Tag Archives: budaya dan kearifan lokal

Adat Perempuan Lamar Laki-Laki di Lamongan

ADAT LAMARAN DI KABUPATEN LAMONGAN

Masyarakat Lamongan adalah masyarakat yang terkenal ulet.  Mereka tersebar di banyak tempat di seluruh nusantara dalam mencari sumber penghidupan perekonomian di berbagai sector,khususnya informal. Yakni berdagang makanan khas seperti soto lamongan, tahu campur, lele penyet, dsb.  Banyak pula  kekhasan masyarakat lamongan dalam hal budaya,  misalnya lamaran. Yang umum diketahui orang adalah bahwa pihak perempuanlah yang melamar pihak laki-laki. Ada hal-hal filosofis lain yang mendasari pilihan tersebut disamping bahwa pihak perempuan melamar pihak laki-laki adalah sebuah alternative pilihan. Namun saat ini lamaran cara adat di Lamongan pudar tergerus zaman.

A.      DATA GEOGRAFIS, KLIMATOLOGIS, DAN KARAKTERISTIK WILAYAH DAN PENDUDUK

Letak geografis Kabupaten Lamongan berada antara 6 51`54” dan 7 23’ 6’’ lintang selatan dan antara 112 4’44’’ dan 112 33’12’’ garis bujur timur.[1]

Luas wilayah Kabupaten lamongan 1.812,8 km2 atau 181.280.300Ha, atau sama dengan 3,78% luas wilayah propinsi Jawa Timur. Sebagian wilayah terdiri atas dataran rendah dan bonorowo serta sebagian lagi dataran tinggi sekitar 100 m dari permukaan laut. Struktur tanah sebagian besar terdiri dari jenis alufial, grumosal, dan meditean coklat.

Batas-batas wilayah kabupaten lamongan antara lain:

  • Sebelah utara     : laut jawa
  • Sebelah timur     : Kabupaten Gresik
  • Sebelah barat     : Kabupaten Bojonegoro dan Tuban
  • Sebelah selatan   : Kabupaten Mojokerto dan Jombang

Secara topografi, wilayah kabupaten lamongan cenderung cekung di tengah dan tinggi di bagian utara dan selatan. Wilayah kabupaten lamongan  yang kemiringan tanahnya lebih dari 15 derajat sekitar 6%. Sedangkan selebihnya adaah dataran dengan tingkat kemiringan kurang dari 15 derajat. Dengan kata lain, sekitar 70% luas wilayah mempunyai tingkat kemiringan 0-2 derajat dan cenderung landai.

Bila dilihat dari kondisi klimatologis, Kabupaten Lamongan terletak di bawah equator dan mempunyai iklim tropis yang terbagi dalam dua musim. Musim hujan mulai Oktober sampai dengan April dan musim kemarau April sampai Oktober. Diantara dua musim tersebut terdapat musim peralihan atau pancaroba yakni April/Mei dan Oktober/ Nopember.

Curah hujan di Kabupten Lamongan rata-rata lebih kurang 1.400 mm/tahun, sehingga Lamongan termasuk daerah yang bercurah hujan rendah.

Secara karakteristik, wilayah kabupaten lamongan di bedakan dalam tiga bagian:

  • Bagian tengah selatan merupakan daerah dataran rendah yang relative agak subur.  Bagian ini membentang dari kecamatan Kedungpring, Babat, Sugio, Sukodadi, Pucuk, Lamongan,Tikung, Deket, Sarirejo, dan Kembangbahu
  • Bagian selatan dan Utara merupakan pegunungan kapur berbatu dengan tingkat kesuburan tanah sedang. Bagian ini mulai dari Kecamatan Bluluk, Mantup, Sambeng, Ngimbang, Sukorame, Modo, Brondong, Paciran, dan Solokuro.
  • Bagian tengah utara merupakan wilayah bonorowo yang termasuk daerah rawan banjir. Bagian ini membentang mulai Kecamatan Sekaran, Maduran, Laren, Karanggeneng, Kaitengah, Turi, Karangbinangun, dan Glagah.

 

Jumlah penduduk Kabupaten Lamongan tahun 2004 adalah 1.244.812 jiwa dengan kepadatan rata-rata 676jiwa/km2 serta sebagian besar yakni 99,63% beragama islam. Sebagian besar bersuku jawa yang pada umumnya tinggal di pedesaan dengan mata pencaharian sebagai petani dan buruh tani. Karena dulunya tantangan alam cukup berat, disisi lain lokasinya dekat dengan Surabaya, medorong terbentuknya lapisan masyarakat pedagang yang ulet, baik sebagai pedagang bakulan, makanan, industri kecil dan kerajinan maupun jasa masyarakat.[2]

Orang lamongan mempunyai semangat gotong royong dan etos kerja yang tinggi, bersifat terbuka, serta rela berkorban demi kepentingan orang banyak serta mempunyai toleransi tinggi  selalu memelihara kerukunan dalam suasana ketentraman dan kedamaian[3].

Secara administrative pemerintahan, Kabupaten  Lamongan terdiri dari 27 kecamatan, 12 kelurahan, dan 462 Desa.

 

B.      ADAT LAMARAN KHAS LAMONGAN

Dalam berbagai literatur tata cara lamaran bisa dikategorikan sebagai kebudayaan. Kebudayaan memiliki tiga wujud sebagai gejalanya yakni:

  1. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, dan peraturan, dan sebagainya.
  2. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktifitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat.
  3. Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.[4]

Ide-ide, gagasan-gasan, memberi jiwa dalam masyarakat serta tidak berdiri sendiri meainkan saling terkait satu sama lainnya.  Para ahli sosiologi dan antropologi menyebutnya sebagai system budaya atau cultural system. Dalam bahasa Indonesia terdapat padanan kata yang sesuai untuk meyebut wujud ideal dari kebudayaan tersebut yaitu adat atau dalam bahasa jamaknya adat istiadat[5].

Lamaran, khususnya di Kabupaten Lamongan, sebagai sebuah adat tentunya memiliki gagasan atau ide normatif yang terkandung dalam pola tindakan serta tata caranya disamping memiliki benda-benda (berwujud makanan atau gawan) spesifik yang menjadi simbol-simbol dari gagasan normatif tersebut.

Yang terkenal dan khas dari adat lamaran di Kabupaten Lamongan adalah perempuan yang melamar laki-laki. Pelamaran ini, melambangkan keinginan keluarga perempuan membawa pria yang dilamar tersebut untuk mengikuti si perempuan. Dan setelah menikah kelak ia harus mengikuti pihak perempuan dalam menentukan tempat tinggal serta lainnya[6]. Dan ia telah menjadi ‘milik’ pihak (keluarga) perempuan.

Secara lengkapnya, adat lamaran tersebut adalah sebagai berikut:

 

1.      Menentukan Calon Suami/Istri

Dalam menentukan calon suami/ istri, pihak keluarga sebagaimana umumnya masyarakat Jawa mempertimbangkan bibit, bobot, bebet. Namun yang harus diutamakan adalah kualitas agama. Indikator umum yang dipakai masyarakat Lamongan yang terkenal agamis adalah apakah calon yang bersangkutan pernah menimba ilmu agama di pesantren. Baik mukim (tinggal di pesantren), maupun kampung-an[7]. Ini berlaku pada perjodohan yang tidak saling kenal, sedangkan jika saling kenal pertimbangannya akan lebih jelas karena tahu bagaimana kaifiyah sehari-hari[8]. Apalagi di masa kini, perilaku pacaran menjadi hal lumrah pasangan muda-mudi pra perkawinan. Namun perubahan zaman yang mengakomodir keterbukaan kemungkinan muda-mudi menentukan sendiri pasangan perkawinannya punya andil besar dalam perubahan adat lamaran di Kabupaten Lamongan.

Keluarga yang akan menikahkan anaknya, baik perempuan maupun laki-laki tidak ada hambatan dan batasan dalam memulai memilih calon yang hendak dilamar. Boleh saja pihak laki-laki melamar dahulu atau pihak perempuan yang melamar dahulu. Pada prinsipnya tidak ada tabu dalam hal ini.  Argumentasinya adalah bahwa nabi Muhammad SAW dilamar oleh Siti Khodijah (istri pertama nabi) melalui pamannya.  Argumentasi kedua adalah keluarga perempuan harus memastikan suami untuk anaknya adalah pria yang tepat. Sebab selain masih umumnya pandangan perempuan adalah kanca wingking sehingga laki-laki dianggap memimpin perempuan dalam rumah tangga, perempuan oleh keluarga, khususnya orang tua, dianggap sebagai harta yang ternilai. Hal ini dikarenakan keyaninan setempat bahwa ketika orang tua sudah renta dan butuh diurus segala keperluannya maka yang diharapkan bisa diandalkan adalah anak perempuan sebab anak laki-laki akan bekerja di luar rumah dan menantu perempuan tidak terlalu diharapkan.

Selain itu, yang datang duluan untuk njaluk adalah pihak yang punya kewenangan lebih untuk membawa yang dilamar masuk atau bertempat tinggal sesuai kehendak keluarga yang njaluk. Karenanya banyak pihak perempuan yang datang ke keluarga laki-laki mendahului pihak laki-laki datang ke pihak perempuan dengan harapan akan membawa laki-laki yang di lamar tersebut bertempat tinggal di rumah orang tua perempuan atau berdomisili dekat dengan orang tua perempuan.

 

2.      Tahap Pertama Lamaran: Njaluk

          Tahap awal ini biasa disebut njaluk yang dalam bahasa Indonesia berarti meminta. Meminta ini dimaksudkan sebagai meminta persetujuan untuk menjadikan anak keluarga yang didatangi sebagai menantu. Pada tahap ini, keuarga yang datang njaluk membawa gawan atau oleh-oleh berupa gula dan kopi mentah (belum disangrai dan ditumbuk).  Ini di maksudkan sebagai memulai sesuatu atau diibaratkan mempersiapkan pagi hari dimana orang lamongan biasa minum kopi di pagi hari sebelum berangkat ke sawah atau tambak. Jika keluarga yang dijaluk atau diminta setuju maka keluarga tersebut akan membalas dengan kunjungan balik pada keluarga yang datang njaluk dengan membawa gawan yang tidak ditentukan sambil menentukan hari lamaran. Sebaliknya jika keluarga yang dijaluk atau diminta menolak maka harus ada kunjungan balik dari yang bersangkutan untuk menjelaskan penolakan tersebut dengan membawa gawan gula dan kopi mentah sebanyak yang di bawa pihak pe-njaluk atau keluarga yang melamar sebagai simbol pembatalan.

3.      Tahap Kedua : Lamaran

Tidak secara otomatis yang berkunjung pertama untuk njaluk adalah yang akan melamar. Biasanya pada tahap njaluk masing-masing keluarga sudah saling berisyarat tentang siapayang akan melamar. Namun biasanya keluarga perempuan berusaha sebagai pihak yang datang melamar terlebih dahulu dengan alasan-alasan sebagaimana diatas. Kadang dua keluarga berebut menjadi pihak yang melamar terlebih dahulu.

Dalam lamaran ini materi pokok pembicaraannya adalah bulan baik untuk dua keluarga dalam melangsungkan perkawinan serta waktu untuk bertemu kembali dengan pokok pembicaraan memilih hari yang tepat/hari baik. Pertimbangan bulan baik sesuai kepentingan masing-masing keluarga.

Adapun gawan yang wajib di bawa adalah tetel. Tetel adalah makanan yang terbuat dari beras ketan yang tanak seperti menanak nasi kemudian dicampur kelapa parut dan di tumbuk sampai halus dalam wadah khusus yang disebut lumpang. Hal ini mengandung maksud agar perkawinannya kelak seperti tetel yang lengket dan bercampur secara baik seperti  ketan dan kelapa yang tidak lagi berupa ketan dan kelapa serta berasa sangat gurih. Gawan lain yang lumrah dibawa adalah gula, kopi bubuk, dan pisang. Bisa juga ditambah yang lainnya. Kopi disini sudah dalam bentuk siap pakai menandakan hubungan perbesanan yang hendak dijalin dalam tahap yang hampir pasti jadi dilangsungkan.

4.      Tahap Ketiga Lamaran: Milih Dino

          Milih Dino atau memilih hari pernikahan mendapat waktu khusus sebab pada keluarga tertentu yang percaya pada perhitungan hari baik berdasarkan weton[9] calon pengantin. Dua keluarga biasanya membawa ahli perhitungan Jawa. Namun bagi yang tidak percaya pada hal tersebut, pertemuan ini hanya menjadi silaturrahim biasa dan memilih hari dengan perhitungan kepentingan biasa.  Biasanya pertemuan ini bertempat di keluarga yang dilamar. Sehingga ada  tiga kali kunjungan keluarga sebelum prosesi perkawinan yakni njaluk, lamaran, dan milih dino.

Gawan pada tahap ini adalah makanan lengkap yakni nasi, lauk, sayur, dan buah serta jajanan lainnya. Biasanya dalam jumlah banyak sebab akan di bagikan pada kerabat dekat dan tetangga pihak yang dilamar sebagai pengumuman implisit bahwa anak keluarga tersebut sudah terikat hubungan calon suami/istri. Secara implisit juga gawan yang dibagikan pada kerabat dan tetangga ini menunjukkan status sosial calon besan. Semakin kaya sang calon besan, maka semakin banyak dan beragam gawan-nya.

5.      Tahap Keempat:  Perkawinan

Sebagaimana umumnya pelaksanaan perkawinan. Biasanya mengundang kiai untuk memberi ceramah agama seputar perkawinan dan nasihat-nasihat agama dalam pola hubungan suami-istri. Adapun pelaksanaan dan prosesi tidak ada keharusan tertentu dan disesuaikan dengan kemampuan ekonomi keluarga yang bersangkutan.

         

C.      PERUBAHAN ADAT LAMARAN

Di banyak tempat, perempuan harus menunggu di lamar untuk dapat jodoh/ suami sehingga ada julukan perawan tua bagi perempuan berumur yang belum menikah. Ini tidak berlaku di Lamongan. Dalam konteks perjodohan laki-laki maupun perempuan boleh berinisiatif dalam mencari jodoh. Inilah perwujudan egalitarianisme masyarakat Lamongan disamping banyak nilai lain yang mendukung etos hidup masyarakat Lamongan yang ulet dan berani berpetualang dalam mencari penghidupan ekonomi.

Namun seiring perkembangan zaman, perilaku pacaran mengurangi proses tahapan diatas sehingga keluarga datang seringkali langsung menentukan hari pernikahan. Pihak keluarga yang datangpun tidak selalu berarti punya kewenanganan lebih untuk memboyong atau membawa calon menantu ke rumah yang melamar terlebih dahulu. Sebab seiring kesadaran calon mempelai dalam memutuskan pasangan hidup, seiring itu pula terjadi otonomi pasangan dalam merencanakan dan  menentukan masa depan perkawinan mereka.

Terlebih jika pasangan menikah dengan orang yang berasal dari luar Lamongan. Maka segala hal yang terkait adat di atas tidak diperlakukan secara ketat dan bisa saja diabaikan. Namun pada keluarga tertentu yang memegang teguh adat lamaran ala Lamongan ini ketika berbesan-an dengan keluarga dari luar Lamongan yang tidak paham adat istiadat Lamongan menjadi salah paham. Pada tingkatan ekstrim bisa terjadi pembatalan perkawinan karena masalah tidak saling pahamnya terhadap adat istiadat ini.

