Category Archives: teori sosial kontemporer

Perspektif Baru Teknologi Informasi dan Modal Sosial

Terma Tekonologi Informasi tak asing bagi kita ynag kini hidup di abad berteknologi informasi ini. Mungkin banyak orang bersyukur dengan kehadiran teknologi informasi ini, sekaligus berkeluh kesah akan “dampak buruk”-nya. Berbagai pandangan awam mengkhawatirkan perkembangan kehidupan sosial bagi anak-anak hingga khalayak umum yang kini tampak lebih asyik dengan gadget ketimbang bersosialisasi dengan teman dan tetangga. Modal sosial sedang terancam punah?

Yuk ikut saya…

Bahasan teknologi informasi secara sosial memicu hasrat untuk mengulik lagi teori tentang modal sosial, dengan pro-kontranya. Dampak teknologi informasi terhadap modal sosial, yang dikatakan menumbuhkan modal sosial (dengan modus lain) maupun menghancurkan modal sosial (perampasan ruang sosial riil oleh karakter on line), makin menarik ditelusuri.

[Sebaiknya baca dulu artikel pendahulunya: “Dampak Perkembangan Teknologi Informasi Terhadap Modal Sosial Dalam Konteks Perubahan Sosial”]

Buku Teknologi Informasi dan Modal Sosial dengan editor Marleen Huysman dan Volker Wulf (2004) memberikan kontribusi kajian perubahan sosial khususnya terkait dengan pengembangan konsep dan teori modal sosial dalam kaitannya dengan perkembangan teknologi informasi beserta dampaknya baik dampak positif maupun negatif.

Tulisan ini merupakan kesimpulan dari 6 artikel sebelumnya secara bertautan, saya jadikan berseri agar tidak menumpuk dalam satu artikel panjang. Sebaiknya membaca dari artikel pertama: Teknologi Informasi dan Modal Sosial dan berlanjut ke serial berikutnya secara berurutan.

Meskipun latar belakang akademik penulis bukan dari ilmu-ilmu sosial, namun pengalaman di lapangan dan keterlibatannya dalam berbagai proyek penelitian dalam bidang sosial telah memberikan perspektif baru dalam perkembangan teori dan konsep modal sosial terutama dalam kaitannya dengan perkembangan teknologi informasi, managemen pengetahuan dan understanding Sharing.

Hal ini tentu saja merupakan satu kontribusi yang patut diperhitungkan dan mungkin hal in justru memberikan peluang dan tantangan bagi akademisi dan peneliti bidang sosial untuk mengkaji, meneliti lebih mendalam dan mengembangkan teori-teori dan konsep tentang modal sosial dalam kaitannya dengan realitas sosial dari perkembangan teknologi informasi yang hadir tak terelakkan dalam kehidupan masyarakat dengan berbagai problematika dan dampak yang ditimbulkannya dalam komunitas atau masyarakat saat ini. Di sinilah sisi kontekstual dan relevansi karya Huysman dan kawan-kawan perlu diberi ruang dan apresiasi dalam upayanya untuk memperluas cakrawala pengetahuan (terkait teknologi informasi dan Modal sosial) melalui pendekatan multidisipliner bagi dunia akademik.

Catatan Kritis

Dari perspektif Ilmu Sosial, terutama Sosiologi, teori dan konsep modal sosial sendiri telah mengalami perkembangan yang sangat pesat 1990-an. Modal sosial adalah suatu konsep dengan berbagai definisi yang saling terkait, yang didasarkan pada nilai jaringan sosial. Sejak konsepnya dicetuskan, istilah “modal sosial” telah digambarkan sebagai “sesuatu yang sangat manjur” [Portes, 1998:1] bagi semua masalah yang menimpa komunitas dan masyarakat pada masa kini.

Sementara berbagai aspek dari konsep ini telah dibahas oleh semua bidang ilmu sosial, sebagian menelusuri penggunaannya pada masa modern-day kepada Jane Jacobs pada tahun 1960-an. Namun ia tidak secara eksplisit menjelaskan istilah modal sosial melainkan menggunakannya dalam sebuah artikel dengan rujukan kepada nilai jaringan.

Uraian mendalam yang pertama kali dikemukakan tentang istilah ini dilakukan oleh Pierre Bourdieu pada 1972 (meskipun rumusan jelas dari karyanya dapat ditelusuri ke tahun 1984). James Coleman mengambil definisi Glenn Loury pada 1977 dalam mengembangkan dan memopulerkan konsep ini. Pada akhir 1990-an, konsep ini menjadi sangat populer, khususnya ketika financial institution Dunia mendukung sebuah aplikasi penelitian tentang hal ini, dan konsepnya mendapat perhatian publik melalui buku Robert Putnam pada tahun 2000, “Bowling Alone”.

Istilah modal sosial pertama kali muncul pada tulisan L.J Hanifan (1916) dalam konteks peningkatan kondisi hidup masyarakat melalui keterlibatan masyarakat, niat baik serta atribut-atribut sosial lain dalam bertetangga. Dalam karya tersebut, muncul ciri utama dari modal sosial yakni membawa manfaat inner dan eksternal.

Setelah karya Hanifan,the agricultural college of community center, istilah modal sosial tidak muncul dalam literatur ilmiah selama beberapa dekade. Pada tahun 1956, sekelompok ahli sosiologi perkotaan Kanada menggunakannya dan diperkuat dengan kemunculan teori pertukaran George C.Homans pada tahun 1961.Pada technology ini, istilah modal sosialmuncul pada pembahasan mengenai ikatan-ikatan komunitas. Penelitian yang dilakukan James S. Coleman (1988) di bidang pendidikan dan Robert Putnam (1993) mengenai partisipasi dan performa institusi telah menginspirasi banyak kajian mengenai modal sosial saat ini.

