Tag Archives: hiper realitas

Fenomenologi Selayang Pandang

Fenomenologi Selayang Pandang

Pengantar

Apa yang ada dalam benak kita (bahasa facebook-nya: what’s on your mind 😀 ) ketika melihat gambar di samping ini?

Adakah yang (spontan) mengatakan “itu porno”? “kok gitu ya”, “aaah.. tidak komentar tapi pikirannya ngeres”? Mengapa kita berpikiran atau berkomentar demikian ketika melihat gambar ini? Gambar ini anggap saja sebuah realitas sosial. Ketika kita langsung berkomentar atau berpikir demikian, pastilah karena didahului oleh sebuah “referensi” atau konstruk atau praduga tentang sebuah realitas. Ekspresi-ekspresi dalam tanda kutip di atas adalah cerminan konstruk pikiran kita (yang dimiliki pikiran kita) dalam melihat realitas. Ini mempengaruhi analisis sosial kita dalam melihat dan memahami realitas. Jadinya, kurang “objektif” dalam melihat realitas. Karena itu tadi, terpengaruh konstruk pikiran kita bahwa gambar itu adalah “porno”, “ngeres” dsb. Padahal belum  tentu demikian dalam realitas yang sebenarnya. Gambar seperti ini dalam realitas sosial di desa di Bali ketika foto itu dibuat, ya tidak ada apa-apa, tidak porno dsb seperti pikiran kita tadi. Jika kita menyebut porno atau ngeres ya berarti pikiran kita (konstruk) yang memang mungkin ngeres dan “piktor”.. hehe…. :D. Jika kita terpengaruh konstruk “yang kita persiapkan” sebelum melihat realitas, sesungguhnya realitas yang dimaksud adalah “rekaan kita” sendiri, bukan realitas itu sendiri. Apakah tidak sebaiknya kita membiarkan realitas itu menampak dengan sendirinya tanpa konstruk kita? Supaya realitas itu memberitahu kita tentang dirinya. Inilah pemikiran dasar fenomenologi. Yaitu melihat atau memahami realitas sosial tanpa praduga, tanpa konstruk, agar realitas sosial itu menampak secara alami, dalam kenyataan yang sebenarnya. Kembali pada gambar. Apakah itu porno? Ngeres? Sebutan porno, ngeres adalah bukan realitas, tetapi konstruk. Itu bukan realitas yang sebenarnya. Padahal di realitas sosial desa tersebut hal itu bukan apa-apa. Sebutan-sebutan yang muncul tadi itu adalah sebuah kesimpulan yang tergesa-gesa dalam melihat realitas. Lantas, bagaimana agar kita bisa melihat realitas apa adanya tanpa konstruk? Dalam hal ini, Edmund Husserl mengajari kita untuk “menahan”, membiarkan realitas itu lewat dulu tanpa ada “kesimpulan” apa-apa dari kita supaya realitas itu menampak secara ‘genuine’ dan bisa ditangkap oleh pengamat atau analis sosial secara sebenarnya, realitas yang sebenarnya. Ini oleh Husserl disebut “epoche”.

Tulisan singkat ini mengantarkan pada pemahaman dasar fenomenologi, yakni suatu pendekatan untuk memahami fenomena atau realitas sosial secara natural dan “genuine”, apa adanya, tanpa prasangka, prakonsepsi ataupun konstruk terhadap fenomena tersebut, sehingga memunculkan kesadaran tentang sikap yang harus diambil secara tepat. Ia bicara tentang bentuk relasi fenomena dengan dunia-kehidupannya yakni bentuk cara-berada (way of being).