 

SUMBER RUJUKAN

 

Informan

Hj. Istirochah

Sesepuh desa Gedong Boyo Untung kecamatan Turi berusia menjelang 80 tahun.  Menikah pada usia 12 tahun dan melahirkan pertama pada usia 14 tahun. Dua anaknya yang pertama dan kedua meninggal dalam bersama pada wabah cacar di tahun 1950. setelah itu berturut turut dalam jarak 2 tahun melahirkan empat (4) orang anak dengan rincian tiga  (3) laki-laki dan satu (1) perempuan dari perkawinan pertama. Perkawinan kedua dikaruniai dua anak. Anak yang terakhir berusia 35 tahun. Ia adalah perintis dan pendiri Muslimat NU di tingkatan Kecamatan juga Kabupaten.

Suami pertama adalah Kiai bernama Kiai Haji Ismail yang cukup disegani pada zamannya dan penghormatan ini terus terbawa sampai anak cucunya.  Suami kedua adalah seorang tuan tanah yang menjabat kepala desa sampai akhir hayatnya. Saat ini hidup menjanda bersama anak ke lima dari perkawinan yang kedua.

 

Pustaka

  1. Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, Jakarta, Rineka Cipta, 2004.
  2. Aneka Data Potensi Kabupaten Lamongan, pemerintah kabupaten lamongan, 2004.
  3. Potensi Ekonomi dan Bisnis di Kabupaten Lamongan, pemerintah Kabupaten Lamongan, 2005.
  4. Chris Barker, Cultural Studies: Teori Dan Praktik, Yogyakarta, Kreasi Wacana, 2005.
  5. T.O Ihromi, Pokok-Pokok  Antropologi Budaya, Jakarta, Yayasan Obor, 1999.

___________


[1] Aneka Data Potensi Kabupaten Lamongan, diterbitkan pemerintah Kabupaten Lamongan, 2004

[2] Potensi Ekonomi Dan Peluang Bisnis Di Kabupaten Lamongan, diterbitkan pemerintah Kabupaten Lamongan 2005

[3] Ibid.

[4] Kontjaraningrat, Pengantar Antropoogi, Jakarat, Rieneka Cipta, 2002. hal 186-187.

[5] Ibid, hal 187

[6] hasil wawancara dengan informan.

[7] Mukum adalah santri yang tinggal di pesantren sehari-harinya. Biasanya karena rumahnya jauh maka santri mukim tinggal di asrama pesantre. Sedangkan santri kampuang-an adalah santri yang bersal dari penduduk sekitar pesantren yang karena rumahnya dekat maka ia hanya datang ke pesantren pada saat mengaji. Selebihnya tinggal di rumah.

[8] Kaifiyah adalah perilaku seseorang dikaitkan dengan norma agama islam.

[9] Weton adalah hari lahir menrut perhitungan jawa. Seperti legi, pahing, pon, wage, kliwon.

_______________________

Ditulis oleh: Mar’atul Makhmudah, S.Ip., M.Si

Bacaan lain:

Mengenal Tradisi Perayaan Gerebek Besar di Lamongan Sebagai Perayaan Spiritual dan Politik

 

 TIPS MEMAHAMI ISI BUKU TEKS DENGAN LEBIH MUDAH!

Tradisi Perayaan Gerebek Besar Di Lamongan Sebagai Perayaan Spiritual Dan Politik

Tradisi Perayaan Gerebek Besar Di Lamongan Sebagai Perayaan Spiritual Dan Politik

Mar’atul Makhmudah

 

ABSTRAKSI                                              

Setiap Bulan Dzulhijjah khususnya malam tanggal 10 kalender Hijriyah  umat islam memperingati Hari Raya Idul Adha atau    masyarakat setempat menyebutnya Hari Raya Besar. Dan masyarakat Lamongan biasa menyelenggarakan Gerebek Besar dengan berarak-arakan keliling kota menabuh beduk sambil membaca takbir mengumandangkan kebesaran Tuhan. Ada rombongan berjalan kaki, ada yang naik sepeda, ada pula yang membawa mobil baik terbuka maupun tertutup. Pada kendaraan terbuka biasanya diisi pula dengan romongan pemusik tabuh-tabuhan seperti Bedug dan Rebana serta sound system atau pengeras suara. Kemeriahan tersebut tidak semata-mata merayakan idul adha namun juga merayakan hari jadi kota lamongan, yakni hari di mana seorang tokoh utusan Sunan Giri yang mengatur dan mengembangkan kota Lamongan di lantik menjadi Adipati pertama Kadipaten  Lamongan bergelar Rangga. Rangga Hadi dikenal juga sebagai Mbah Lamong.


I. PENDAHULUAN

 I.A.      DATA GEOGRAFIS, KLIMATOLOGIS, DAN KARAKTERISTIK WILAYAH DAN PENDUDUK

Letak geografis Kabupaten Lamongan berada antara 6 51`54” dan 7 23’ 6’’ lintang selatan dan antara 112 4’44’’ dan 112 33’12’’ garis bujur timur.[1]

Luas wilayah Kabupaten lamongan 1.812,8 km2 atau 181.280.300Ha, atau sama dengan 3,78% luas wilayah propinsi Jawa Timur. Sebagian wilayah terdiri atas dataran rendah dan bonorowo serta sebagian lagi dataran tinggi sekitar 100 m dari permukaan laut. Struktur tanah sebagian besar terdiri dari jenis alufial, grumosal, dan meditean coklat.

Batas-batas wilayah kabupaten lamongan antara lain:

  • Sebelah utara               : laut jawa
  • Sebelah timur              : Kabupaten Gresik
  • Sebelah barat               : Kabupaten Bojonegoro dan Tuban
  • Sebelah selatan            : Kabupaten Mojokerto dan

Jombang

Secara topografi, wilayah kabupaten lamongan cenderung cekung di tengah dan tinggi di bagian utara dan selatan. Wilayah kabupaten lamongan  yang kemiringan tanahnya lebih dari 15 derajat sekitar 6%. Sedangkan selebihnya adaah dataran dengan tingkat kemiringan kurang dari 15 derajat. Dengan kata lain, sekitar 70% luas wilayah mempunyai tingkat kemiringan 0-2 derajat dan cenderung landai.

Bila dilihat dari kondisi klimatologis, Kabupaten Lamongan terletak di bawah equator dan mempunyai iklim tropis yang terbagi dalam dua musim. Musim hujan mulai Oktober sampai dengan April dan musim kemarau April sampai Oktober. Diantara dua musim tersebut terdapat musim peralihan atau pancaroba yakni April/Mei dan Oktober/ Nopember.

Curah hujan di Kabupten Lamongan rata-rata lebih kurang 1.400 mm/tahun, sehingga Lamongan termasuk daerah yang bercurah hujan rendah.

Secara karakteristik, wilayah kabupaten lamongan di bedakan dalam tiga bagian:

  • Bagian tengah selatan merupakan daerah dataran rendah yang relative agak subur.  Bagian ini membentang dari kecamatan Kedungpring, Babat, Sugio, Sukodadi, Pucuk, Lamongan,Tikung, Deket, Sarirejo, dan Kembangbahu
  • Bagian selatan dan Utara merupakan pegunungan kapur berbatu dengan tingkat kesuburan tanah sedang. Bagian ini mulai dari Kecamatan Bluluk, Mantup, Sambeng, Ngimbang, Sukorame, Modo, Brondong, Paciran, dan Solokuro.
  • Bagian tengah utara merupakan wilayah bonorowo yang termasuk daerah rawan banjir. Bagian ini membentang mulai Kecamatan Sekaran, Maduran, Laren, Karanggeneng, Kaitengah, Turi, Karangbinangun, dan Glagah.

 

Jumlah penduduk Kabupaten Lamongan tahun 2004 adalah 1.244.812 jiwa dengan kepadatan rata-rata 676jiwa/km2 serta sebagian besar yakni 99,63% beragama islam. Sebagian besar bersuku jawa yang pada umumnya tinggal di pedesaan dengan mata pencaharian sebagai petani dan buruh tani. Karena dulunya tantangan alam cukup berat, disisi lain lokasinya dekat dengan Surabaya, medorong terbentuknya lapisan masyarakat pedagang yang ulet, baik sebagai pedagang bakulan, makanan, industri kecil dan kerajinan maupun jasa masyarakat.[2]

Orang lamongan mempunyai semangat gotong royong dan etos kerja yang tinggi, bersifat terbuka, serta rela berkorban demi kepentingan orang banyak serta mempunyai toleransi tinggi  selalu memelihara kerukunan dalam suasana ketentraman dan kedamaian[3].

Secara administrative pemerintahan, Kabupaten  Lamongan terdiri dari 27 kecamatan, 12 kelurahan, dan 462 Desa.

 

I. B.     NAPAK TILAS SEJARAH KABUPATEN LAMONGAN

           

Dalam buku-buku sejarah Kabupaten Lamongan diyakini bahwa Kabupaten Lamongan memiliki sejarah kemasyarakatan yang sangat kuno semenjak pra sejarah. Hal ini dibuktikan dengan temuan benda-benda berupa kapak corong, candrasa dan gelang-gelang di Desa Mantup Kecamatan Mantup yang berarti wilayah Lamongan telah dihuni manusia sejak masa prasejarah. Bukti lainnya ditemukan nekara perunggu, manik-maik kaca, lempengan emas, benda-benda besi, gerabah, tulang binatang, dan lainnya yang diyakini sejarawan berasal dari masa perundagian di Desa Kradenanrejo Kecamatan Kedungpring.

Seiring dengan waktu pengaruh Hindu pun agaknya cukup luas. Arca Lingga dan Yoni ditemukan di wilayah Lamongan sebanyak 7 buah tersebar di wilayah Kecamatan Lamongan, Paciran, Modo, Sambeng,  Kembangbahu, dan Sugio. Sedangkan prasasti dari masa Majapahit sebanyak 43, 39 diantaranya diguris diatas batu dan yang 4 buah diguris di lempengan tembaga yang disimpan di Musium Nasional Jakarta. Sebaran prasasti tersebut adalah 2 buah di ngimbang, 2 buah di Mantup, 7 buah di Modo, 8 buah di Ngimbang, 9 buah di Sambeng, 6 buah di Bluluk, 2 buah di Sugio, 1buah di Deket, 1 buah di Turi, 1 buah di Sukodadi, 1 buah di Babat, 1 buah di Brondong, dan 2 buah di Paciran.[4] Diyakini pada abad XIV Lamongan ada pada wilayah kekuasaan Majapahit.

Pada masa perkembangan islam seiring dengan surutnya kerajaan Majapahit. Para penyebar agama islam diidentifikasi masyarakat sebagai para Wali yang berarti orang yang taat pada Alloh dan terpelihara dari maksiat.  Terkait dengan penyebar agama islam ini ditemukan sedikitnya 8 makam kuno antara lain:

  1. Makam Sunan Drajat di Desa Drajat Kecamatan Paciran.
  2. Makam Mbah Deket atau Sunan Lamongan di Desa deket Kecamtan Deket.
  3. Makam Mbah Lamong di Kota Lamongan yang oleh masyarakat diyakini sebagai makam Rangga Hadi.
  4. Makam Raden Nur Rahmat di Desa Sendang Duwur Kecamatan Paciran.
  5. Makam Pangeran Sedamargi di Mantup.
  6. Makam Panembahan Agung Singadipuro di Dusun Badu kecamatan Pucuk.
  7. Makam Mbah Barang di Desa Baturono Karangbinangun.
  8. Makam Mbah Santri di Tenggulun Paciran.

Namun diantara kedelapan tokoh yang makamnya di mulyakan masyarakat Lamongan tiga tokoh yang ajaran-ajaran beserta peninggalan-peninggalannya yang masih lekat dengan masyarakat Lamongan. Yakni Sunan Drajat, Raden Nur Rahmat, dan Mbah Lamong atau Rangga Hadi.

 

I. B. 1. Sunan Drajat

Penyebar islam yang paling terkenal di lamongan adalah Sunan Drajat yang termasuk dalam jajaran wali songo yang termasyhur di kalangan masyarakat islam jawa.  Bernama kecil Syarifudin atau Raden Qosim. Masyarakat juga mengenalnya dengan nama Masih Munat. Beliau Putra Sunan Ampel yang terkenal cerdas. Setelah menimba ilmu agama beliau mengambil desa Drajat Kecamatan paciran sebagai tempat tinggal dan pusat dakwah islam. Sunan drajat sangat memperhatikan kesejahteraan masyarakat sekitar dan memilih berdakwah dengan tindakan-tindakan sosial.

Ajarannya yang masih diingat secara turun temurun dan menjadi landasan filosofis perjuangannya adalah: “Menehono teken marang wong kang wuto, menehono mangan marang wong kang luwe, menehono busono marang wong kang wudo, menehono ngiyub marang wong kang kudanan” yang artinya “ berikan tongkat bagi orang yang buta, berikan makan bagi orang yang lapar, berikan pakaian bagi orang yang telanjang, dan berikan tempat berteduh bagi orang yang kehujanan”. Maknanya adalah supaya para pengikutnya sebagai pejuang agama agar memberikan sesuatu sesuai kondisi yang diberi. Memberi petunjuk bagi orang yang buta hati dan nalarnya, berusaha menyejahterakan rakyatnya yang miskin, mengajarkan kesusilaan kepada orang yang tak tahu malu, dan memberikan perlindungan kepada orang-orang yang menderita.

Sunan Drajat berafiliasi pada Demak dan memperoleh hak otonom atas wilayah Drajat serta memperoleh gelar Sunan mayang Madu dari Raden fatah, Sultan Demak I.

Peninggalan Sunan Drajat tersimpan rapi dalam Musium Sunan Drajat. Gamelan Singo Mengkok sekaligus menciptakan tembang macapat yakni tembang pangkur yang kepanjangan dari pangudi isine Qur`an atau memahami isi Al qur`an. Pangkur sendiri adalah bahasa jawa kuno yang berarti pejabat kerajaan yang bertugas mengawasi rakyat maupun pejabat kerajaan lain agar mentaati aturan kerajaan.  Memegang kendali perdikan  selama 36 tahun[5].

 

I. B. 2 Raden Nur Rahmat

            Disebelah barat Desa Drajat ada makam dan masjid peninggalan Raden Nur Rahmat, putra Raden Abdul Qohar, murid Sunan Drajat yang diambil menantu oleh tumenggung sedayu. Karenanya masyarakatnya mengenalnya sebagai Pangeran Sendang. Ia berusaha keras memisahkan wilayah utara lamongan tersebut dari kekuasaan Kalinyamat (Mantingan-Jepara). Usaha tersebut dilambangkan dalam cerita keberhasilan Raden Nur Rahmat memindahkan Masjid Kalinyamat ke desanya dalam satu malam, dan didirikan diatas bukit Amitunon.

Yang menarik dari masjid tersebut adalah bentuk kepala barong yang disimpan di atas langit-langit di bawah puncak atau mustaka masjid.  Benda tersebut hanya diperlihatkan pada saat hari raya kupatan atau enam hari sesudah idul fitri. Bentuk serupa tersebut juga terdapat di Musium Radyapustaka Surakarta. Diduga bentuk kepala barong itu berasal dari ujung haluan perahu yang mengangkut masjid tersebut dari Mantingan Jepara.

I. B.3 Rangga Hadi

            Keberadaan Rangga Hadi di Lamongan adalah wujud eksistensi Kesunanan Giri sebagai penguasa politik dan panutan spiritual yang mengatur tata pemerintahan di Lamongan. Ia mendapatkan gelar Rangga dari Sunan Giri II dalam perjalanannya yang kedua mencari tempat bernama kenduruan. Selengkapnya adalah sebagai berikut.

