Tag Archives: metode penelitian sosial

Metode dan Teori Dalam Cultural Studies

Metode dan Teori Dalam Cultural Studies

Metode Dalam Cultural Studies

Pendekatan dan paradigma yang digunakan cultural studies, menurut Barker adalah: etnografi (kulturalis dan mendasarkan pada pengalaman nyata), tekstual (semiotika, pascastrukturalis, dekonstruksi Derridean), dan studi resepsi (reception study, eklektis)[1]. Sedangkan metode, secara keseluruhan, cultural studies memilih metode kualitatif, dengan fokus pada makna budaya[2]. Mengikut karakter kualitatif yang beroperasi di ranah penemuan meanings (makna, yakni makna budaya) dari struktur pengalaman subjek, dan sejalan dengan pemikiran post-modernisme, maka karya-karya dan penelitian cultural studies menggunakan metode berpikir dinamis, kontekstual, plural dan lokal dan menghindari model berpikir linear, dualis dan statis[3]. Metode berpikir ini merupakan dasar pijakan bagi karya cultural studies untuk menentukan metode (juga teori) yang sesuai. Beberapa metode yang sesuai bagi cultural studies, menurut catatan Akhyar Yusuf Lubis[4], diantaranya adalah:

satu

Hermeneutika, dengan berbagai variannya, seperti semiotika.

dua

Multiperspektif, dengan memasukkan politik, budaya dan kekuasaan. Metode yang diajukan oleh McGuigan ini meneliti hubungan antara ekonomi politik, representasi, teks, dan audiens bersama dalam keterlibatannya dengan kebijakan budaya. Metode ini disebut juga “pluralitas perspektif”, digunakan dalam penelitian-penelitian yang bersifat lokal, dengan hasil berupa narasi-narasi kecil (little naration). Di sini, kebenaran dianggap sebagai produksi dalam permainan bahasa, yang didasarkan pada aspek lokalitas.

tiga

Fenomenologi. Adalah metode untuk menangkap fenomena, atau metode untuk melihat segala sesuatu yang memberikan-dirinya (self-given) menurut cara keterberiannya masing-masing yang khas dan singular/ perspectival (its manner of givenness).  Kuncinya, terletak pada: cara-bagaimana sesuatu itu memberikan-dirinya/ menyingkapkan-dirinya; atau dengan kata lain: cara-berada dari sesuatu [5]. Lebih lanjut tentang fenomenologi.

empat

Etnografi. Menurut James P. Spradley, metode ini menjelaskan fakta atau realitas sosial secara mendalam, memahami realitas sosial apa adanya berdasarkan struktur pengalaman subjek (native’s point of view)[6]. Ia menangkap makna (meanings) yang diketemukan pada peristiwa atau subjek yang diteliti, bersifat “belajar dari masyarakat” (learning from the people), tidak hanya “mempelajari masyarakat” (learning about the people)[7].

lima

Dekonstruksi. Metode ini merupakan “perlucutan” yang dilakukan oleh Derrida atas oposisi biner dalam filsafat Barat, untuk menampakkan titik kosong teks dan asumsi yang tidak dikenal[8]. Untuk ini Derrida menciptakan metode “pembacaan-mendalam” atas teks yang mirip psikoanalisis, menggunakan prosedur memeriksa unsur-unsur kecil dalam momen yang tidak dapat dipastikan atau dipersepsi[9].

dan, enam, penelitian partisipatoris.

wklompshootMenurut saya, metode dalam karya-karya cultural studies tidaklah sebatas keenam metode yang diunjukkan Akhyar Yusuf Lubis tersebut, tetapi bisa lebih banyak lagi, namun tetap berada dalam koridor metode kualitatif dan berdasar pada epistemologi post-positivisme (teori kritis, post-strukturalisme, post-modernisme). Satu karya cultural studies patut diperhitungkan adalah kritik kebudayaan psikoanalisis, sebagaimana diungkap oleh Mark Bracher[12]. Dalam bukunya, ia menyinggung tentang kritik kebudayaan psikoanalisis yang bersumber dari pemikiran Jacques Lacan. Bracher menukil Richard Johnson yang menyatakan bahwa pertanyaan kunci yang terus menerus diajukan cultural studies adalah terkait pengaruh artefak budaya dan diskursus kebudayaan. Diskursus kebudayaan ini terkait pada popularitas, kenikmatan (pleasure), nilai guna (use value) [10] , dan membutuhkan pembacaan, pencerapan artefak kebudayaan dan pengaruhnya pada budaya yang menjadi tempat seseorang berada, tetapi ini sering ditinggalkan. Menurut amatan Richard Johnson, hal ini karena tiadanya teori subjektivitas post-strukturalis yang memadai. Karenanya, kebutuhan mendesak dalam cultural studies adalah adanya sebuah teori subjektivitas yang bisa menjelaskan bagaimana artefak kebudayaan bisa memengaruhi manusia. Maka, jawabannya adalah: teori subjektivitas dari psikoanalisis Lacan[11]; dan ini sedang saya jadikan disertasi saya dengan harapan bisa memberikan kontribusi pada khazanah teori ini. Mohon doanya ya…. 😀

20130723_225035Arus pemikiran post-modernisme dan postrukturalisme dari cultural studies yang memunculkan metode sebagaimana deskripsi di atas, sejalan dengan pemikiran Paula Saukko yang mendeskripsikan metode cultural studies, sebagai kombinasi metode yang bercirikan tema-tema lived experience (pengalaman yang hidup), discourse (wacana), text (teks) dan social context (konteks sosial). Bagi Saukko, hal penting dalam cultural studies adalah:

Pertama,  memahami bahwa metode dalam cultural studies tersusun atas wacana, pengalaman hidup, teks, dan konteks sosial dengan menggunakan analisis yang luas.

Kedua, pemahaman tentang kriteria tentang valid / good research.

ket dpkp inspeksiKetiga, tentang kebenaran dan validitas (triangulasi)[13]. Menurut Saukko, valid/ good research adalah truthfulness (berada pada sisi subjek yang diteliti), self-reflexivity (refleksif tentang personal, sosial, dan wacana paradigmatik yang menuntun pada realitas), dan polivocality (peneliti menyadari bahwa ia sedang tidak meneliti sebuah realitas tetapi banyak realitas)[14]. Saukko mengetengahkan “combining methodologies”, dengan mengambarkan perpotongan antara ordinat paradigm, ontologi, epistemologi, metafora, tujuan penelitian dan politik yang disandingkan dengan model triangulasi, prism, material semiotic dan dialogue. Self-reflexivity ditempatkan pada jalur seperti yang digunakan teori sosial kritis yang dilandaskan pada kritik ideologi dan peran atas basis kesadaran yang merepresentasikan ruang dialog dan wacana saling bertemu, mempengaruhi, mengaitkan berbagai kepentingan, pola kekuasaan serta konteks sosial dan sejarahnya. Polivocality berkenaan dengan berbagai pandangan yang berbeda dengan cakupan teori-teori yang saling mengisi dan dengan mudah dapat didukung satu sama lain, meskipun membutuhkan ketelitian dalam mengkombinasikan pandangan-pandangan lain agar memberikan kesesuaian bagi karakter akademik cultural studies. Paradigma yang digunakan mengambil model triangulasi yang berupaya mengkombinasikan berbagai macam bahan atau metode-metode untuk melihat apakah saling menguatkan satu sama lain. Maka, cultural studies sangat berpotensi memberikan peluang bagi suatu kajian yang baru dan menarik minat pembelajarnya. Validitas (keabsahan) penelitian dalam cultural studies yang menuju ‘kebenaran’ (truth) maka yang dipakai adalah triangulation[15].