Kata kunci: fenomenologi, memahami fenomena tanpa konstruk, cara-berada fenomena.

ket dpkp inspeksiFenomenologi, sebagaimana dikenalkan oleh Edmund Husserl, merupakan gerakan pemikiran filsafat (cara berpikir) untuk memahami fenomena (penampakan)[1], yang kemudian, dari gerakan filsafat, fenomenologi dapat dimaknai sebagai sebuah teori dan juga metode. Hal ini dapat dirunut dari pernyataan Husserl, bahwa hal yang paling penting adalah  mengembangkan suatu metode yang akurat sehingga mampu mendorong para filsuf dan ilmuwan untuk mencapai “sesuatu itu sendiri” (things themselves)[2]. Dan, “sesuatu itu sendiri” itu tak lain adalah dasar-dasar pengertian tentang “fenomena”, yang dimulai dengan pemahaman terhadap “dunia kehidupan yang secara langsung kita alami” atau yang oleh Husserl disebut “lebenswelt”. Pemahaman terhadap lebenswelt ini diperoleh dengan metode “reduksi” dan memahami karakter dasar kesadaran yaitu “intensionalitas” dan “intersubjektivitas”[3]. Sebelum melanjutkan jabaran tentang fenomenologi Husserlian dengan karakter “trinitas”-nya (filsafat, ilmu, metode), perlu dideskripsikan tentang “fenomena”. Selanjutnya, bahasan fenomenologi dalam tulisan ini lebih mengemukakan fenomenologi sebagai teori dan metode.

Fenomena, berasal dari kata dalam bahasa Yunani, phainomenon (phainomai, menampakkan diri), sehingga fenomenologi adalah ilmu tentang apa yang menampakkan diri ke pengalaman subjek[4]. Fenomena, berarti segala sesuatu yang menyingkapkan-diri atau sesuatu yang memberikan-dirinya dalam ketersingkapannya yang khusus[5]. Maka, fenomenologi, adalah metode untuk menangkap fenomena, atau metode untuk melihat segala sesuatu yang memberikan-dirinya (self-given) menurut cara keterberiannya masing-masing yang khas dan singular/ perspectival (its manner of givenness).  Kuncinya, terletak pada: cara-bagaimana sesuatu itu memberikan-dirinya/ menyingkapkan-dirinya; atau dengan kata lain: cara-berada dari sesuatu [6]. Lantas, bagaimana “sesuatu” itu dapat memberikan-dirinya menurut cara keterberiannya masing-masing, atau secara “apa adanya”, sehingga “sesuatu” itu “mewujud” atau “meng-ada” (being) ? Supaya “sesuatu” (fenomena) itu dapat   memberikan-dirinya apa adanya tanpa ada prasangka, pra-konsepsi yang mencemari “wujud keasliannya”, maka fenomenologi Husserlian memberikan cara yakni menangguhkan atau “menempatkan di dalam kurung” segala konstruksi pengetahuan yang melekat dalam cara berpikir kita dan selalu kita andaikan tentang sesuatu itu, untuk kemudian dari titik tanpa pengandaian (presuppositionless) itu kita dapat melihat sesuatu itu sebagai sesuatu itu sendiri, bukan konstruksi pengetahuan kita tentang sesuatu itu. Metode ini oleh Husserl disebut “epoche”[7]. Di sini, fenomenologi hendak memprovokasi kesadaran kita dengan memalingkan pengamatan dari dunia-keseharian yang artifisial, kembali kepada dunia-kehidupan yang mendasar, fundamental dan transendental[8].