Setelah wafatnya  Raden Ainul Yakin, Sunan Giri I pada tahun 1506 tugas kesunanan di lanjutkan Sunan Dalem yang bergelar Sunan Giri II.  Ialah yang menugaskan muridnya yang bernama Hadi disamping untuk menyebar luaskan agama islam juga untuk menyusun masyarakat dan pemerintahan yang bersendikan ajaran islam. Hadi disertai rombongan pengawal, pembantu, dan perbekalan secukupnya.

Rombongan tersebut menyusuri kali lamong, sebuah sungai yang cukup besar, yang bersumber di gunung pandan dan bermuara di laut Gresik disebelah selatan Kesunanan Giri, yang sekarang bernama Desa Segoromadu.

Hadi mengingat pesan Sunan Giri agar datang dan bermukim di suatu tempat yang berbentuk “kali gunting” atau sungainya bercabang dua yang bernama Kenduruan. Karenanya ketika rombongan berlayar ini jalur purbakala Majapahit-Tuban sampailah di lereng Kendeng yang letaknya agak berada di ketinggian. Disitu telah berdiri Kampung yang pada malam hari menghembuskan aroma harum bunga-buangaan karenanya daerah tersebut dinamai Puncakwangi. Sampai sekarang tetap bernama desa Puncakwangi di Kecamatan Babat.  Disebelah utaranya terdapat sungai bercabang yang sekarang terkenal sebagai Bengawan Solo dengan percabangan sungainya yang sekarang sudah tidak ada lagi.  Karenanya Rangga Hadi dan rombongannya mengira telah sampai di tempat yang dimaksudkan oleh Sunan Giri.  Mereka kemudian menetap di sana, menjalankan tugas menyebarluaskan ajaran islam, menyusun masyarakat dan pemerintahan bersendi agama islam, serta membangun pemukiman baru membabat alas yang dinamai Babat. Saat ini menjadi Kelurahan babat, ibukota Kecamatan Babat.

Lambat laun perkampungan baru tersebut berkembang pesat dan menjadi ramai. Susunan pemerintahan dan masyarakatnya tertata dengan baik dan teratur. Masjid-masjid dan langgar-langgar mengumandangkan dakwah islam.  Kesulitan-kesulitan ditangani dengan ulet dan sungguh-sungguh. Pedagang-pedagang dari daerah selatan (Ploso, Bluluk, Modo), dari daerah Barat (Rajekwesi, Baureno), dan dari daerah utara  (Tuban, Palang), berdatangan di tempat pemukiman baru baik lewat darat maupun sungai.

Hal penting yang dilupakan Hadi adalah melaporkan setiap perkembangan wilayah baru tersebut pada Sunan Giri. Sampai akhirnya datanglah utusan Sunan Giri yang memerintahkan Hadi mempertanggung jawabkan hasil-hasil perintah Sunan Giri. Ternyata setelah melapor, Sunan Giri tidak menyetujui wilayah Babat sebagai kaligunting yang dimaksud Sunan Giri. Namun demikian Sunan Giri menghargai hasil karya Hadi dan berpesan bahwa tempat yang sudah dikembangkan tersebut tidak akan dilupakan karena mungkin dikemudian hari akan menjadi tempat penting pemerintahan atau dibidang perdagangan. Karenanya masyarakat Babat percaya bahwa disuatu saat kelak daerah Babat akan menjadi Ibukota kabupaten.

Setelah menghadap Sunan Giri, untuk kedua kalinya Rangga Hadi berangakat mencari suatu wilayah bernama Kenduruan di belahan barat wilayah kekuasaan Sunan Giri. Ia diberi wewenang untuk memimpin wilayah Kenduruan yang hendak dituju tersebut. Ia juga diberi kewenangan memimpin seribu pasukan dalam rangka menuju tempat tersebut. Upacara Pelantikan dilaksanakan sebelum keberangkatan kedua ini dihadiri oleh Sunan Bonang.

Perjalanan yang kedua dimulai dengan menyusuri Kali Lamong kearah barat. Beberapa persinggahan perjalan kedua ini antara lain pertama, desa Pamotan kecamatan Sambeng. Disana singgah sebentar dan mengislamkan wilayah tersebut. Perjalanan dilanjutkan kearah utarasampai di wilayah bernama Gondang yang sekarang ini wilayah kecamatan Sugio.  Wilayah tersebut kekurangan air. Lalu Rangga Hadi mengutus pengawalnya (belakangan diberi gelar Ki Kudosari yang berarti orang yang bekerjacepat dan cermat)  menghadap Sunan Giri untuk meminta nasehat. Oleh Sunan Giri diberi Tombak agar ditancapkan dalam tanah dan berpesan agar memperdalam bermunajat (semedi penuh kepasrahan) pada Allah SWT.  Dengan takjub Rangga Hadi melaksanakan dan mendapati air yang mengalir makin lama makin besar dan menjadi telaga/sendang.  Penduduk setempat menjadi hormat dan taat pada Rangga Hadi.  Sedangkan pusaka tombak ditambah tameng diberikan pada mbok rondo Gondang. Sampai hari ini pusaka tersebut disimpan keturunan Sunan Giri di Gondang[6]

Perjalanan dilanjutkan ke Timur dan singgah di Desa Mantup yang sekarang tetap bernama Mantup ibukota Kecamatan Mantup.  Sama halnya dengan Sugio, wilayah inipun kekurangan air. Kembali Rangga Hadi mengutus Ki Kudosari menghadap ke Sunan Giri.  Ki Kudosari kembali  dengan membawa Tombak dari Sunan Giri dengan pesan yang sama. Dengan cara yang serupa muncullah telaga Mantup yang mengairi kebutuhan penduduk setempat bahkan di masa Belanda sumber air ini mengairi masyarakat kota pula. Tombak itu diberikan pada Mbok rondo Mantup yang sepeninggalnya dikubur bersama Mbok Rondo yang sekarang makamnya terkenal dengan sebutan Makam Buntel.

Perjalanan di lanjutkan ke uatara mencari daerah bernama Kenduruan. Tibalah rombongan yang ternyata daerah tersebut dipimpin oleh seorang Kenduru, sehingga disebut Kenduruan. Daerah ini terletak di pusat kota. Segeralah misi dilaksanakan Rangga Hadi. Tempat tinggal Rangga Hadi disebut Keranggan, lalu sesudah Rangga Hadi diangkat menjadi Tumenggung pindah ke sebuah tempat yang kemudian disebut Tumenggungan.

I. C.     ASAL USUL NAMA LAMONGAN

Dua wujud fisik yang bisa jadi asal penelusuran nama Lamongan yakni pertama, kali lamong dan yang kedua, makam mbah lamong.  Kali lamong saat ini menjadi daerah perbatasan antara Lamongan, Mojokerto, mengalir ke timur yang bermuara di desa Segoromadu kabupten Gresik yang dulunya adalah pusat Kesunanan Giri. Meskipun Kali Lamong dulunya adalah rute perjalanan Ronggo Hadi, namun lokasinya jauh dari Lamongan yang saat itu dikembangkan Rangga Hadi.

Sedangkan makam Mbah Lamong diyakini adalah Rangga Hadi atau Tumenggung Surajaya. Dan yang kedua inilah yang lebih banyak dipercaya ahli sebagai asal usul Lamongan. Pertanyaannya adalah mengapa Rangga Hadi mendapat sebutan Mbah Lamong?.  Maka ada dua cara untuk menelusurinya yakni kesejarahan dan pengetahuan bahasa (etimologi).

Dalam sejarahnya terdahulu tidak ada pedukuhan, kampung, atau sejenisnya bernama Lamongan.  Namun jelas nama-nama tempat di Lamongat terkait dengan tokoh yang ada di wilayah tersebut sebagaimana ketika Rangga Hadi mencari tempat bernama Kenduruan ternyata adalah tempat yang dipimpin seseorang bernama Kenduru, kemudian nama tempatnya adalah Kenduruan. Lalu tempat tinggal Rangga menjadi Keranggan dan setelah menjadi tumenggung pindah ketempat baru yang kemudian bernama Tumenggungan.  Jadi nama Lamongan diyakini erat kaitannya dengan Mbah Lamong yang menilik argumentasi diatas tempat/wilayahnya bernama Lamong-an atau Lamongan.

Dalam tinjauan etimologi, kata Lamong berasal dari kata “LA” dan “MONG”.  “LA”  berasal dari bahasa Kawi (Jawa Kuno) artinya baik, sedangkan “MONG” berasal dari kata “NGEMONG” dalam bahasa Kawi  yang berarti mengasuh.  Jadi LAMONG berarti pamong yang baik.

Terkait dengan tinjauan etimologi ini, Rangga Hadi atau Tumenggung Surajaya yang makamnya kemudian terkenal sebagai makam Mbah Lamong mendapat sebutan demikian sebab selama hidupnya telah menjadi pamong atau pemimpin yang baik.  Dengan kata lain, wilayah tersebut bernama Lamongan sebab wilayah yang menjadi kekuasaan sekaligus tempat tinggal Mbah Lamong pada abad ke XVI Masehi. Sebagai sebutan sebuah wilayah, sejak masa Rangga Hadi hingga saat ini masih bernama Lamongan.

II.                PERAYAAN GEREBEK BESAR

Magnis Suseno membagi pandangan dunia Jawa menjadi empat lingkaran bermakna[7] . Lingkaran pertama bersifat ekstrovert, yang intinya adalah sikap terhadap dunia luar yang dialami sebagai kesatuan nominus antara alam, masyarakat dan alam adikodrati yang keramat, yang wujudnya lebih kuat dipedesaan dan atau dalam lapisan masyarakat buta huruf, yang oleh Geertz[8] sementara disebut agama abangan. Lingkaran kedua memuat penghayatan kekuasaan politik sebagai ungkapan alam nominus. Lingkaran ketiga, berpusat pada pengalaman tentang keakuan sebagai jalan ke persatuan dengan nominus, yang oleh Geertz disebut sebagai agama priayi. Lingkaran keempat yakni penentuan semua lingkaran pengalaman oleh Yang Ilahi atau Takdir.

Sebagai sebuah kebudayaan, perayaan Gererbek Besar telah memiliki wujud-wujud gejala kebudayaan. Kebudayaan memiliki tiga wujud sebagai gejalanya yakni:

  1. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, dan peraturan, dan sebagainya.
  2. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktifitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat.
  3. Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.[9]

Ide-ide, gagasan-gasan, memberi jiwa dalam masyarakat serta tidak berdiri sendiri meainkan saling terkait satu sama lainnya.  Para ahli sosiologi dan antropologi menyebutnya sebagai system budaya atau cultural system.

Dalam konteks pandangan keagamaan yang adikodrati dan penghayatan kekuasaan politik, perayaan Gerebek Besar di Kabupaten Lamongan merepresentasikan hal tersebut. Disamping sebagai perayaan spiritual dogmatis sebagai ajaran agama, Gerebek Besar adalah momen politik dimana dalam sejarah kota Lamongan Penobatan Tumenggung Lamongan pertama Yakni Rangga Hadi atau Mbah Lamong dilaksanakan oleh Sunan Giri II. Ia dianugerahi gelar Tumenggung Surajaya. Di era Kesunanan Giri, riyoyo besar adalah momen berkumpulnya seluruh poemimpin wilayah di bawah kekuasaan Kesunanan Giri untuk berkonsolidasi, melaporkan perkembangan wilayah masing-masing, serta meminta nasehat/kebijaksanaan Sang Sunan dalam rangka pengembangan agama dan tata pemerintahan mauapun perluasan wilayah. Acara tersebut disebut Pasowanan Agung.  Ada kesatuan penghayatan antara  agama sebagai spiritualitas dan kekuasaan politik.

Gerebek Besar atau perayaan besar dilaksanakan pada hari raya iedul adha atau yang biasa disebut orang jawa sebagai riyoyo besar.  Dimulai dari depan Masjid Agung yang berlokasi diseberang barat alun-alun sebagaimana konsep ketatanegaraan islam jawa. Setelah masyarakat berkumpul kiai sesepuh akan memberikan wejangan-wejangan di dampingi Bupati dan Wakil Bupati. Wejangan berupa ungkapan syukur atas hari raya idul adha atau idul kurban yang jatuh pada 10 Dzulhijjah kalender hijriyah. Masyarakat biasa menyebutnya hari raya besar/riyoyo besar. Besar berarti agung. Dan yang juga disyukuri adalah bahwa kota Lamongan didirikan menurut kalender hijriyah bertepatan dengan riyoyo besar yakni 10 Dzulhijjah[10]. Dari sejak dikukuhkan Sunan Giri dengan Tumenggung Surajaya sebagai `bupati`nya hingga masa terkini dengan Bupati yang hadir pada forum tersebut, kabupaten Lamongan mendapatkan banyak berkah dari Alloh SWT, Tuhan yang maha kuasa.

Setelah itu dimulai berkeliling kota dengan mengumandangkan takbir mengelilingi kota.  Warga yang berpartisipasipun beragam caranya mengekspresikan rasa syukur tersebut dengan mengikuti arak-arakan berkeliling kota.  Ada rombongan yang berjalan kaki, mengendarai sepeda motor, mobil, maupun kendaraan terbuka dengan seperangkat alat musik tabuh seperti rebana danbedug beserta pengeras suara atau sound system.

Tempat-tempat bersejarah yang akan dilewati adalah pertama, Kenduruan. Yakni tempat yang diamanatkan pada Rangga Hadi oleh Sunan Giri untuk dicari dan dikembangkan. Ternyata tempat tersebut dipimpin seseorang bernama Kenduru sebagaimana dijelaskan diatas. Berasal dari kata Kenduru-an. Kedua, Keranggan yakni tempat tinggal Rangga Hadi pada saat memulai pengembangan wilayah lamongan. Ketiga, Tumenggungan yakni tempat berpindahnya Rangga Hadi yang telah bergelar Tumenggung Surajaya. Berasal dari kata Tumenggung-an.

Kesatuan ide/gagasan atau filosofi , tindakan berpola, dan benda-benda yang terangkum dalam perayaan Gerebek Besar di Kabupaten Lamongan jelas adalah sebuah Kebudayaan sebagaimana yang dikatakan Koentjaraningrat. Jelas pula bahwa dalam perayaan ini memiliki kesatuan  dimensi spiritual dan dimensi kekuasaan politik.  Yakni spiritualitas ajaran islam dan kekuasaan Kesunanan Giri pada awalnya hingga berkembang saat ini.masyarakat lamongan sendiri terkenal sebagai masyarakat yang agamis.

Meskipun secara formalnya, Pemerintah Daerah Kabupaten Lamongan menyelenggarakan peringatan formal berupa upacara dan mengunjungi makam-makam pendiri Lamongan berdasarkan kalender masehi yakni 26 Mei, masyarakat Lamongan tetap memperingati Gerebek Besar dengan filosofi pendirian Kabupaten Lamongan.

III.             PENUTUP

Sebagai sebuah perayaan, Gerebek Besar di Kabupaten Lamongan mempunyai filosofi mendalam  dan makna kesejarahan yang panjang kebelakang. Kesatuan antara Hari Raya Idul Adha atau Hari Raya Kurban dimana umat islam menyembelih hewan ternak berupa kambing, sapi, dan lainnya sebagai ajaran agama islam  dan ungkapan syukur atas didirikannya kota Lamongan sebagai wilayah Kadipaten oleh Kesunanan Giri dengan Rangga Hadi yang bergelar Tumenggung Surajaya. Rangga Hadi inilah yang terkenal dengan sebutan Mbah Lamong.

Nilai spiritualitas keagamaan dan ketata pemerinatahan dan politik yang menjadi satu kesatuan adalah khas islam jawa. Masyarakat Lamongan yang terkenal religius memang punya kesejarahan tata pemerintahan yang bersendi agama sehingga wajar jika karakteristik masyarakatnya pun demikian.