Teori

wk@topobrotoBarker menjelaskan teori dalam cultural studies, yaitu narasi yang berusaha membedakan dan menjelaskan ciri-ciri umum yang menjabarkan, mendefinisikan dan menjelaskan terus-menerus kejadian yang dipersepsikan.  Tetapi teori tidak menggambarkan dunia secara akurat, namun ia adalah alat, instrumen, atau “logika untuk mengintervensi dunia” melalui mekanisme deskripsi, definisi, prediksi, dan kontrol. Dalam cultural studies, teori menempati posisi tinggi, yakni sebagai penunjuk jalan atau peta budaya yang memandu[16]. Teori memandu peneliti cultural studies untuk menceburkan diri ke dalam alam realita untuk dilakukan pembacaan-mendalam, dan bertujuan merumuskan teori dan tindakan (praksis) yang bersifat emansipatoris.

Dan menilik karakternya sebagaimana telah dideskripsikan di atas, maka cultural studies menggunakan berbagai teori dan konsep untuk menjelaskan dan memahami berbagai realitas sosial kontemporer. Beberapa teori yang dapat digunakan dalam cultural studies sebagaimana dikumpulkan oleh Akhyar Yusuf Lubis dalam buku “Dekonstruksi Epistemologi Modern”[17], diantaranya, adalah:

Semiotika (Roland Barthes)

Teori ini memahami aspek budaya melalui semiotika, dengan melihat budaya sebagai tanda. Teori ini digunakan dalam penelitian yang bersifat lokal, etnis dan subkulktur[18].

Habitus (Pierre Bourdieu)

Habitus adalah struktur mental atau kognitif, yang digunakan aktor untuk menghadapi kehidupan sosial budaya. Atau, dalam pengertian Ritzer, yang dikutip Lubis, habitus adalah konstruksi dunia sosial, struktur sosial yang diinternalisasikan dan diwujudkan. Ia mencerminkan posisi sosial, kebiasaan yang terdapat  pada kelas atau kelompok sosial[19].

Teori Industri Budaya (Walter Benyamin)

Teori ini memandang industri budaya sebagai produksi mekanis budaya yang disebarluaskan melalui media cetak dan elektronik[20].

Teori Hegemoni (Antonio Gramsci)

Teori ini berfokus pada kajian tentang negosiasi penguasa dengan kelompok budaya tandingan menuju landasan budaya dan ideologi yang bisa membuatnya mendapatkan posisi kepemimpinan. Hegemoni adalah upaya bagaimana kelompok penguasa dapat mensubordinasi dan tetap dapat mempertahankan status quo[21].

Teori Pendidikan Kritis (Paulo Freire)

Teori ini, yang merupakan cultural studies di bidang pendidikan, mengritik model pendidikan yang disebutnya sebagai bergaya bank. Teori ini berpengaruh besar pada dunia pendidikan[22].

Sementara itu, beberapa pendapat lain seperti John Storey dan Mark Bracher mengemukakan masing-masing teori kultural (Cultural Theory) yang dirumuskan oleh Raymond William[23], dan Teori Subjektivitas Psikoanalisis, yang diperkenalkan oleh Jacques Lacan[24], beserta variannya, Neo Lacanian, yang dikembangkan oleh Slavoj Zizek[25] dan Yannis Stavrakakis[26].

Patut dicatat, bahwa teori dalam cultural studies, adalah teori digunakan untuk memandu awal peneliti untuk kemudian digunakan untuk merumuskan teori (baru) sehingga memunculkan banyak teori baru yang selaras dengan keluasan bidang telaah cultural studies.

Konsep

Representasi

Unsur utama cultural studies, menurut Barker, adalah praktik pemaknaan atas representasi, yaitu bagaimana dunia ini dikonstruksi dan direpresentasikan secara sosial. Untuk ini diperlukan eksplorasi pembentukan makna tekstual. Representasi dan makna budaya memiliki materialitas tertentu, yang melekat pada bunyi, prasasti, objek, citra, buku, majalah, dan program televisi. Mereka diproduksi, ditampilkan, digunakan dan dipahami dalam konteks sosial tertentu[27].

IMG-20161119-WA0010Identitas

Dalam cultural studies, identitas adalah konstruksi budaya, yakni konstruksi tentang bagaimana seseorang itu menjadi orang, bagaimana kita diproduksi sebagai subjek dan bagaimana kita menyamakan diri kita (atau secara emosional) dengan  gambaran sebagai laki-laki, perempuan, hitam, putih, tua, muda, dsb. Wacana yang membentuk bahan-bahan untuk formasi identitas tersebut bersifat kultural. Secara khusus, subjek dikonstitusikan sebagai individu dalam sebuah proses sosial yang secara umum dipahami sebagai akulturasi yang tanpa itu, kita tidak dapat menjadi seseorang. Konsep identitas sebagai konstruksi diskursif budaya yang spesifik didasari oleh sikap anti-representasional dalam memahami bahasa, dimana wacana mendefinisikan, mengonstruk dan memproduksi objek pengetahuan[28].

 

Kesimpulan

satu

Cultural studies, atau  disebut mazhab Birmingham (tokoh: Richard Hoggart dan Stuart Hall), adalah sebuah pemikiran perlawanan terhadap gagasan universalitas dan narasi besar seperti ditawarkan teori modernisasi dan terhadap budaya massa atau budaya pop (popular culture), dengan studi budaya sebagai instrumen untuk melakukan perubahan.

dua

Cultural studies hadir untuk  memahami realita budaya sekaligus mengubah struktur dominasi dan struktur masyarakat yang menindas dan bertujuan untuk merumuskan teori-teori sekaligus tindak praksis yang bersifat emansipatoris.

tiga

Cultural studies memusatkan perhatian pada masalah isu-isu kekuasaan, politik, ideologi, serta kebutuhan akan perubahan sosial.

empat

Ruang lingkup cultural studies meliputi kebudayaan, budaya massa (popular), ideologi, makna dan pengetahuan, linguistik, diskursus, post-modernisme, feminisme, politik, politik identitas, politik budaya, globalisasi, media, dan subkultur. Ia meneliti atau mengkaji berbagai kebudayaan dan praktik budaya serta kaitannya dengan kekuasaan dan produksi pengetahuan dalam arena dan konteks kebudayaan yang luas.

lima

Metode cultural studies secara keseluruhan adalah kualitatif, dengan pendekatan etnografi, tekstual dan berfokus pada makna budaya. Prinsipnya, ia menggunakan metode berpikir dinamis, kontekstual, plural dan lokal dan menghindari model berpikir linear, dualis dan statis.

enam

Teori cultural studies menempati posisi tinggi, yakni sebagai penunjuk jalan atau peta budaya yang memandu peneliti cultural studies untuk menceburkan diri ke dalam alam realita untuk dilakukan pembacaan-mendalam, dan bertujuan merumuskan teori baru dan tindakan (praksis) yang bersifat emansipatoris.***

 

 

Referensi yang digunakan dari Chris Barker, Chris Barker dan Dariusz Galasinski, Mark Bracher, Simon During, Stuart Hall, Akhyar Yusuf Lubis, Tony Myers, Slavoj Zizek, Paula Saukko, James Spradley, Yannis Stavrakakis, dan John Storey.