IMG_7106Prinsip fenomenologi Husserl adalah pada kemampuan manusia untuk memaknai hidupnya dengan bersikap tepat di hadapan realitas[9]. Dan, realitas itu bersifat transenden, artinya melampaui daya jangkau persepsi dan pemahaman manusia, atau bersifat tidak terbatas. Sifat transenden realitas ini membuat dunia-kehidupan (lebenswelt) selalu memberikan kemungkinan pemaknaan yang tidak terbatas[10]. Inter-relasi sosial dalam fenomenologi dimaknai sebagai perjumpaan antar subjektivitas yang masing-masing aktor membawa subjektivitasnya masing-masing atau kesadarannya masing-masing, dalam intensional yang sama. Bentuk cara-berada (meng-ada) atau relasi intensional di antara subjek yang sama sekaligus berbeda, relasi timbal balik yang melaluinya tidak lagi terdapat perbedaan antara subjek-objek, yang oleh Husserl dinamakan “intersubjektivitas”. Relasi intersubjektivitas ini merupakan dasar pemahaman terhadap dunia. Ia mengkonstitusikan pemahaman kita dalam horizon pra-refleksivitas yang tidak terbatas[11]. Intersubjektivitas yang terjadi dalam temporalitas tertentu ini memicu kesadaran dan melampaui kesadaran diri sendiri secara intensif yang tidak memiliki cukup akses sehingga memunculkan “kesadaran lain”, dan orang lain (The Others) dan “subjektivitas yang asing” yang kemudian mewujud menjadi “sumber dari segala jenis realitas transenden lainnya”. Hal ini mentransformasi seluruh kategori pemahaman dan pengalaman kita akan realitas. Intersubjektivitas ini melahirkan penegasan diri, yang oleh Husserl disebut “ego-transendental”, yang merupakan momen refleksi diri personal. Inilah rasionalitas kesadaran. Ia sebenarnya tidak benar-benar rasional objektif, tetapi mengandaikan berbagai hal yang tidak disadari[12]. Kekuatan kesadaran manusia terletak pada daya kapasitas / daya aktif-agresif yang dimilikinya[13].

Kesadaran inilah yang menjadi proyek besar fenomenologi. Kesadaran muncul dari relasi intensional yang memberi makna pada “lebenswelt” (life-world) tempat manusia hidup dengan segala pengalaman hidup dan perasaannya, merupakan momen-afeksi atau kepedulian yang memperlihatkan keterlibatan atau cara-berada (meng-ada) kita yang mendasar dengan realitas atau yang dalam bahasa fenomenologi disebut sebagai “ada-di-dalam-dunia” (being-in-the-world). Momen-afeksi atau kepedulian atau kesadaran ini adalah penghayatan hidup (vivacity), yakni menghayati bahwa sesuatu itu dipahami sebagai sesuatu itu sendiri; atau membiarkan peristiwa itu bercerita kepada kita apa adanya dan memberikan kesadaran kepada kita tentangnya hingga mencapai “ego-transendental” dan bahkan “kesadaran yang lain”. Inilah sebabnya  analisis fenomenologi selalu mengambil posisi atau “perspektif orang pertama” (first person perspective)[14], karena seluruh pengalaman dan pemahaman akan realitas dimungkinkan dari diri sendiri dan refleksi diri.

20130519_215208-2Momen-afeksi dan penegasan diri yang muncul dalam “first person perspective” ini bagi fenomenologi menjadi awal dari seluruh aktivitas budaya dan kebudayaan. Dengan menegaskan-diri manusia menjadi dirinya sendiri, dan dengan menjadi dirinya sendiri manusia “merawat jiwanya”, merawat dunianya, sesamanya (otentisitas)[15]. Rumusan “merawat jiwa” ini mendapat tempat tersendiri dalam kajian fenomenologi Patocka, seorang penganut fenomenologi Husserlian, yang menganggap problem “penyingkapan-diri”  atau “pemberian-diri” sebagai sesuatu yang bermakna (showing in itself). Bagi Patocka, penegasan-diri, penyingkapan-diri selalu memuat dimensinya yang mendua/ ganda (double meanings), yang mana kemenduaan atau kegandaan cara-berada manusia ini karena digerakkan oleh suatu gerak di dalam dirinya. Gerak yang menggerakkan itu (auto-kineton) tidak lain adalah jiwa (soul). Bagi Patocka kekhasan jiwa telah menetapkan dasar bagi seluruh peradaban manusia berikutnya[16]. Gerak mendua jiwa ini dalam pembacaan Patocka berasal dari sifat alamiah jiwa itu sendiri, dan dalam jawaban untuk bertanggungjawab atas jiwanya, atas sesamanya dan atas dunianya, dan dalam jawaban itulah terletak inti kebebasan manusia[17]. Politik (polis), dalam pembacaan Patocka, adalah sebuah wilayah yang di dalamnya jiwa manusia memberikan-diri melalui berbagai caranya yang beragam (self-given in its varieties of manner of givenness).***

 

Apa komentar Anda dengan menggunakan perspektif fenomenologi?

