dengan menghadirkan kajian-kajian lintas disiplin ilmu, inter dan multidisipliner dengan memasukkan teori dan metode dari berbagai disiplin ilmu yang dipandang strategis untuk lebih mampu menjelaskan realitas sosial maupun representasinya dalam kehidupan sosial kontemporer.

Kajian-kajian lintas disiplin tersebut dinamakan “budaya”, “kajian-kajian budaya” (cultural studies) karena “budaya” mengandung pengertian dan ruang lingkup yang luas, yang dalam hal ini “cultural studies” berbeda dari “the study of culture”[2]. Cultural studies adalah sebuah metode dan teori, dalam ranah paradigma kebudayaan (cultural paradigm)[3], sedangkan “the study of culture” adalah kajian tentang budaya. Budaya, seperti dinyatakan oleh Simon During dalam buku Cultural Studies: A Critical Introduction, bukanlah benda atau bahkan sistem, tetapi mengacu pada pengertian seperangkat transaksi, proses, mutasi, praktik, teknologi, institusi dan segala benda dan peristiwa yang diproduksi untuk menyatu dalam pengalaman hidup, makna-terberi (given meanings), dan nilai-nilai.

Culture is not a thing or even a system: it is a set of transactions, processes, mutations, practices, technologies, institutions, out of which things and events (such as movies, poems or world wrestling bouts) are produced, to be experienced, lived out and given meaning and value to in different ways within the unsystematic network of differences and mutations from which they emerged to start with. [4]

DSCF5446Di sini, cultural studies memandang budaya sebagai teks[5].  Pandangan ini mendapat penguatan dari Raymond Williams yang memaknai budaya (culture) sebagai pengalaman hidup, teks, praktik, makna-makna (meanings) yang dimiliki oleh dan telah menjadi aturan main di masyarakat. Selanjutnya Raymond Williams sebagaimana dikutip oleh Chris Barker dan Dariusz Galasinski, memaknai budaya sebagai “a whole way of life”, meliputi keseluruhan bentuk-bentuk signifikasi dalam makna-makna dan kondisi yang diproduksinya. Mengikut pandangan ini maka, cultural studies berkenaan dengan pemahaman terhadap dunia sehari-hari sebagai bagian dari budaya yang dicermati, yakni hal-hal yang biasa dilakukan, dirasakan, dibicarakan, didengar, dilihat dan dialami dalam kehidupan sehari-hari oleh orang kebanyakan. Ini yang menjadi salah satu ciri terpenting cultural studies. Atau menurut kata William,  cultural studies mengurusi kajian-kajian tentang “intersection of language, meanings and power”[6]. Sejalan dengan ini adalah pemikiran Stuart Hall yang memberikan pengertian cultural studies berkaitan dengan kekuasaan dan politik. Menurut Hall, sebagaimana dikutip Chris Barker, cultural studies merupakan suatu teori yang dibangun oleh para pemikir yang memandang produksi pengetahuan teoretis sebagai praktik politik. Dalam hal ini pengetahuan tidak pernah menjadi fenomena netral atau objektif, tetapi memiliki posisionalitas, tergantung dari posisi mana orang berbicara, kepada siapa dan untuk tujuan apa[7].

Ruang Lingkup Cultural Studies

DSCF5414Cultural studies memiliki ruang lingkup yang luas, dan secara konsisten senantiasa memberi perhatian pada masalah dan isu-isu kekuasaan, politik, ideologi, serta kebutuhan akan perubahan sosial[8].  Ia hadir dalam kajian-kajian tentang produksi pengetahuan, praktik politik, serta berdiri di tengah pemaknaan, bahasa dan kekuasaan, dalam masyarakat kontemporer. Karenanya kajian cultural studies ini mengikuti karakter masyarakat kekinian, dan dalam ulasan Mudji Sutrisno dalam buku yang dieditorinya bersama Hendar Putranto, “Teori-Teori Kebudayaan”, mencakup kajian-kajian budaya sebagai kritik ideologi, masalah-masalah integrasi sosial, transformasi sosial, perilaku, budaya sebagai teks, yang membentang dari strukturalisme hingga post-strukturalisme, psikoanalisis dan post-modernisme[9]. Ulasan lain, dari Chris Barker misalnya, bukunya, Cultural Studies memuat bentangan ruang lingkup cultural studies yang lebih luas lagi  yakni kebudayaan, budaya massa (popular), ideologi, makna dan pengetahuan, linguistik, diskursus, post-modernisme, feminisme, politik, politik identitas, politik budaya, globalisasi, media, dan subkultur. Bentang ruang lingkup kajian cultural studies ini dapat dikatakan bahwa karakter cultural studies adalah bahwa ia meneliti atau mengkaji berbagai kebudayaan dan praktik budaya serta kaitannya dengan kekuasaan[10] dan produksi pengetahuan dalam arena dan konteks kebudayaan yang luas.

Dalam konteks kekuasaan, cultural studies menyingkap dimensi kekuasaan dan pengaruhnya terhadap berbagai bentuk kebudayaan dalam aspek sosial, ekonomi, politik dll[11]. Sama dengan critical theory (mazhab Frankfurt), cultural studies, atau dikenal juga sebagai mazhab Birmingham[12], merupakan pemikiran yang memuat perlawanan/ kritik terhadap budaya massa atau budaya pop (popular culture), dengan menggunakan studi budaya sebagai instrumen untuk melakukan perubahan progresif. Cultural studies menolak narasi besar universalisme seperti ditawarkan teori modernisasi, hal yang dikecam juga oleh teori kritis, menuju ke “narasi kecil” lokal. Ia mendekonstruksi (membongkar) aturan-aturan pengkotak-kotakan ilmiah konvensional lalu berusaha mendamaikan pengetahuan objektif dengan pengetahuan subjektif (intuitif)[13].

wklompshootCultural studies berusaha memahami realita budaya sekaligus mengubah struktur dominasi dan struktur masyarakat yang menindas dan bertujuan untuk merumuskan teori-teori sekaligus tindak praksis yang bersifat emansipatoris. Cultural studies tidak membahasakan kebudayaan yang terlepas dari konteks sosial politik, tetapi mengkaji masalah budaya dalam konteks sosial politik di mana kebudayaan itu tumbuh dan berkembang. Selanjutnya, ia melibatkan diri dalam pertimbangan moral, tindakan politik dan konstruksi sosial[14]. Dengan demikian karakteristik cultural studies tidak memiliki wilayah subjek kajian yang didefinisikan secara jelas, tetapi berpijak pada gagasan tentang budaya yang luas, untuk mempelajari berbagai macam praktik keseharian manusia. Karenanya, ia meliputi seluruh kajian pengetahuan. Keseluruhan struktur pengetahuan berikut relasinya dengan manusia dalam pandangan cultural studies ini sejalan dengan pemikiran post-modernisme bahwa pengetahuan memiliki karakter yang perspektival, dan menganggap tidak mungkin ada pengetahuan yang menyeluruh yang mampu menjelaskan karakter “objektif” dunia. Tetapi diperlukan berbagai sudut pandang atau kebenaran yang digunakan untuk menafsir eksistensi manusia yang kompleks dan heterogen[15].

Sebagaimana dideskripsikan di atas, bahwa cultural studies berkembang sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan sosial budaya kontemporer (post-modern), dengan karakter lintas disiplin dan cair yang dimilikinya, maka paradigma yang sesuai bagi cultural studies, dalam tulisan Akhyar Yusuf Lubis dalam bukunya “Dekonstruksi Epistemologi Modern”,  adalah paradigma teori kritis, dekonstruksi dan konstruktivisme. Paradigma konstruktivisme ini, menurut Lubis, adalah model berpikir yang melihat sosial budaya, dinamis, kontekstual, plural dan lokal (sama sekali bukan model berpikir positivis, universal, linear, dualis dan statis). Menurutnya, dalam paradigma konstruktivis, pengetahuan bukanlah pernyataan (klaim) tentang objek sejati, tetapi konstruksi interpretatif mengenai objek. Karena itu, paradigma konstruktivisme (seperti post-struktural dan post-modernisme) melihat klaim-klaim kebenaran teori lebih dilihat sebagai produksi kebenaran dalam permainan bahasa (language games) tertentu.  Karena itu, paradigma konstruktivis ini lebih tepat menggunakan metode hermeneutik dengan berbagai variannya[16].

Dari karakter inilah diketahui bahwa cultural studies ini merupakan bidang keilmuan yang multi dan lintas disiplin ilmu, memiliki ruang lingkup yang membentang dari budaya dalam kaitannya dengan kekuasaan dan politik, bahasa, komunikasi, jender, diskursus (wacana). Dengan demikian, metode dan teori yang digunakan dalam cultural studies bervariasi atau dengan kata lain, menggunakan berbagai pendekatan, metode dan teori dalam kombinasi yang mampu menjelaskan realitas sosial kontemporer.

 

Nanti berlanjut ke Metode dan Teori dalam Cultural Studies ya… 😀

 

_________________

Referensi yang digunakan dari Chris Barker, Chris Barker dan Dariusz Galasinski, Mark Bracher, Simon During, Stuart Hall, Akhyar Yusuf Lubis, Tony Myers, Slavoj Zizek, Paula Saukko, James Spradley, Yannis Stavrakakis, dan John Storey.

Perbandingan Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif

Perbandingan Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif

Artikel sebelumnya:

Penelitian Kualitatif

Penelitian Kuantitatif

Memahami Metode Penelitian Sosial

 

rilis-lapora-fisip-ub-hasil-quick-count-pemilukada-batu-2012Metode penelitian kuantitatif dan kualitatif memiliki tujuan yang sama yakni ingin menjelaskan dan memahami realitas sosial, namun dengan cara dan gayanya masing-masing. Perbedaan pokoknya terletak pada: data yang digunakan, prosedur  penelitian yang dijalankan, penggunaan teori (peran teori tidak sama pada masing-masing metode penelitian ini), dan karakter hasil dan kedalamannya. Kuantitatif sama sekali tidak berbicara kedalaman makna karena ia “hanya” menjelaskan realitas secara makro, di permukaan saja, sedangkan kualitatif menjelaskan realitas sosial secara mendalam.

Untuk menampakkan karakter keduanya secara mudah, ilustrasi Tabel 1 menunjukkan perbandingan dan perbedaan antara keduanya.