 

DAFTAR REFERENSI

 

1. Aneka Data Potensi Kabupaten Lamongan, diterbitkan pemerintah Kabupaten Lamongan, 2004

2. Potensi Ekonomi Dan Peluang Bisnis Di Kabupaten Lamongan, diterbitkan pemerintah Kabupaten Lamongan 2005

3.Lamongan Memayu Raharjaning Praja, terbitan Pemerintah Daerah Kabupaten Lamongan, 1992.

4. Magnis Suseno, Franz Von, 1988, Etika Politik, Prinsip-Prinsip Moral Dasar dan Kenegaraan Modern, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama.

5. Geertz, Clifford. 1992a. Kebudayaan dan Agama. Yogyakarta: Kanisisus.

6. Kontjaraningrat, Pengantar Antropoogi, Jakarat, Rieneka Cipta, 2002.

7. Naskah hari jadi Lamongan, terbitan Pemerintah Daerah Kabupaten Lamongan, 1987

8. Wawancara dengan Ketua Yayasan Keluarga Sunan Giri.


[1] Aneka Data Potensi Kabupaten Lamongan, diterbitkan pemerintah Kabupaten Lamongan, 2004

[2] Potensi Ekonomi Dan Peluang Bisnis Di Kabupaten Lamongan, diterbitkan pemerintah Kabupaten Lamongan 2005

[3] Ibid.

[4] Lamongan Memayu Raharjaning Praja, terbitan Pemerintah Daerah Kabupaten Lamongan, 1992. hal 20.

[5] Naskah hari jadi Lamongan, Pemerintah Daerah Kabupaten Lamongan, 1984

[6] wawancara dengan ketua yayasan keluarga Sunan Giri.

[7] Magnis Suseno, Franz Von, 1988, Etika Politik, Prinsip-Prinsip Moral Dasar dan Kenegaraan Modern, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama.

[8] Geertz, Clifford. 1992a. Kebudayaan dan Agama. Yogyakarta: Kanisisus

[9] Kontjaraningrat, Pengantar Antropoogi, Jakarat, Rieneka Cipta, 2002. hal 186-187.

[10] Naskah hari jadi Lamongan, terbitan Pemerintah Daerah Kabupaten Lamongan, 1987

__________________

Bacaan lain:

Adat Perkawinan Lamongan: Perempuan Melamar Laki-Laki

 

 

Wayang Dalam Budaya Jawa

Wayang Dalam Budaya Jawa

 Nanang Haryono

(Dosen FISIP Universitas Airlangga)

 

Wayang, yang dimaksud adalah ‘wayang kulit’, atau ‘wayang kulit purwa’ (pakeliran purwa), merupakan bentuk berkesenian  yang kaya akan cerita falsafah hidup sehingga masih bertahan di kalangan masyarakat Jawa hinggga kini. Seni pertunjukan pakeliran purwo sebagai salah satu bentuk kesenian Jawa merupakan produk masyarakat Jawa (Hauser, Arnold, 1974:94). Disaat pindahnya Keraton Kasunanan dari Kartasura ke Desa Solo (sekarang Surakarta) membawa perkembangan dalam seni pewayangan. Seni pewayangan yang awalnya merupakan seni pakeliran dengan tokoh utamanya Ki Dalang yang bercerita, adalah suatu bentuk seni gabungan antara unsur seni tatah sungging (seni rupa) dengan menampilkan tokoh wayangnya yang diiringi dengan gending/ irama gamelan, diwarnai dialog yang menyajikan lakon dan pitutur/petunjuk hidup manusia dalam falsafah.

 

Seni pewayangan tersebut digelar dalam bentuk yang dinamakan Wayang Kulit Purwa, dilatarbelakangi layar/kelir dengan pokok cerita yang sumbernya dari kitab Mahabharata dan Ramayana, berasal dari India. Namun ada juga pagelaran wayang kulit purwa dengan lakon cerita yang di petik dari ajaran Budha, seperti cerita yang berkaitan dengan upacara ruwatan (pensucian diri manusia). Pagelaran wayang kulit purwa biasanya memakan waktu semalam suntuk. Kata purwo untuk membedakan dengan dengan pakeliran jenis lain, misalnya wayang orang (wong), wayang madya, wayang gedong dan sebagainya. Pakeliran purwo tidak dapat dilepaskan dari konteks masyarakat Jawa dalam berbagai aspeknya seperti aspek-aspek ekonomi, politik, dan sosio-kultural (Chanman & Baskoff,[ed.], 1964:140-157).

 

Mulder (1981: 30) mengatakan bahwa pandangan hidup merupakan suatu abstraksi dari pengalaman hidup. Pandangan hidup tersebut dibentuk oleh suatu cara berfikir dan cara merasakan tentang nilai, organisasi sosial, prilaku, peristiwa-peristiwa dan segi-segi lain dari pengalaman. Pemikiran orang Jawa adalah membangun sikap batin yang sesuai dan seimbang. Karena pada prinsipnya segi lahiriah itu selalu melukiskan kekacauan dan selalu mengikatkannya pada dunia materi, maka hal tersebut dapat menimbulkan hambatan.

 

Magniz Suseno membagi pandangan dunia Jawa menjadi empat lingkaran bermakna (1988:83-84). Lingkaran pertama bersifat ekstrovert, yang intinya adalah sikap terhadap dunia luar yang dialami sebagai kesatuan nominus antara alam, masyarakat dan alam adikodrati yang keramat, yang wujudnya lebih kuat dipedesaan dan atau dalam lapisan masyarakat buta huruf, yang oleh Geertz (1969) sementara disebut agama abangan. Lingkaran kedua memuat penghayatan kekuasaan politik sebagai ungkapan alam nominus. Lingkaran ketiga, berpusat pada pengalaman tentang keakuan sebagai jalan ke persatuan dengan nominus, yang oleh Geertz (1969) disebut sebagai agama priayi. Lingkaran keempat yakni penentuan semua lingkaran pengalaman oleh Yang Ilahi atau Takdir.

 

Wayang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat Jawa. Cerita-cerita dalam pakeliran purwo tersebut mengiaskan perilaku watak manusia dalam perjalanannya mencapai tujuan hidup baik lahir maupun batin. Pemahaman terhadap kias tersebut tidak semata-mata dilakukan dengan pikiran melainkan dengan seluruh cipta, rasa, karsa bergantung kepada kedewasaan orang masing-masing.

 

Masyarakat Jawa gemar beridentifikasi diri dengan tokoh-tokoh wayang tertentu dan bercermin serta bercontoh padanya dalam melakukan perbuatan dalam kehidupan sehari-hari. Pengidentifikasian tersebut dapat ditunjukkan dengan pemberian nama. Selain pemberian nama terkadang juga penyerupaan diri manusia dengan tokoh-tokoh wayang juga diberikan kepada orang lain yang memiliki kelebihan-kelebihan tertentu. Karena begitu besarnya peran wayang dalam kehidupan orang Jawa, maka tidaklah berlebihan apabila dikatakan bahwa wayang merupakan identitas manusia Jawa.

 

Sejarah Perkembangan Kesenian Wayang

 

Kesenian wayang dalam bentuknya yang asli timbul sebelum kebudayaan Hindu masuk di Indonesia dan mulai berkembang pada jaman Hindu Jawa.
Pertunjukan Kesenian wayang merupakan bagian dari upacara keagamaan orang Jawa. Asal-usul kesenian wayang hingga dewasa ini masih menjadi masalah yang belum terpecahkan secara tuntas. Namun demikian banyak para ahli mulai mencoba menelusuri sejarah perkembangan wayang.

 

Menurut Kitab Centini disebutkan bahwa asal-usul wayang Purwa mula-mula sekali diciptakan oleh Raja Jayabaya dari Kerajaan Mamenang/Kediri sekitar abad ke 10. Raja Jayabaya berusaha menciptakan gambaran dari roh leluhurnya dan digoreskan di atas daun lontar. Bentuk gambaran wayang tersebut ditiru dari gambaran relief cerita Ramayana pada Candi Penataran di Blitar. Cerita Ramayana sangat menarik perhatiannya karena Jayabaya termasuk penyembah Dewa Wisnu yang setia, bahkan oleh masyarakat dianggap sebagai penjelmaan atau titisan Batara Wisnu. Figur tokoh yang digambarkan untuk pertama kali adalah Batara Guru atau Sang Hyang Jagadnata yaitu perwujudan dari Dewa Wisnu.

 

Masa berikutnya yaitu pada jaman Jenggala, kegiatan penciptaan wayang semakin berkembang. Semenjak Raja Jenggala Sri Lembuami luhur wafat, maka pemerintahan dipegang oleh puteranya yang bernama Raden Panji Rawisrengga dan bergelar Sri Suryawisesa. Semasa berkuasa Sri Suryawisesa giat menyempurnakan bentuk wayang Purwa. Wayang-wayang hasil ciptaannya dikumpulkan dan disimpan dalam peti yang indah. Sementara itu diciptakan pula pakem cerita wayang Purwa. Setiap ada upacara penting di istana diselenggarakan pagelaran Wayang Purwa dan Sri Suryawisesa sendiri bertindak sebagai dalangnya. Para sanak keluarganya membantu pagelaran dan bertindak sebagai penabuh gamelan. Pada masa itu pagelaran wayang Purwa sudah diiringi dengan gamelan laras slendro. Setelah Sri Suryawisesa wafat, digantikan oleh puteranya yaitu Raden Kudalaleyan yang bergelar Suryaamiluhur. Selama masa pemerintahannya beliau giat pula menyempurnakan Wayang. Gambar-gambar wayang dari daun lontar hasil ciptaan leluhurnya dipindahkan pada kertas dengan tetap mempertahankan bentuk yang ada pada daun lontar. Dengan gambaran wayang yang dilukis pada kertas ini, setiap ada upacara penting di lingkungan kraton diselenggarakan pagelaran wayang.

 

Pada jaman Majapahit usaha melukiskan gambaran wayang di atas kertas disempurnakan dengan ditambah bagian-bagian kecil yang digulung menjadi satu. Wayang berbentuk gulungan tersebut, bilamana akan dimainkan maka gulungan harus dibeber. Oleh karena itu wayang jenis ini biasa disebut wayang Beber. Semenjak terciptanya wayang Beber tersebut terlihat pula bahwa lingkup kesenian wayang tidak semata-mata merupakan kesenian Kraton, tetapi malah meluas ke lingkungan diluar istana walaupun sifatnya masih sangat terbatas. Sejak itu masyarakat di luar lingkungan kraton sempat pula ikut menikmati pagelaran wayang. Bilamana pagelaran dilakukan di dalam istana diiringi dengan gamelan laras slendro. Tetapi bilamana pagelaran dilakukan di luar istana, maka iringannya hanya berupa Rebab dan lakonnya pun terbatas pada lakon Murwakala, yaitu lakon khusus untuk upacara ruwatan.

 

Pada masa pemerintahan Raja Brawijaya, beliau dikaruniai seorang putera yang mempunyai keahlian melukis, yaitu Raden Sungging Prabangkara. Bakat puteranya ini dilakukan penyempurnaan wujud wayang Beber dengan cat. Pewarnaan dari wayang tersebut disesuaikan dengan wujud serta martabat dari tokoh itu, yaitu misalnya Raja, Kesatria, Pendeta, Dewa, Punakawan dan lain sebagainya. Dengan demikian pada masa akhir Kerajaan Majapahit, keadaan wayang Beber semakin Semarak. Semenjak runtuhnya kerajaan Majapahit dengan sengkala ; Geni murub siniram jalma ( 1433 / 1511 M ), maka wayang beserta gamelannya diboyong ke Demak. Hal ini terjadi karena Sultan Demak Syah Alam Akbar I sangat menggemari seni kerawitan dan pertunjukan wayang.

Pada masa kerajaan Demak para pemeluk agama Islam ada yang beranggapan bahwa gamelan dan wayang adalah kesenian yang haram karena berbau Hindu. Timbulnya perbedaan pandangan antara sikap menyenangi dan mengharamkan tersebut mempunyai pengaruh yang sangat penting terhadap perkembangan kesenian wayang itu sendiri. Untuk menghilangkan kesan yang serba berbau Hindu dan kesan pemujaan kepada arca, maka timbul gagasan baru untuk menciptakan wayang dalam wujud baru dengan menghilangkan wujud gambaran manusia. Berkat keuletan dan ketrampilan para pengikut Islam yang menggemari kesenian wayang, terutama para Wali, berhasil menciptakan bentuk baru dari Wayang Purwa dengan bahan kulit kerbau yang agak ditipiskan dengan wajah digambarkan miring, ukuran tangan dibuat lebih panjang dari ukuran tangan manusia, sehingga sampai dikaki. Wayang dari kulit kerbau ini diberi warna dasar putih yang dibuat dari campuran bahan perekat dan tepung tulang, sedangkan pakaiannya di cat dengan tinta.

 

Pada masa itu terjadi perubahan secara besar-besaran diseputar pewayangan. Disamping bentuk wayang baru, dirubah pula tehnik pakelirannya, yaitu dengan mempergunakan sarana kelir/layar, mempergunakan pohon pisang sebagai alat untuk menancapkan wayang, mempergunakan blencong sebagai sarana penerangan, mempergunakan kotak sebagai alat untuk menyimpan wayang. Dan diciptakan pula alat khusus untuk memukul kotak yang disebut cempala. Meskipun demikian dalam pagelaran masih mempergunakan lakon baku dari Serat Ramayana dan Mahabarata, namun dalam pagelaran purwo juga sudah dimasukkan unsur dakwah, walaupun masih dalam bentuk serba pasemon atau dalam bentuk lambang-lambang. Adapun wayang Beber yang merupakan sumber, dikeluarkan dari pagelaran istana dan masih tetap dipagelarkan di luar lingkungan istana.

 

Pada jaman pemerintahan Sultan Syah Alam Akbar III atau Sultan Trenggana, perwujudan wayang kulit semakin semarak. Bentuk-bentuk baku dari wayang mulai diciptakan. Misalnya bentuk mata, diperkenalkan dua macam bentuk liyepan atau gambaran mata yang mirip gabah padi atau mirip orang yang sedang mengantuk. Dan mata telengan yaitu mata wayang yang berbentuk bundar. Penampilan wayang lebih semarak lagi karena diprada dengan cat yang berwarna keemasan.

 

Pada jaman itu pula Susuhunan Ratu Tunggal dari Giri, berkenan menciptakan wayang jenis lain yaitu wayang Gedog. Bentuk dasar wayang Gedog bersumber dari wayang Purwa. Perbedaannya dapat dilihat bahwa untuk tokoh laki-laki memakai teken. Lakon pokok adalah empat negara bersaudara, yaitu Jenggala, Mamenang / Kediri, Ngurawan dan Singasari. Menurut pendapat Dr. G.A.J. Hazeu, disebutkan bahwa kata “Gedog” berarti kuda. Dengan demikian pengertian dari Wayang Gedog adalah wayang yang menampilkan cerita-cerita Kepahlawanan dari “Kudawanengpati”atau yang lebih terkenal dengan sebutan Panji Kudhawanengpati. Pada pagelaran wayang Gedog diiringi dengan gamelan pelog. Sunan Kudus salah seorang Wali di Jawa menetapkan wayang Gedog hanya dipagelarkan di dalam istana. Berhubung wayang Gedog hanya dipagelarkan di dalam istana, maka Sunan Bonang membuat wayang yang dipersiapkan sebagai tontonan rakyat, yaitu menciptakan wayang Damarwulan . Yang dijadikan lakon pokok adalah cerita Damarwulan yang berkisar pada peristiwa kemelut kerajaan Majapahit semasa pemerintahan Ratu Ayu Kencana Wungu, akibat pemberontakan Bupati Blambangan yang bernama Minak Jinggo.