Dalam buku ini Huysman (2004, hal: 2-7) juga mengembang teori modal sosial dengan melihat peran modal sosial dalam managemen pengetahuan, proses berbagi pengetahuan dalam kaitannya dengan perkembangan teknologi informasi. Menurut Huysman ada tiga dimensi modal sosial dalam organisasi yang membuat managemen pengetahuan dan proses berbagi pengetahuan dapat berkembang dengan baik, dimensi tersebut adalah: dimesi struktur, dimensi kognitif dan dimensi relational. Ketiga dimensi modal sosial tersebut bekerja pada dua sisi baik positif maupun terrible.

Pada dasarnya Tujuan dari penulisan buku ini adalah:

Memberikan kontribusi dan menambah perspektif tentang modal sosial dan yang berkaitan dengan teknologi informasi.

Sebagai penghubung dan sharing dari komunitas akademik dari berbagai disiplin ilmu yang berbeda.
Sebagai referensi bagi para peneliti dari berbagai disiplin ilmu yang memiliki peminatan terhadap Modal Sosial, Komunitas dan Teknologi informasi.
Namun catatan kritis terhadap buku bunga rampai dari berbagai penulis tentang Teknologi Informasi dan Modal Sosial hasil editorial Marleen Huysman dan Volker Wulf (2004) ini adalah sebagai berikut:

Pertama, disadari betul oleh editor buku ini (Huysman) bahwa buku ini merupakan kumpulan artikel dari hasil-hasil penelitian empiris dari jaringan peneliti internasional yang berminat pada pengembangan modal sosial dalam kaitannya dengan perkembangan teknologi informasi dengan berbagai latar belakang akademis, sehingga ketajaman analisis terhadap teori dan konsep modal sosial dalam kaitannya dengan perkembangan teknologi informasi masih sangat dangkal, sehingga Huysman merasa perlu memberikan kontribusi tulisannya yang khusus membahas tentang teori-teori modal sosial dari berbagai teoritisi sosial seperti, Pierre Bourdieu, Robert Putnam, Coleman, Portes, Hanifan, Pruzak Cohen, Narayan dan Woolcock.

Dengan keterbatasan tersebut maka editor kemudian lebih memberikan judul buku “yang lebih aman” yaitu Teknologi Informasi dan Modal Sosial dengan dasar argument bahwa analisis Modal sosial dan relevansinya dengan dengan teknologi informasi belum secara jelas dan dalam dilakukan.

Kedua, Kecenderungan dari berbagai penulis (Dari empatbelas (14) artikel) yang ada dalam buku ini, sebagian besar lebih memberikan analisis secara mendalam pada perkembangan dan aplikasi teknologi informasi, managemen pengetahuan dan proses berbagi penegtahuan (understanding sharing) dan kurang memberikan penekanan pada analisis dari teori dan konsep dari modal sosial, termasuk dimensi dan tipologi dari modal sosial dalam kaitannya dengan dampak perkembangan teknologi informasi dalam komunitas atau masyarakat yang sedang berkembang saat ini. Hal ini jelas berdampak pada ‘derajad’ kontribusi bagi perkembangan teori modal sosial terutama bagi peneliti-peneliti dan akademisi bidang sosial, meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa buku ini juga bisa memberikan inspirasi dan peluang bagi peneliti sosial untuk mengembangkan dan menelitinya lebih mendalam.

Ketiga, terdapat ketimpangan yang tajam dalam melakukan kedalam analisis antara Modal sosial dengan analisis secara teknik dari sudut keilmuan para peneliti itu sendiri. Pandangan determinasi teknologi dalam perubahan sosial sangat dominan dari buku ini terutama terlihat pada artikel-artikel yang terkait pada Bab II dengan tema Modal Sosial Dalam proses Berbagi pengetahun (knowledge Sharing) dan Bab III dengan tema Aplikasi teknologi. Analisisis secara mendalam dari berbagai peneliti lebih ditekankan pada bagaimana proses-proses secara teknis dari berbagi ilmu pengetahuan dan aplikasi teknologi informasi.

Namun ruang untuk analisis pada perubahan-perubahan atau dampak-dampak dari teknologi terhadap modal sosial dalam komunitas dengan segala problematikanya, pola-pola hubungan dan elemen-elemen yang ada dalam modal sosial seperti trust, norma, nilai bersama, jaringan, yang berkembang dalam komunitas baik di dunia maya seperti digital network maupun komunitas yang ada dalam masyarakat sebagai konsekuensi dari perkembangan teknologi masih sangat terbatas.

Kecuali pada tulisan (artikel) Huysman bab 1 tentang Modal Sosial dan teknologi Informasi (hal: 1), dan artikel Barry Wellman dan Anabel Quan-Haase tentang “Bagaimana net Mempengaruhi Modal Sosial? (hal: 113) bab five bagian pertama.

Secara lebih khusus perlu digarisbawahi bahwa buku ini juga telah memberi kontribusi dan keutamaan yang membuat buku layak untuk direkomendaikan sebagai referensi dalam bacaan perubahan sosial.

Keutamaan Buku

Keutamaan- keutamaan dari buku ini adalah:

Buku ini menarik karena menyajikan hasil-hasil penelitian empiris terkait Modal Sosial dan Teknologi Informasi dari berbagai disiplin keilmuan sejumlah peneliti dalam jaringan internasional yang memiliki minat, fokus dan perhatian yang sama.

Buku ini tidak hanya mengungkap dampak-dampak positif dari modal sosial dalam kaitannya dengan perkembangan teknologi informasi, namun juga menyajikan temuan-temuan empiris dari sisi gelap dari Modal Sosial (Uzzi, 1997, Cohen dan Prusak, 2001).

Buku ini juga layak menjadi rujukan dan telah memberikan tantangan bagi peneliti yang berminat terhadap pengembangan modal sosial, komunitas dan teknologi informasi.

Buku ini telah memberikan perspektif yang lebih luas tentang Modal Sosial (17 kontributor) dari berbagai disiplin ilmu, Sosiologi, Komunikasi, Sistem Informasi, ekonomi Bisnis dan Studi Managemen.