_____________

Related readings:

Fenomenologi

 

TIPS MEMAHAMI ISI BUKU TEKS DENGAN EFEKTIF DAN LEBIH MUDAH!

 

Cultural Studies

Cultural Studies

Artikel Sebelumnya:

Metode Penelitian Kualitatif

Pengertian Cultural Studies

Cultural studies, sebagaimana namanya, “studies” (kajian-kajian), bukan “cultural study” yang memuat makna “study” (kajian) yang bermakna tunggal, memuat pengertian kajian-kajian budaya dalam pengertian dan ruang lingkup yang luas dan multi, seperti dikatakan Stuart Hall, “cultural studies has multiple discourses”[1]. Ia memiliki daya jangkau  lintas disiplin ilmu, dan berusaha menjelaskan realitas sosial kontemporer dari berbagai disiplin ilmu tersebut. Cultural studies, yang muncul dari Universitas Birmingham (Inggris), -karenanya disebut “mazhab Birmingham”-, hendak menggugat pengkotak-kotakan ilmu yang masing-masingnya mengklaim kebenaran dengan versi keilmuannya masing-masing. Cultural studies hadir untuk mendamaikan klaim parsial tersebut dengan menghadirkan kajian-kajian lintas disiplin ilmu, inter dan multidisipliner dengan memasukkan teori dan metode dari berbagai disiplin ilmu yang dipandang strategis untuk lebih mampu menjelaskan realitas sosial maupun representasinya dalam kehidupan sosial kontemporer.

Kajian-kajian lintas disiplin tersebut dinamakan “budaya”, “kajian-kajian budaya” (cultural studies) karena “budaya” mengandung pengertian dan ruang lingkup yang luas, yang dalam hal ini “cultural studies” berbeda dari “the study of culture”[2]. Cultural studies adalah sebuah metode dan teori, dalam ranah paradigma kebudayaan (cultural paradigm)[3], sedangkan “the study of culture” adalah kajian tentang budaya. Budaya, seperti dinyatakan oleh Simon During dalam buku Cultural Studies: A Critical Introduction, bukanlah benda atau bahkan sistem, tetapi mengacu pada pengertian seperangkat transaksi, proses, mutasi, praktik, teknologi, institusi dan segala benda dan peristiwa yang diproduksi untuk menyatu dalam pengalaman hidup, makna-terberi (given meanings), dan nilai-nilai.

Culture is not a thing or even a system: it is a set of transactions, processes, mutations, practices, technologies, institutions, out of which things and events (such as movies, poems or world wrestling bouts) are produced, to be experienced, lived out and given meaning and value to in different ways within the unsystematic network of differences and mutations from which they emerged to start with. [4]

DSCF5446Di sini, cultural studies memandang budaya sebagai teks[5].  Pandangan ini mendapat penguatan dari Raymond Williams yang memaknai budaya (culture) sebagai pengalaman hidup, teks, praktik, makna-makna (meanings) yang dimiliki oleh dan telah menjadi aturan main di masyarakat. Selanjutnya Raymond Williams sebagaimana dikutip oleh Chris Barker dan Dariusz Galasinski, memaknai budaya sebagai “a whole way of life”, meliputi keseluruhan bentuk-bentuk signifikasi dalam makna-makna dan kondisi yang diproduksinya. Mengikut pandangan ini maka, cultural studies berkenaan dengan pemahaman terhadap dunia sehari-hari sebagai bagian dari budaya yang dicermati, yakni hal-hal yang biasa dilakukan, dirasakan, dibicarakan, didengar, dilihat dan dialami dalam kehidupan sehari-hari oleh orang kebanyakan. Ini yang menjadi salah satu ciri terpenting cultural studies. Atau menurut kata William,  cultural studies mengurusi kajian-kajian tentang “intersection of language, meanings and power”[6]. Sejalan dengan ini adalah pemikiran Stuart Hall yang memberikan pengertian cultural studies berkaitan dengan kekuasaan dan politik. Menurut Hall, sebagaimana dikutip Chris Barker, cultural studies merupakan suatu teori yang dibangun oleh para pemikir yang memandang produksi pengetahuan teoretis sebagai praktik politik. Dalam hal ini pengetahuan tidak pernah menjadi fenomena netral atau objektif, tetapi memiliki posisionalitas, tergantung dari posisi mana orang berbicara, kepada siapa dan untuk tujuan apa[7].

Ruang Lingkup Cultural Studies

DSCF5414Cultural studies memiliki ruang lingkup yang luas, dan secara konsisten senantiasa memberi perhatian pada masalah dan isu-isu kekuasaan, politik, ideologi, serta kebutuhan akan perubahan sosial[8].  Ia hadir dalam kajian-kajian tentang produksi pengetahuan, praktik politik, serta berdiri di tengah pemaknaan, bahasa dan kekuasaan, dalam masyarakat kontemporer. Karenanya kajian cultural studies ini mengikuti karakter masyarakat kekinian, dan dalam ulasan Mudji Sutrisno dalam buku yang dieditorinya bersama Hendar Putranto, “Teori-Teori Kebudayaan”, mencakup kajian-kajian budaya sebagai kritik ideologi, masalah-masalah integrasi sosial, transformasi sosial, perilaku, budaya sebagai teks, yang membentang dari strukturalisme hingga post-strukturalisme, psikoanalisis dan post-modernisme[9]. Ulasan lain, dari Chris Barker misalnya, bukunya, Cultural Studies memuat bentangan ruang lingkup cultural studies yang lebih luas lagi  yakni kebudayaan, budaya massa (popular), ideologi, makna dan pengetahuan, linguistik, diskursus, post-modernisme, feminisme, politik, politik identitas, politik budaya, globalisasi, media, dan subkultur. Bentang ruang lingkup kajian cultural studies ini dapat dikatakan bahwa karakter cultural studies adalah bahwa ia meneliti atau mengkaji berbagai kebudayaan dan praktik budaya serta kaitannya dengan kekuasaan[10] dan produksi pengetahuan dalam arena dan konteks kebudayaan yang luas.