Tabel 1. Perbandingan Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif (Newmann)

Kriteria

Metode Kuantitatif

Metode Kualitatif

Frame pemandu peneliti Hipotetis, yang diuji. Menemukan meanings
Konsep Ditemukan dari variabel yang berbeda Ditemukan dalam tema, motif, generalisasi dan taksonomi.
Pengukuran Sistematis; dilakukan sebelum  pengumpulan data; terstandard. Dilakukan tersendiri; individual menurut setting peneliti.
Data Berbentuk angka; presisi. Berbentuk  teks, gambar; berasal dari dokumen, observasi dan transkrip.
Teori Sangat menentukan; deduktif. Bisa menentukan atau tidak begitu menentukan; seringkali induktif.
Prosedur Standard. Khusus.
Analisis Menggunakan statistik, tabel, diagram; berelasi dengan hipotesis. Dilakukan dengan cara mengekstrak tema atau melakukan generalisasi dari bukti-bukti temuan dan mengorganisasi data untuk menemukan koherensi dan konsistensi data.

Sumber: Lawrence W. Newmann (2003) Social Research Methods: Qualitative and Quantitative Approaches, Fifth Edition. Boston: Pearson Education Inc,., halm. 145.

 

Ilustrasi Tabel 1 bersumber dari buku Social Research Methods: Qualitative and Quantitative Approaches yang ditulis oleh W. Lawrence Newmann. Untuk lebih memperlihatkan secara lebih jelas metode penelitian kuantitatif dan metode penelitian kualitatif serta perbedaan antara keduanya, Tabel 2 menyajikan secara ringkas dan lebih banyak, yang saya sarikan dari berbagai referensi.

20130615_142752Masing-masing metode memiliki target, tujuan, cara dan karakternya masing-masing. Perbedaan di antara keduanya bukan sekedar istilah, tetapi menunjukkan tatacara dan perlakuan terhadap data yang kemudian berpengaruh pada analisis dan hasil penelitian. Mempertukarkan unsur dan kriteria dari masing-masing metode, kadang tak disadari oleh peneliti (terutama kualitatif) bisa membingungkan sang peneliti itu sendiri. Jika menggunakan metode kuantitatif, gunakan kriteria dan karakter kuantitatif. Demikian juga jika menggunakan metode kualitatif, maka karakter kualitatif yang digunakan. Jika tertukar, maka penelitiannya akan kacau.
 

Tabel 2. Perbandingan Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif (Wawan)

 

             Kriteria

Metode Kuantitatif

Metode Kualitatif

Tujuan penelitian Menguji teori Membangun, mengkritisi teori
Paradigma Positivisme Non positivisme: post-positivisme, kritis.
Penginderaan realitas sosial Keberaturan, memiliki keajegan natural, dapat diamati, dapat diukur, dapat dikonsepkan, perceived. Tidak memiliki keberaturan, misteri, tidak selalu tampak, perlu digali lebih dalam.
Observasi fakta Variabel Situasi.
Representasi fakta Numerik (angka) Non-numerik (teks).
Alur pikir Deduktif Induktif .
Alur penelitian Linier non-linier.
Corak (proses) penelitian Tidak ada kebaruan; standard; mekanis Selalu ada yang baru; unik (berbeda tiap peneliti).
Peran teori Sentral, dominan, ketat Tidak sentral, tidak dominan tetapi tetap diperlukan.
Fungsi teori Membingkai peneliti secara ketat. Memandu peneliti pada titik awal, selanjutnya peneliti memahami realitas sosial secara alamiah.
Sifat hasil penelitian Makro; menjelaskan fenomena yang tampak dipermukaan. Mendalam, menjelaskan fenomena hingga “di balik realitas”.
Point of view Researcher’s point of view Native’s point of view
Sifat metode Statis, kaku Dinamis, fleksibel.
Relasi dengan Objek/ Subjek (O/S) Penelitian Berjarak Dekat, interaktif.
O/S Penelitian Responden Informan, narasumber
Pemilihan O/S Penelitian Acak (simple random sampling, stratified sampling, multi-stage random sampling) Terpilih, berdasarkan kualifikasi dan kedekatan informan dengan masalah yang sedang diteliti; snow-ball.
Pengumpulan data Wawancara langsung atau tidak langsung (pos, internet) Wawancara langsung tatap muka, in-depth interview.
Instrumen Kuesioner Panduan wawancara.
Sifat pertanyaan Terstruktur Semi-terstruktur, tidak terstruktur, open-ended questions.
Sifat analisis Numerikal, matematis, statistikal Reflektif, interpretif, praxis.
Alat bantu analisis Statistika Ketajaman analitik dan naluri peneliti.
Software bantu SPSS, AMOS, dll CDC EZ Text
Validitas Ukuran sampel, jumlah responden (memperkecil margin of error). Jumlah informan tidak penting, yang terpenting adalah kedalaman data, kualitas informan.
Sifat hasil Bebas nilai. Tidak bebas nilai; praxis.
Posisi peneliti Di luar O/S penelitian. Bersama O/S penelitian; bricoleur.
Kelemahan Gagal menjelaskan fenomena sebenarnya; responden bisa memberikan jawaban yang tidak sebenarnya. Rentan bias peneliti karena kedekatan peneliti dengan O/S penelitian.
Contoh penelitian Survei Etnografi, fenomenologi, cultural studies, studi kasus, hermeneutik, dll.

Sumber: dari berbagai referensi, diolah.

 

Kesimpulan

satu

20131124_093536Baik penelitian kuantitatif maupun kualitatif memiliki tujuan yang sama yaitu ingin menjelaskan dan memahami kehidupan sosial (realitas sosial); sama-sama melakukan pengumpulan data dan analisis data yang dilakukan secara sistematis. Keduanya berangkat dari penentuan dan perumusan masalah yang berada pada konteks sosial (pengalaman manusia, masyarakat), menggunakan kerangka teori dan mengoperasikan metodologi. Bedanya, ada pada data dan prosedur (tatacara) memperlakukan data tersebut (pengolahan, analisis data) yang meliputi penggunaan teori (peranan teori), asumsi atau hipotesis dan mengoperasikan metodogi, sehingga karakter dan kedalaman hasilnya berbeda. Hasil akhir sama-sama menjelaskan realitas sosial, namun rasa dan kedalaman penjelasannya berbeda.

dua

Metode penelitian kuantitatif berparadigma positivisme, bercorak empiris, behavioris, naturalis, positivistik, bertujuan menguji teori, berjarak dengan responden, menjelaskan realitas sosial secara makro, sebatas pada realitas yang tampak di permukaan, researcher’s point of view, melalui wawancara biasa (tidak mendalam) bahkan bisa dengan wawancara tidak langsung melalui pos atau internet.

tiga

Metode penelitian kualitatif berparadigma interpretif-kritis, bercorak praxis, bertujuan membangun teori, bersama dan dekat dengan informan/ narasumber, memahami realitas sosial secara mendalam hingga behind the fact, native’s point of view, thick description, melalui in-depth interview.

empat

Lowokwaru-20130306-00472Masing-masing memiliki keunggulan dan kelemahan. Metode kuantitatif unggul pada kemampuan menjelaskan realitas sosial secara makro, waktunya relatif cepat dan “lebih populer” secara pragmatis (misalnya: survei), tetapi lemah pada kemampuan menjelaskan realitas sosial yang sebenarnya karena realitas sosial yang tampak (inderawi) seringkali tidak  menunjukkan realitas yang sebenarnya, karenanya perlu didekati secara lebih mendalam dengan metode penelitian kualitatif untuk mendapatkan “kasunyatan” (realitas yang sebenarnya). Inilah keunggulan penelitian kualitatif. Ia mampu merambah relung-relung realitas sosial yang dalam yang tidak bisa disentuh dengan metode kuantitatif yang positivistik. Kelemahannya, secara teknis rentan bias peneliti, karena subjektivitas peneliti (interpretif) dan kedekatan dengan objek/ subjek penelitian.

 

Lowokwaru-20130306-00466Lebih mendalam tentang metode penelitian kualitatif akan saya sajikan, dengan beberapa “keunikan”-nya, misalnya tentang “subjektivitas”, subjektivitas dalam kualitatif sebenarnya “objektif” karena “subjektivitas” yang digali dari informan (subjek) adalah realitas sosial dalam point of view subjek. Kemudian tentang validitas, triangulasi, dsb. Perlukah validasi dan triangulasi dalam penelitian kualitatif? Bukankah yang ingin didalami adalah “makna” (meanings) ? Dan apapun yang disampaikan oleh informan memuat meanings tertentu, yang harus dimaknai oleh peneliti? Jadi bagaimana memvalidasi data dari informan?

 _________________

>>mau ngintip>>Cultural Studies ?

 

Belajar Dengan Hati n Pikiran Positif - FULL

Metode Penelitian Kualitatif

Metode Penelitian Kualitatif

Artikel sebelumnya:

Memahami Metode Penelitian Sosial

 

DSCF5409Metode penelitian kualitatif, berakar dari pendekatan kualitatif, yang berupaya menjelaskan fakta atau realitas sosial secara mendalam, memahami realitas sosial apa adanya berdasarkan struktur pengalaman subjek (native’s point of view)[1]. Ia menangkap makna (meanings) yang diketemukan pada peristiwa atau subjek yang diteliti, bersifat “belajar dari masyarakat” (learning from the people), tidak hanya “mempelajari masyarakat” (learning about the people)[2]. Aspek penting penggalian ‘makna dari struktur pengalaman subjek’ inilah yang mencirikan penelitian kualitatif dekat dengan subjek yang diteliti, mempelajari dalam konteks alaminya yang berupaya memahami atau menafsirkan fenomena dilihat dari sisi makna yang dilekatkan manusia (peneliti) kepadanya. Penelitian kualitatif mencakup penggunaan subjek yang dikaji dan kumpulan berbagai data empiris -studi kasus, pengalaman pribadi, introspeksi, perjalanan hidup, wawancara, teks-teks hasil pengamatan, historis, interaksional dan visual- yang menggambarkan saat-saat dan makna keseharian dan problematis  dalam kehidupan seseorang. Sejalan dengan itu peneliti kualitatif menerapkan aneka metode yang saling berkaitan[3]. Ia mengamati (observasi), terlibat dalam peristiwa bersama subjek (partisipatoris) untuk memberikan tafsir (interpretif) terhadapnya hingga menemukan meanings hingga proposisi. Karakter ini menjelaskan bahwa metode penelitian kualitatif ini berparadigma non-positivis. Ia bisa berparadigma post-positivis, interpretif-konstruktif maupun kritis. Sejalan dengan apa yang ditulis Norman K. Denzin dan Yvonna S. Lincoln dalam buku Handbook of  Qualitative Research, bahwa penelitian kualitatif tidak terikat dengan disiplin keilmuan tunggal manapun, juga tidak mempunyai seperangkat metode yang berbeda yang murni miliknya. Para peneliti memanfaatkan semiotika, analisis naratif, isi, wacana, arsip, dan fonemis, bahkan statistika; juga mendayagunakan pendekatan, metode, dan teknik etnometodologi, fenomenologi, hermeneutika, feminisme, rhizomatika, dekonstruksionisme, etnografi, wawancara, psikoanalisis, cultural studies, penelitian survei dan observasi partisipatif dll. Semua praktik penelitian ini “dapat memberikan wawasan dan pengetahuan yang berharga”.[4] Keluasan dan keluwesan penelitian kualitatif dalam menggali makna pengalaman masyarakat ini memberi penekanan pada proses, makna dan sifat realita yang terbangun secara sosial, hubungan erat antara peneliti dan subjek yang diteliti dan tekanan situasi yang membentuk penyelidikan. Maka, kedudukan teori dalam penelitian kualitatif tidak seketat pada penelitian kuantitatif yang menjadi bingkai yang memagari peneliti. Pada penelitian kualitatif, teori merupakan guidance (penuntun) awal untuk memandu peneliti, yang selanjutnya  peneliti menganalisis dan memahami realitas yang ditelitinya (interpretasi). Alur pikir yang digunakan adalah induktif (bukan deduktif seperti pada kuantitatif).