Kajian tentang modal sosial dan teknologi informasi relevan dengan konteks sosial saat ini di mana perkembangan teknologi informasi berkembang luar biasa di seluruh belahan dunia dengan Isue-isue yang mengikutinya misalnya terkait dengan net society, digital network, e-comerce, bisnis-online dan dampaknya terhadap komunitas baik di dunia maya maupun dalam masyarakat secara luas merupakan realitas sosial yang menarik untuk dikaji.

Buku yang ditulis dari berbagai peneliti dengan latar belakang akademik yang beragam ini membawa kontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan dan perspektif teori serta konsep modal sosial dari sudut pandang yang jauh lebih luas, dan menemukan konteksnya dengan perkembangan teknologi informasi, masyarakat jaringan, virtual network yang berkembang luar biasa di technology global saat ini dengan berbagai masalah sosial yang mengiringinya.


Juga terdapat di blog saya www.WKuswandoro.wordpress.com:

Teori Baru tentang Teknologi Informasi dan Modal Sosial

 

Slavoj Zizek

Great Mind of Slavoj Zizek

[youtube]https://youtu.be/cW1zUh94uMY[/youtube]

 

Karl Marx and Hegel

[youtube]https://youtu.be/7lpUTmvQLb8[/youtube]

 

Post Ideology

[youtube]https://youtu.be/kugiufHh800[/youtube]

 

Liberal Capitalism

[youtube]https://youtu.be/zBbwruvfFR4[/youtube]

 

Pressure of Meanings

[youtube]https://youtu.be/-qVAxuHRKOw[/youtube]

 

Slavoj Zizek’s Method of Madness Analysis

[youtube]https://youtu.be/NUhdaSArTeM[/youtube]

 

Digital Civilization

[youtube]https://youtu.be/u3iDKaRCQro[/youtube]

 

 

Pemikiran Pierre Bourdieu Dalam Memahami Realitas Sosial

me n haryatmoko - BourdieuBerikut, adalah percikan pemikiran Bourdieu, sebagai pengantar memahami realitas sosial. Sebagai tulisan pengantar, tulisan ini memperkenalkan gagasan dasar pemikiran Bourdieu dalam memahami bagaimana individu berelasi sehingga membentuk “praktik”. Bagaimana ‘praktik’ tersebut terjadi dan apa saja yang “terlibat” dalam ‘praktik’ itu, dan bagaimana relasi habitus, arena, kapital, praktik dan kuasa dalam pandangan Bourdieu.

Pierre Bourdieu, adalah salah satu teoretisi terkemuka yang pemikirannya digunakan dalam cultural studies. Pemikiran Bourdieu banyak dipengaruhi oleh Aristoteles, Thomas Aquinas, Hegel, Marx, Durkheim, Max Weber, Picasso, Franz Fanon, Jean Paul Sartre, Husserl, Ferdinand de Saussure, Levi Strauss, Wittgenstein, Martin Heidegger, Michel Foucault, dll. Bourdieu meramu pemikiran beberapa pemikir tersebut menjadi bentuk pemikiran baru yang menekankan peran aktor atau subjektivitas yakni yang dikenal dengan metode strukturalisme – konstruktif[1]. Bourdieu dikenal dengan pengembangan kajian sosiologi kultural dan sosiologi reflektif atau metasosiologi.

WP_20161114_105Inti teori sosiologi kultural Bourdieu adalah “teori tentang praktik manusia” yang memadukan teori yang berpusat pada agen atau aktor (agent centred) dengan penjelasan objektivisme yang menekankan dimensi struktur dalam  membentuk kehidupan sosial[2].

Dasar pembentukan teorinya tak lepas dari pengalaman Bourdieu sendiri yang kemudian mempengaruhi bangunan  teorinya dalam karya-karyanya, yakni pengalamannya selama di Aljiers, Aljazair yang melakukan penelitian di masyarakat Aljiers sambil menjadi asisten dosen, setelah ia lulus dari sekolah filsafat terkemuka di Paris, Prancis, yakni Lycèe Louis le Griand dan Ècole Normale Supèrieure pada tahun 1951. Selama di perguruan tinggi kedua ini, Bourdieu bertemu dan berkenalan dengan Michel Foucault, Jacques Derrida dan Emmanuel Le Roy Ladurie[3]. Pengalaman pribadi dalam keluarga juga membentuk habitus Bourdieu dan juga mempengaruhi karyanya. Terlahir dengan nama Pierre Fèlix Bourdieu (1930 – 2002), di sebuah desa kecil yang bernama Denguin, di wilayah Béarn, Pyrénées, Perancis pada 1 Agustus 1930.  Ia berasal dari keluarga biasa dan besar di lingkungan kelas menengah ke bawah, dan kemudian berhasil menembus perguruan tinggi elit dengan lingkungan bergaya borjuis. Perubahan habitus dan arena yang menyolok ini juga mempengaruhi karyanya yang kemudian membawanya menjadi seorang sosiolog kultural, etnolog, antropolog dan filsuf yang diperhitungkan[4].

WP_20150827_014Teori yang dikembangkan Bourdieu berorientasi pada hubungan dialektik antara struktur objektif dan fenomena subjektif dalam melihat realitas sosial, yang disebut strukturalisme konstruktif, atau konstruktivis strukturalisme (constructivist structuralism), atau Bourdieu menyebutnya “strukturalisme genetis”, yaitu pemaduan analisis struktur objektif dengan asal – usul  mental individual, yang menurut Bourdieu, tidak dapat dipisahkan dari analisis asal-usul struktur sosial itu sendiri. Tampak bahwa Bourdieu mengambil sebagian perspektif strukturalisme dan melihat “struktur objektif sebagai bebas dari kesadaran dan kemauan agen, yang mampu membimbing dan mengendalikan praktik mereka atau representasi mereka” [5]. Struktur subjektif Bourdieu tampak pada dinamika aktor, yang menurutnya mampu berimprovisasi secara teratur, meski dihasilkan tanpa sengaja. Ritzer, mengutip Jenkins, menunjukkan kelemahan teori Bourdieu adalah pada ketidakmampuannya mengatasi subjektivitas. Namun Bourdieu menjembatani subjektivisme dan objektivisme sebagai inti karyanya, yakni terletak pada habitus dan lingkungan, dan hubungan dialektika antara keduanya.