Dalam konteks kekuasaan, cultural studies menyingkap dimensi kekuasaan dan pengaruhnya terhadap berbagai bentuk kebudayaan dalam aspek sosial, ekonomi, politik dll[11]. Sama dengan critical theory (mazhab Frankfurt), cultural studies, atau dikenal juga sebagai mazhab Birmingham[12], merupakan pemikiran yang memuat perlawanan/ kritik terhadap budaya massa atau budaya pop (popular culture), dengan menggunakan studi budaya sebagai instrumen untuk melakukan perubahan progresif. Cultural studies menolak narasi besar universalisme seperti ditawarkan teori modernisasi, hal yang dikecam juga oleh teori kritis, menuju ke “narasi kecil” lokal. Ia mendekonstruksi (membongkar) aturan-aturan pengkotak-kotakan ilmiah konvensional lalu berusaha mendamaikan pengetahuan objektif dengan pengetahuan subjektif (intuitif)[13].

wklompshootCultural studies berusaha memahami realita budaya sekaligus mengubah struktur dominasi dan struktur masyarakat yang menindas dan bertujuan untuk merumuskan teori-teori sekaligus tindak praksis yang bersifat emansipatoris. Cultural studies tidak membahasakan kebudayaan yang terlepas dari konteks sosial politik, tetapi mengkaji masalah budaya dalam konteks sosial politik di mana kebudayaan itu tumbuh dan berkembang. Selanjutnya, ia melibatkan diri dalam pertimbangan moral, tindakan politik dan konstruksi sosial[14]. Dengan demikian karakteristik cultural studies tidak memiliki wilayah subjek kajian yang didefinisikan secara jelas, tetapi berpijak pada gagasan tentang budaya yang luas, untuk mempelajari berbagai macam praktik keseharian manusia. Karenanya, ia meliputi seluruh kajian pengetahuan. Keseluruhan struktur pengetahuan berikut relasinya dengan manusia dalam pandangan cultural studies ini sejalan dengan pemikiran post-modernisme bahwa pengetahuan memiliki karakter yang perspektival, dan menganggap tidak mungkin ada pengetahuan yang menyeluruh yang mampu menjelaskan karakter “objektif” dunia. Tetapi diperlukan berbagai sudut pandang atau kebenaran yang digunakan untuk menafsir eksistensi manusia yang kompleks dan heterogen[15].

Sebagaimana dideskripsikan di atas, bahwa cultural studies berkembang sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan sosial budaya kontemporer (post-modern), dengan karakter lintas disiplin dan cair yang dimilikinya, maka paradigma yang sesuai bagi cultural studies, dalam tulisan Akhyar Yusuf Lubis dalam bukunya “Dekonstruksi Epistemologi Modern”,  adalah paradigma teori kritis, dekonstruksi dan konstruktivisme. Paradigma konstruktivisme ini, menurut Lubis, adalah model berpikir yang melihat sosial budaya, dinamis, kontekstual, plural dan lokal (sama sekali bukan model berpikir positivis, universal, linear, dualis dan statis). Menurutnya, dalam paradigma konstruktivis, pengetahuan bukanlah pernyataan (klaim) tentang objek sejati, tetapi konstruksi interpretatif mengenai objek. Karena itu, paradigma konstruktivisme (seperti post-struktural dan post-modernisme) melihat klaim-klaim kebenaran teori lebih dilihat sebagai produksi kebenaran dalam permainan bahasa (language games) tertentu.  Karena itu, paradigma konstruktivis ini lebih tepat menggunakan metode hermeneutik dengan berbagai variannya[16].

Dari karakter inilah diketahui bahwa cultural studies ini merupakan bidang keilmuan yang multi dan lintas disiplin ilmu, memiliki ruang lingkup yang membentang dari budaya dalam kaitannya dengan kekuasaan dan politik, bahasa, komunikasi, jender, diskursus (wacana). Dengan demikian, metode dan teori yang digunakan dalam cultural studies bervariasi atau dengan kata lain, menggunakan berbagai pendekatan, metode dan teori dalam kombinasi yang mampu menjelaskan realitas sosial kontemporer.

 

Nanti berlanjut ke Metode dan Teori dalam Cultural Studies ya… 😀

 

_________________

Referensi yang digunakan dari Chris Barker, Chris Barker dan Dariusz Galasinski, Mark Bracher, Simon During, Stuart Hall, Akhyar Yusuf Lubis, Tony Myers, Slavoj Zizek, Paula Saukko, James Spradley, Yannis Stavrakakis, dan John Storey.

Perbandingan Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif

Perbandingan Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif

Artikel sebelumnya:

Penelitian Kualitatif

Penelitian Kuantitatif

Memahami Metode Penelitian Sosial

 

rilis-lapora-fisip-ub-hasil-quick-count-pemilukada-batu-2012Metode penelitian kuantitatif dan kualitatif memiliki tujuan yang sama yakni ingin menjelaskan dan memahami realitas sosial, namun dengan cara dan gayanya masing-masing. Perbedaan pokoknya terletak pada: data yang digunakan, prosedur  penelitian yang dijalankan, penggunaan teori (peran teori tidak sama pada masing-masing metode penelitian ini), dan karakter hasil dan kedalamannya. Kuantitatif sama sekali tidak berbicara kedalaman makna karena ia “hanya” menjelaskan realitas secara makro, di permukaan saja, sedangkan kualitatif menjelaskan realitas sosial secara mendalam.

Untuk menampakkan karakter keduanya secara mudah, ilustrasi Tabel 1 menunjukkan perbandingan dan perbedaan antara keduanya.

Tabel 1. Perbandingan Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif (Newmann)

Kriteria

Metode Kuantitatif

Metode Kualitatif

Frame pemandu peneliti Hipotetis, yang diuji. Menemukan meanings
Konsep Ditemukan dari variabel yang berbeda Ditemukan dalam tema, motif, generalisasi dan taksonomi.
Pengukuran Sistematis; dilakukan sebelum  pengumpulan data; terstandard. Dilakukan tersendiri; individual menurut setting peneliti.
Data Berbentuk angka; presisi. Berbentuk  teks, gambar; berasal dari dokumen, observasi dan transkrip.
Teori Sangat menentukan; deduktif. Bisa menentukan atau tidak begitu menentukan; seringkali induktif.
Prosedur Standard. Khusus.
Analisis Menggunakan statistik, tabel, diagram; berelasi dengan hipotesis. Dilakukan dengan cara mengekstrak tema atau melakukan generalisasi dari bukti-bukti temuan dan mengorganisasi data untuk menemukan koherensi dan konsistensi data.

Sumber: Lawrence W. Newmann (2003) Social Research Methods: Qualitative and Quantitative Approaches, Fifth Edition. Boston: Pearson Education Inc,., halm. 145.

 

Ilustrasi Tabel 1 bersumber dari buku Social Research Methods: Qualitative and Quantitative Approaches yang ditulis oleh W. Lawrence Newmann. Untuk lebih memperlihatkan secara lebih jelas metode penelitian kuantitatif dan metode penelitian kualitatif serta perbedaan antara keduanya, Tabel 2 menyajikan secara ringkas dan lebih banyak, yang saya sarikan dari berbagai referensi.

20130615_142752Masing-masing metode memiliki target, tujuan, cara dan karakternya masing-masing. Perbedaan di antara keduanya bukan sekedar istilah, tetapi menunjukkan tatacara dan perlakuan terhadap data yang kemudian berpengaruh pada analisis dan hasil penelitian. Mempertukarkan unsur dan kriteria dari masing-masing metode, kadang tak disadari oleh peneliti (terutama kualitatif) bisa membingungkan sang peneliti itu sendiri. Jika menggunakan metode kuantitatif, gunakan kriteria dan karakter kuantitatif. Demikian juga jika menggunakan metode kualitatif, maka karakter kualitatif yang digunakan. Jika tertukar, maka penelitiannya akan kacau.
 