IMG_7106Karena tujuan penelitian kualitatif adalah mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang menyoroti cara munculnya pengalaman sosial sekaligus perolehan maknanya (hal yang sebaliknya pada penelitian kuantitatif yang menitikberatkan pada pengukuran dan analisis sebab-akibat antara bermacam-macam variabel, bukan prosesnya)[5]  maka keluasan dan kedalaman makna yang direngkuh oleh penelitian kualitatif ini membutuhkan kecakapan penelitinya untuk dapat berinteraksi dengan subjek dengan baik dan mampu menyerap makna dari subjek. Kemampuan ini digambarkan oleh Denzin sebagai seorang bricoleur” yakni seorang yang “serba bisa” atau seorang yang mandiri-profesional. Bricoleur ini menghasilkan “brikolase” yaitu serangkaian praktik yang disatupadukan dan disusun secara rapi sehingga menghasilkan solusi bagi persoalan dalam situasi nyata. Bricoleur memanfaatkan paradigma interpretif (feminisme, Marxisme, cultural studies, konstruktivisme) yang dapat difungsikan untuk memecahkan masalah, dan sekaligus memahami bahwa penelitian kualitatif itu merupakan proses interaksi yang dibentuk oleh perjalanan  hidup, biografi, gender, kelas sosial, ras dan kesukuannya sendiri sekaligus oleh hal-hal yang berada dalam konteks. Hasil kerja bricoleur berupa brikolase yakni sebuah ciptaan kompleks, padat, refleksif, dan mirip klipping yang mewakili citra, pemahaman, dan interpretasi peneliti mengenai dunia atau fenomena yang dianalisis.[6]

Karakter holistik-integratif penelitian kualitatif dalam pemahaman di atas dan kedalaman makna hingga menguak behind the fact, beyond the reality, (mengungkap ada apa sebenarnya di balik realitas yang tampak ini)[7] dalam penelitian kualitatif ini memberi penjelasan bahwa dalam metodologinya, penelitian kualitatif menghendaki adanya thick description untuk menelusuri dan membongkar realitas sosial yang didapatkan melalui in-depth interview (wawancara mendalam) dalam pengumpulan datanya (penelitian lapang)[8]. Wawancara mendalam dilakukan terhadap informan atau narasumber (bukan “responden” seperti dalam penelitian kuantitatif), yang mana informan atau narasumber ini adalah orang-orang yang memahami konteks masalah yang sedang diteliti. Mereka adalah pelaku peristiwa, orang yang sangat tahu, paham dan ahli serta dekat dalam bidang atau masalah yang sedang diteliti, sehingga yang penting dari informan atau narasumber ini adalah kualitasnya, bukan jumlahnya seperti dalam penelitian kuantitatif. Karenanya, bukan jumlah informan atau narasumber yang dipentingkan, tetapi kedalaman, intensitas dan kualitas data yang diperoleh / digali dari mereka-lah yang penting. Apa yang disebut sebagai “tingkat kepercayaan” dalam penelitian kuantitatif yang direpresentasikan dengan ukuran sampel (semakin besar ukuran sampel atau jumlah responden maka penelitian akan semakin bisa dipercaya atau memperkecil margin of error), dalam penelitian kualitatif adalah kedalaman dan kualitas data yang dapat digali inilah yang penting. Karenanya, pemilihan informan atau narasumber menjadi penting pula.

jsi1Jika kuantitatif memilih responden secara acak berdasarkan sampling technique dan sampling frame yang telah ditentukan sebelum terjun lapangan, maka penelitian kualitatif memilih informan atau narasumber tidak secara acak, tetapi dipilih berdasarkan kriteria kepahaman dan kedekatan akan suatu masalah yang sedang diteliti. Biasanya dilakukan dengan teknik snow-ball dengan terlebih dahulu menentukan seorang informan atau narasumber kunci (purposed) yang darinya menjalar kepada informan atau narasumber lain atas referensi informan atau narasumber sebelumnya. Demikian dilakukan terus hingga informan atau narasumber ke-x ketika data telah jenuh yakni ketika informan atau narasumber telah tidak lagi bisa memunculkan konstruksi yang berbeda dan baru. Instrumen penelitian, menggunakan “panduan wawancara kualitatif” yang tidak bersifat terstruktur (ketat) seperti dalam penelitian kuantitatif, tetapi lebih fleksibel, dengan tipe pertanyaan open-ended, yakni tiap pertanyaan akan berakhir dengan membuka jalan bagi pertanyaan berikutnya yang mengikuti alur semi-terstruktur maupun tidak terstruktur (peneliti bebas melakukan improvisasi di lapangan namun tetap dalam koridor desain penelitian). Ini bedanya dengan kuantitatif yang baku-kaku. Mengikuti alur ini, maka analisis data kualitatif bisa dilakukan sambil melakukan pengumpulan data, yang dilakukan setiap saat selama pengumpulan data, yang biasanya dicatat dalam jurnal harian atau logbook. Data-data dari informan kemudian dianalisis dengan teknik tertentu yang berpusat pada peneliti (interpretif-kritis) dan bisa juga menggunakan alat bantu software bernama CDC-EZ Text, semacam SPSS-nya kualitatif. Software ini membantu mempermudah peneliti kualitatif untuk memilah dan mengklasifikasi data dari jawaban-jawaban informan atau narasumber (catatan: analisis, interpetasi, tetap pada peneliti). Bedanya dengan kuantitatif, kuantitatif menganalisis data menunggu data lapang selesai terkumpul, baru bisa dilakukan tabulasi dan analisis, tetapi waktu analisis kuantitatif lebih cepat apalagi menggunakan alat bantu (SPSS, AMOS, dsb).

Pada penelitian kualitatif, waktu analisis data paling cepat selama pengumpulan data karena bisa dilakukan bersamaan (tentunya memerlukan waktu lagi untuk analisis lanjutan setelah pengumpulan data selesai). Hasil penelitian kualitatif bersifat memahami realitas sosial, menyentuh sisi praxis, bertujuan membangun teori, memunculkan pemahaman atau konsepsi atau teori baru atau memberikan kritik atas teori yang ada atau memperbarui teori.***

 


Referensi yang digunakan adalah dari Denzin, Norman K dan Yvonna S. Lincoln dan James P. Spradley.

Bacaan lain:

Penelitian Kuantitatif

Etnografi

Belajar Dengan Hati n Pikiran Positif - FULL

Memahami Metode Penelitian Sosial

Memahami Metode Penelitian Sosial

 

mendemsurveySuatu kegiatan penelitian pada hakikatnya adalah usaha untuk memenuhi hasrat keingintahuan manusia akan sesuatu hal, gejala-gejala alam maupun sosial, kemasyarakatan dsb yang memerlukan jawaban atau penjelasan. Dan jawaban itu merupakan suatu kebenaran ilmiah. Penelitian sosial, merupakan kegiatan untuk mencari jawaban atas pertanyaan yang muncul dari realitas sosial yang dihadapi atau menjelaskan atau memahami suatu realitas sosial. Untuk itu diperlukan serangkaian cara untuk menangkap gejala-gejala sosial menurut suatu sistem dan metode tertentu. Sistem dan metode untuk mengatur pengetahuan tentang gejala-gejala sosial tersebut disebut metodologi[1], atau dalam hal ini, metodologi penelitian sosial. Ada kata kunci ‘aktivitas’ dan ‘sistem’ yang merujuk pada pengertian “tata-cara” atau prosedur penelitian dalam rangka menemukan jawaban atas masalah. Secara lebih detil, definisi yang diberikan oleh LIPI sebagaimana dikutip oleh Koentjaraningrat tentang penelitian sosial memberikan gambaran lebih lengkap tentang metodologi:

Penelitian dalam ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan adalah segala aktivitas berdasarkan disiplin ilmiah untuk mengumpulkan, mengklaskan, menganalisa, dan menafsir fakta-fakta serta hubungan-hubungan antara fakta-fakta alam, masyarakat, kelakuan dan rohani manusia guna menemukan prinsip-prinsip pengetahuan dan metode-metode baru dalam usaha menanggapi   hal-hal tersebut.[2]

 

DSCF5409Dalam usaha tersebut, terkait dengan “aktivitas” dan “sistem”, terdapat serangkaian “laku” yang disebut “metodologi” yang harus dijalankan oleh seorang peneliti berdasarkan disiplin ilmiah yakni mengumpulkan, mengklaskan, menganalisa, menafsir fakta, hubungan antar fakta dsb, yang dimulai dari temuan “masalah” sampai menemukan suatu jawaban atau penjelasan atas masalah tersebut berupa prinsip-prinsip pengetahuan dan metode-metode baru (hasil atau output penelitian). Ketika mulai berkutat dengan masalah (memulai penelitian) seorang peneliti tentu memiliki gambaran tentang masalah tersebut beserta gambaran pemecahan masalahnya berdasarkan referensi keilmuan atau kerangka pemikiran yang dimiliki (disebut asumsi atau kerangka teori) dan untuk ini diperlukan asupan teoritik (teori sosial) yang memadai, dengan frame (bingkai) paradigma tertentu, untuk membantu peneliti dalam upayanya mendekati masalah dan “mencari jawaban” berdasarkan masalahnya tadi. Dari sini muncul beberapa pemikiran tentang karakter masalah yang ingin dijawab, untuk apa melakukan penelitian (tujuan penelitian) misalnya untuk menjelaskan ataukah mendeskripsikan ataukah mengeksplorasi, dan gejala atau fakta seperti apa yang dikumpulkan, diklaskan dan ditafsir atau dimaknai serta bagaimana menafsir atau memaknainya. Ini berkaitan dengan tujuan penelitian tadi, yang memunculkan kebutuhan pendekatan dan metodologi yang sesuai untuk dapatnya memperoleh penjelasan yang memadai tentang dunia sosial yang diteliti karena penelitian sosial sebagaimana disebut Lawrence Newmann, involves learning something new about social world.[3] Dan untuk memperoleh penjelasan atas social world, seorang peneliti mempergunakan seperangkat cara sistematis (systematic way), teori, ide, imajinasi dan kreativitas, serta mengorganisasi dan merencanakan secara cermat untuk menentukan teknik yang sesuai dalam mendekati masalah[4]. Terkait dengan usaha ini, penelitian sosial mengenal dua pendekatan untuk memroses gejala atau fakta dalam rangka menemukan jawaban atau penjelasan atas gejala atau fakta atau about social world ini, yaitu penelitian kuantitatif atau penelitian kualitatif.