20131124_095906Sederhananya, Bourdieu memahami realitas sosial sebagai relasi dialektika antara individu (agen, struktur subjektif) dengan struktur objektif yakni struktur itu sendiri. relasi dialektika ini melibatkan unsur-unsur subjektif seperti mental individual, struktur pengalaman individual, sruktur kognitif, dsb yang berdialektika dengan struktur objektif. Dialektika ini menghasilkan “praktik”. Dan dalam relasi dialektika ini, Bourdieu memunculkan konsep-konsep untuk menjelaskan “struktur subjektif” dan “objektif” tersebut yakni yang disebutnya sebagai “habitus” dan arena (ranah, field). Habitus mengacu pada “apa yang ada dan dimiliki oleh agen (individu). Pertemuan habitus dalam arena memunculkan modal (kapital), yang dapat merupakan kapital sosial, ekonomi, kultural dan simbolik. Habitus, arena, kapital menghasilkan apa yang disebut Bourdieu sebagai kuasa simbolik. Berikut penjelasan dan relasi di antara habitus, arena, kapital dan kuasa.

Habitus ada di dalam pikiran aktor, lingkungan (field, arena) berada di luar pikiran mereka[6]. Dialektika atau penetrasi timbal balik antara struktur objektif dan subjektif atau antara struktur dan keagenan, merupakan upaya untuk keluar dari kebuntuan struktur dan agensi, oleh Bourdieu disebut ‘praktik’[7]. Praktik, menurut Bourdieu terjadi antara individu atau kelompok sosial, dalam proses internalisasi eksternalitas dan eksternalisasi internalitas, yang mana praktik ini harus dianalisis sebagai hasil interaksi habitus dan ranah (arena)[8].

WP_20150827_020Habitus, adalah struktur kognitif yang memperantarai individu dan realitas sosial. Individu menggunakan habitus dalam berurusan dengan realitas sosial. Habitus merupakan struktur subjektif yang terbentuk dari pengalaman  individu berhubungan dengan individu lain dalam jaringan struktur objektif yang ada dalam ruang sosial. Struktur kognitif memberi kerangka tindakan kepada individu dalam hidup keseharian bersama orang-orang lain. Habitus merupakan hasil pembelajaran lewat pengasuhan, aktivitas bermain, dan juga pendidikan masyarakat dalam arti luas. Dalam interaksi dengan orang lain atau pihak luar ini, terbentuklah ranah (arena), yang merupakan jaringan relasi posisi-posisi objektif[9]. Habitus juga  mencakup pengetahuan dan pemahaman seseorang tentang dunia, yang memberikan kontribusi tersendiri pada realita dunia itu. Oleh karenanya, pengetahuan memiliki kekuasaan konstitutif atau kemampuan menciptakan bentuk realitas dunia[10]. Richard Shusterman mencatat bahwa habitus meliputi keseluruhan relasi sosial dan makna:

The  habitus  acts through  its bodily incorporation of social relationships and meanings (i.e.  those  involving  reference  to  others)  but  without  needing  to articulate them  in terms of explicit  rules or reasons[11].

(habitus muncul dalam keseluruhan relasi-relasi sosial dan makna, misalnya dalam keterlibatan interaksi dengan orang lain, akan tetapi terjadi tanpa artikulasi eksplisit).

 

Hubungan habitus dengan arena, Shusterman menyatakan bahwa keduanya memiliki jalinan makna yang saling bertautan. Berikut pernyataannya:

K1Bourdieu’s theory of the dynamics of habitus (not a rigidly  fixed  or mechanical  habit) and  of  field  (not  a  stationary  space  but  a  dynamic  field  constituted by  struggles over changing  positions) demonstrates  that social structures and identities must be understood not as static, typological, and hard-edged categories but rather as dynamic formations of organized diachronic complexity, poised between stability and change, whose edges arc best construed (in terms of non-linear dynamics) as fuzzy, shifting  fractal basin  boundaries between complex attractors with relatively hard cores (ibid., 18).

(Teori Bourdieu tentang dinamika habitus dan arena, bukan ruang hampa tetapi sebuah ranah, arena, yang terkonstitusi oleh perjuangan untuk mendapatkan posisi-posisi, mendemonstrasikan bahwa struktur sosial dan identitas harus dipahami tidak secara statis, tipologik, menurut ketentuan kategoristik yang kaku, tetapi harus dipahami sebagai formasi yang dinamis dari kompleksitas diakronik yang terorganisasi, berada seimbang diantara stabilitas dan perubahan, dengan masing-masing sisi yang ditafsirkan sebagai sesuatu yang kabur, menggeser tepian batas antara kemenarikan yang kompleks dengan ketegaran relatif).

 

Bourdieu juga menyatakan bahwa habitus secara erat berhubungan dengan modal (kapital), karena sebagian habitus tersebut berperan sebagai pengganda berbagai jenis modal yakni modal ekonomi, modal sosial, modal budaya dan modal simbolik. Dan pada kenyataannya, ia menciptakan modal simbolik. Modal dipandang Bourdieu sebagai basis dominasi dan legitimit. Modal simbolik merupakan modal yang dapat ditukar dan membawa posisi yang dapat memunculkan kekuasaan, yakni kekuasaan untuk merepresentasikan dunia sosial yang legitimit atau kekuasaan simbolik[12]. Fauzi Fashri juga mencatat, mereka yang menguasai keempat modal tersebut dalam jumlah yang besar akan memperoleh kekuasaan yang besar pula. Dengan demikian, modal harus ada dalam sebuah ranah (arena) agar ranah memiliki daya-daya yang memberikan arti. Karakteristik modal dihubungkan dengan skema habitus sebagai pedoman tindakan dan klasifikasi dan ranah (arena) selaku tempat beroperasinya modal[13]. Bourdieu juga meyakini bahwa kekuasaan bersifat tidak sederhana, dan sistemik atau bukan merupakan perkara personal, sebagaimana ditulis Craig Calhoun.

diskusi politik1Kuasa simbolik Bourdieu hadir dalam arena dari relasi dialektiknya dengan habitus dan modal (kapital), terutama kapital simbolik. Seseorang yang menguasai kapital dengan habitus yang memadai akan menguasai arena dan memenangkan pertarungan sosial karena di dalam arena selalu terjadi pertarungan sosial[14].