[youtube]https://youtu.be/le1RT6-mqXE[/youtube]


Bacaan lain:

Metode dan Teori Dalam Cultural Studies

Metode dan Teori Dalam Cultural Studies

Metode Dalam Cultural Studies

Pendekatan dan paradigma yang digunakan cultural studies, menurut Barker adalah: etnografi (kulturalis dan mendasarkan pada pengalaman nyata), tekstual (semiotika, pascastrukturalis, dekonstruksi Derridean), dan studi resepsi (reception study, eklektis)[1]. Sedangkan metode, secara keseluruhan, cultural studies memilih metode kualitatif, dengan fokus pada makna budaya[2]. Mengikut karakter kualitatif yang beroperasi di ranah penemuan meanings (makna, yakni makna budaya) dari struktur pengalaman subjek, dan sejalan dengan pemikiran post-modernisme, maka karya-karya dan penelitian cultural studies menggunakan metode berpikir dinamis, kontekstual, plural dan lokal dan menghindari model berpikir linear, dualis dan statis[3]. Metode berpikir ini merupakan dasar pijakan bagi karya cultural studies untuk menentukan metode (juga teori) yang sesuai. Beberapa metode yang sesuai bagi cultural studies, menurut catatan Akhyar Yusuf Lubis[4], diantaranya adalah:

satu

Hermeneutika, dengan berbagai variannya, seperti semiotika.

dua

Multiperspektif, dengan memasukkan politik, budaya dan kekuasaan. Metode yang diajukan oleh McGuigan ini meneliti hubungan antara ekonomi politik, representasi, teks, dan audiens bersama dalam keterlibatannya dengan kebijakan budaya. Metode ini disebut juga “pluralitas perspektif”, digunakan dalam penelitian-penelitian yang bersifat lokal, dengan hasil berupa narasi-narasi kecil (little naration). Di sini, kebenaran dianggap sebagai produksi dalam permainan bahasa, yang didasarkan pada aspek lokalitas.

tiga

Fenomenologi. Adalah metode untuk menangkap fenomena, atau metode untuk melihat segala sesuatu yang memberikan-dirinya (self-given) menurut cara keterberiannya masing-masing yang khas dan singular/ perspectival (its manner of givenness).  Kuncinya, terletak pada: cara-bagaimana sesuatu itu memberikan-dirinya/ menyingkapkan-dirinya; atau dengan kata lain: cara-berada dari sesuatu [5]. Lebih lanjut tentang fenomenologi.

empat

Etnografi. Menurut James P. Spradley, metode ini menjelaskan fakta atau realitas sosial secara mendalam, memahami realitas sosial apa adanya berdasarkan struktur pengalaman subjek (native’s point of view)[6]. Ia menangkap makna (meanings) yang diketemukan pada peristiwa atau subjek yang diteliti, bersifat “belajar dari masyarakat” (learning from the people), tidak hanya “mempelajari masyarakat” (learning about the people)[7].

lima

Dekonstruksi. Metode ini merupakan “perlucutan” yang dilakukan oleh Derrida atas oposisi biner dalam filsafat Barat, untuk menampakkan titik kosong teks dan asumsi yang tidak dikenal[8]. Untuk ini Derrida menciptakan metode “pembacaan-mendalam” atas teks yang mirip psikoanalisis, menggunakan prosedur memeriksa unsur-unsur kecil dalam momen yang tidak dapat dipastikan atau dipersepsi[9].

dan, enam, penelitian partisipatoris.