 

jsi1Penelitian Kuantitatif dan Penelitian Kualitatif

Keduanya memiliki karakter dan tatacara serta corak penjelasan (hasil penelitian) yang berbeda walaupun memiliki tujuan yang bersamaan, yakni sama-sama ingin menjelaskan fenomena atau realitas sosial. Penelitian kuantitatif lebih tertarik pada isu-isu tentang desain, pengukuran, sampling, dengan pendekatan deduktif terkait dengan pengumpulan data dan analisis; sedangkan penelitian kualitatif lebih tertarik pada isu-isu kemendalaman atau kekayaan (richness), tekstur dan rasa (feeling) terkait data dengan pendekatan induktif yang menekankan pentingnya pengembangan wawasan, pengertian dan pengetahuan yang mendalam dan generalisasi atas data yang dikumpulkan[5]. Lebih mendalam tentang metode kuantitatif dan kualitatif ini, dengan ciri khas masing-masing, terdeskripsi di sini:

Metode Penelitian Kuantitatif

Metode Penelitian Kualitatif

Perbandingan Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif

 

 

 

Referensi

Koentjaraningrat. Metode-metode Penelitian Masyarakat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1997.

Newmann, Lawrence W. Social Research Methods: Qualitative and Quantitative Approaches, Fifth Edition. Boston: Pearson Education Inc., 2003.


Catatan:
Penulisan referensi (citation, sitasi) berupa daftar pustaka di atas adalah gaya Turabian (Turabian Style)

Etnografi Konstruktivis Untuk Mengeksplorasi Komunitas Virtual di Saudi Arabia

MENGGUNAKAN ETNOGRAFI DALAM PARADIGMA KONSTRUKTIVIS UNTUK MENGEKSPLORASI KOMUNITAS VIRTUAL DI SAUDI ARABIA

Wawan E. Kuswandoro

Saudi Arabia merupakan negara yang membatasi warganya dalam banyak hal. Salah satunya penggunaan internet, apalagi untuk perempuan. Aktivitas sosial perempuan Arab Saudi sangat terbatas (namun bukan berarti ‘tidak dapat beraktivitas sosial’ sama sekali). Dengan pemberitaan tentang musibah haji tahun 2015 ini, mulai jatuhnya crane hingga tragedi Mina, maka kembali Saudi Arabia menjadi “primadona” media massa. Baiknya, orang jadi tahu lebih banyak tentang negara “tertutup” ini. Saya pun teringat dengan review jurnal beberapa tahun yang lalu tentang jurnal hasil penelitian tentang komunitas virtual di Arab Saudi yang dilakukan oleh 2 orang peneliti, berkebangsaan Arab Saudi dan Australia. Banyak temuan menarik dari hasil penelitian ini. Salah satunya adalah aktivitas virtual perempuan Arab Saudi.

Tulisan ini mereview tentang penggunaan metode penelitian kualitatif khususnya metode etnografi (etnografi konstruktivisme), berdasarkan hasil penelitian etnografi konstruktivis tentang komunitas virtual di Saudi Arabia. Penelitian ini menggunakan metode etnografi berparadigma konstrukivisme, dengan teknik observasi terselubung-partisipatif. Kita simak penggunaannya untuk membongkar komunitas tertutup ini, di negara yang amat ketat konstruk agama dan dominasi negara.

 

Artikel yang ditulis oleh Yeslam Al-Saggaf (YAS) dan Kirsty Williamson (KW), keduanya dari Charles Sturt Universty, Australia, merupakan hasil penelitian keduanya tentang keberadaan komunitas virtual di Saudi Arabia. YAS dan KW, dalam artikelnya memfokuskan penggunaan  metode etnografi dalam paradigma konstruktivis, dengan teknik observasi-terselubung dan partisipatif, untuk mengekplorasi partisipasi individual dalam komunitas virtual di Saudi Arabia.

Kata kunci: etnografi, paradigma konstruktivis, etnografi konstruktivis, observasi terselubung, NVIVO, komunitas virtual, Saudi Arabia, perempuan Saudi.

Artikel tersebut, berdasarkan pada penelitian selama 8 bulan melakukan observasi-tersembunyi dan partisipasi (selama 2000-2001), bertujuan untuk menyoroti penggunaan etnografi (observasi-terselubung dan partisipatif) pada studi tentang komunitas virtual pada konteks sosial dan kultural pada masyarakat Saudi. YAS dan KW menyatakan bahwa temuan mereka sangat bermakna, mendalam serta kaya dalam deskripsi, mengingat masyarakat Saudi dikenal lekat pada ajaran agama (Islam), dan pemerintahnya sangat ketat dalam mengontrol masyarakatnya, terutama dalam hal penggunaan internet (namun tidak pada komunitas virtual).

Penelitian YAS dan KW ini, yang sekaligus menjawab kekurangan studi tentang komunitas virtual di negara-negara Teluk Arab, Arab maupun di Barat, merujuk pada studi-studi ekstensif terhadap komunitas virtual yang dinisbahkan pada tujuan sosial di Saudi, yang dilakukan oleh seorang pria Arab yang tinggal dan hidup bersama masyarakat Saudi. Komunitas virtual di Saudi, salah satunya yang terbesar (pada tahun 2000) adalah Al-Saha Al-Siyasia, mencapai jumlah ratusan ribu pengguna. Komunitas ini memungkinkan para pria dan wanita dalam masyarakat konservatif ini (Saudi) untuk berbicara satu sama lain. Hal yang sebelumnya sangat tidak mungkin terjadi, dalam sebuah negara yang memegang teguh ajaran agama (Islam).

Di tengah kelangkaan studi tentang komunitas virtual, baik di Arab maupun di Barat, penelitian YAS dan KW ini memuat beberapa masalah menarik dengan fenomena baru, yaitu:

  1. Partisipasi individual dalam komunikasi offline (dunia nyata) antara pria dan wanita tidaklah mungkin di Saudi.
  2. Pemerintah Saudi sangat ketat mengontrol penggunaan internet, tetapi tidak demikian kepada komunitas virtual.
  3. Partisipasi individu dalam komunitas virtual, online (dunia maya) ini akankah berpengaruh pada kehidupan off-line (di luar line internet) orang Saudi. Misalnya, akankah partisipasi dalam komunitas virtual oleh wanita Saudi yang merupakan 45% pengguna internet di negara ini (Al-Zaharni, 2002), “menular”[1] pada kehidupan sosial (nyata) mereka, dengan  bercakap-cakap dengan pria bukan “muhrim-nya” (Wheeler, 2000; Al-Munajjed, 1997)?
  4. Karena pria dan wanita bisa diamati berbicara satu sama lain secara online, akankah mereka berbicara satu sama lain secara offline sebagai hasil komunikasi mereka secara online? Termasuk pembicaraan-pembicaraan yang berbau “cabul” sebagaimana dapat terjadi pada dunia maya di komunitas virtual Saudi? (Kollock dan Smith, 1999; Wellman dan Gulia, 1999).

 

Terdapat banyak diskusi dan literatur (Preece, 2005; Preece, 2000; Jones dan Kucker, 2001; Kollock dan Smith, 1999; Wellman dan Gulia, 1999) mengenai anasir  yang menyusun sebuah masyarakat virtual. Untuk tujuan artikel ini, komunitas virtual didefinisikan sebagai “agregasi sosial yang muncul dari net (jaringan) ketika sejumlah orang melakukan diskusi publik cukup panjang, dengan perasaan manusia yang memenuhi, untuk membentuk web hubungan pribadi di dunia maya” (Rheingold, 2000:xx).

Komunitas virtual yang diteliti dalam studi ini menggunakan sebuah mode komunikasi “asinkron” daripada “sinkron”, yakni ketika partisipan berinteraksi dalam waktu tertunda, yaitu, tanpa setiap orang berkumpul pada waktu tertentu.

Sebagian besar studi dalam literatur sekarang ini memfokuskan pada metode yang digunakan, bukannya filosofi yang mengikutinya. Penekanan artikel ini adalah pada penggunaan keduanya, viz metode, etnografi, dan fondasi filosofisnya, yakni paradigma konstruktivis.

Fokus juga mengarah pada dua kunci teknik etnografi, yaitu observasi-terselubung dan partisipasi, yang digunakan untuk mengumpulkan data, termasuk seleksi dan deskripsi setting dan mendapatkan masukan. Setelah gambaran analisa data, artikel menampilkan sampel dari penemuan untuk tujuan ilustrasi. Penemuan dalam artikel ini berkaitan dengan karakteristik utama dari partisipasi dalam komunitas virtual di Saudi Arabia dan telah diperoleh menggunakan teknik observasi-terselubung dan partisipasi. Penemuan dari teknik lain, wawancara, dimasukkan dalam artikel yang diterbitkan sebelumnya (Al-Saggaf, 2004). Akhirnya, artikel ini menawarkan beberapa kesimpulan mengenai metode untuk penelitian yang memfokuskan pada komunitas virtual.

 

Paradigma Konstruktivis

Tujuan utama dari studi ini adalah untuk mengeksplorasi partisipasi individual dalam komunitas virtual di Saudi Arabia. Karena ini merupakan hal yang penting untuk menempatkan hasil studi dalam konteks sosial dan kultural dari masyarakat Saudi, pendekatan interpretivist (yang dikaitkan dengan metode penelitian kualitatif) tampak paling cocok. Interpretivist mempercayai bahwa realitas, secara sosial terbentuk dan ditempatkan dan oleh karena itu relatif pada konteks spesifik. Mereka juga mempertimbangkan pemahaman perspektif dan makna yang dibentuk orang secara individual mengenai esensial situasi mereka (Williamson, 2002). Alasan lain untuk pemilihan kerangka kerja interpretivis adalah karena sebuah tujuan sekunder dari studi ini adalah untuk mempelajari mengenai pengalaman individual dan persepsi mereka mengenai efek partisipasi mereka pada kehidupan off-line mereka, yang dicapai melalui penggunaan wawancara semi-terstruktur, dan diskusi.