Sekian dulu perkenalan dengan Bourdieu ini, nanti kita lanjutkan dengan diskusi bagaimana habitus membentuk kapital dalam arena, juga kuasa. Dan bagaimana kuasa simbolik berlangsung dalam praktik sosial. Selanjutnya kita kembangkan diskusi kita dengan mengelaborasi praktik sosial, modal simbolik dan kekuasaan simbolik, seperti:

1. Praktik sosial seperti apa sajakah yang dapat didekati dengan teori Bourdieu ini?

2. Bagaimanakah kuasa simbolik bekerja pada suatu arena atau ranah?

3. Benarkah setiap relasi sosial selalu terjadi pertarungan sosial?

4. Bagaimana pertarungan sosial terjadi dan bagaimana peran serta posisi habitus dan kapital dalam arena pertarungan sosial tersebut? Benarkah ini semua adalah “praktik sosial”?

5. Dalam bidang politik, bagaimanakah habitus, kapital dan arena dapat menjelaskan relasi partai politik, pemilih, pemilihan umum? Dan bagaimana menjelaskan relasi pemerintah dan masyarakat?

6. Adakah kekuasaan simbolik yang beroperasi di arena yang melibatkan partai politik, pemerintah dan masyarakat?

Dan masih banyak elaborasi permasalahan sosial, budaya dan politik yang berjalin berkelindan dalam kehidupan sosial kita. Akan kita bahas satu per satu.. dan akan kita kembangkan untuk menganalisis berbagai persoalan sosial dan politik 🙂

Untuk mengelaborasi permasalahan sosial untuk memperoleh penjelasan yang benar-benar mencerminkan kondisi masyarakat, dengan sendirinya teori sosial memerlukan metode untuk mengoperasionalkan ‘pencarian’ dan ‘pencarian kebenaran’ hingga menghasilkan penjelasan ilmiah. Penggunaan teori Bourdieu sangat baik jika dioperasionalkan dalam aktivitas ‘pencarian kebenaran’ (baca: penelitian) dengan menggunakan metode etnografi, seperti yang Bourdieu lakukan di Aljiers, Aljazair hingga ia merumuskan teori habitus-nya itu.

Semua akan yang saya tulis dalam artikel-artikel berikutnya.

 

 

 


Referensi:


Fashri, Fauzi. Pierre Bourdieu: Menyingkap Kuasa Simbol. Yogyakarta: Jalasutra, 2014.

Grenfell, Michael. Ed. Pierre Bourdieu: Key Concepts. North Yorkshire, UK: Acumen Publishing Limited, 2010.

Ritzer, George Teori Sosiologi Modern. Edisi Ketujuh. Terj. Triwibowo BS, Jakarta: Kencana, 2014.

Shusterman, Richard. Bourdieu: A Critical Reader. Massachusetts, USA: Blacwell Publishers Inc., 2000.

Bekerja Dengan Hati n Pikiran Positif - FULL

 

Fenomenologi Korupsi

Artikel Pendahuluan

Fenomenologi

Fenomenologi Husserlian

 

FENOMENOLOGI KORUPSI

 “Secara fenomenologis, korupsi dan perilaku koruptif itu mencerminkan daya kapasitas kesadaran dan jiwa pelakunya yang lemah, tak terawat, menyedihkan, rapuh dan sengsara. Ia menggunakan perangkat pencurian sebagai bentuk relasi eksistensi diri dengan realitas-dunianya.” – WK –

Abstraks

Fenomenologi korupsi memahami fenomena korupsi secara natural dan “genuine”, apa adanya, tanpa prasangka, prakonsepsi ataupun konstruk terhadap “korupsi”, yang darinya memunculkan kesadaran tentang sikap yang harus diambil secara tepat. Secara fenomenologis, korupsi merupakan bentuk relasi dengan dunia-kehidupannya yakni bentuk cara-berada (way of being) dan merupakan eksistensi jiwa yang rapuh dan sengsara dari aktor jika dibaca dari konsepsi Patocka, penerus fenomenologi Husserlian.

 

Kata kunci: fenomenologi, memahami fenomena tanpa konstruk, cara-berada fenomena.

 