wklompshootMenurut saya, metode dalam karya-karya cultural studies tidaklah sebatas keenam metode yang diunjukkan Akhyar Yusuf Lubis tersebut, tetapi bisa lebih banyak lagi, namun tetap berada dalam koridor metode kualitatif dan berdasar pada epistemologi post-positivisme (teori kritis, post-strukturalisme, post-modernisme). Satu karya cultural studies patut diperhitungkan adalah kritik kebudayaan psikoanalisis, sebagaimana diungkap oleh Mark Bracher[12]. Dalam bukunya, ia menyinggung tentang kritik kebudayaan psikoanalisis yang bersumber dari pemikiran Jacques Lacan. Bracher menukil Richard Johnson yang menyatakan bahwa pertanyaan kunci yang terus menerus diajukan cultural studies adalah terkait pengaruh artefak budaya dan diskursus kebudayaan. Diskursus kebudayaan ini terkait pada popularitas, kenikmatan (pleasure), nilai guna (use value) [10] , dan membutuhkan pembacaan, pencerapan artefak kebudayaan dan pengaruhnya pada budaya yang menjadi tempat seseorang berada, tetapi ini sering ditinggalkan. Menurut amatan Richard Johnson, hal ini karena tiadanya teori subjektivitas post-strukturalis yang memadai. Karenanya, kebutuhan mendesak dalam cultural studies adalah adanya sebuah teori subjektivitas yang bisa menjelaskan bagaimana artefak kebudayaan bisa memengaruhi manusia. Maka, jawabannya adalah: teori subjektivitas dari psikoanalisis Lacan[11]; dan ini sedang saya jadikan disertasi saya dengan harapan bisa memberikan kontribusi pada khazanah teori ini. Mohon doanya ya…. 😀

20130723_225035Arus pemikiran post-modernisme dan postrukturalisme dari cultural studies yang memunculkan metode sebagaimana deskripsi di atas, sejalan dengan pemikiran Paula Saukko yang mendeskripsikan metode cultural studies, sebagai kombinasi metode yang bercirikan tema-tema lived experience (pengalaman yang hidup), discourse (wacana), text (teks) dan social context (konteks sosial). Bagi Saukko, hal penting dalam cultural studies adalah:

Pertama,  memahami bahwa metode dalam cultural studies tersusun atas wacana, pengalaman hidup, teks, dan konteks sosial dengan menggunakan analisis yang luas.

Kedua, pemahaman tentang kriteria tentang valid / good research.

ket dpkp inspeksiKetiga, tentang kebenaran dan validitas (triangulasi)[13]. Menurut Saukko, valid/ good research adalah truthfulness (berada pada sisi subjek yang diteliti), self-reflexivity (refleksif tentang personal, sosial, dan wacana paradigmatik yang menuntun pada realitas), dan polivocality (peneliti menyadari bahwa ia sedang tidak meneliti sebuah realitas tetapi banyak realitas)[14]. Saukko mengetengahkan “combining methodologies”, dengan mengambarkan perpotongan antara ordinat paradigm, ontologi, epistemologi, metafora, tujuan penelitian dan politik yang disandingkan dengan model triangulasi, prism, material semiotic dan dialogue. Self-reflexivity ditempatkan pada jalur seperti yang digunakan teori sosial kritis yang dilandaskan pada kritik ideologi dan peran atas basis kesadaran yang merepresentasikan ruang dialog dan wacana saling bertemu, mempengaruhi, mengaitkan berbagai kepentingan, pola kekuasaan serta konteks sosial dan sejarahnya. Polivocality berkenaan dengan berbagai pandangan yang berbeda dengan cakupan teori-teori yang saling mengisi dan dengan mudah dapat didukung satu sama lain, meskipun membutuhkan ketelitian dalam mengkombinasikan pandangan-pandangan lain agar memberikan kesesuaian bagi karakter akademik cultural studies. Paradigma yang digunakan mengambil model triangulasi yang berupaya mengkombinasikan berbagai macam bahan atau metode-metode untuk melihat apakah saling menguatkan satu sama lain. Maka, cultural studies sangat berpotensi memberikan peluang bagi suatu kajian yang baru dan menarik minat pembelajarnya. Validitas (keabsahan) penelitian dalam cultural studies yang menuju ‘kebenaran’ (truth) maka yang dipakai adalah triangulation[15].