Salah satu paradigma populer yang muncul di bawah pendekatan interpretivis adalah paradigma konstruktivis. Dalam hal asumsi-asumsi ontologis, paradigma ini menyatakan bahwa realitas mengenai fenomena sosial khusus adalah ganda dan terkonstruksi. Konstruktivis mempercayai bahwa tidak ada realitas obyektif tunggal “di luar sana” mengenai sebuah fenomena khusus; selain itu, terdapat realitas ganda yang terbentuk dalam pikiran orang di bawah studi.

Dalam hal asumsi-asumsi epistemologis-nya, paradigma ini menyatakan bahwa investigator dan responden menciptakan bersama pemahaman dan kemudian, ketika melaporkan penemuan mereka, peneliti cenderung untuk mengakui subyektiftas mereka. Peneliti juga cenderung untuk menerima bahwa mereka sendiri mempengaruhi proses penelitian dan, untuk alasan ini dalam laporan mereka, mereka juga merefleksikan pada peran mereka sendiri (Marshall dan Rossman, 1999). Dalam hal asumsi-asumsi metodologis-nya, konstruktivis mempercayai bahwa mereka harus mempelajari fenomena dalam bidang di mana hal ini terjadi, karena mereka menyadari pentingnya pemahaman praktek-praktek kultural orang dan makna yang mereka bawa pada kultur (Denzin dan Lincoln, 2000; 21). Schwandt (1994:128) mempercayai bahwa penelitian yang dilakukan dalam sebuah paradigma konstruktivis adalah sangat serupa dengan penyelidikan naturalistik seperti yang ditunjukkan dalam Lincoln dan Guba (1985). Penyelidikan naturalistik, contohnya, menyukai metode kualitatif (interpretivist) karena mereka lebih cocok dalam menangani realitas ganda (Lincoln dan Guba, 1985:40). Dalam penyelidikan naturalistik, proses penelitian adalah interaktif dan orang yang tahu (penyelidik) dan yang diketahui adalah tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Penyelidik memilih untuk menegosiasikan makna dan penafsiran dengan sumber daya manusia darimana data diperoleh karena ini adalah realitas mereka di mana penyelidik berusaha untuk merekonstruksinya (Lincoln dan Guba, 1985:41).

Paradigma konstruktivis mencakup dua teori konstruktifis kunci. Pertama, teori konsep personal, pertama kali digambarkan oleh Kelly (1963) dan menekankan realitas individual atau penafsiran dunia. Kedua, teori konsep sosial, pendukung utamanya dimana Berger dan Luckmann (1967) menekankan pengaruh masyarakat, kultur, dan lingkungan sosial pada realitas. Teori konsep personal menyatakan bahwa orang membentuk realitas mengenai dunia mereka secara individual dan itulah mengapa realitas mengenai sebuah fenomena adalah tidak tunggal tetapi majemuk, yang ada dalam pikiran individual (Charmaz, 2000; Denzin dan Lincoln, 2000; Schwandt, 2000). Setiap orang membentuk realitasnya mengenai dunia berdasarkan pada persepsi individual dan setiap orang merasakan/ menerima dunia dalam sebuah cara yang bisa jadi berbeda dari persepsi orang lain terhadapnya (Saule, 2002; Hammersley, 1995; Kelly, 1991; Lincoln dan Guba, 1985). Bagaimanapun, ketika makna diperoleh dari kejadian-kejadian, orang-orang, obyek-obyek (dengan tujuan untuk membuat kesan, atau mengorganisir mereka) adalah realitas yang terbentuk, orang dan obyek dalam pandangan terbentuk adalah dianggap kesatuan nyata (Lincoln dan Guba; 1985; 84).

Konstruksi sosial dari teori realitas menyatakan bahwa makna dikembangkan melalui interaksi orang dan hal-hal seperti: bahasa, kultur, lingkungan dan agama (Berger dan Luckmann, 1967). Konstruksionis sosial menyadari kepentingan bahasa, kultur, dan lingkungan dalam cara orang membuat kesan mengenai dunia mereka (Berger dan Luckmann, 1967). Williamson (2002:30) menyatakan “Konstruksionis sosial memandang orang sebagai alat perkembangan untuk aktivitas mereka bersama, yaitu, mereka secara sosial membentuk realitas”. Ini berarti bahwa, dalam konstruksi sosial atas realitas, orang membentuk realitas mereka bersama. Menurut Schwandt (1994:127) konstruksi sosial realitas tidak fokus pada “aktivitas membuat-makna dari pikiran individual, tetapi pada penghasilan kolektif makna seperti yang dibentuk oleh konvensi bahasa dan proses sosial lainnya”.

Literatur menunjukkan bahwa penelitian pada komunitas virtual telah mendapatkan manfaat dari kedua teori konstruktivis itu (contohnya, Markham, 2005; Manaszewicz, Williamson dan Mckemmish, 2002; Dodge dan Kitchin, 2001; Costigan, 1999; Fernback, 1999). Dalam buku yang sering dikutip, CyberSociety 2.0: Revisiting Computer-Mediated Communication and Community, Jones (1998:5) menyatakan bahwa media komunikasi yang dimediai oleh komputer tidak menciptakan realitas sosial mengenai komunitas virtual, ini adalah percakapan dan interaksi yang terjadi antara orang yang membentuk realitas. Ini menyokong poin yang dibuat Berger dan Luckmann (1967) mengenai realitas yang ada, seperti yang disebutkan diatas, melalui interaksi antara proses sosial. Dengan memperhatikan konstruksi realitas personal, Fernback (1999) dan Markham (1998), keduanya setuju bahwa partisipan membentuk realitas mereka mengenai komunitas virtual yang mereka miliki secara pribadi dan bahwa realitas ini ada dalam pikiran partisipan ini, yang berarti realitas mengenai komunitas virtual juga majemuk dan terbentuk.

Studi ini menggunakan kedua teori sebagai lensa di mana komunitas virtual di Saudi Arabia diinterpretasikan. Konstruksionisme sosial digunakan untuk menafsirkan cara partisipan menjalankan dirinya sendiri dalam hubungan dengan orang lain dan cara komunitas virtual mempengaruhi perilaku mereka. Konstruktivisme personal digunakan untuk memahami bagaimana partisipan secara individual mengembangkan kesan komunitas mereka dan kepemilikan pada komunitas itu.

MASYARAKAT SAUDI adalah masyarakat kolektivis; agama dan kultur secara kuat mempengaruhi bagaimana orang berperilaku, secara umum, pada orang lain, dan juga bagaimana mereka berlaku dalam cara yang serupa dari satu orang dengan orang lain. Adanya konstruktivisme sosial adalah mengenai bagaimana orang mengembangkan makna mereka bersama, kerangka kerja ini adalah lebih cocok bagi konteks Saudi dibandingkan lainnya.

Etnografi Konstruktivis

Etnografi bisa dilakukan dalam beberapa kerangka kerja seperti pasca-modern dan kritis (Saule, 2002). Etnografi yang dilakukan pada studi ini adalah dalam paradigma konstruktivis. Konstruktivis memilih menggunakan etnografi karena ini memungkinkan mereka untuk menampilkan realitas majemuk yang dimiliki bersama oleh partisipan dan juga penafsiran alternatif ketika mereka muncul dari data (Fetterman, 1989). Etnografer meneliti orang dalam konteks sehari-hari mereka (Saule, 2002:180) dengan berpartisipasi dalam aktifitas sosial sehari-hari mereka dengan tujuan untuk mengamati dan memahami mereka (Minichiello et al, 1990:18). Etnografer menggunakan beberapa teknik dalam pengumpulan data seperti wawancara, observasi dan analisa dokumen. Ini seharusnya dicatat bahwa, ketika beberapa peneliti memperlakukan observasi partisipan sebagai sinonim untuk etnografi (Bow, 2002), dalam partisipasi studi sekarang ini adalah diperlakukan sebagai teknik yang bisa digunakan untuk mengumpulkan data. Metode ini dinyatakan dalam cara ini dengan tujuan untuk membedakannya dari metode “observasi partisipan”. Penulis mengambil posisi dari pembedaan antara istilah “teknik” dan “metode”. Yang pertama harus berarti prosedur spesifik yang digunakan untuk mengumpulkan atau menganalisa data. Yang terakhir seharusnya berarti aturan-aturan umum yang mengatur pelaksanaan prosedur ini.

Menurut Saule (2002:180-181), terdapat tiga implikasi untuk melaksanakan etnografi dalam paradigma konstruktivis, yang kesemuanya telah dinyatakan dalam bagian sebelumnya. Konstruktivis, pertama, menerima bahwa sebuah teori tidak bisa memenuhi dan secara kategori menjelaskan sifat fenomena yang ada. Yaitu, karena realitas yang ada hanya dalam pikiran dari masing-masing individual, dan masing-masing persepsi individual dari realitas akan jadi majemuk. Kedua, konstruktivis menyadari bahwa peneliti tidak bisa jadi obyektif dan untuk alasan ini mereka membuat pengaruh potensial mereka pada penafsiran fenomena eksplisit dalam teks etnografi, ini memungkinkan pembaca teks untuk memiliki sebuah pemahaman latar belakang dan posisi peneliti. Ketiga, konstruktivis mempercayai bahwa hanya melalui interaksi peneliti dengan yang diteliti dimana sifat konsep sosial bisa diuraikan. Ini sejalan dengan penelitian etnografi karena etnografer diketahui berpartisipasi secara langsung dalam setting dimana orang dan aktifitas dibawah studi berdampingan.

 

Pengumpulan Data

Pengumpulan data dalam studi YAS dan KW ini menggunakan 4 teknik etnografi:

  1. Observasi-terselubung mengenai sebuah komunitas virtual;
  2. Peran partisipan dengan penelitian dalam komunitas virtual serupa lainnya;
  3. Wawancara semi-terstruktur secara online dengan partisipan reguler;
  4. Wawancara semi-terstruktur face-to-face dengan informan kunci.

Temuan yang diperoleh melalui metode ini ditriangulasi untuk membantu dalam membentuk kepercayaan dari hasil penelitian (Bow, 2002; Maxwell, 1996; Lincoln dan Guba, 1987).