integrity class 1Pendahuluan: Fenomenologi Husserlian

Fenomenologi sebagaimana dikenalkan oleh Edmund Husserl, merupakan gerakan pemikiran filsafat (cara berpikir) untuk memahami fenomena (penampakan)[1], yang kemudian, dari gerakan filsafat, fenomenologi dapat dimaknai sebagai sebuah teori dan juga metode. Hal ini dapat dirunut dari pernyataan Husserl, bahwa hal yang paling penting adalah  mengembangkan suatu metode yang akurat sehingga mampu mendorong para filsuf dan ilmuwan untuk mencapai “sesuatu itu sendiri” (things themselves)[2]. Dan, “sesuatu itu sendiri” itu tak lain adalah dasar-dasar pengertian tentang “fenomena”, yang dimulai dengan pemahaman terhadap “dunia kehidupan yang secara langsung kita alami” atau yang oleh Husserl disebut “lebenswelt”. Pemahaman terhadap lebenswelt ini diperoleh dengan metode “reduksi” dan memahami karakter dasar kesadaran yaitu “intensionalitas” dan “intersubjektivitas”[3]. Sebelum melanjutkan jabaran tentang fenomenologi Husserlian dengan karakter “trinitas”-nya (filsafat, ilmu, metode), perlu dideskripsikan tentang “fenomena”. Selanjutnya, bahasan fenomenologi dalam tulisan ini lebih mengemukakan fenomenologi sebagai teori dan metode. Fenomena, berasal dari kata dalam bahasa Yunani, phainomenon (phainomai, menampakkan diri), sehingga fenomenologi adalah ilmu tentang apa yang menampakkan diri ke pengalaman subjek[4]. Fenomena, berarti segala sesuatu yang menyingkapkan-diri atau sesuatu yang memberikan-dirinya dalam ketersingkapannya yang khusus[5]. Maka, fenomenologi, adalah metode untuk menangkap fenomena, atau metode untuk melihat segala sesuatu yang memberikan-dirinya (self-given) menurut cara keterberiannya masing-masing yang khas dan singular/ perspectival (its manner of givenness).  Kuncinya, terletak pada: cara-bagaimana sesuatu itu memberikan-dirinya/ menyingkapkan-dirinya; atau dengan kata lain: cara-berada dari sesuatu [6]. Lantas, bagaimana “sesuatu” itu dapat memberikan-dirinya menurut cara keterberiannya masing-masing, atau secara “apa adanya”, sehingga “sesuatu” itu “mewujud” atau “meng-ada” (being) ? Supaya “sesuatu” (fenomena) itu dapat   memberikan-dirinya apa adanya tanpa ada prasangka, pra-konsepsi yang mencemari “wujud keasliannya”, maka fenomenologi Husserlian memberikan cara yakni menangguhkan atau “menempatkan di dalam kurung” segala konstruksi pengetahuan yang melekat dalam cara berpikir kita dan selalu kita andaikan tentang sesuatu itu, untuk kemudian dari titik tanpa pengandaian (presuppositionless) itu kita dapat melihat sesuatu itu sebagai sesuatu itu sendiri, bukan konstruksi pengetahuan kita tentang sesuatu itu. Metode ini oleh Husserl disebut “epoche”[7]. Di sini, fenomenologi hendak memprovokasi kesadaran kita dengan memalingkan pengamatan dari dunia-keseharian yang artifisial, kembali kepada dunia-kehidupan yang mendasar, fundamental dan transendental[8].

Prinsip fenomenologi Husserl adalah pada kemampuan manusia untuk memaknai hidupnya dengan bersikap tepat di hadapan realitas[9]. Dan, realitas itu bersifat transenden, artinya melampaui daya jangkau persepsi dan pemahaman manusia, atau bersifat tidak terbatas. Sifat transenden realitas ini membuat dunia-kehidupan (lebenswelt) selalu memberikan kemungkinan pemaknaan yang tidak terbatas[10]. Inter-relasi sosial dalam fenomenologi dimaknai sebagai perjumpaan antar subjektivitas yang masing-masing aktor membawa subjektivitasnya masing-masing atau kesadarannya masing-masing, dalam intensional yang sama. Bentuk cara-berada (meng-ada) atau relasi intensional di antara subjek yang sama sekaligus berbeda, relasi timbal balik yang melaluinya tidak lagi terdapat perbedaan antara subjek-objek, yang oleh Husserl dinamakan “intersubjektivitas”. Relasi intersubjektivitas ini merupakan dasar pemahaman terhadap dunia. Ia mengkonstitusikan pemahaman kita dalam horizon pra-refleksivitas yang tidak terbatas[11]. Intersubjektivitas yang terjadi dalam temporalitas tertentu ini memicu kesadaran dan melampaui kesadaran diri sendiri secara intensif yang tidak memiliki cukup akses sehingga memunculkan “kesadaran lain”, dan orang lain (The Others) dan “subjektivitas yang asing” yang kemudian mewujud menjadi “sumber dari segala jenis realitas transenden lainnya”. Hal ini mentransformasi seluruh kategori pemahaman dan pengalaman kita akan realitas. Intersubjektivitas ini melahirkan penegasan diri, yang oleh Husserl disebut “ego-transendental”, yang merupakan momen refleksi diri personal. Inilah rasionalitas kesadaran. Ia sebenarnya tidak benar-benar rasional objektif, tetapi mengandaikan berbagai hal yang tidak disadari[12]. Kekuatan kesadaran manusia terletak pada daya kapasitas / daya aktif-agresif yang dimilikinya[13].

Kesadaran inilah yang menjadi proyek besar fenomenologi. Kesadaran muncul dari relasi intensional yang memberi makna pada “lebenswelt” (life-world) tempat manusia hidup dengan segala pengalaman hidup dan perasaannya, merupakan momen-afeksi atau kepedulian yang memperlihatkan keterlibatan atau cara-berada (meng-ada) kita yang mendasar dengan realitas atau yang dalam bahasa fenomenologi disebut sebagai “ada-di-dalam-dunia” (being-in-the-world). Momen-afeksi atau kepedulian atau kesadaran ini adalah penghayatan hidup (vivacity), yakni menghayati bahwa sesuatu itu dipahami sebagai sesuatu itu sendiri; atau membiarkan peristiwa itu bercerita kepada kita apa adanya dan memberikan kesadaran kepada kita tentangnya hingga mencapai “ego-transendental” dan bahkan “kesadaran yang lain”. Inilah sebabnya  analisis fenomenologi selalu mengambil posisi atau “perspektif orang pertama” (first person perspective)[14], karena seluruh pengalaman dan pemahaman akan realitas dimungkinkan dari diri sendiri dan refleksi diri.

DSCF5409Momen-afeksi dan penegasan diri yang muncul dalam “first person perspective” ini bagi fenomenologi menjadi awal dari seluruh aktivitas budaya dan kebudayaan. Dengan menegaskan-diri manusia menjadi dirinya sendiri, dan dengan menjadi dirinya sendiri manusia “merawat jiwanya”, merawat dunianya, sesamanya (otentisitas)[15]. Rumusan “merawat jiwa” ini mendapat tempat tersendiri dalam kajian fenomenologi Patocka, seorang penganut fenomenologi Husserlian, yang menganggap problem “penyingkapan-diri”  atau “pemberian-diri” sebagai sesuatu yang bermakna (showing in itself). Bagi Patocka, penegasan-diri, penyingkapan-diri selalu memuat dimensinya yang mendua/ ganda (double meanings), yang mana kemenduaan atau kegandaan cara-berada manusia ini karena digerakkan oleh suatu gerak di dalam dirinya. Gerak yang menggerakkan itu (auto-kineton) tidak lain adalah jiwa (soul). Bagi Patocka kekhasan jiwa telah menetapkan dasar bagi seluruh peradaban manusia berikutnya[16]. Gerak mendua jiwa ini dalam pembacaan Patocka berasal dari sifat alamiah jiwa itu sendiri, dan dalam jawaban untuk bertanggungjawab atas jiwanya, atas sesamanya dan atas dunianya, dan dalam jawaban itulah terletak inti kebebasan manusia[17]. Politik (polis), dalam pembacaan Patocka, adalah sebuah wilayah yang di dalamnya jiwa manusia memberikan-diri melalui berbagai caranya yang beragam (self-given in its varieties of manner of givenness).