Tabel 2. Perbandingan Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif (Wawan)

 

             Kriteria

Metode Kuantitatif

Metode Kualitatif

Tujuan penelitian Menguji teori Membangun, mengkritisi teori
Paradigma Positivisme Non positivisme: post-positivisme, kritis.
Penginderaan realitas sosial Keberaturan, memiliki keajegan natural, dapat diamati, dapat diukur, dapat dikonsepkan, perceived. Tidak memiliki keberaturan, misteri, tidak selalu tampak, perlu digali lebih dalam.
Observasi fakta Variabel Situasi.
Representasi fakta Numerik (angka) Non-numerik (teks).
Alur pikir Deduktif Induktif .
Alur penelitian Linier non-linier.
Corak (proses) penelitian Tidak ada kebaruan; standard; mekanis Selalu ada yang baru; unik (berbeda tiap peneliti).
Peran teori Sentral, dominan, ketat Tidak sentral, tidak dominan tetapi tetap diperlukan.
Fungsi teori Membingkai peneliti secara ketat. Memandu peneliti pada titik awal, selanjutnya peneliti memahami realitas sosial secara alamiah.
Sifat hasil penelitian Makro; menjelaskan fenomena yang tampak dipermukaan. Mendalam, menjelaskan fenomena hingga “di balik realitas”.
Point of view Researcher’s point of view Native’s point of view
Sifat metode Statis, kaku Dinamis, fleksibel.
Relasi dengan Objek/ Subjek (O/S) Penelitian Berjarak Dekat, interaktif.
O/S Penelitian Responden Informan, narasumber
Pemilihan O/S Penelitian Acak (simple random sampling, stratified sampling, multi-stage random sampling) Terpilih, berdasarkan kualifikasi dan kedekatan informan dengan masalah yang sedang diteliti; snow-ball.
Pengumpulan data Wawancara langsung atau tidak langsung (pos, internet) Wawancara langsung tatap muka, in-depth interview.
Instrumen Kuesioner Panduan wawancara.
Sifat pertanyaan Terstruktur Semi-terstruktur, tidak terstruktur, open-ended questions.
Sifat analisis Numerikal, matematis, statistikal Reflektif, interpretif, praxis.
Alat bantu analisis Statistika Ketajaman analitik dan naluri peneliti.
Software bantu SPSS, AMOS, dll CDC EZ Text
Validitas Ukuran sampel, jumlah responden (memperkecil margin of error). Jumlah informan tidak penting, yang terpenting adalah kedalaman data, kualitas informan.
Sifat hasil Bebas nilai. Tidak bebas nilai; praxis.
Posisi peneliti Di luar O/S penelitian. Bersama O/S penelitian; bricoleur.
Kelemahan Gagal menjelaskan fenomena sebenarnya; responden bisa memberikan jawaban yang tidak sebenarnya. Rentan bias peneliti karena kedekatan peneliti dengan O/S penelitian.
Contoh penelitian Survei Etnografi, fenomenologi, cultural studies, studi kasus, hermeneutik, dll.

Sumber: dari berbagai referensi, diolah.

 

Kesimpulan

satu

20131124_093536Baik penelitian kuantitatif maupun kualitatif memiliki tujuan yang sama yaitu ingin menjelaskan dan memahami kehidupan sosial (realitas sosial); sama-sama melakukan pengumpulan data dan analisis data yang dilakukan secara sistematis. Keduanya berangkat dari penentuan dan perumusan masalah yang berada pada konteks sosial (pengalaman manusia, masyarakat), menggunakan kerangka teori dan mengoperasikan metodologi. Bedanya, ada pada data dan prosedur (tatacara) memperlakukan data tersebut (pengolahan, analisis data) yang meliputi penggunaan teori (peranan teori), asumsi atau hipotesis dan mengoperasikan metodogi, sehingga karakter dan kedalaman hasilnya berbeda. Hasil akhir sama-sama menjelaskan realitas sosial, namun rasa dan kedalaman penjelasannya berbeda.

dua

Metode penelitian kuantitatif berparadigma positivisme, bercorak empiris, behavioris, naturalis, positivistik, bertujuan menguji teori, berjarak dengan responden, menjelaskan realitas sosial secara makro, sebatas pada realitas yang tampak di permukaan, researcher’s point of view, melalui wawancara biasa (tidak mendalam) bahkan bisa dengan wawancara tidak langsung melalui pos atau internet.

tiga

Metode penelitian kualitatif berparadigma interpretif-kritis, bercorak praxis, bertujuan membangun teori, bersama dan dekat dengan informan/ narasumber, memahami realitas sosial secara mendalam hingga behind the fact, native’s point of view, thick description, melalui in-depth interview.

empat

Lowokwaru-20130306-00472Masing-masing memiliki keunggulan dan kelemahan. Metode kuantitatif unggul pada kemampuan menjelaskan realitas sosial secara makro, waktunya relatif cepat dan “lebih populer” secara pragmatis (misalnya: survei), tetapi lemah pada kemampuan menjelaskan realitas sosial yang sebenarnya karena realitas sosial yang tampak (inderawi) seringkali tidak  menunjukkan realitas yang sebenarnya, karenanya perlu didekati secara lebih mendalam dengan metode penelitian kualitatif untuk mendapatkan “kasunyatan” (realitas yang sebenarnya). Inilah keunggulan penelitian kualitatif. Ia mampu merambah relung-relung realitas sosial yang dalam yang tidak bisa disentuh dengan metode kuantitatif yang positivistik. Kelemahannya, secara teknis rentan bias peneliti, karena subjektivitas peneliti (interpretif) dan kedekatan dengan objek/ subjek penelitian.

 

Lowokwaru-20130306-00466Lebih mendalam tentang metode penelitian kualitatif akan saya sajikan, dengan beberapa “keunikan”-nya, misalnya tentang “subjektivitas”, subjektivitas dalam kualitatif sebenarnya “objektif” karena “subjektivitas” yang digali dari informan (subjek) adalah realitas sosial dalam point of view subjek. Kemudian tentang validitas, triangulasi, dsb. Perlukah validasi dan triangulasi dalam penelitian kualitatif? Bukankah yang ingin didalami adalah “makna” (meanings) ? Dan apapun yang disampaikan oleh informan memuat meanings tertentu, yang harus dimaknai oleh peneliti? Jadi bagaimana memvalidasi data dari informan?

 _________________

>>mau ngintip>>Cultural Studies ?