Artikel ini memfokuskan hanya pada partisipasi dan teknik observasi-terselubung:

  1. Sebagai seorang pengamat tersembunyi dalam komunitas pertama, peneliti memastikan bahwa aktifitas biasa komunitas dan perilaku alami mereka tidaklah dipengaruhi (Angrosino dan Mays de Perez, 2000; Locke, Spirsudo, dan Silverman, 2000).
  2. Peneliti sebagai pengamat-tersembunyi juga menjamin bahwa tidak ada distorsi pada penemuan penelitian karena kebingungan dari perannya (yaitu, anggota atau peneliti) (Glesne, 1999; Paccagnella, 1997).
  3. Tidak-berpartisipasi menghindarkan peneliti dari kedekatan secara emosional dengan partisipan; sehingga memungkinkan dia untuk berkonsentrasi pada observasinya.
  4. Menurut literatur, menjadi pengamat dan seorang partisipan dalam waktu yang sama melibatkan dua peran tersendiri, dimana peneliti bisa jadi tidak bisa mencapainya secara berhasil (Tedlock, 2000; North, 1994; Lincoln dan Guba, 1987).
  5. Terdapat keuntungan yang menonjol dari peneliti ketika menjadi seorang partisipan dalam sebuah komunitas virtual yang serupa tetapi berbeda. Menjadi seorang partisipan adalah cara terbaik untuk memahami orang-orang (Suler, 1999). Dalam komunitas dimana dia adalah partisipan, peneliti bisa untuk berhubungan dengan anggota komunitas, memikat dirinya sendiri dalam beragam situasi dan ambil bagian dalam aktifitas komunitas beragam. Ini memungkinkan dia untuk memahami, secara mendalam, kultur komunitas dan mendapatkan wawasan ke dalam persepsi anggota komunitas. Partisipasinya juga memungkinkan dia untuk melaporkan persepsinya mengenai pengalaman virtualnya, yang dianggap sangat penting bagi penemuan penelitian menurut Lincoln dan Guba (1985), Markham (1998), Marshall dan Rossman (1999) dan Locke et al (2000).

 

Tentang Komunitas Virtual Saudi

  1. Komunitas virtual ini merupakan forum berbasis web diskusi publik asinkron, yang bertempat di salah satu website[2] internet provider di Saudi (website ini mulai beroperasi sejak Maret 1997, dua tahun sebelum internet diperkenalkan secara resmi di Saudi).
  2. Pada tahun 2000, mencapai jumlah ratusan ribu pengguna.
  3. Menggunakan internet: web, email, chat, dan MSN Messenger.
  4. Tidak ada biaya langganan, cukup menggunakan user name dan password.
  5. Digunakan oleh 45% perempuan Saudi.
  6. Sebagian besar anggota aktif dalam komunitas menganggap forum sebagai komunitas “riil” (lihat kutipan 1).
  7. Mengijinkan laki-laki dan perempuan Saudi saling berkomunikasi (termasuk pembicaraan-pembicaraan yang ditabukan di dunia nyata), yang tidak dapat dilakukan di dunia nyata (offline).
  8. Para anggotanya rata-rata menjadi ”ketagihan” atau mengalami ketergantungan pada komunitas virtual (lihat kutipan 2).
  9. Beberapa anggota komunitas virtual, dalam melakukan komunikasi, memiliki kecenderungan melakukan komunikasi mengelompok (grouping, mojok). Beberapa di antaranya menjadi intim dan terlibat pembicaraan tentang cinta (lihat kutipan 3), tentang hal-hal yang berbau cabul (lihat kutipan 4). Grouping ini lebih lanjut berkembang menjadi basis kekuatan para anggota untuk saling bertahan dan melindungi kelompok kecilnya dari kelompok lain.
  10. Perluasan hubungan online ke wilayah offline, dunia nyata (lihat kutipan 5).

 

Kutipan 1:

Al-Anood, seorang partisipan wanita, yang menyatakan perasaannya pada komunitas dan anggotanya, membuat poin ini:

”Pada forum bahwa saya merasa bahwa ini adalah bagian dari eksistensi saya dan perasaan saya pada anggotanya keramahan dan cinta, hal-hal yang tidak mengijinkan saya untuk menulisnya di forum lain, saya mendekati anda dengan semua rasa terimakasih dan cinta. Forum ini adalah seperti rumah yang berisi antara dinding-dindingnya seseorang yang hatinya setia dan yang jiwanya bersahabat” (jurnal Observasi, Minggu 15, 24 Oktober, 2001).

 

Kutipan 2:

Thamer, seorang partisipan pria, yang menjelaskan bagi partisipan pria lainnya seberapa sulit untuk meninggalkan komunitas ini, menggambarkan hal ini:

”Masalahnya adalah bahwa saya jatuh cinta dengan komunitas ini. Saya merasa bahwa saya adalah salah satu anggotanya. Saya menghargainya. Dan setiap waktu saya memperketat tas pinggang saya (berarti mencoba pergi), saya menemukan diri saya tertahan, jadi saya membawa kembali tas pinggang saya. Saya tidak bisa. Dan saya menemukan banyak orang menghentikan saya (untuk pergi)”. (Jurnal observasi, Minggu 7, 18 Mei 2001).

 

Kutipan 3:

Hamid, seorang partisipan pria, yang menanyakan ketidak hadiran teman wanitanya:

(nama dihilangkan) ”…ketiadaanmu semakin lama. Dan kerinduanku padamu sangat besar… Kami rindu untuk hari ketika mata kami mendapati tanganmu menulis. Apakah hari itu akan datang segera?” (Jurnal Observasi, Minggu 34, 28 Maret, 2002).

 

Kutipan 4:

Ahlaam, wanita berusia tiga puluh empat tahun yang menggunakan “pria” sebagai metafora untuk ketidak-bisa-tiduran:

Dan ketidak-bisa-tiduranmu masih menciumku. Saya telah terbiasa dengan ciuman panjang dan bodohnya. Dan saya terbiasa ketika dia membawa saya dengannya. Ketika dia datang dia membuka lengan kukuhnya padaku. Dia memelukku dan melingkarkan lengannya di tubuhku. Dia menciumku dan memperlama ciumannya. Saya berusaha untuk keluar dari pelukannya tetapi saya tidak pernah berhasil. Selalu dia lebih kuat dan memiliki tangan yang lebih panjang yang menarik saya padanya sebelum saya pergi”. (Jurnal Observasi, Minggu 24, 3 Januari 2002).

 

Kutipan 5:

Wafa, partisipan wanita, ketika membicarakan partisipan wanita lainnya, berkata:

“Hei, lihat seperti saya memenangkan kamu atas hahahaha (tertawa) Saya akan memberitahumu mengapa ketika kita bertemu malam ini Ok!” (Jurnal observasi, Minggu 5, 29 April 2001).

Al-Wafi, seorang partisipan wanita, berbagi perasaannya setelah rapat offline-nya dengan beberapa peserta dari Jeddah:

”Perasaan sensasional yang saya dapatkan setelah bertemu denganmu adalah sulit bagi manusia untuk menggambarkannya atau menyatakannya, tetapi saya selalu mengulangi bahwa ini adalah kesan kepemilikan, ya, kesan kepemilikan pada sesuatu adalah perasaan menakjubkan yang bisa memberikan pembenaran” (Jurnal observasi, Minggu 25, 12 Januari 2002).

Etika
  1. Perekaman, analisa dan pelaporan isinya, di mana terdapat perlindungan terhadap identitas individual, namun bukanlah merupakan pelanggaran etika jika melaksanakan penelitian dalam lingkungan virtual (Ess, C. AoiR Ethics Working Committee 2002; Eysenbach dan Till,2001; Glesne, 1999; Paccagnella, 1997; Frankel, 1999:King, 1996).
  2. Persetujuan etika untuk studi ini diberikan dari Etika dalam Human Research Committee di Charles Sturt University sebelum studi dimulai. Aplikasi untuk persetujuan etika adalah konsisten dengan standard untuk rangkaian penelitian etika yang ditetapkan oleh Charles Sturt University.

 

Teknik Observasi

  1. Tidak terstruktur

Pada awal penelitian (pertengahan Maret 2001 dan pertengahan Juli 2001), proses observasi adalah sedikit tidak terstruktur. Peneliti selama tahap ini memasuki forum secara reguler tetapi dengan sebuah pandangan luas. Dia melihat pada acara-acara, aktifitas-aktifitas, dan perilaku-perilaku yang menonjol dalam forum dan merekam catatan lapangannya dalam sebuah jurnal. Observasinya dipengaruhi oleh apa yang dilaporkan dalam literatur sekarang pada komunitas virtual (lihat Jones dan Kucker, 2001; Preece, 2000; Rheingold, 2000; Kollock dan Smith, 1999; Wellman dan Gulia, 1999; Holmes, 1997; Jones, 1997; Turkle, 1995). Tahap yang tidak terstruktur memungkinkan peneliti untuk menjadi lazim dengan kultur komunitas virtual, sejarahnya, orang-orangnya, dan sifat aktifitas mereka. Selama tahap ini juga peneliti mencatat sifat-sifat menonjol dalam komunitas, dan membuat sebuah daftar pemeriksaan dari kategori observasi untuk penggunaan dalam tahap selanjutnya.

 

Tabel 1 menetapkan beberapa kategori ini (urutan tidak penting).

 

Pengelompokan Bertemu offline Pembagian informasi Agama Persahabatan
Sejarah Berapi-api Pujian/ salam Penyingkapan Status
Trivia Kultur offline Humor Kecabulan Hubungan cinta
Pengaruh relijius Rasa malu Mempertahankan teman Waktu yang dihabiskan Keintiman
Respek Diskusi intelektual Dukungan emosional Komitmen Atmosfer keluarga
Reputasi Penggunaan aksen Salah paham Menunjukkan nama asli Perhatian

Tabel 1: Kategori observasional yang dikembangkan dalam tahap tak terstruktur

 

  1. Terstruktur

Dalam tahap terstruktur, observasi terkonsentrasi utamanya pada kategori-kategori, beberapa darinya, yang ada di daftar diatas. Selain itu untuk mencatat observasi mengenai topik-topik yang sehari-hari ditempelkan pada forum, peneliti juga menulis reaksinya sendiri, refleksi dan penafsirannya mengenai observasinya. Melakukan ini membantunya mengatasi masalah subyektivitas (dari seorang pengamat tunggal) di mana dia, pada tahap akhir penelitian, melakukan kompensasi dengan menggunakan triangulasi dengan data dari teknik lain seperti wawancara. Komentar-komentar yang mengandung wawasan pada perilaku partisipan atau yang menarik, disalin dan diterjemahkan secara instan dalam dokumen yang sama.