Teori

wk@topobrotoBarker menjelaskan teori dalam cultural studies, yaitu narasi yang berusaha membedakan dan menjelaskan ciri-ciri umum yang menjabarkan, mendefinisikan dan menjelaskan terus-menerus kejadian yang dipersepsikan.  Tetapi teori tidak menggambarkan dunia secara akurat, namun ia adalah alat, instrumen, atau “logika untuk mengintervensi dunia” melalui mekanisme deskripsi, definisi, prediksi, dan kontrol. Dalam cultural studies, teori menempati posisi tinggi, yakni sebagai penunjuk jalan atau peta budaya yang memandu[16]. Teori memandu peneliti cultural studies untuk menceburkan diri ke dalam alam realita untuk dilakukan pembacaan-mendalam, dan bertujuan merumuskan teori dan tindakan (praksis) yang bersifat emansipatoris.

Dan menilik karakternya sebagaimana telah dideskripsikan di atas, maka cultural studies menggunakan berbagai teori dan konsep untuk menjelaskan dan memahami berbagai realitas sosial kontemporer. Beberapa teori yang dapat digunakan dalam cultural studies sebagaimana dikumpulkan oleh Akhyar Yusuf Lubis dalam buku “Dekonstruksi Epistemologi Modern”[17], diantaranya, adalah:

Semiotika (Roland Barthes)

Teori ini memahami aspek budaya melalui semiotika, dengan melihat budaya sebagai tanda. Teori ini digunakan dalam penelitian yang bersifat lokal, etnis dan subkulktur[18].

Habitus (Pierre Bourdieu)

Habitus adalah struktur mental atau kognitif, yang digunakan aktor untuk menghadapi kehidupan sosial budaya. Atau, dalam pengertian Ritzer, yang dikutip Lubis, habitus adalah konstruksi dunia sosial, struktur sosial yang diinternalisasikan dan diwujudkan. Ia mencerminkan posisi sosial, kebiasaan yang terdapat  pada kelas atau kelompok sosial[19].

Teori Industri Budaya (Walter Benyamin)

Teori ini memandang industri budaya sebagai produksi mekanis budaya yang disebarluaskan melalui media cetak dan elektronik[20].

Teori Hegemoni (Antonio Gramsci)

Teori ini berfokus pada kajian tentang negosiasi penguasa dengan kelompok budaya tandingan menuju landasan budaya dan ideologi yang bisa membuatnya mendapatkan posisi kepemimpinan. Hegemoni adalah upaya bagaimana kelompok penguasa dapat mensubordinasi dan tetap dapat mempertahankan status quo[21].

Teori Pendidikan Kritis (Paulo Freire)

Teori ini, yang merupakan cultural studies di bidang pendidikan, mengritik model pendidikan yang disebutnya sebagai bergaya bank. Teori ini berpengaruh besar pada dunia pendidikan[22].

Sementara itu, beberapa pendapat lain seperti John Storey dan Mark Bracher mengemukakan masing-masing teori kultural (Cultural Theory) yang dirumuskan oleh Raymond William[23], dan Teori Subjektivitas Psikoanalisis, yang diperkenalkan oleh Jacques Lacan[24], beserta variannya, Neo Lacanian, yang dikembangkan oleh Slavoj Zizek[25] dan Yannis Stavrakakis[26].

Patut dicatat, bahwa teori dalam cultural studies, adalah teori digunakan untuk memandu awal peneliti untuk kemudian digunakan untuk merumuskan teori (baru) sehingga memunculkan banyak teori baru yang selaras dengan keluasan bidang telaah cultural studies.