Untuk melengkapi jenis wayang yang sudah ada, Sunan Kudus menciptakan wayang Golek dari kayu. Lakon pakemnya diambil dari wayang Purwa dan diiringi dengan gamelan Slendro, tetapi hanya terdiri dari gong, kenong, ketuk, kendang, kecer dan rebab. Sunan Kalijaga tidak ketinggalan juga, untuk menyemarakkan perkembangan seni pedalangan pada masa itu dengan menciptakan Topeng yang dibuat dari kayu. Pokok ceritanya diambil dari pakem wayang Gedog yang akhirnya disebut dengan topeng Panji. Bentuk mata dari topeng tersebut dibuat mirip dengan wayang Purwa.

 

Pada masa Kerajaan Mataram diperintah oleh Panembahan Senapati atau Sutawijaya, diadakan perbaikan bentuk wayang Purwa dan wayang Gedog. Wayang ditatah halus dan wayang Gedog dilengkapi dengan keris. Disamping itu baik wayang Purwa maupun wayang Gedog diberi bahu dan tangan yang terpisah dan diberi tangkai. Pada masa pemerintahan Sultan Agung Anyakrawati, wayang Beber yang semula dipergunakan untuk sarana upacara ruwatan diganti dengan wayang Purwa dan ternyata berlaku hingga sekarang. Pada masa itu pula diciptakan beberapa tokoh raksasa yang sebelumnya tidak ada, antara lain Buto Cakil. Wajah mirip raksasa, biasa tampil dalam adegan Perang Kembang atau Perang Bambangan.

 

Perwujudan Buta Cakil ini merupakan sengkalan yang berbunyi: Tangan Jaksa Satataning Jalma (1552 J / 1670 M). Dalam pagelaran wayang Purwa tokoh Buta Cakil merupakan lambang angkara murka. Bentuk penyempurnaan wayang Purwa oleh Sultan Agung tersebut diakhiri dengan pembuatan tokoh raksasa yang disebut Buta Rambut Geni, yaitu merupakan sengkalan yang berbunyi Urubing Wayang Gumulung Tunggal: (1553 J / 1671 M).

 

Sekitar abad ke 17, Raden Pekik dari Surabaya menciptakan wayang Klitik, yaitu wayang yang dibuat dari kayu pipih, mirip wayang Purwa. Dalam pagelarannya dipergunakan pakem dari cerita Damarwulan, pelaksanaan pagelaran wayang klitik tersebut dilakukan pada siang hari. Pada tahun 1731 Sultan Hamangkurat I menciptakan wayang dalam bentuk lain yaitu wayang Wong. Wayang wong adalah wayang yang terdiri dari manusia dengan mempergunakan perangkat atau pakaian yang dibuat mirip dengan pakaian yang ada pada wayang kulit.

 

Dalam pagelaran mempergunakan pakem yang berpangkal dari Serat Ramayana dan Serat Mahabarata. Perbedaan wayang Wong dengan wayang Topeng adalah ; pada waktu main, pelaku dari wayang Wong aktif berdialog; sedangkan wayang Topeng dialog para pelakunya dilakukan oleh dalang.
Pada jaman pemerintahan Sri Hamangkurat IV; beliau dapat warisan Kitab Serat Pustakaraja Madya dan Serat Witaraja dari Raden Ngabehi Ranggawarsito. Isi buku tersebut menceritakan riwayat Prabu Aji Pamasa atau Prabu Kusumawicitra yang bertahta di negara Mamenang/Kediri. Kemudian  pindah Kraton di Pengging.

 

Isi kitab ini mengilhami beliau untuk menciptakan wayang baru yang disebut wayang Madya. Cerita dari Wayang Madya dimulai dari Prabu Parikesit, yaitu tokoh terakhir dari cerita Mahabarata hingga Kerajaan Jenggala yang dikisahkan dalam cerita Panji. Bentuk wayang Madya, bagian atas mirip dengan wayang Purwa, sedang bagian bawah mirip bentuk wayang gedog. Semasa jaman Revolusi fisik antara tahun 1945-1949, usaha untuk mengumandangkan tekad pejuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dilakukan dengan berbagai cara.

 

Salah satu usaha ialah melalui seni pedalangan. Khusus untuk mempergelarkan cerita-cerita perjuangan tersebut, maka diciptakanlah wayang Suluh. Wayang Suluh berarti wayang Penerangan, karena kata Suluh berarti pula obor sebagai alat yang biasa dipergunakan untuk menerangi tempat yang gelap. Bentuk wayang Suluh, baik potongannya maupun pakaiannya mirip dengan pakaian orang sehari-hari. Bahan dipergunakan untuk membuat wayang Suluh ada yang berasal dari kulit ada pula yang berasal dari kayu pipih. Ada sementara orang berpendapat bahwa wayang suluh pada mulanya lahir di daerah Madiun yang di ciptakan oleh salah seorang pegawai penerangan dan sekaligus sebagai dalangnya. Tidak ada bentuk baku dari wayang Suluh, karena selalu mengikuti perkembangan jaman. (Sutini, dalam http://www.jawapalace.org /wayang.html).

 

Sekilas Tentang Pakeliran Purwo

Wayang Purwa adalah perlambang kehidupan manusia di dunia ini. Berdasarkan dari sejarahnya, induk/sumber cerita wayang itu, baik Ramayana maupun Mahabharata, kedua-duanya itu merupakan Weda (kitab suci) agama hindu yang kelima, yang disebut panca weda. Kedua kitab tersebut memuat pelajaran weda yang disusun berujud cerita. Serat Ramayana diciptakan oleh Resi Walmiki menceritakan pelaksanaan karya Awatara Rama untuk mensejahterakan dunia. Serat Mahabharata diciptakan oleh Resi Wyasa, menceritakan pelaksanaan karya Awatara Krisna juga untuk mensejahterakan dunia.

 

Berkaitan penciptaan pada dunia wayang pada intinya cerita wayang berasal dari dewa-dewa bernama Hyang Manikmaya (Betara Guru) dan Hyang Ismaya (Semar). Mereka adalah putera dari Hyang Tunggal. Hyang Tunggal tidak diwujudkan dalam wayang. Kedua putra itu muncul secara bersamaan dalam bentuk cahaya. Manikmaya bercahaya bersinar-sinar. Ismaya bercahaya kehitam-hitaman. Kedua cahaya ini berebut untuk mendapatkan status sebagai yang tertua diantara mereka.

 

Kemudian Hyang Tunggal bersabda, bahwa yang tertua adalah cahaya yang kehitam-hitaman, tetapi diramalkan bahwa dia tak dapat berjiwa sebagai Dewa Ia diberi nama Ismaya. Karena ia memiliki sifat sebagai manusia maka dititahkan supaya tetap tinggal di dunia dan mengasuh turunan Dewa yang berdarah Pendawa. Maka diturunkanlah ia kedunia dan bernama Semar, yang berbentuk manusia yang sangat jelek rupa. Cahaya yang bersinar terang diberi nama Manikmaya dan tetap tinggal di Suralaja (kerajaan Dewa). Manikmaya merasa bangga, karena tidak mempunyai cacat dan sangat berkuasa. Tetapi sikap yang demikian itu menyebabkan Hyang Tunggal memberinya beberapa kelemahan.

Kedua kejadian ini   merupakan perlambang. Ismaya adalah lambang badan manusia yang kasar dan Manikmaya lambang kehalusan bathin manusia. Raga kasar (Semar) senantiasa menjaga kelima Pendawa yang berujud Panca indera atau kelima perasaan tubuh manusia: indera penciuman (Yudistira); indera pendengaran (Werkodara); indera penglihatan (Arjuna); indera perasa (Nakula), dan indera peraba (Sadewa). Tugas dari Semar adalah menjaga kesejahteraan Pendawa , supaya mereka menjauhi peperangan dengan Korawa (rasa amarah). Tetapi Hyang Manikmaya lah yang senantiasa menggoda sehingga Pendawa dan Kurawa tidak pernah berhenti berperang. Hingga akhirnya terjadilah Baratayuda, di mana Pendawalah yang menjadi pemenangnya.

Pada pagelaran wayang kulit nilai-nilai yang diajarkan terkait dengan cerita dan tokoh-tokoh tertentu. Adapun nilai-nilai dalam pagelaran diantaranya adalah nilai kepahlawanan contoh: tokoh Kumbakarna, Adipati Karna, nilai kesetiaan contoh: tokoh Dewi Sinta, Raden Sumantri (Patih Suwanda) dan sebagainya; nilai keangkara murkaan contoh: tokoh Rahwana, Duryudana dan sebagainya; nilai kejujuran  contoh: Tokoh Puntadewa dan sebagainya. dan sebagainya. dan sebagainya; Di sini masih banyak nilai-nilai yang lain yang patut ditimba manfaatnya bagi kita semua. Selain itu dalam pegelaran wayang kulit juga terdapat lambang-lambang yang mengambarkan kisah hidup manusia di dunia. Kalau kita mengamati lakon Dewa Ruci di dalamnya mengandung lambang kehidupan manusia di dalam mencapai cita-cita hidup kita harus dapat melewati beberapa tantangan, kalau kita berhasil mencapainya kita akan mendapatkan buahnya.

Pergelaran seni pedalangan, baik untuk waktu semalam suntuk maupun untuk 4 jam atau hanya waktu 2 jam, namun lakon tersebut kedudukannya tetap, ialah merupakan pokok dari pada pergelaran seni pedalangan. Lakon-lakon pewayangan menyangkut apa yang disebut pakem yang dalam bahasa Jawa berarti: pathokan, paugeran atau wewaton. Pakem meliputi 2 macam hal yang dalam pergelaran terpadu menjadi satu kesatuan, yaitu : (1). Pakem tentang lakon; dan (2). Pakem yang mengenai tehnik perkeliran. Pada waktu dipergelarkan dalam perkeliran dua pakem itu satu sama lain saling isi-mengisi dan jalin-menjalin, sehingga dapat mendatangkan suatu proses cerita yang mengandung keindahan serta pendidikan yang tinggi.

Lakon-lakon pewayangan yang begitu banyak dipergelarkan dewasa ini, pada hakekatnya dapat dibagi menjadi 4 bagian, ialah: 1. Lakon wayang yang disebut pakem; 2. Lakon wayang yang disebut carangan; 3. Lakon wayang yang disebut gubahan; 4. Lakon wayang yang disebut karangan. Penjelasan dari lakon pewayangan tersebut sebagai berikut : 1. Lakon pakem : yang disebut lakon-lakon pakem itu sebagian besar ceritanya mengambil dari sumber-sumber cerita dari perpustakaan wayang, misalnya: lakon Bale Sigala-gala, pandawa dadu, baratayuda, rama gandrung, subali lena, anoman duta, brubuh ngalengka dan lain sebagainya. 2.  Lakon carangan : yang disebut carangan itu hanya garis pokoknya saja yang bersumber pada perpustakaan wayang, diberi tambahan atau bumbu-bumbu berupa carangan (carang Jw = dahan), seperti lakon-lakon : babad alas mertani, partakrama, aji narantaka, abimanyu lahir dll. 3. Lakon gubahan : yang disebut gubahan itu ialah lakon yang tidak bersumber pada buku-buku cerita wayang, tetapi hanya menggunakan nama dan negara-negara dari tokoh-tokoh yang termuat dalam buku-buku cerita wayang, misalnya lakon-lakon: irawan Bagna, gambiranom, dewa amral, dewa katong dsb. 4. Lakon karangan : yang disebut lakon karangan itu ialah suatu lakon yang sama sekali lepas dari cerita wayang yang terdapat dalam buku-buku sumber cerita wayang, misalnya lakon-lakon : praja binangun, linggarjati, dan sebagainya. Dalam lakon praja binangun tersebut diketengahkan nama tokoh-tokoh wayang seperti : ratadahana (Jendral Spoor), Kala Miyara (Meiyer), Dewi Saptawulan (Juliana), Bumiandap (Nederland) dan sebagainya.

Untuk mengetahui sesuatu lakon wayang itu apakah pakem atau bukan, tidaklah mudah, apabila orang tidak mengenal dan memahami sumber cerita wayang. Adapun sumber cerita wayang itu ada 2 macam yaitu: 1. Sumber-sumber cerita wayang yang berupa buku-buku, misalnya : Maha Bharata, Ramayana, Pustaka Raja Purwa, Purwakanda dll; 2. Sumber-sumber cerita wayang yang semula berasal dari lakon carangan atau gubahan yang telah lama disukai oleh masyarakat. Sumber-sumber cerita ini disebut pakem purwa-carita yang kini sudah banyak juga yang dibukukan, misalnya lakon-lakon: Abimanyu kerem, doraweca, Suryatmaja maling dan sebagainya. Purwakanda adalah salah satu sumber cerita wayang di Yogyakarta yang memuat kisah sejak bathara guru menerima kekuasaan dari sanghyang tunggal sampai dengan bertahtanya R. Yudayana sebagai Raja di negeri Ngastina. Buku tersebut berbentuk tembang dan yang ada mungkin hanya di Yogyakarta saja, baik dalam karaton maupun diluarnya. Serat purwakanda tersebut dihimpun atas perintah almarhum Sri Sultan Hamengkubuwono V. Penghimpunan dan penyusunan Serat Purwakanda ini kira-kira bersamaan waktunya dengan almarhum R.Ng.Ronggowarsita di Solo, yang juga menghimpun dan menyusun Serat Pustaka Raja Purwasita yang terkenal itu. Serat purwakanda tesebut oleh sebagian dalang-dalang di Yogyakarta, terutama dalang-dalang dari keraton Yogyakarta dijadikan sumber lakon-lakon wayang dalam perkelirannya,sedangkan di Solo adalah Serat Raja Purwasito.

Pakem tehnik perkeliran atau wewaton tehnik perkeliran itu setiap daerah atau setiap gaya tentu ada dan sudah barang tentu tidak dapat diabaikan sama sekali. Hal itu erat sekali hubungannya dengan perasaan indah yang hidup di masing-masing daerah. Misalnya perkeliran gaya sala berbeda dengan gaya yogya. Berbeda pula dengan gaya banyumas, tegal, jawa timur, dll. Mungkin hal ini pula sangkut-pautnya dengan falsafah hidup dalam masyarakat itu sendiri-sendiri.

Identifikasi Tokoh Wayang dalam Kehidupan Orang Jawa  

 

Pakeliran purwo merupakan bentuk pertunjukan yang penuh dengan cerita falsafah hidup. Setiap tokoh dalam pakeliran purwo mempunyai watak dan prilaku yang mencerminkan kehidupan manusia di dunia. Watak dan prilaku ini meliputi watak yang baik dan juga watak yang tidak baik. Masyarakat Jawa gemar mengidentifikasikan diri, bercermin dan sekaligus mencontoh prilaku dan watak tokoh-tokoh wayang tertentu.  Bentuk identifikasi bisa ditemui dalam perbuatan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Lebih jauh dikatakan Mulyono (1992: 12) bahwa wayang merupakan simbol yang menerangkan eksistensi manusia dalam hubungannya antara daya natural dengan supernatural. Hubungan antara manusia dengan alam semesta, antara makhluk dengan penciptanya, antara pribadi dengan sesamanya. Wayang banyak memberikan ajaran tentang hakikat kehadiran manusia baik sebagai individu maupun kedudukannya sebagai anggota masyarakat. Wayang berisi ajaran batin dan ajaran lahir yang sesuai dengan peradaban manusia dan kesusilaan. Seni pertunjukan wayang mampu membantu manusia dalam memahami hidup dan mengenal diri sendiri serta sesama maupun orang lain tanpa prasangka dan tanpa pra-anggapan yang negatif.