 

Korupsi Sebagai Fenomena Sosial – Budaya

Korupsi dalam tulisan ini adalah korupsi dan perilaku koruptif  seseorang atau orang-orang yang memiliki kedudukan, posisi dan jabatan yang lebih atau di atas rata-rata orang-orang  dalam lingkungan sosialnya. Mereka adalah orang-orang yang dipersepsi oleh masyarakat sebagai orang yang memiliki kelebihan tertentu dibandingkan dengan orang-orang lain atau orang kebanyakan atau warga masyarakat biasa. Tulisan ini tidak membuat yakebanyakan” akan selalu berperilaku koruptif, akan tetapi hanya untuk memberikan deskripsi definit-objektif terhadap aktor pelaku tindak koruptif tersebut. Mereka bisa jadi adalah orang atau orang-orang yang menduduki posisi atau jabatan tertentu di organisasi sosial, organisasi politik, organisasi pemerintahan, organisasi bisnis, dsb. Dan mereka ini dalam struktur sosial di masyarakat menempati status sosial lebih tinggi dibanding orang lain atau warga masyarakat biasa. Mereka yang memiliki status sosial lebih tinggi atau yang menempati posisi atas (elit) dalam piramida struktur sosial, akan cenderung dipersepsi sebagai “warga kelas satu” atau golongan tersendiri. Masyarakat menganggap kelompok ini sebagai “kelompok khusus”, sehingga timbul ekspektasi khusus pula terhadap “kelompok khusus” ini, yang muncul dalam atribut sosialnya, yang harus berbeda dari orang kebanyakan. Perbedaan atribut sosial ini bisa mewujud dalam bentuk-bentuk superioritas sosial artifisial dari “kelompok khusus” ini, misalnya bahwa “kelompok khusus” ini harus tampil secara sosial lebih dari orang lain, lebih kaya, lebih mewah, dll. Dalam persepsi ini, orang-orang yang memiliki jabatan tertentu apakah itu jabatan sosial, jabatan politik, jabatan administratif, dsb, “harus lebih kaya” dari orang kebanyakan. Contoh, jika ada orang yang memiliki jabatan di instansi pemerintah, misalnya kepala dinas atau kepala kantor (eselon III), dan kebetulan penjabat eselon ini biasa-biasa saja, tidak tampak kaya, maka akan muncul “gunjingan sosial”, seperti “masak sudah memiliki jabatan bagus kok masih tetap miskin”. Punishment sosial atau stigma sosial semacam ini dapat memunculkan perilaku menyimpang dari mereka yang dikenai stigma sosial ini. Mereka akan bertindak menyamai atau mendekati ekspektasi sosial atau “stempel sosial” ini yakni dengan “tampil tampak lebih kaya” walaupun memaksa diri, dan tak jarang para pemilik jabatan sosial, politik dan administratif ini dalam rangka memenuhi “stempel sosial” ini dan manakala tidak merasa mampu secara alamiah akan menempuh “jalan lain” yakni berperilaku koruptif dengan melakukan tindak korupsi. Pertanyaannya, dan ini yang menjadi titik pusat perhatian tulisan ini, adalah apa penyebab kemunculan perilaku koruptif pada lapisan sosial ini, dalam perspektif pelaku? Pelaku mempersepsi diri sendiri dan orang lain juga lingkungan sosialnya sebagaimana lingkungan sosialnya mempersepsinya, sehingga munculnya tindakan korupsi lebih merupakan respons sosial atas persepsi sosial dan ekspektasi sosial terhadapnya. Atau, tindak korupsi atau perilaku koruptif merupakan tindakan sosial yang bersandar pada ikatan sosial atau mengikut arus “solidaritas sosial”. Fenomena korupsi merupakan fenomena sosial yang kemudian bergeser menjadi fenomena budaya. Fenomena ini tidak berdiri sendiri atau sebagai faktor tunggal (perilaku sosial dari si aktor) tetapi berjalin berkelindan dengan lingkungan sosial sang aktor.

Topik korupsi dalam fenomenologi korupsi ini dimunculkan karena fenomena korupsi di Indonesia begitu tampak nyata dan live. Jika dirunut dari sejarahnya, ternyata korupsi di Indonesia telah ada sejak zaman kolonial Belanda, yang dilakukan oleh VOC (perkumpulan dagang Hindia Belanda) sejak tahun 1642 dan terjadi terus di sepanjang sejarah hingga masa kemerdekaan hingga sekarang[18]. Dan korupsi di Indonesia terjadi mulai dari lini pemerintahan, bisnis hingga korupsi politik.

Fenomenologi Korupsi

Korupsi dan perilaku koruptif di masyarakat sebagai sebuah fenomena. Apa yang dapat dijelaskan dengan fenomena korupsi ini? Korupsi dan perilaku koruptif tidak terlepas dari konteks sosialnya yakni merupakan respons atas persepsi sosial dan ekspektasi sosial terhadap aktor. Fenomenologi korupsi hadir untuk memberikan penjelasan atas dua hal yaitu pertama, bagaimana fenomena korupsi ini memberikan-dirinya secara apa adanya sehingga bisa ditangkap sebagaimana adanya, dan kedua, bagaimana cara korupsi itu “meng-ada” (being), yang dari sini bisa memunculkan perilaku pelakunya secara “genuine”, dan dalam konteks sosial dan politiknya, aktor korupsi mampu memberikan-makna-dirinya secara lugas, sehingga analisis fenomenologis selanjutnya adalah untuk menampakkan fenomena korupsi ini sebagai bentuk relasi dari pelakunya dengan realitasnya. Dari sini diharapkan fenomena korupsi ini akan memberikan kesadaran tentang perawatan jiwa yang oleh Patocka diniscayakan dalam fenomenologi politik (polis).