 

Menjadi Partisipan

  1. Untuk mempermudah perbandingan data, situs di mana peneliti harus bertindak sebagai partisipan diperlukan seserupa mungkin dengan situs yang diobservasi. Untuk mencapai hal ini, peneliti menggunakan mesin pencari khusus yang mendaftar sebagian besar forum di negara itu (ditemukan sebanyak 176 forum), dan selanjutnya menyeleksi beberapa untuk observasi sejenak, membandingkan mereka dengan situs dimana dia telah melakukan observasi-tersembunyi.
  2. Selanjutnya peneliti bergabung dengan dua situs dan berpartisipasi selama beberapa hari sebelum memutuskan yang mana yang akan dipilih. Selanjutnya dia menghentikan partisipasi dalam satu situs dan melanjutkan dengan situs lain untuk sisa periode delapan bulan partisipasi.
  3. Peneliti mencatat catatan lapangan harian dalam sebuah jurnal serupa untuk yang digunakan dalam forum yang diamati secara diam-diam tetapi dalam kasus ini mereka adalah mengenai pengalaman virtualnya sendiri (menjadi seorang anggota) yang termasuk reaksi-reaksinya, refleksi-refleksi dan penafsiran-penafsiran.
  4. Proses partisipasi dan pencatatan catatan lapangan mengambil dua hingga tiga jam setiap hari tetapi kadangkala ini membutuhkan lima jam, bergantung pada jumlah topik baru dan volume jawaban bagi topik-topik peneliti atau topik-topik baru yang ditunjukkan oleh partisipan lainnya.

 

Analisis Data

  1. Data dari empat teknik berbeda, termasuk dua yang dibahas disini, dianalisis ketika mereka dikumpulkan. Catatan lapangan observasional dan partisipasi harian dicatat dalam MS Word dan disimpan sebagai dokumen RTF, dengan sebuah dokumen tunggal yang mencakup satu minggu catatan lapangan. Contohnya, Obsv_W2_03_05_05.doc mewakili catatan lapangan observasional yang dikumpulkan dalam minggu kedua yang dimulai pada 3 Mei 2005.
  2. Pada akhir masing-masing minggu, dokumen RTF ini diimpor ke NVIVO (sebuah paket software untuk mengelola data kualitatif) untuk analisa. Ini berarti bahwa analisa catatan lapangan adalah dilakukan pada basis mingguan. Catatan lapangan observasional dan partisipasi dibaca pertama dan kata kunci (dalam masing-masing dan setiap line) yang mencakup ide-ide tertentu, ditandai. Tema berikutnya berdasarkan pada kata kuncinya dibuat dan diubah ke dalam mode-mode dalam NVIVO. Selain fakta bahwa mode-mode ini mewakili tema-tema yang berkembang, mereka juga menyimpan semua data yang berkaitan dengan tema khusus untuk semua dokumen mingguan. Akhirnya muncul strukturisasi lebih lanjut atau pengaturan mode-mode ke dalam kelompok-kelompok dan kategori-kategori berdasarkan pada konsep umum penelitian yang mereka agendakan. Tahap terakhir ini (proses kategorisasi) adalah iteratif, emergent dan iteratif.

 

Temuan dalam Penelitian YAS dan KW

  1. Perluasan hubungan pada media telepon atau tatap muka menyatakan bahwa komunitas virtual tidak selalu tetap hanya online, tetapi bisa jadi menjadi setting offline. Ini adalah penting untuk dicatat bahwa, ketika partisipan pria dan wanita mengakui melakukan komunikasi lintas jender melalui email, chat dan MSN Messenger, tidak ada bukti yang cukup yang menyatakan bahwa partisipan pria telah bertemu tatap muka dengan wanita dari forum. Pembauran orang dewasa yang bukan ”muhrim-nya” ini (dari jenis kelamin yang berlawanan) adalah dianggap salah dalam Islam, dan masyarakat Saudi khususnya, tidak menyetujui dan mentoleransi aktivitas ini. Untuk alasan ini, mungkin, partisipan tidak mengakui/ menerima untuk bertemu tatap muka dengan jenis kelamin yang berbeda.
  2. Grouping, tidak hanya secara sederhana didasarkan pada minat atau pengetahuan umum, tetapi lebih pada hubungan offline yang telah dibuat anggota setelah mereka bertemu dan mengenal satu sama lain online. Contohnya, anggota kelompok X, yang secara reguler bertemu di Riyadh, berbeda dalam hal kapasitas intelektual, gaya menulis dan minat, sekarang mereka mewakili sebuah kelompok kuat.

 

Kesimpulan

  1. Observasi terselubung dan partisipasi telah terbukti efektif dalam penelitian komunitas virtual di Saudi Arabia. Selain biaya rendah mereka, kecepatan hasil, dan kemudahan akses pada sebuah area geografi yang lebih luas dan dari kenyamanan kursi peneliti, ini adalah jelas bahwa mereka memungkinkan peneliti untuk memberikan penemuan yang dalam dan kaya dalam gambaran. Melakukan observasi-tersembunyi dan partisipasi pada dua komunitas virtual yang berbeda, tetapi serupa menghindari peneliti mengganggu aktifitas biasa komunitas dan perilaku alami dan memperkenalkan distorsi pada penemuan penelitian karena kebingungan perannya.
  2. Melakukan studi pada komunitas virtual dalam paradigma konstruktivis memungkinkan peneliti untuk menggali komunitas ini dalam konteks kultural mereka sendiri. Lensa teori konsep pribadi dan sosial telah terbukti berguna untuk pemahaman komunitas virtual dibawah studi. Teori konsep sosial berguna untuk memahami bagaimana anggota secara kolektif berlaku online. Contoh, teori ini berguna untuk pemahaman mengapa partisipan secara umum tidak melawan nilai-nilai kultural dan bertemu dengan jenis kelamin berbeda offline sebagai hasil komunikasi mereka dalam komunitas virtual. Di sisi lain, teori konsep personal adalah berguna untuk memahami cara anggota secara pribadi membentuk kesan komunitas mereka dan persepsi mereka mengenai keberadaan orang lain. Contohnya, teori ini memungkinkan peneliti (penulis pertama) untuk memahami realitas yang dia bentuk sendiri mengenai pengalaman virtualnya dan melaporkan persepsinya mengenai hal itu dalam teks.
  3. Penggunaan metode penelitian kualitatif untuk studi ini yang diberi pedoman oleh sebuah kerangka kerja interpretive juga terbukti tepat. Menggunakan etnografi dalam paradigma konstruktivis memungkinkan pelaksanaan observasi-terselubung dan partisipasi dalam cara yang menghasilkan hasil yang dalam, bermakna dan kaya sifatnya. Ketika sebuah metode penelitian kuantitatif digunakan, penemuan akan jadi faktual dan superficial. Penggunaan sebuah survei oleh kuisioner yang diisi-sendiri, contohnya, untuk penelitian tidak bisa memberikan gambaran kaya seperti yang ditunjukkan oleh observasi dan partisipasi.***

_______________


[1] Dampak komunitas virtual pada kehidupan off-line orang, merupakan subjek yang secara serius kurang diteliti, bahkan di dunia Barat (Dodge dan Kitchin, 2001; Jones dan Kucker, 2001).

[2] Pada waktu observasi, halaman utama dari forum berisi link-link untuk topik yang baru dipasang. Entry (masukan) diatur menurut tanggal di bawah satu sama lain dari yang paling baru hingga paling lama. Link-link kecil pada halaman utama bisa membawa pengguna pada topik yang paling lama yang ada di halaman lainnya. Selanjutnya pada judul topik adalah nama panggilan penulis topik dan sebuah gambar yang menunjukkan berapa kali topik itu dibaca. Ketika angka ini besar, ini diobservasi bahwa lebih banyak pembaca tertarik pada topik, kemungkinan karena mereka menganggap hal itu menarik atau penting.

 

TIPS MEMAHAMI ISI BUKU TEKS DENGAN LEBIH MUDAH!

Islam Nusantara dan Shock Therapy Intoleran

Menyeruaknya kembali gagasan yang disebut ‘Islam moderat’, ‘Islam toleran’, dsb ke permukaan hingga kemudian memunculkan wacana “Islam Nusantara”, tampaknya merupakan respons sosial atas berbagai penampakan fenomena sosial yang berkaitan dengan isu agama (Islam), dengan berbagai persepsi yang mengemuka sehingga dirasa perlu adanya sebuah upaya “penjernih suasana” atas berbagai reaksi terhadap “fenomena dunia Islam”, baik di Indonesia maupun di luar Indonesia. Ini jelas mengisyaratkan belum tuntasnya masalah keberagamaan di tengah keberagaman budaya dan praktik keberagamaan di Indonesia.  Ini adalah wilayah sosial, tentang tafsir sosial atas aplikasi dan tafsir dari sebuah ajaran agama (Islam). Sama sekali bukan “mengindonesiakan Islam” atau “mengislamkan Indonesia”. Hanya sebatas tafsir sosial. Sebenarnya, pertanyaan kritisnya adalah, mengapa perlu muncul “Islam Nusantara”? Tidak cukupkah dengan apa yang disebut “Islam” tanpa embel-embel?

Okay, kita runut konteks sosialnya. Dalam masyarakat muslim yang mayoritas pun masih diwarnai kegamangan dalam perilaku beragama dan bersosial di antara mereka, dikarenakan adanya berbagai aliran dalam Islam yang berimbas pada perbedaan perilaku sosial yang kemudian mengemukanya corak hubungan sosial di antara warga masyarakat muslim. Perbedaan tafsir atas ajaran agama Islam dalam tubuh masyarakat muslim sendiri pun masih mewarnai dan menentukan pola hubungan sosial. Masyarakat muslim Indonesia belum sepenuhnya terlatih untuk menafsir “perbedaan adalah rahmat” yang menjelma menjadi praktik hubungan sosial yang benar-benar harmonis dan saling menghormati atas perbedaan tersebut, namun justru terjerumus dalam kepicikan berpikir yang dibangun dari egositas kelompok, egositas fragmen pemikiran yang berbalut dan atas nama ajaran agama. Kekosongan ruang berpikir berorientasi sosial ini membawa pada perilaku intoleran antar kelompok dalam masyarakat muslim sendiri. Perbedaan-perbedaan tafsir atas ajaran agama yang seharusnya tidak perlu mengganggu kelompok lain yang berbeda, justru menjadi komoditas sosial dan bahkan politik untuk kemudian seolah melegalkan permusuhan bahkan kekerasan suatu kelompok muslim terhadap kelompok muslim lain yang berbeda aplikasi tafsir ajaran. Men-stigma “sesat” dan “kafir” pada kelompok lain yang berbeda telah menjadi kebiasaan. Konflik antara kelompok muslim Sunni – Syiah di Sampang (sebelumnya juga sering terjadi antara lain di Sidoarjo, Bangil, Jawa Timur) yang hingga kini belum menampakkan solusi yang humanis.