 

Masyarakat Jawa dalam berintrospeksi diri atas kejadian yang dialami dalam kehidupan sehari-hari, gemar mengaitkannya dengan cerita-cerita dalam wayang. Hal tersebut digunakan sebagai upaya menghibur diri. Selain itu, wayang juga digunakan untuk menunjukkan suri tauladan yang baik bagi kehidupan.

 

Pada sebuah pagelaran wayang seorang dalang dapat menyelipkan berbagai berbagai ajaran kehidupan, moral dan sebagainya. Ajaran tersebut dapat berfungsi untuk mendidik anak. Selain itu juga keterbukaan penafsiran dalam wayang juga bisa dijadikan sebagai sarana pendewasaan berpikir.

 

Pengidentifikasian tersebut dapat ditunjukkan dengan pemberian nama. Selain pemberian nama terkadang juga penyerupaan diri manusia dengan tokoh-tokoh wayang juga diberikan kepada orang lain yang memiliki kelebihan-kelebihan tertentu, misalnya tokoh Semar. Semar adalah punakawan dari para ksatria yang luhur budinya dan baik pekertinya. Sebagai punakawan Semar adalah abdi, tetapi berjiwa pamong, sehingga oleh para ksatria Semar dihormati.
Penampilan tokoh Semar dalam pewayangan sangat menonjol. Walaupun dalam kehidupan sehari-hari tidak lebih dari seorang abdi, tetapi pada saat-saat tertentu Semar sering berperan sebagai seorang penasehat dan penyelamat para ksatria disaat menghadapi bahaya baik akibat ulah sesama manusia maupun akibat ulah para Dewa. Dalam pewayangan tokoh Semar sering dianggap sebagai Dewa yang ngejawantah atau Dewa yang berujud manusia.

 

Menurut Serat Kanda dijelaskan bahwa Semar sebenarnya adalah anak Syang Hyang Tunggal yang semula bernama Batara Ismaya saudara tua dari Batara Guru. Semar sebagai Dewa yang berwujud manusia mengemban tugas khusus menjaga ketenteraman dunia dalam penampilan sebagai rakyat biasa. Para ksatria utama yang berbudi luhur mempunyai keyakinan bilamana menurut segala nasehat Semar akan mendapatkan kebahagiaan. Semar dianggap memiliki kedaulatan yang hadir ditengah-tengah para ksatria sebagai penegak kebenaran dan keadilan. Dengan kata lain Semar adalah simbul rakyat yang merupakan sumber kedaulatan bagi para ksatria atau yang berkuasa dan pengayom rakyat.

 

Tokoh Semar adalah simbol yang cukup unik dalam pewayangan Jawa. Dia bisa menjadi wong cilik sekaligus juga seorang dewa. Biasanya para penguasa seolah ingin mewujudkan dirinya sebagai seorang semar. Tetapi yang menjadi masalah adalah hubungan antara hamba dan tuannya atau dalam konsep modern disebut dengan penyelesaian struktural yang diakui secara terus terang, tetapi dalam paham Jawa atau dalam kerajaan Jawa hubungan antara penguasa dan rakyatnya tidaklah demokratis seperti dalam pengertian modern (Hooker, 2001: 478).

 

Pada Pemerintahan orde Baru dibawah kepemimpinan Soeharto sebagai presiden, seni pertunjukan wayang dimanfaatkan untuk sosialisasi program-program pembangunan. Jika ditelusuri lebih lanjut mengenai hubungan wayang dan pemerintahan Soeharto, pada bulan April 1969, dalam rangka peluncuran Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun) yang pertama, Soeharto mengumpulkan dalang-dalang wayang kulit dari berbagai daerah di istana kepresidenan, Jakarta. Soeharto bermaksud menggugah semangat mereka membantu proses pembangunan nasional dengan menyebarkan tujuan dan prioritasnya (Hooker, 2001: 477).

 

Sifat Soeharto sebagai pengayom dan pelindung rakyat kecil diperlihatkan saat dia berdialog dengan para petani. Itu terbukti dari rutinitas dia bertemu dengan para petani dalam acara Klompencapir (Kelompok Pendengar, Kelompok Pembaca dan Kelompok Pemirsa) di daerah-daerah. Soeharto berdialog langsung dengan mereka. Soeharto  mendengarkan keluhan-keluhan mereka, lalu ditanggapi satu per satu. Kegiatan seperti itu bisanya ditayangkan di TVRI (Televisi Republik Indonesia) yang merupakan televisi milik pemerintah.

 

Sebenarnya Klompencapir bukan sesuatu yang baru karena sudah dipelopori sejak akhir tahun 1960-an. Pada tahun 1969, demi pembangunan FAO, mempopulerkan apa yang disebut sebagai Dewan Pembina Siaran Desa (Dhakidae, 2003: 269). Kegiatan ini disiarkan melalui stasiun Radio Republik Indonesia. Setelah itu, klompencapir diresmikan tanggal 14 Juni 1984 dengan Keputusan Menteri Penerangan, pada waktu itu dijabat oleh Harmoko. Pada tahun itu terbentuk 41.117 klompencapir yang harus dibina-bina di desa-desa Indonesia.

 

Dalam konteks seperti itu, Soeharto sebagai pengayom, pelindung bagi mereka yang hidup di pedesaan. Mereka tidak mengetahui sosok sebenarnya dari diri Soeharto, terutama dalam menjalankan pemerintahan. Mereka hanya mengetahui, Soeharto adalah dewa penolong, seorang yang bijak, seorang Bapak Pembangunan Bangsa. Gaya bicaranya halus, banyak tersenyum, sopan, selalu memperhatikan setiap pertanyaan para petani. Soeharto ingin menjadikan tokoh Semar sebagai bagian simbol-simbol kekuasaan dan pemerintahannya. Soeharto dalam beberapa pidato-pidatonya mengatakan bahwa dirinya berasal dari desa dan anak seorang petani yang sejak kecil hidup susah. Seperti yang kita ketahui, Semar juga merupakan simbol dari orang kecil.

 

Ada konsep yang dapat dipakai untuk menjelaskan sifat kebapakan Soeharto. Konsep tersebut adalah patrimonial, lebih khusus lagi konsep patron-client (Moedjanto, 1987: 102). Konsep ini dikembangkan oleh Max Weber untuk menjelaskan pola hubungan antara atasan dan bawahan. Atasan bertindak sebagai patron dan bawahan sebagai client. Lebih lanjut Moedjanto menguraikan konsep patron client dalam masyarakat Jawa. Dia menjelaskan (Moedjanto, 1987: 102) bahwa pada masyarakat Jawa dikenal konsep gusti dan kawula. Hubungan antara patron dan client tidak dibangun menurut sistem tertentu dalam sebuah birokrasi, tetapi menurut pola hubungan keluarga (famili). Oleh sebab itu, kedudukan seseorang bawahan (client) di dalam birokrasi ditentukan bukan oleh kemampuan profesinya melainkan oleh loyalitasnya terhadap atasan (patron). Keterikatan dan keloyalitasan terhadap bapak (patron) akan menjamin anak buah memperoleh status sosial dan sumber ekonomi.

 

Pada masyarakat pra atau non kerajaan, pemimpin berarti seorang pater. Ia harus bersifat kebapakan. Semua persoalan kembali kepadanya untuk dipecahkan. Semua warga masyarakat menyerahkan pemecahan masalah itu kepada bapak dan mereka akan menaatinya. Dalam situasi sulit karena ada ancaman, bapak akan menjadi pengayom dan pengayem (Moedjanto, 1987: 102).

 

Semar sering juga disebut dengan “Ki Lurah Semar” yang merupakan punakawan utama dalam pewayangan. Semar adalah tokoh wayang asli Indonesia. Di dalam kitab Mahabarata, tokoh Semar sema sekali tidak disebut. Semar dalam wayang Jawa menunjukkan suatu pengertian yang mendalam tentang apa yang sebenarnya bernilai pada manusia: bukan rupa yang kelihatan, bukan pembawaan lahiriah yang sopan santun, bukan penguasaan tata krama kehalusan yang menentukan derajat kemanusiaan seseorang, melainkan adalah sikap batinnya (Suseno, 1991: 39).

 

Mengikuti penjelasan Sindhunata (1999a: 208), Semar itu bukan hanya tokoh wayang, tapi juga tokoh yang selalu melekat pada kehidupan orang Jawa sepanjang jaman. Sebelum tanah Jawa ada, Semar sudah ada. Karena itu Semar juga disebut sebagai danyangane tanah Jawa (lelembut yang menjaga tanah Jawa). Lebih lanjut mengikuti penjelasan Sindhunata, dengan mengambil uraian yang ada dalam disertasi Koes Sardjono (1947), bahwa tokoh Semar itu bukan pertama-tama tokoh mistik atau ngelmu seperti anggapan orang kebanyakan.

 

 

Tokoh Semar adalah tokoh pewayangan dari budaya Jawa. Oleh sebab itu, asal-usul dan cerita-cerita mengenainya, diantaranya berkaitan dengan keadaan alam di tanah Jawa, yaitu cerita mengenai ditelannya gunung Mahameru. Ketiga putra Sang Hyang Tunggal beradu kesaktian untuk membuktikan siapa dari ketiganya yang paling sakti. Siapa yang dapat menelan gunung Mahameru dan kemudian memuntahkannya kembali, maka dialah yang berhak atas singgasana kahyangan.

 

Sang Hyang Antaga mendapat kesempatan pertama untuk menunjukkan kesaktiannya. Dia menelan gunung Mahameru. Tapi sampai mulutnya robek, gunung tersebut tetap tak dapat ditelannya. Pada giliran kedua, Sang Hyang Usmaya dapat menelan gunung Mahameru. Ismaya dapat menelan gunung Mahameru, tapi tak dapat memuntahkannya kembali sehingga gunung tersebut  hanya sampai dipantatnya. Pada giliran selanjutnya, tampillah Sang Hyang Manikmaya. Berhubung gunung Mahameru masih di pantat Sang Hyang Ismaya, maka Sang Hyang Manikmaya tak dapat membuktikan kesaktiannya. Tapi justru dialah yang dimenangkan oleh Sang Hyang Tunggal sebagai pewaris Kahyangan. Setelah kejadian ini, Sang Hyang Ismaya diperintah untuk turun ke bumi bertindak sebagai pamong bagi manusia yang berbudi baik.

 

Contoh lain lakon mengenai Semar adalah Semar Minta  Bagus (Semar Gugat). Lakon itu menceritakan Arjuna yang “menghina” Semar. Arjuna memegang kuncung kepala Semar semata-mata  untuk menyenangkan Srikandi. Semar marah dan menyatakan siapakah dia (Arjuna) sebenarnya. Ternyata, dia (Semar) lebih sakti dari tuannya. Lakon-lakon lainnya mengenai Semar yaitu: Bathara Wisnu Krama, Semar Tambak, Manumayasa Rabi, Semar Kuning, Pandu Lair, Pandu Krama, Mintaraga, Semar Mbangun Klampis Ireng, Semar Boyong, Semar Mbarang Jantur, Makutha Rama, Gatotkaca Sungging, Kilat Buwana, Semar Kuning.

 

Selain tokoh Semar pengidentifikasian wayang dalam kehidupan masyarakat Jawa yang lain adalah Batara Kamajaya. Dewa Batara Kamajaya merupakan putra dari Batara Ismaya (Semar) yang tinggal di Kayangan Cokrokembang.  Batara Kamajaya punya istri Batari Ratih pasangan ini selalu rukun bersama istrinya. Paras pasangan dewa ini sangat elok. Maka dari itu oleh orang Jawa dijadikan idaman sampai pada cita-citanya dimana kalau punya putra atau putri diharapkan dan dicita-citakan seperti Batara Kamajaya dan Batari Ratih yang berwajah elok dan cantik. Hal ini terbukti di dalam acara tujuh bulan bayi di kandungan diadakan upacara mitoni yang dilambangkan pada cengkir (kelapa muda) berlukiskan Batara Kamajaya dan Batari Ratih.

 

Pandawa juga seringkali menjadi identifikasi Manusia Jawa. Pandawa yang terdiri dari Puntadewa, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa. Unsur keadilan dan keberanian dalam dunia pewayangan dilambangkan dalam diri tokoh Pandawa. Yudhistira, putra tertua yang melambangkan keadilan; Bhima adalah putra yang sangat kuat; Arjuna, sangat tampan dan memiliki kekuatan gaib; Nakula dan Sahadewa, adalah putra kembar Pandawa. Mereka secara bersama-sama memerintah Negara Amarta.

 

Semua keluarga Pandawa adalah turunan Dewa. Kaurawa yang dipimpin oleh Duryodhana sebaliknya memiliki sifat suka menipu, jahat, dll. Mereka memperdaya Pandawa untuk mempertaruhkan bagian kerajaan mereka dengan permainan dadu (di mana mereka curang). Pendawa harus mengungsi ketengah hutan selama 12 tahun, dan harus menyamar selama setahun sebelum mereka kembali untuk menuntut hak atas kerajaan. Namun Kurawa menolak untuk mundur sehingga terjadi perang yang amat dahsyat, Bharatayuddha, dimana semua Kurawa terbunuh.  Salah satu dari sekutu Pendawa adalah Krisna (yang sebenarnya adalah reinkarnasi dari Bethara Wisnu) yang berperan dalam menentukan kemenangan bagi Pendawa.

 

Kelimanya tokoh Pandawa digambarkan bersama-sama bahagia dan bersama-sama menderita Tiap-tiap tokoh Pandawa mempunyai ciri watak yang berlainan antara satu dengan lainnya, namun dalam segala tingkah lakunya selalu bersatu dalam menghadapi segala tantangan. Puntadewa yang paling tua sangat terkenal sebagai raja yang adil dan jujur; bahkan diceritakan berdarah putih. Puntadewa dianggap titisan Dewa Dharma yang memiliki watak menonjol selalu mementingkan kepentingan orang lain, rasa sosialnya sangat besar. Masyarakat Jawa sering mengidentifikasi Pandawa dengan memberi nama putra atau putri mereka dengan nama Pandawa dengan harapan dan cita-cita kalau dewasa nanti anak-anak mereka akan mempunyai sifat-sifat seperti yang dimiliki oleh Pandawa.

 

Penutup

Pagelaran wayang kulit syarat dengan nilai-nilai dan petuah hidup bagi manusia. Wayang kulit merupakan refleksi budaya Jawa dalam pengertian sebagai pencerminan dari kenyataan kehidupan, nilai dan tujuan kehidupan, moralitas, harapan dan cita-cita kehidupan orang Jawa. Sebagai suatu kebudayaan, dalam wayang terkandung ajaran-ajaran bagaimana hidup itu harus dijalani. Melalui cerita wayang masyarakat Jawa memperoleh gambaran kehidupan mengenai bagaimana hidup sesungguhnya dan bagaimana hidup seharusnya. Wayang sebagai kehidupan rohani masyarakat Jawa berisi nilai-nilai luhur yang dapat membantu manusia dalam melangsungkan, mempertahankan hidupnya, sehingga ia dapat mencapai kesempurnaan hidupnya, yakni dapat membentuk dirinya menjadi manusia dan dapat menciptakan suatu kehidupan yang lebih baik.

 

DAFTAR PUSTAKA

Anderson, Benedict R.O’G. 1996. Mitologi dan Toleransi Orang Jawa. Yogyakarta: Qalam.