 

Belajar Dengan Hati n Pikiran Positif - FULL

Metode Penelitian Kualitatif

Metode Penelitian Kualitatif

Artikel sebelumnya:

Memahami Metode Penelitian Sosial

 

DSCF5409Metode penelitian kualitatif, berakar dari pendekatan kualitatif, yang berupaya menjelaskan fakta atau realitas sosial secara mendalam, memahami realitas sosial apa adanya berdasarkan struktur pengalaman subjek (native’s point of view)[1]. Ia menangkap makna (meanings) yang diketemukan pada peristiwa atau subjek yang diteliti, bersifat “belajar dari masyarakat” (learning from the people), tidak hanya “mempelajari masyarakat” (learning about the people)[2]. Aspek penting penggalian ‘makna dari struktur pengalaman subjek’ inilah yang mencirikan penelitian kualitatif dekat dengan subjek yang diteliti, mempelajari dalam konteks alaminya yang berupaya memahami atau menafsirkan fenomena dilihat dari sisi makna yang dilekatkan manusia (peneliti) kepadanya. Penelitian kualitatif mencakup penggunaan subjek yang dikaji dan kumpulan berbagai data empiris -studi kasus, pengalaman pribadi, introspeksi, perjalanan hidup, wawancara, teks-teks hasil pengamatan, historis, interaksional dan visual- yang menggambarkan saat-saat dan makna keseharian dan problematis  dalam kehidupan seseorang. Sejalan dengan itu peneliti kualitatif menerapkan aneka metode yang saling berkaitan[3]. Ia mengamati (observasi), terlibat dalam peristiwa bersama subjek (partisipatoris) untuk memberikan tafsir (interpretif) terhadapnya hingga menemukan meanings hingga proposisi. Karakter ini menjelaskan bahwa metode penelitian kualitatif ini berparadigma non-positivis. Ia bisa berparadigma post-positivis, interpretif-konstruktif maupun kritis. Sejalan dengan apa yang ditulis Norman K. Denzin dan Yvonna S. Lincoln dalam buku Handbook of  Qualitative Research, bahwa penelitian kualitatif tidak terikat dengan disiplin keilmuan tunggal manapun, juga tidak mempunyai seperangkat metode yang berbeda yang murni miliknya. Para peneliti memanfaatkan semiotika, analisis naratif, isi, wacana, arsip, dan fonemis, bahkan statistika; juga mendayagunakan pendekatan, metode, dan teknik etnometodologi, fenomenologi, hermeneutika, feminisme, rhizomatika, dekonstruksionisme, etnografi, wawancara, psikoanalisis, cultural studies, penelitian survei dan observasi partisipatif dll. Semua praktik penelitian ini “dapat memberikan wawasan dan pengetahuan yang berharga”.[4] Keluasan dan keluwesan penelitian kualitatif dalam menggali makna pengalaman masyarakat ini memberi penekanan pada proses, makna dan sifat realita yang terbangun secara sosial, hubungan erat antara peneliti dan subjek yang diteliti dan tekanan situasi yang membentuk penyelidikan. Maka, kedudukan teori dalam penelitian kualitatif tidak seketat pada penelitian kuantitatif yang menjadi bingkai yang memagari peneliti. Pada penelitian kualitatif, teori merupakan guidance (penuntun) awal untuk memandu peneliti, yang selanjutnya  peneliti menganalisis dan memahami realitas yang ditelitinya (interpretasi). Alur pikir yang digunakan adalah induktif (bukan deduktif seperti pada kuantitatif).

IMG_7106Karena tujuan penelitian kualitatif adalah mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang menyoroti cara munculnya pengalaman sosial sekaligus perolehan maknanya (hal yang sebaliknya pada penelitian kuantitatif yang menitikberatkan pada pengukuran dan analisis sebab-akibat antara bermacam-macam variabel, bukan prosesnya)[5]  maka keluasan dan kedalaman makna yang direngkuh oleh penelitian kualitatif ini membutuhkan kecakapan penelitinya untuk dapat berinteraksi dengan subjek dengan baik dan mampu menyerap makna dari subjek. Kemampuan ini digambarkan oleh Denzin sebagai seorang bricoleur” yakni seorang yang “serba bisa” atau seorang yang mandiri-profesional. Bricoleur ini menghasilkan “brikolase” yaitu serangkaian praktik yang disatupadukan dan disusun secara rapi sehingga menghasilkan solusi bagi persoalan dalam situasi nyata. Bricoleur memanfaatkan paradigma interpretif (feminisme, Marxisme, cultural studies, konstruktivisme) yang dapat difungsikan untuk memecahkan masalah, dan sekaligus memahami bahwa penelitian kualitatif itu merupakan proses interaksi yang dibentuk oleh perjalanan  hidup, biografi, gender, kelas sosial, ras dan kesukuannya sendiri sekaligus oleh hal-hal yang berada dalam konteks. Hasil kerja bricoleur berupa brikolase yakni sebuah ciptaan kompleks, padat, refleksif, dan mirip klipping yang mewakili citra, pemahaman, dan interpretasi peneliti mengenai dunia atau fenomena yang dianalisis.[6]

Karakter holistik-integratif penelitian kualitatif dalam pemahaman di atas dan kedalaman makna hingga menguak behind the fact, beyond the reality, (mengungkap ada apa sebenarnya di balik realitas yang tampak ini)[7] dalam penelitian kualitatif ini memberi penjelasan bahwa dalam metodologinya, penelitian kualitatif menghendaki adanya thick description untuk menelusuri dan membongkar realitas sosial yang didapatkan melalui in-depth interview (wawancara mendalam) dalam pengumpulan datanya (penelitian lapang)[8]. Wawancara mendalam dilakukan terhadap informan atau narasumber (bukan “responden” seperti dalam penelitian kuantitatif), yang mana informan atau narasumber ini adalah orang-orang yang memahami konteks masalah yang sedang diteliti. Mereka adalah pelaku peristiwa, orang yang sangat tahu, paham dan ahli serta dekat dalam bidang atau masalah yang sedang diteliti, sehingga yang penting dari informan atau narasumber ini adalah kualitasnya, bukan jumlahnya seperti dalam penelitian kuantitatif. Karenanya, bukan jumlah informan atau narasumber yang dipentingkan, tetapi kedalaman, intensitas dan kualitas data yang diperoleh / digali dari mereka-lah yang penting. Apa yang disebut sebagai “tingkat kepercayaan” dalam penelitian kuantitatif yang direpresentasikan dengan ukuran sampel (semakin besar ukuran sampel atau jumlah responden maka penelitian akan semakin bisa dipercaya atau memperkecil margin of error), dalam penelitian kualitatif adalah kedalaman dan kualitas data yang dapat digali inilah yang penting. Karenanya, pemilihan informan atau narasumber menjadi penting pula.

jsi1Jika kuantitatif memilih responden secara acak berdasarkan sampling technique dan sampling frame yang telah ditentukan sebelum terjun lapangan, maka penelitian kualitatif memilih informan atau narasumber tidak secara acak, tetapi dipilih berdasarkan kriteria kepahaman dan kedekatan akan suatu masalah yang sedang diteliti. Biasanya dilakukan dengan teknik snow-ball dengan terlebih dahulu menentukan seorang informan atau narasumber kunci (purposed) yang darinya menjalar kepada informan atau narasumber lain atas referensi informan atau narasumber sebelumnya. Demikian dilakukan terus hingga informan atau narasumber ke-x ketika data telah jenuh yakni ketika informan atau narasumber telah tidak lagi bisa memunculkan konstruksi yang berbeda dan baru. Instrumen penelitian, menggunakan “panduan wawancara kualitatif” yang tidak bersifat terstruktur (ketat) seperti dalam penelitian kuantitatif, tetapi lebih fleksibel, dengan tipe pertanyaan open-ended, yakni tiap pertanyaan akan berakhir dengan membuka jalan bagi pertanyaan berikutnya yang mengikuti alur semi-terstruktur maupun tidak terstruktur (peneliti bebas melakukan improvisasi di lapangan namun tetap dalam koridor desain penelitian). Ini bedanya dengan kuantitatif yang baku-kaku. Mengikuti alur ini, maka analisis data kualitatif bisa dilakukan sambil melakukan pengumpulan data, yang dilakukan setiap saat selama pengumpulan data, yang biasanya dicatat dalam jurnal harian atau logbook. Data-data dari informan kemudian dianalisis dengan teknik tertentu yang berpusat pada peneliti (interpretif-kritis) dan bisa juga menggunakan alat bantu software bernama CDC-EZ Text, semacam SPSS-nya kualitatif. Software ini membantu mempermudah peneliti kualitatif untuk memilah dan mengklasifikasi data dari jawaban-jawaban informan atau narasumber (catatan: analisis, interpetasi, tetap pada peneliti). Bedanya dengan kuantitatif, kuantitatif menganalisis data menunggu data lapang selesai terkumpul, baru bisa dilakukan tabulasi dan analisis, tetapi waktu analisis kuantitatif lebih cepat apalagi menggunakan alat bantu (SPSS, AMOS, dsb).