Konsep

Representasi

Unsur utama cultural studies, menurut Barker, adalah praktik pemaknaan atas representasi, yaitu bagaimana dunia ini dikonstruksi dan direpresentasikan secara sosial. Untuk ini diperlukan eksplorasi pembentukan makna tekstual. Representasi dan makna budaya memiliki materialitas tertentu, yang melekat pada bunyi, prasasti, objek, citra, buku, majalah, dan program televisi. Mereka diproduksi, ditampilkan, digunakan dan dipahami dalam konteks sosial tertentu[27].

IMG-20161119-WA0010Identitas

Dalam cultural studies, identitas adalah konstruksi budaya, yakni konstruksi tentang bagaimana seseorang itu menjadi orang, bagaimana kita diproduksi sebagai subjek dan bagaimana kita menyamakan diri kita (atau secara emosional) dengan  gambaran sebagai laki-laki, perempuan, hitam, putih, tua, muda, dsb. Wacana yang membentuk bahan-bahan untuk formasi identitas tersebut bersifat kultural. Secara khusus, subjek dikonstitusikan sebagai individu dalam sebuah proses sosial yang secara umum dipahami sebagai akulturasi yang tanpa itu, kita tidak dapat menjadi seseorang. Konsep identitas sebagai konstruksi diskursif budaya yang spesifik didasari oleh sikap anti-representasional dalam memahami bahasa, dimana wacana mendefinisikan, mengonstruk dan memproduksi objek pengetahuan[28].

 

Kesimpulan

satu

Cultural studies, atau  disebut mazhab Birmingham (tokoh: Richard Hoggart dan Stuart Hall), adalah sebuah pemikiran perlawanan terhadap gagasan universalitas dan narasi besar seperti ditawarkan teori modernisasi dan terhadap budaya massa atau budaya pop (popular culture), dengan studi budaya sebagai instrumen untuk melakukan perubahan.

dua

Cultural studies hadir untuk  memahami realita budaya sekaligus mengubah struktur dominasi dan struktur masyarakat yang menindas dan bertujuan untuk merumuskan teori-teori sekaligus tindak praksis yang bersifat emansipatoris.

tiga

Cultural studies memusatkan perhatian pada masalah isu-isu kekuasaan, politik, ideologi, serta kebutuhan akan perubahan sosial.

empat

Ruang lingkup cultural studies meliputi kebudayaan, budaya massa (popular), ideologi, makna dan pengetahuan, linguistik, diskursus, post-modernisme, feminisme, politik, politik identitas, politik budaya, globalisasi, media, dan subkultur. Ia meneliti atau mengkaji berbagai kebudayaan dan praktik budaya serta kaitannya dengan kekuasaan dan produksi pengetahuan dalam arena dan konteks kebudayaan yang luas.

lima

Metode cultural studies secara keseluruhan adalah kualitatif, dengan pendekatan etnografi, tekstual dan berfokus pada makna budaya. Prinsipnya, ia menggunakan metode berpikir dinamis, kontekstual, plural dan lokal dan menghindari model berpikir linear, dualis dan statis.

enam

Teori cultural studies menempati posisi tinggi, yakni sebagai penunjuk jalan atau peta budaya yang memandu peneliti cultural studies untuk menceburkan diri ke dalam alam realita untuk dilakukan pembacaan-mendalam, dan bertujuan merumuskan teori baru dan tindakan (praksis) yang bersifat emansipatoris.***

 

 

Referensi yang digunakan dari Chris Barker, Chris Barker dan Dariusz Galasinski, Mark Bracher, Simon During, Stuart Hall, Akhyar Yusuf Lubis, Tony Myers, Slavoj Zizek, Paula Saukko, James Spradley, Yannis Stavrakakis, dan John Storey.

_____________

Related readings:

Fenomenologi

 

TIPS MEMAHAMI ISI BUKU TEKS DENGAN EFEKTIF DAN LEBIH MUDAH!