Perilaku intoleran secara intelektual yang terpicu dari tafsir-sektarian-egois atas ajaran agama, juga terjadi di kalangan intelektual menengah ke atas. Kita bisa menyaksikan betapa pembicaraan tentang perbedaan mazhab dalam Islam saja berkembang dahsyat dengan pengkafiran pada kelompok lain yang tidak sejalan dengan dirinya. Isu perbedaan Sunni – Syi’ah yang semakin mengembang tidak jelas jluntrungannya dan tidak jelas apa yang diperebutkan itu juga bagian dari perkembangan wacana yang berpotensi membawa kepada perpecahan umat, bisa mengancam perpecahan bangsa.

Dan beberapa konflik sosial lain, yang kemudian memejal menjadi kekerasan antar kelompok dalam masyarakat, benar-benar menuntut perhatian kita, terutama kasus yang berkenaan dengan konflik dan kekerasan sosial yang mengatasnamakan agama. Teks-teks ajaran agama, yang lebih cenderung dianggap sebagai agama dengan menggunakan ‘teks suci’ oleh pemeluknya, oleh karena itu diperlukan ajaran-ajaran yang menginterpretasikan kembali agar pemahaman dari para pemeluknya dapat menyatu dengan pola-pola dan pedoman yang selama ini dilakukan dalam masyarakatnya. Semua agama pasti menganjurkan keharmonisan dalam membentuk masyarakat agar sejahtera, namun interpretasi dan pemahaman yang dimiliki oleh pengikut agama tersebut yang membuatnya menjadi salah tafsir dan salah pengertian sehingga menjadi berbeda dari ajaran yang seharusnya. Konflik-konflik kerap kali terjadi antar satu agama dengan agama lainnya diperkarakan oleh sebab-sebab yang kecil dan sepele seperti konflik di Papua, konflik di Aceh, konflik di Poso dan konflik di Sambas.

Konflik yang terjadi di Papua misalnya, merupakan konflik antar agama yang banyak memberikan pandangan bahwa konflik tersebut bukanlah karena agama namun lebih karena adanya persoalan ekonomi, sosial dan politik. Selain itu perilaku para pendatang baru yang masuk ke kampung-kampung kemudian menjadi pelaku ekonomi yang berhasil. Sehingga perekonomian yang ada di Papua seringkali dikuasai oleh para pendatang dibandingkan warga asli Papua. Seharusnya konflik antar agama di Papua tidak terjadi, karena pemicunya hanyalah persoalan emosional dari sekelompok anggota masyarakat tertentu saja sehingga persoalan tersebut dibesar-besarkan oleh pihak-pihak lain dan dianggap sebagai persoalan yang berkaitan dengan suku, agama, ras dan antargolongan (SARA). Demikian pula yang terjadi di Aceh, pada tahun 2013 terjadi isu pelarangan perayaan Natal oleh pihak Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU), padahal dari pihak MPU sendiri tidak pernah memberikan pernyataan tentang pelarangan perayaan Natal. Apa yang telah terjadi di Poso juga sebenarnya hanyalah pertikaian yang dilakukan oleh dua orang remaja yang satu beragama Islam dan yang satunya lagi beragama Kristen. Pertikaian dua orang berlainan agama itu akhirnya merembet dan membesar sebagai konflik antar kelompok antara Islam dan Kristen. Meskipun dari versi pemberitaan media yang lain menyatakan tidak terima, karena menurutnya konflik terjadi di Poso memang benar persoalan konflik antar agama, kalaupun pihak pemerintah menutup-nutupi persoalan tersebut sebagai persoalan yang bukan konflik agama hanya akan membuat masyarakat menjadi bodoh. Pembodohan masyarakat terhadap relaitas yang sesungguhnya terjadi di konflik Poso. Kerusuhan di Ambon yang meletus di bulan Januari 1999, yang di mulai dengan konflik antara pendatang Buton-Bugis-Makasar (BBM) yang beragama Islam dengan penduduk asli Ambon beragama Kristen. Kerusuhan tersebut semakin memuncak menjadi konflik antar agama setelah masjid Al-Fatah di Ambon dibakar oleh orang Kristen. Pemicu terjadinya konflik bermula dari persoalan-persoalan yang kecil yang sebenarnya lebih pada persoalan yang terjadi akibat kesalahpahaman yang dibangun akibat interaksi sosial antar individu. Pola hubungan dalam membangun interaksi individu tersebut kemudian menjadi meluas dan di jadikan sebagai kesalahpahaman interaksi sosial antar kelompok. Pola hubungan antar individu menjadi pola hubungan antar kelompok yang akhirnya tercerai berai, karena masing-masing individu tersebut memiliki identitas kegamaan yang berbeda akhirnya pola hubungan antar kelompok menjadi pertikaian dan kerusuhan yang melibatkan identitas agama mereka masing-masing. Padahal yang sebenarnya menjadi pemicu utamanya adalah persoalan-persoalan yang menyakut kehidupan sosial, ekonomi dan politik. Agama menjadi isu menarik untuk menyita perhatian media dan masyarakat secara luas agar pertikaian dan kerusuhan yang terjadi mendapat perhatian secara khusus.

Menilik beberapa konflik sosial terutama yang mengatasnamakan agama, dan penyelesaian yang belum menyentuh dasar permasalahannya, adalah karena konflik tersebut terletak dalam bingkai tafsir egositas sektarian, bukan bingkai tafsir pluralitas sosial yang mengedepankan keutuhan umat dan keutuhan bangsa.

Selanjutnya, dalam pandangan masyarakat di luar Islam pun terdapat berbagai tafsir yang kemudian mengeras menjadi kekhawatiran tersendiri ketika kelompok masyarakat non-muslim ini melihat praktik internal masyarakat muslim. Penajaman kekhawatiran sosial menjadi bentuk-bentuk pemejalan phobia-Islam atau bahkan “takut-Islam” bisa menjadi rasional, dan mengingat penduduk muslim di Indonesia yang mayoritas, maka paduan antara kegamangan masyarakat muslim dan kekhawatiran atau ketakutan masyarakat non-muslim terhadap praktik sosial masyarakat muslim yang dipersepsi sarat kekerasan dapat merupakan bencana sosial yang dapat mengancam keutuhan NKRI.

Persoalan ini tentunya tidak sesederhana memetakan antara dua kutub pemikiran tentang praktik sosial yang berakar dari tafsir atas ajaran agama Islam yang kemudian ditafsir oleh masyarakat di luar Islam sebagai “Islam yang keras”; dan “praktik arogansi mayoritas” yang dipraktikkan oleh sebagian masyarakat muslim, yang kemudian tergeneralisasi yang pada akhirnya juga berujung pada persepsi “Islam yang tak ramah”. Dialektika ini memunculkan wajah “Islam yang tak ramah”, yang secara sosial belum memenuhi kriteria “rahmatan lil alamiin’ . Media massa yang mem-blow up berita tentang konflik dan kekerasan sosial bersenjata yang melibatkan sebagian warga muslim, isu jihad, praktik-praktik kelompok-kelompok masyarakat yang mengatasnamakan “Islam” di luar Indonesia dan juga di Indonesia tak jarang juga turut memperkeras wacana dan perilaku “Islam-intoleran” di Indonesia, yang kemudian menjadi momok baik bagi sebagian warga muslim sendiri dan juga bagi warga non-muslim. Memang, secara kuantitatif perilaku dan praktik “Islam tak ramah” ini tentu jauh lebih sedikit dibanding dengan pelaku “Islam normal”. Namun, secara kualitatif, fenomena “Islam keras” atau “Islam intoleran” adalah realitas sosial.

Realitas sosial ini menyiratkan berbagai pertanyaan tentang mengapa masyarakat muslim di Indonesia begitu rapuh dan rentan terhadap praktik-praktik intoleran terhadap kelompok lain dalam masyarakat Islam, padahal sebagai ajaran, Islam diyakini oleh pemeluknya sebagai “ajaran kebajikan universal” (rahmatan lil alamiin). Di sini, penting untuk menggarisbawahi tentang mengapa masyarakat muslim menemui kendala serius dalam mengaplikasikan ajarannya yang memuat “ajaran kebajikan universal” (rahmatan lil alamiin) itu? Ajaran kebajikan universal (rahmatan lil alamiin) tentu sarat dengan ajaran budi pekerti, toleransi, pluralisme dan humanis. Tetapi internalisasi, sosialisasi dan habituasi ajaran tersebut mendapat permasalahan serius dalam masyarakat pemeluknya yang justru mengembangkan Islam dalam wajah berkebalikan dengan nilai-nilai “rahmatan lil alamiin”, yakni tampilan wajah Islam yang intoleran dan berada dalam bingkai persepsi sosial tak bersahabat. Asumsi yang dapat dibangun di sini  adalah adanya transformasi sosial yang membias-menyimpang dari praktik sosial masyarakat muslim di Indonesia sehingga memunculkan definisi praktik sosial yang berbeda dari ajaran Islam yang toleran dan damai. Ini adalah realitas. Telah terjadi. Mungkin sedikit, secara kuantitatif. Namun, secara kualitatif, ini nyata. Dan telah menimbulkan masalah. Realitas ini memunculkan tafsir baru dan respons sosial. Orang mulai memunculkan gagasan tentang tafsir sosial atas praktik ajaran Islam yang secara sosial bisa dibaca sebagai “Islam yang ramah”, “Islam yang toleran”. Dan terminologi ini diberi nomenklatur (biar ndak repot menyebutnya) yakni “Islam Nusantara”. Jadi, “Islam Nusantara” bukanlah agama baru. Ia hanyalah tafsir sosial atas fenomena yang dimunculkan oleh umat Islam sendiri. Ia adalah semangat “Satu Islam” dalam tafsir yang lebih dekat dengan penerimaan umat tempat Islam tersebut berada.  Atau, bisa jadi gagasan “Islam Nusantara” ini merupakan “shock therapy” sebagai upaya dialektik untuk  mengedukasi umat Islam yang terbelah ini pada pencapaian “wajah Islam-yang-satu dan damai.***

Wawan E. Kuswandoro

Beragama Islam, tinggal di Jawa Timur.