Dhakidae, Daniel, 2003. Cendekiawan dan Kekuasaan dalam Negara Orde Baru. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Dwipayana, G dan Ramadhan K.H. 1989. Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya. Jakarta: Citra Lamtoro Gung Persada.

Endraswara, Suwardi. 2003. Mistik Kejawen: Sinkretisme, Simbolisme, dan Sufisme dalam Budaya. Yogyakarta: Spiritual Jawa

Geertz, Clifford. 1992a. Kebudayaan dan Agama. Yogyakarta: Kanisisus

Hooker, Virginia Matheson, 2001. “Ekspresi: Kreatif Biar pun Tertekan” dalam Emerson, Donald K (editor) 2001. Indonesia Beyond Soeharto: Negara, Ekonomi, Masyarakat, Transisi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama bekerja sama dengan The Asia Foundation.

Moedjanto. G. 1987. Konsep Kekuasaan Jawa: Penerapannya oleh Raja-raja Mataram. Yogyakarta: Kanisius.

Magniz Suseno, Franz Von, 1988, Etika Politik, Prinsip-Prinsip Moral Dasar dan Kenegaraan Modern, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama.

Sardjono, Agus R. 2001. Sastra dalam Empat Orba. Yogyakarta: Bentang

Soekmono, 1981. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia (jilid 2). Yogyakarta: Kanisius.

Sindhunata, 1990a. Bayang-bayang Ratu Adil. Jakrta: Gramedia Pustaka Utama

Slamet, T.Suparno, 2006, Pakeliran Purwo Jawa dari Ritus sampai Pasar, Disertasi Program Pasca Sarjana Universitas Airlangga.

Sutini, Wayang, http://www.jawapalace.org/wayang.html

 

Kearifan dan Budaya Lokal (Local Wisdom): Integritas ala Indonesia

Home: Modal Sosial Dalam Pelayanan Publik Berintegritas

[Relasi Rakyat dan Negara: Kontrak Sosial Sebuah Integritas Bawaan]

 

Kearifan dan Budaya Lokal (Local Wisdom): Integritas ala Indonesia

[Modal Sosial Dalam Pelayanan Publik Berintegritas – 3]

 

Materi ini membahas dan mengeksplorasi nilai-nilai kearifan dan budaya lokal yang mendukung dan sejalan atau kongruen dengan nilai dan semangat integritas ataukah sebaliknya, menjadi destruktif pada nilai-nilai integritas pada aspek pelayanan publik. Contoh tentang masyarakat Jawa Timur yang egaliter dan terbuka, dalam kehidupan sehari-hari keterbukaan yang merupakan tradisi sosial masyarakat setempat telah membentuk watak diri yang kuat masyarakat Jawa Timur pada umumnya. Wujud nyata keterbukaan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari dinyatakan dalam hubungan dan komunikasi sosial yang berlangsung tanpa symbol dan tidak berbelit-belit[1]. Temuan Zuhro pada keunikan ciri budaya lokal masyarakat Jawa Timur bagian timur wilayah Surabaya dan Malang cenderung memberontak, sedangkan Surabaya dan Malang ke arah barat menunjukkan karakter masyarakat yang agak tertutup. Budaya lokal masyarakat Jawa Timur (terutama Surabaya dan Malang ke timur) yang cenderung terbuka akan membawa pengaruh pada hubungannya dengan pemerintah sebagai penyedia pelayanan publik. Komunikasi yang terbuka dan tidak berbelit-belit akan berbeda dari kebiasaan masyarakat yang tertutup dan lamban. Hubungan dan komunikasi antara warga dengan penyelenggara pelayanan publik (pemerintah) dengan budaya lokal yang cenderung terbuka dan egaliter akan berbeda dari masyarakat dengan budaya lokal yang tertutup dan penuh rasa segan dan hambatan budaya (Jawa: sungkan, ewuh pakewuh).

Contoh kearifan dan budaya lokal yang kedua, adalah konsep nagari di Sumatera Barat. Walaupun kini nagari telah mengalami beberapa pergeseran nilai dasar, tetutama setelah era Orde Baru, namun pada pokoknya masih tetap. Nagari, merupakan pranata lokal masyarakat Sumatera Barat (Minangkabau) yang secara tradisional berfungsi sebagai lembaga adat. Struktur nagari dipimpin oleh seorang datuak yang dipilih oleh masyarakat. Sebagai lembaga adat, nagari merupakan wahana berkumpul dan bermusyawarah untuk memecahkan persoalan-persoalan masyarakat secara adat dan agama. Nilai-nilai adat dan agama bagi masyarakat melebur, sesuai dengan pepatah lokal Minangkabau, adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah (adat bersendikan hukum agama, hukum agama bersendikan kitabullah). Dalam nagari, terpelihara hak-hak bicara warga masyarakat dalam musyawarah, egaliter, tidak membeda-bedakan strata sosial dan menghargai kebebasan berpendapat. Kalimat budaya yang cukup popular di Minangkabau, menunjukkan hal ini. Seperti misalnya, duduak samo randah, tagak samo tinggi (duduk sama rendah, tegak sama tinggi), kemenakan berajo ke mamak, mamak berajo ke penghulu, penghulu berajo ke musyawarah. Tampak bahwa nilai dan budaya lokal masyarakat Minangkabau bercirikan musyawarah dan menghargai pendapat sehingga masyarakat Minang terbiasa beradu argumen dan berdebat. Mekanisme musyawarah dan beradu argument ini merupakan modal sosial yang baik dalam konteks demokrasi lokal[2]. Pertanyaannya adalah, nilai budaya lokal seperti ini ketika diverifikasi dengan situasi ketika masyarakat berhubungan dengan pemerintah (penyedia pelayanan publik), akankah menunjukkan nilai-nilai integritas ataukah sebaliknya. Di sini perlu pengayaan dan pendalaman secara konstekstual dan dinamis, yang dapat digali dalam konteks dan praktik keseharian.

Kesimpulan

satu

Kearifan dan budaya lokal merupakan cara berpikir dan bertindak bagi masyarakat dalam arena budaya tertentu, baik dalam kelompoknya maupun antar kelompok dan dalam hubungannya dengan pemerintah.

dua

Nilai kearifan dan budaya lokal bersifat dinamis, tidak status, dan mengalami perubahan dan perkembangan sepanjang masa. Perlu melakukan identifikasi kontinu untuk mendeteksi nilai kearifan dan budaya lokal ini dalam konteks politik dan pemerintahan.

 

bersambung…

Relasi Negara dan Rakyat: Kontrak Sosial Sebuah Integritas Bawaan

Home: Modal Sosial Dalam Pelayanan Publik Berintegritas

 

Relasi Negara dan Rakyat: Kontrak Sosial Sebuah Integritas Bawaan

[Modal Sosial Dalam Pelayanan Publik Berintegritas – 2]

 

Pelayanan publik terbentuk dari kegiatan politik yang muncul dari adanya Negara dan warga. Dalam teori dasar pembentukan Negara dinyatakan bahwa negara dibentuk oleh kesepakatan antara sekelompok individu yang memiliki hubungan sosial, untuk mewujudkan suatu tertib politik yang bisa mengatur kehidupan dan mengakomodasi kepentingan mereka, dengan suatu perjanjian sosial atau kontrak sosial (social contract). Inilah pengertian statis yang diberikan Rousseau tentang Negara sebagai sebuah entitas terlegitimasi. Sekelompok besar individu tersebut memberikan mandat kepada sekelompok kecil individu untuk menjalankan pemerintahan (pengertian dinamis) dengan kewenangan-kewenangan yang telah ditentukan dan disepakati bersama (regulasi). Dalam konteks pemenuhan kepentingan bersama ini, mereka yang diberi mandat, kemudian disebut pemerintah, bertugas menyelenggarakan pemerintahan dengan memberikan pelayanan publik kepada masyarakat (pihak yang tadinya memberinya mandat, mewakili mereka). Pemahaman dasar teori Negara ini mirip relasi organisasi tradisional ketika sekelompok besar anggota masyarakat memberikan mandat kepada sekelompok kecil orang di antara mereka untuk bertindak menjadi pengurus (bekerja dari, oleh dan untuk mereka yang mengutus). Teori klasik Kontrak Sosial yang diperkenalkan oleh JJ.Rousseau ini amat menarik untuk menjelaskan relasi negara dan rakyat dalam mewujudkan pemerintahan yang baik (good governance) dan pemberian pelayanan publik yang baik dan memperhatikan nilai-nilai integritas bagi semua orang yang memberinya mandat tersebut (rakyat). Nilai dasar inilah yang seharusnya mendasari semua tindakan yang dilakukan oleh Negara dalam menjalankan fungsinya yakni “sebatas menjalankan mandat”. Akan menjadi sebuah pengkhianatan besar jika mereka (sekelompok kecil orang, pemerintah) yang diberi mandat ini kemudian lantas mengingkari kontrak sosial dengan misalnya melakukan penyelewengan atas pelayanan yang seharusnya diberikan dengan baik atau misalnya melakukan penyelewengan atas penggunaan dana publik yang bersumber dari rakyat, karena sebetulnya aspek pelayanan berikut dana publik yang digunakan dalam pelayanan publik tersebut adalah milik rakyat yang memberinya mandat atas dasar kontrak social tersebut. Kontrak (perjanjian)-nya adalah, bahwa mereka yang diberi mandat akan melakukan tugas -mewakili mereka yang memberi mandat- pemenuhan urusan orang banyak yaitu mengupayakan kesejahteraan bersama. Mengiringi pemberian mandat ini, mereka yang diberi mandat diberikan sejumlah kewenangan untuk mempermudah tugas mereka. Pemberi mandat disebut rakyat, sedangkan pihak yang diberi mandat disebut pemerintah (government).

Dalam “kontrak sosial” tersebut Rousseau menghendaki pemerintahan yang melebihi dari apa yang disebut John Locke sebagai “pemerintahan yang disetujui” oleh rakyat. Berikut pernyataan Rousseau tentang pemecahan masalah dalam Kontrak Sosial”:

“Masalahnya adalah menemukan suatu bentuk asosiasi yang akan mempertahankan dan melindungi dengan seluruh kekuatan umum, orang dan harta benda masing-masing bergabung, dan di mana masing-masing, sambil tidak menyatukan dirinya dengan keseluruhan, bisa tetap mematuhi dirinya sendiri, dan tetap bebas seperti sebelumnya”[1].

Dengan asumsi bahwa kontrak atau perjanjian sosial ini berjalan seimbang, maka kemudian lahirlah bentuk-bentuk pelayanan publik yang baik dan beroperasi demi kepentingan orang banyak (integritas sosial terpenuhi) dan bentuk-bentuk konsekuensi logis yang mengiringinya misalnya pajak, untuk membiayai urusan bersama, dsb, sebagaimana analogi perkumpulan kecil di tingkat RT (Rukun Tetangga), manakala aturan main (“kontrak sosial”)-nya jelas, maka perkumpulan tersebut akan berjalan baik berikut konsekuensi “iuran anggota” (dalam konteks negara, adalah “pajak”) akan mengikuti.

Bahwa kemudian seiring dengan perguliran waktu dan jaman, terjadi penyelewengan atau pembelokan kepentingan yang bertentangan dengan “misi bersama” ini atau bertentangan dengan kepentingan “mereka yang mengutusnya”, maka sangat perlu dilakukan langkah pelurusan untuk kembali kepada “azas kebersamaan” yang dibangun semula. Penyelenggara pelayanan publik (“pihak yang diberi mandat oleh rakyat untuk mewakili mereka melakukan tugas urusan publik”) layak diberi teguran, pengingatan dan kontrol sosial agar mereka kembali ke jalan yang benar.

 

Civil Society dan Ruang Publik

Konsepsi Negara yang merujuk teori Kontrak Sosial Rousseau pada bahasan sebelumnya menjelaskan pengertian dasar pembentukan Negara berikut konsekuensinya, yang darinya dapat diambil pelajaran, tentang bagaimana kemudian penyelenggara pemerintahan harus berbuat sesuai dengan kehendak umum dan kemaslahatan bersama. Dinamika sosial dan politik meniscayakan adanya perkembangan dan perubahan pada pola hubungan Negara dan rakyat. Dari konsepsi ini melahirkan pemikiran tentang kewenangan Negara, kekuatan untuk memaksa (coercion) dan melakukan dominasi atas nama kepentingan bersama. Inilah aspek politik dari hubungan sosial Negara dan rakyat yang bersifat dominatif, maka kemudian, dalam bentuk yang operasional, Negara muncul sebagai seperangkat institusi dan norma-norma hukum yang menjalankan dan menegakkan dominasi tersebut. Dalam hal ini Negara  merupakan hubungan sosial yang bersifat dominatif[2]. Konsepsi ini kemudian, memunculkan logika politik bahwa Negara yang baik memunculkan pemerintahan yang baik, supaya dapat dibenarkan dan adil menurut nilai-nilai kebenaran universal, jika melakukan dominasi dan koersi (paksaan). Dengan demikian, aparat penyelenggara pemerintahan haruslah bertindak bersih agar dapat dipercaya oleh rakyat dalam mengemban amanat rakyat mewujudkan kesejahteraan bersama. Lebih lanjut tentang kepercayaan (trust) akan dibahas dalam materi tersendiri.

Rousseau menempatkan rakyat pada posisi seimbang bahkan “penyebab” munculnya Negara, sebagaimana Thomas Hobbes dan Cicero yang menyebut masyarakat sipil sebagai societas civilis, kemudian berkembanglah wacana civil society oleh Adam Ferguson yang menyebutkan civil society berhubungan dengan masyarakat beradab (civilized society) dengan menggambarkan tahap-tahap sejarah perkembangan masyarakat sejak primitif, masyarakat pertanian hingga masyarakat industri. Pemikiran Ferguson yang terpengaruh revolusi insdustri dan kapitalisme, kemudian mendapat dukungan dari Thomas Paine  yang menganggap civil society sebagai sesuatu yang berlawanan dengan lembaga negara, bahkan sebagai antitesis negara. Kemudian, Gramsci, meletakkan civil society pada superstruktur yang berdampingan dengan negara, sebagai penyeimbang kekuatan negara. Menurutnya, civil society merupakan sebuah arena, tempat berbagai ideologi bekerja dan menggunakan hegemoni mereka untuk mencapai konsensus. Civil society (masyarakat sipil) sebagai penyeimbang kekuatan negara, lebih lanjut dikemukakan oleh Alexis de Tocqueville, yang menyatakan bahwa kekuatan politik dan masyarakat sipil merupakan kekuatan utama yang menjadikan demokrasi Amerika mempunyai daya tahan yang kuat. Menurutnya, civil society  bersifat otonom dan memiliki kapasitas politik yang cukup tinggi sehingga mampu menjadi kekuatan penyeimbang[3].  Pandangan Tocqueville ini memosisikan masyarakat secara otonom dan memiliki kapasitas politik yang memadai untuk kemudian berperanan dalam kekuatan kritis maupun sumber legitimasi kekuasaan. Dimensi keberpihakan kepada kepentingan publik tampak benar dalam pandangan Tocqueville ini, yang kemudian banyak digunakan untuk menjelaskan gerakan sosial yang berporos pada kekuatan masyarakat madani (civil society) yang beroperasi dalam ruang publik (public sphere) yang bebas. Ruang publik (public sphere), sebagai ruang politik yang memungkinkan civil society bergerak bebas, meniscayakan munculnya lembaga-lembaga sosial yang beroperasi berbasis kesukarelaan dan bekerja untuk kepentingan publik dalam rangka mengawal kepentingan publik berhadapan dengan pemerintah, memenuhi apa yang disebut Habermas sebagai deliberasi publik (public deliberation)[4]. Dalam konsepsi kontrak sosial, bekerjanya ruang publik ini sekaligus untuk “menagih” dan menyelamatkan komitmen kontrak sosial pemerintah dengan rakyat. Pemerintah dan rakyat dalam hubungan ini, selanjutnya dapat bersama-sama mengatur kegiatan sosial, ekonomi dan politik untuk menciptakan kohesi dan integrasi sosial untuk mewujudkan kebaikan bersama.***

Kesimpulan

Satu

Relasi Negara dan rakyat berjalan menurut perjanjian sosial (kontrak sosial) sebagaimana dikemukakan Rousseau, yang mengikat mereka yang diberi mandat atau kekuasaan (pemerintah) untuk menjalankan amanat kebaikan bersama, dan mereka yang memberi mandat (rakyat).