Pada penelitian kualitatif, waktu analisis data paling cepat selama pengumpulan data karena bisa dilakukan bersamaan (tentunya memerlukan waktu lagi untuk analisis lanjutan setelah pengumpulan data selesai). Hasil penelitian kualitatif bersifat memahami realitas sosial, menyentuh sisi praxis, bertujuan membangun teori, memunculkan pemahaman atau konsepsi atau teori baru atau memberikan kritik atas teori yang ada atau memperbarui teori.***

 


Referensi yang digunakan adalah dari Denzin, Norman K dan Yvonna S. Lincoln dan James P. Spradley.

Bacaan lain:

Penelitian Kuantitatif

Etnografi

Belajar Dengan Hati n Pikiran Positif - FULL

Metode Penelitian Kuantitatif

Metode Penelitian Kuantitatif

Artikel sebelumnya:

Memahami Metode Penelitian Sosial

 

jsi1Metode Penelitian Kuantitatif berakar dari pendekatan kuantitatif penelitian sosial yang dipengaruhi oleh paradigma positivisme yang mengiringi perkembangan ilmu sosial pada masa-masa awal, dengan pelopor August Comte dan hingga kini pun masih cukup berpengaruh. Keyakinan dasar aliran ini berakar pada paham ontologi realisme yang menyatakan bahwa realitas berada (exist) dalam kenyataan dan berjalan sesuai hukum alam (natural laws). Penelitian dalam paradigma ini berupaya mengungkap kebenaran realitas yang ada dan bagaimana realitas  tersebut senyatanya berjalan[1]. Paradigma positivisme mengadopsi logika dan tradisi ilmu alam dalam mengamati, menganalisis dan “memaknai” realitas sosial. Secara epistemologi, paradigma ini memandang pengalaman empiris sebagai sumber pengetahuan dan memandang pengetahuan memiliki kesamaan hubungan dengan aliran filsafat yang dikenal dengan nama positivisme atau dengan nama lain seperti empirisme, behaviorisme, naturalisme dan “sainsisme”.

Pandangan dan tradisi positivisme ini menyatakan bahwa ilmu (sains) adalah ilmu pengetahuan yang nyata, positivistik, yang kemudian melahirkan pendekatan-pendekatan kuantitatif dalam penelitian sosial dimana objek penelitian dilihat memiliki keberaturan yang naturalistik, empiris, dan behavioristik, karenanya objek ini harus dapat direduksi menjadi fakta yang tampak, dapat diamati, dapat dikonsepkan, dan dapat diukur  sebagai variabel-variabel yang muncul di masyarakat serta tidak terlalu mementingkan fakta sebagai makna namun mementingkan fenomena yang tampak, bebas nilai atau objektif dengan menentang habis-habisan sikap subjektif[2]. Tradisi inilah yang sangat membedakan dengan pendekatan kualitatif (baca:  Metode Penelitian Kualitatif).

JSI survwy walikota mlgKarakter “kealaman” (naturalistik) dan empiris menganggap bahwa perilaku sosial (fakta, realita) sebagai sesuatu yang memiliki ke-ajeg-an secara natural, perceived, sehingga pengukuran terhadap gejala atau fakta pun dapat direduksi dan direpresentasikan dalam angka-angka (kuantifikasi) sebagai variabel yang saling berpengaruh (hubungan sebab-akibat). Maka pengukuran yang dilakukan (penelitian) pun mengikuti karakter keajegan alamiahnya ini, yaitu menggunakan kerangka teoretik yang ketat sebagai “pagar penelitian” dan mengikat untuk menjelaskan fakta (hubungan antar variabel), menggunakan alur pikir deduktif untuk menguji teori, dan menggunakan prosedur penelitian yang ketat sehingga tampak atau berkarakter mekanis, berperspektif teknokratik, menggunakan alur penelitian yang linier[3]. Artinya, mengikuti prosedur baku dengan tatacara yang sudah fixed. Tidak ada kebaruan dalam proses dan juga hasil. Hasil penelitian kuantitatif berupa penjelasan realitas sosial secara makro, berada di permukaan (fenomena yang tampak). Ia tidak berkepentingan untuk mengetahui kenyataan yang sesungguhnya atau lebih dalam dari fenomena atau realitas sosial yang tampak itu, dan memang tidak bertujuan untuk itu. Hal yang berbeda dengan penelitian kualitatif yang berkepentingan dengan mengetahui “di balik realitas” secara mendalam, beralur penelitian non-linier, serta seringkali menggunakan pendekatan interpretif – kritis[4].

rilis-lapora-fisip-ub-hasil-quick-count-pemilukada-batu-2012Peneliti kuantitatif pun berjarak dan terpisah dengan objek/ subjek yang diteliti. Penelitian dilakukan “terhadap objek di luar sana”. Tidak ada interaksi intensif dengan objek/ subjek yang diteliti. Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif. Dengan demikian metodologinya adalah kuantitatif, menggunakan angka-angka dan dilakukan secara matematis dengan alat bantu statistik dan dapat juga mengunakan software semisal SPSS (Statistical Package for Social Sciences), AMOS (Analysis of Moment Structures), dsb untuk menganalisis data. Dalam metode ini peran statistika amat sentral. Ia tidak hanya sebagai alat bantu tetapi juga sebagai cara berpikir, perangkat analisis. Peneliti kuantitatif berpikir tentang variabel dan mengkonversinya pada tindakan spesifik analisis data[5]. Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data adalah kuesioner dengan daftar pertanyaan terstruktur, yang dilakukan terhadap sejumlah objek/ subjek penelitian yang disebut “responden”, yang dipilih secara acak[6] sesuai ukuran sampel (sample size)[7] dari sebuah populasi[8], dengan suatu wawancara yang bisa dilakukan secara singkat atau pengumpulan kuesioner tanpa wawancara-langsung (bisa melalui pos atau sarana internet). Mengikut karakter dan prosedur penelitian ini, maka tujuan penelitian kuantitatif ini adalah menjelaskan kehidupan sosial secara makro, bertujuan menguji teori, dan bersifat bebas nilai. Contoh penelitian kuantitatif adalah survey.