Dua

Masyarakat (civil society) merupakan kekuatan politik sebagai penyeimbang dan pengontrol bagi kekuatan Negara yang memiliki dominasi dan legitimasi politik agar tercapai tertib politik dan keseimbangan politik (political equilibrium).

Tiga

Relasi Negara dan rakyat ini memunculkan pemerintahan, yang kemudian bekerja dengan menyelenggarakan administrasi dan pelayanan publik. Maka, pelayanan publik yang baik akan muncul dari pemerintahan yang baik, dan pemerintahan yang baik muncul apabila terdapat kontrol sosial yang kuat oleh masyarakat (civil society) terhadap negara.

Empat

Masyarakat sipil (civil society) sebagai kekuatan penyeimbang kekuatan negara, relasi negara – rakyat, dalam konteks penyelengaraan kebijakan publik, memerlukan ruang publik (public sphere) dalam melakukan aktivitas sosial dan politik untuk mengawal kebijakan publik yang dilakukan pemerintah agar selaras dengan “misi bersama” rakyat. Inilah instrumen pengawal kebijakan dan pelayanan publik yang berintegritas.

Budaya Lokal dan Relasi Politik Aktor

Hubungan sosial antar individu dalam masyarakat maupun antara anggota masyarakat dengan Negara menentukan relasi Negara dan rakyat (materi 1). Relasi tersebut bisa berjalan seimbang, tidak mengintervensi, bisa pula salah satu pihak mendominasi dan mengintervensi  yang lain. Proses hubungan sosial tersebut, baik antar anggota masyarakat maupun antara anggota masyarakat dengan Negara, dalam konteks local merujuk pada proses politik di aras lokal karena pada hakikatnya setiap kegiatan politik berikut aspek pelayanan publiknya terjadi pada level lokal. All politics is local, begitu kata Tip O’ Neil[5]. Dan dalam konteks pemerintahan dan politik lokal, setidaknya ada tiga alasan untuk melakukan politik lokal, yaitu pertama, tata kelola pemerintahan modern yang semakin kompleks; kedua, bentuk demokrasi modern yang lebih menuntut keterlibatan atau pelibatan, yang mengandaikan keterbukaan yang lebih besar kepada kekhasan lokal; dan ketiga, politik lokal memungkinkan terekspresinya dimensi kepercayaan, empati dan modal sosial dalam seluruh proses penyelenggaraan negara[6].

Dalam konteks lokal, hubungan sosial antar warga menunjukkan fenomena sosial yang dapat dipahami sebagai jaringan sosial, struktur kekerabatan, kultur, dan nilai-nilai lokal (local wisdom), dengan menampakkan wajah yang plural dan kekhasan karakter lokal.  Keragaman  nilai-nilai kearifan dan budaya lokal dalam kaitannya dengan aktor lokal dalam bahasan ini, dalam kehidupan politik dan kajian hubungan Negara dan rakyat dalam konteks pelayanan publik, secara umum memiliki korelasi dengan nilai-nilai demokrasi universal, ketika nilai-nilai budaya lokal tersebut merupakan perekat sosial yang menghubungkan antar warga masyarakat atas dasar kepentingan bersama. Pendekatan budaya, menurut Siti Zuhro sangat menonjol di era 1940 dan 1950 untuk mengkaji dan memahami masyarakat, menganalisis perbedaan di antara mereka dan menjelaskan perkembangan politik dan ekonomi mereka. Dia mencatat, tak sedikit ilmuwan sosial yang melakukan penelitian dengan menggunakan pendekatan budaya, seperti Gabriel Almond, Sydney Verba, Lucian W. Pye dan Martin Lipset [7]. Dan dalam perkembangannya, tidak sedikit pula ilmuwan sosial yang mulai melihat kembali faktor-faktor budaya untuk menjelaskan modernisasi, demokratisasi politik dan perilaku kelompok etnis di beberapa Negara. Beberapa nama yang ikut mengedepankan kembali pentingnya kajian budaya adalah Robert Putnam, Seymour Martin Lipset, Francis Fukuyama, Robert Kaplan, dan Samuel P. Huntington [8]. Mereka melihat budaya sebagai pengaruh utama, –walaupun bukan satu-satunya— terhadap perilaku sosial, politik, dan ekonomi. Menurut Cliffort Geertz [9], kebudayaan adalah seluruh cara hidup dari sebuah masyarakat yang berkaitan dengan nilai, praktik, symbol, lembaga dan hubungan antar manusia, sedangkan menurut Samuel Huntington[10], kebudayaan berarti nilai-nilai, sikap, kepercayaan, orientasi, dan praduga mendasar yang lazim di antara orang-orang dalam suatu masyarakat. Budaya merupakan jalan kepercayaan. Fakta bahwa sebuah masyarakat yang secara historis Protestan, Ortodoks, Islam, Konghucu memunculkan wilayah-wilayah budaya dengan system nilai yang sangat berbeda dan relatif terus bertahan. Konsep-konsep tersebut menunjukkan dengan jelas bahwa budaya pada dasarnya mengandung nilai-nilai, cara pandang yang dinamis dan tidak statis, yang cenderung mengalami perubahan dari masa ke masa[11].

Dalam bidang politik dan pemerintahan, kajian budaya lokal yang membingkai hubungan sosial masyarakat dengan pemerintah lokal penyedia pelayanan publik turut pula memengaruhi hubungannya dengan pemerintah sebagai penyedia pelayanan publik. Sebagai contoh, masyarakat Jawa Timur yang cenderung egaliter, plural dan terbuka akan membawa corak yang berbeda dalam hubungannya dengan pemerintahannya jika dibandingkan dengan masyarakat Yogyakarta yang cenderung patriarchal. Orang Jawa Timur dengan ringan memprotes pelayanan pemerintahnya jika merasa dirugikan dan dilakukan dengan spontan bahkan di telinga orang luar Jawa Timur akan terasa kasar.  Namun di balik “kekasaran” masyarakatnya yang terlahir dari implementasi nilai budaya lokalnya, patut untuk ditelusuri lebih lanjut, apakah hal ini kongruen dengan bangunan integritas dalam pelayanan publik ataukah sebaliknya.***

 

bersambung…

___________________

Kearifan dan Budaya Lokal (Local Wisdom): Integritas ala Indonesia

Integrity Action

Educating ASEAN Societies in Building Integrity

e-Book lengkap Building Integrity >> back to HOME: Modal Sosial Dalam Pelayanan Publik Berintegritas

 
 

 

Modal Sosial Dalam Pelayanan Publik Berintegritas

Modal Sosial Dalam Pelayanan Publik Berintegritas

Gagasan integritas dalam pelayanan publik ini telah saya presentasikan di forum konferensi ASEAN bertajuk “ASEAN Conference: Educating ASEAN Societies for Integrity: The Role of  Educators and Students in Building Integrity”, dengan judul makalah “Social Capital in Public Service Operations”.

Mengapa pelayanan publik perlu integritas?

Pertama

Kegiatan administrasi publik yang memunculkan pelayanan publik, terbentuk sebagai konsekuensi dari adanya pemerintahan dan Negara. Penyelenggaraan pelayanan publik sebagai bagian dari penyelenggaraan Negara, meniscayakan hubungan antara Negara dan rakyat (proses politik), karena dari relasi antara negara dan rakyat, lahirlah kebijakan publik dan pelayanan publik.

Kedua

Dalam konteks relasi Negara dan rakyat, terdapat hubungan sosial yang melibatkan institusi pemerintah sebagai penyedia pelayanan publik dengan warga masyarakat. Penyelenggara negara  dipercaya oleh rakyat melalui kontrak sosial bahwa mereka yang disebut ‘penyelenggara negara’ bertindak mewakili ‘orang banyak’ (rakyat) untuk mengatur kepentingan orang banyak tersebut. Dengan sendirinya relasi dan ‘kontrak’ ini mengikat aktor penyelenggara negara agar selaras dengan kepentingan ‘mereka yang mempercayainya’ atau ‘mereka yang memandatinya’ (baca: rakyat). Maka secara otomatis dalam konteks relasi ini terdapat unsur kekuatan yang diperlukan, yaitu: kepercayaan (trust), integritas sosial, altruisme, gotong royong, partisipasi, jaringan sosial, kolaborasi atau kerjasama sosial dalam sebuah komunitas, anggapan dan nilai-nilai kearifan budaya lokal (local wisdom), yang disebut modal sosial (social capital). Modal sosial (social capital) pada prinsipnya menunjuk pada penciptaan jaringan-jaringan, kepercayaan, nilai-nilai bersama, norma-norma dan kebersamaan yang timbul dari adanya interaksi manusia di dalam sebuah masyarakat. Inilah integritas, yang sebenarnya lahir bersamaan dengan proses relasi tersebut. Bahwa misalnya kemudian bayi integritas ini menghilang, jelas nada yang salah dalam prosesnya. Maka harus ditumbuhkan kembali. Dengan kata lain, integritas penyelenggara negara mutlak diperlukan.

Dengan demikian modal sosial dalam integritas pelayanan publik adalah…

Ketiga

Modal sosial merupakan sesuatu yang embedded (menempel) pada relasi negara dan rakyat yang meniscayakan adanya integritas tadi. Ia tumbuh dan berkembang bukan saja karena adanya kesamaan tujuan dan kepentingan, melainkan juga karena adanya kebebasan menyatakan pendapat dan berorganisasi, terjadinya relasi yang berkelanjutan serta terpeliharanya komunikasi dan dialog yang efektif. Sebagian upaya ini dapat dikembangkan dari adanya komunikasi yang terbuka antar aktor lokal termasuk pemerintah sebagai penyedia pelayanan publik dalam hubungannya dengan masyarakat.

Keempat

Modal sosial menjadi perekat dalam hubungan sosial bagi setiap individu, dalam bentuk norma, kepercayaan dan jaringan kerja, sehingga terjadi kerjasama yang saling menguntungkan, untuk mencapai tujuan bersama. Modal sosial jug dipahami sebagai pengetahuan dan pemahaman yang dimiliki bersama oleh komunitas, serta pola hubungan yang memungkinkan sekelompok individu melakukan satu kegiatan yang produktif, termasuk dalam hubungannya dengan Negara.

Kelima

Pendekatan modal sosial untuk menjelaskan relasi Negara dan rakyat yang kemudian meniscayakan terselenggaranya pelayanan publik, mempermudah untuk mendukung upaya penyebaran ide, nilai  dan implementasi integritas dalam sektor administrasi publik, karena di dalamnya menyangkut hubungan sosial antar individu, institusi, struktur dan kultur, dengan mengidentifikasi modal sosial yang mendukung penyelenggaraan pelayanan publik yang berintegritas.

So… Bagaimana selanjutnya?

Kelima dasar pemikiran di atas cukup jelas, bahwa gagasan kontrak sosial yang memberi legitimasi kepada penguasa untuk melaksanakan mandat orang banyak (menyelenggarakan fungsi pelayanan publik) meniscayakan kebutuhan integritas.

Pelayanan publik yang berintegritas adalah pelayanan yang diselenggarakan dengan memperhatikan dan mengutamakan kepentingan dan kebutuhan warga masyarakat selaku pengguna pelayanan tersebut. Karena sejatinya warga masyarakat adalah pemberi mandat kepada para pemegang kekuasaan politik yang menyelenggarakan pelayanan publik.

Karenanya dalam bahasan ini ada 5 tulisan yang mengoperasionalkan implementasi integritas dalam penyelenggaraan pelayanan publik. Ke-5 tulisan berikut ini disusun untuk mendukung gagasan utama Modal Sosial Dalam Penyelenggaraan Pelayanan Publik secara runtut, mulai dari pemahaman konsepsi dasar relasi negara dan rakyat (Materi 2) yang mendasari pemikiran tentang politik pemerintahan dan kemunculan pelayanan publik. Relasi Negara dan rakyat dan apa yang mempengaruhi hubungan sosial antar warga masyarakat maupun antara masyarakat dengan Negara dan pemerintah, dalam konteks pelayanan publik memerlukan tafsir operasional bahwa relasi ini beroperasi dalam bingkai budaya dan  kearifan lokal (Materi 3). Budaya dan kearifan lokal ini bersinggungan  dengan nilai-nilai kebersamaan (togetherness) yang harus ada dan dimiliki oleh masyarakat, baik untuk melakukan interaksi sosial antara warga masyarakat maupun dengan pemerintah selaku penyelenggara pelayanan publik (Materi 4). Materi 3 dan 4 membawa pada pemahaman tentang modal sosial yang diperlukan dalam penyelenggaraan pelayanan publik yang baik dan berintegritas, yang di dalamnya termasuk pula pembahasan tentang kepercayaan public, public trust (Materi 5).  Di sinilah terdapat sintesis pemahaman teoretik (dan praktik) yang didasarkan pada keterlibatan dan kebutuhan masyarakat dengan cara melakukan perikatan perjanjian (kontrak) antara penyedia pelayanan publik dengan masyarakat pengguna layanan tersebut. Salah satu wujud aplikasi “kontrak sosial” ini yang pernah dilakukan adalah model citizen charter (piagam warga) yang berisi perjanjian perikatan antara penyedia pelayanan publik dengan warga masyarakat yang menjadi pengguna pelayanannya (kadang dikenal dengan “janji layanan” atau “maklumat pelayanan”, dsb). Intinya semacam jaminan bahwa pelayanan publik terselenggara dalam prinsip integritas.

Catatan:

Janji pelayanan kepada warga yang terselenggara berbasis citizen charter ini, pada tahap awal reformasi birokrasi dianggap paling efektif, namun dalam implementasi lanjutan, masih perlu pengawalan agar apa-apa yang tertulis dalam citizen charter tersebut tidak menjadi macan kertas, tetapi berdaya paksa efektif kepada pihak-pihak yang melakukan perikatan perjanjian tersebut untuk mewujudkan pelayanan publik yang baik dan berintegritas. Bahasan ini terdapat dalam Materi 6 sebagai materi penutup.

Ke-5 materi tersebut adalah:

  1. Relasi Negara dan Rakyat: Kontrak Sosial Suatu Integritas Bawaan (Materi 2)
  2. Kearifan dan Budaya Lokal (Local Wisdom): Integritas ala Indonesia (Materi3)
  3. Kebersamaan (Togetherness) Dalam Pelayanan Publik (Materi 4)
  4. Modal Sosial dan Kepercayaan Publik  (Materi 5)
  5. Inovasi Pelayanan Publik: Citizen Charter  (Materi 6)

 

Bersambung…

Relasi Negara dan Rakyat: Kontrak Sosial Suatu Integritas Bawaan

 

Important Link:

Integrity Action (an international action for building integrity)

e-Book Building Integrity for ASEAN Communities: Integrity in Business, Communication, Law, Public Administration, Public Health and Religion.