 

QC Batu 2012Kritik terhadap penelitian kuantitatif[9]

Fakta bahwa realitas sosial bersifat dinamis-cepat, menyimpan misteri yang seringkali berbeda dari yang tampak, sehingga melalui pengamatan di permukaan kurang dapat menjelaskan realitas yang sebenarnya, maka ada beberapa kritik terhadap metode penelitian  kuantitatif, yaitu:

  1. Gagal memberikan penjelasan yang rinci tentang orang-orang (people) dan institusi sosial dari “the world of nature” dalam pandangan Alfred Shultz.
  2. Proses pengukuran memiliki akurasi atau presisi buatan (artificial) yang palsu.
  3. Kepercayaan pada instrumen dan prosedur menghalangi hubungan antara penelitian dengan keseharian (everyday life). Hal ini terjadi karena berjaraknya peneliti dengan subjek/ objek yang diteliti sehingga “mempercayakan pada instrumen”. Responden kadangkala menjawab tidak berdasarkan keadaan yang sebenarnya.
  4. Analisis hubungan antara variabel memunculkan pandangan-statis tentang kehidupan sosial, mengabaikan proses interpretasi atau pemaknaan yang terjadi pada kelompok yang diteliti atau yang makna yang diproduksi oleh masyarakat.

 

Keempat kritik tersebut yang dihimpun oleh Alan Bryman ini mengisyaratkan dengan jelas kegagalan metode kuantitatif dalam menemukan “ihwal sebenarnya” atau makna yang diproduksi oleh struktur pengalaman subjek. Dengan kata lain, metode kuantitatif hanya mampu menangkap permukaan yang seringkali tidak menceritakan hal yang sebenarnya. Kelemahan-kelemahan ini –yang tidak dapat dicapai melalui metode kuantitatif- menemukan jawabannya pada metode kualitatif.***

 

 


Referensi yang digunakan adalah dari Alan Bryman, Burhan Bungin, W. Lawrence Newmann, dan Agus Salim.

 

Belajar Dengan Hati n Pikiran Positif - FULL

Memahami Metode Penelitian Sosial

Memahami Metode Penelitian Sosial

 

mendemsurveySuatu kegiatan penelitian pada hakikatnya adalah usaha untuk memenuhi hasrat keingintahuan manusia akan sesuatu hal, gejala-gejala alam maupun sosial, kemasyarakatan dsb yang memerlukan jawaban atau penjelasan. Dan jawaban itu merupakan suatu kebenaran ilmiah. Penelitian sosial, merupakan kegiatan untuk mencari jawaban atas pertanyaan yang muncul dari realitas sosial yang dihadapi atau menjelaskan atau memahami suatu realitas sosial. Untuk itu diperlukan serangkaian cara untuk menangkap gejala-gejala sosial menurut suatu sistem dan metode tertentu. Sistem dan metode untuk mengatur pengetahuan tentang gejala-gejala sosial tersebut disebut metodologi[1], atau dalam hal ini, metodologi penelitian sosial. Ada kata kunci ‘aktivitas’ dan ‘sistem’ yang merujuk pada pengertian “tata-cara” atau prosedur penelitian dalam rangka menemukan jawaban atas masalah. Secara lebih detil, definisi yang diberikan oleh LIPI sebagaimana dikutip oleh Koentjaraningrat tentang penelitian sosial memberikan gambaran lebih lengkap tentang metodologi:

Penelitian dalam ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan adalah segala aktivitas berdasarkan disiplin ilmiah untuk mengumpulkan, mengklaskan, menganalisa, dan menafsir fakta-fakta serta hubungan-hubungan antara fakta-fakta alam, masyarakat, kelakuan dan rohani manusia guna menemukan prinsip-prinsip pengetahuan dan metode-metode baru dalam usaha menanggapi   hal-hal tersebut.[2]

 

DSCF5409Dalam usaha tersebut, terkait dengan “aktivitas” dan “sistem”, terdapat serangkaian “laku” yang disebut “metodologi” yang harus dijalankan oleh seorang peneliti berdasarkan disiplin ilmiah yakni mengumpulkan, mengklaskan, menganalisa, menafsir fakta, hubungan antar fakta dsb, yang dimulai dari temuan “masalah” sampai menemukan suatu jawaban atau penjelasan atas masalah tersebut berupa prinsip-prinsip pengetahuan dan metode-metode baru (hasil atau output penelitian). Ketika mulai berkutat dengan masalah (memulai penelitian) seorang peneliti tentu memiliki gambaran tentang masalah tersebut beserta gambaran pemecahan masalahnya berdasarkan referensi keilmuan atau kerangka pemikiran yang dimiliki (disebut asumsi atau kerangka teori) dan untuk ini diperlukan asupan teoritik (teori sosial) yang memadai, dengan frame (bingkai) paradigma tertentu, untuk membantu peneliti dalam upayanya mendekati masalah dan “mencari jawaban” berdasarkan masalahnya tadi. Dari sini muncul beberapa pemikiran tentang karakter masalah yang ingin dijawab, untuk apa melakukan penelitian (tujuan penelitian) misalnya untuk menjelaskan ataukah mendeskripsikan ataukah mengeksplorasi, dan gejala atau fakta seperti apa yang dikumpulkan, diklaskan dan ditafsir atau dimaknai serta bagaimana menafsir atau memaknainya. Ini berkaitan dengan tujuan penelitian tadi, yang memunculkan kebutuhan pendekatan dan metodologi yang sesuai untuk dapatnya memperoleh penjelasan yang memadai tentang dunia sosial yang diteliti karena penelitian sosial sebagaimana disebut Lawrence Newmann, involves learning something new about social world.[3] Dan untuk memperoleh penjelasan atas social world, seorang peneliti mempergunakan seperangkat cara sistematis (systematic way), teori, ide, imajinasi dan kreativitas, serta mengorganisasi dan merencanakan secara cermat untuk menentukan teknik yang sesuai dalam mendekati masalah[4]. Terkait dengan usaha ini, penelitian sosial mengenal dua pendekatan untuk memroses gejala atau fakta dalam rangka menemukan jawaban atau penjelasan atas gejala atau fakta atau about social world ini, yaitu penelitian kuantitatif atau penelitian kualitatif.

 

jsi1Penelitian Kuantitatif dan Penelitian Kualitatif

Keduanya memiliki karakter dan tatacara serta corak penjelasan (hasil penelitian) yang berbeda walaupun memiliki tujuan yang bersamaan, yakni sama-sama ingin menjelaskan fenomena atau realitas sosial. Penelitian kuantitatif lebih tertarik pada isu-isu tentang desain, pengukuran, sampling, dengan pendekatan deduktif terkait dengan pengumpulan data dan analisis; sedangkan penelitian kualitatif lebih tertarik pada isu-isu kemendalaman atau kekayaan (richness), tekstur dan rasa (feeling) terkait data dengan pendekatan induktif yang menekankan pentingnya pengembangan wawasan, pengertian dan pengetahuan yang mendalam dan generalisasi atas data yang dikumpulkan[5]. Lebih mendalam tentang metode kuantitatif dan kualitatif ini, dengan ciri khas masing-masing, terdeskripsi di sini:

Metode Penelitian Kuantitatif

Metode Penelitian Kualitatif

Perbandingan Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif

 

 

 

Referensi

Koentjaraningrat. Metode-metode Penelitian Masyarakat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1997.

Newmann, Lawrence W. Social Research Methods: Qualitative and Quantitative Approaches, Fifth Edition. Boston: Pearson Education Inc., 2003.


Catatan:
Penulisan referensi (citation, sitasi) berupa daftar pustaka di atas adalah gaya Turabian (Turabian Style)