 

Bentuk Relasi Korupsi Dengan Realitasnya

Bagaimana fenomena korupsi ini meng-ada (being) dalam dunia kita (lebenswelt,life-world)? Dan bagaimana cara-berada korupsi? Fenomena korupsi dapat dipahami melalui cara-berada-nya korupsi itu sendiri. Ia bukan fenomena tunggal yang tiba-tiba muncul misalnya dari keserakahan pelakunya, kebutuhan pelakunya atau kegilaan pelakunya pada materi keduniawian. Korupsi, dan perialku koruptif muncul dalam konteks sosial dan budaya yang mendukung kemunculannya. Korupsi telah direstui oleh masyarakat yang merupakan lingkungan sosial atau habitat sosial korupsi tersebut.  Ketika aktor atau pelaku korupsi melekat atribut sosial yang diberikan oleh masyarakat bahwa sang aktor adalah “warga kelas satu” yang tidak boleh tampak miskin, maka serangkaian pengharapan (ekspektasi) sosial melekat dalam diri si aktor sebagai atribut sosial baru yang harus dirawat sejalan dengan situasi dan ekspektasi sosial tersebut. Aktor, dengan segala daya upayanya akan merawat atribut sosial baru ini, dengan tindakan-tindakan sosial yang memadai, misalnya dengan melawan norma sosial tentang kepatutan sosial dan ini memicu tindakan-tindakan semacam korupsi. Dalam fenomenologi, atribut sosial semisal cara hidup, perilaku, alat, teknologi, termasuk korupsi, merupakan bentuk cara-berada (way of being) yang selalu terlibat untuk memperalat dunia sebagai “sesuatu”. Secara fenomenologis, “alat”, “teknologi” adalah sistematisasi atau idealisasi yang dibangun manusia untuk memaknai realitas dunianya. Korupsi adalah sebuah “teknologi” yang ditafsir sebagai “bentuk-relasi” yang memungkinkan menyokong eksistensi diri sang aktor dalam memaknai eksistensinya terhadap dunia-kehidupannya (lebenswelt, life-world). Ketika dunia-kehidupannya adalah “dunia-kehidupan kelas satu” (hasil pemaknaan kolektif dari masyarakatnya) yang dilekatkan kepada sang aktor, maka di sinilah terjadi hubungan timbal balik (resiprokal) antara subjek (aktor) dan dunia-kehidupannya. Relasi ini memunculkan tafsir dunia-kehidupan yang memunculkan “kesadaran” untuk merespons dunia-kehidupannya dengan tindakan yang memadai (sesuai). Jika tafsirnya adalah “harus tampil kaya” maka tindakan yang memadai adalah “menjadi kaya”. Problem muncul ketika akses kepada kekayaan tidak dimilikinya, maka tindakan yang memadai adalah “tindak korupsi” sebagai rational choice atas kondisi ini. Dalam konteks ini korupsi adalah alat sistematisasi atau idealisasi yang sesuai untuk memaknai realitas dunia-kehidupannya. Korupsi adalah relasi bentuk cara-berada manusianya.

Fenomenologi dan Perawatan Jiwa Model Patocka

Korupsi, yang menampak-menyingkap (showing in itself) dalam dimensi ganda (double meanings) yakni dimensi-niscaya dan dimensi asosial. Dimensi-niscaya, adalah meng-ada-nya korupsi sebagai keniscayaan tindak aktor pelaku korupsi dalam merespons konstruk sosial yang diberikan oleh masyarakat terhadapnya, sebagaimana deskripsi pada sub bahasan di atas. Korupsi berada pada dunia-kehidupan yang memerlukan keberadaannya (being). Korupsi adalah the way of being (bentuk cara-berada). Mengikut Patocka, “being exist”-nya korupsi dalam pemahaman ini memunculkan kesadaran lanjutan pada aktor untuk menafsirkan kembali respons tindakannya berdasarkan subjektivitasnya dalam rentang temporalitas, yang dari sini menghadirkan gerak jiwa dalam diri aktor pada dataran “kesadaran yang lain” yang muncul dari kesadaran tindak asosial (tak patut). Gerak jiwa dalam diri aktor ini dalam pembacaan Patocka berasal dari sifat alamiah jiwa itu sendiri, dan dalam jawaban untuk bertanggungjawab atas jiwanya, atas sesamanya dan atas dunianya, dan dalam jawaban itulah terletak inti kebebasan manusia. Korupsi kemudian dipersepsi oleh aktor sebagai tanggungjawab atas jiwanya, atas sesamanya. Refleksi dunia-kehidupan yang ditafsir oleh aktor dengan tindak korupsi sebagai bentuk relasi dalam pembacaan terhadap kebebasannya, sebagai tanggungjawab atas jiwa dan sesamanya, inilah yang mengindikasikan perlunya perawatan jiwa pada aktor tindak korupsi. Selanjutnya, dalam ranah yang lebih luas, yakni ranah politik, di mana terjadi perjumpaan aktor dengan aktor lain, yang terjadi dalam makna intersubjektivitas, di mana antar aktor saling mempertemukan subjektivitasnya masing-masing dengan segenap pengalaman dan karakternya, jiwa aktor yang saling terhubung dalam intersubjektivitas ini menampak melalui berbagai caranya yang beragam (self-given in its varieties of manner of givenness). Di sini korupsi menampak dalam wajah yang beragam yang mencerminkan jiwa yang rapuh dari sang aktor, karena aktor menggunakan perangkat pencurian (korup) sebagai bentuk relasi eksistensi diri dengan realitas-dunianya. Aktor menafsir dunia-kehidupannya dengan piranti koruptif.

Kesimpulan

Satu,

Cara pandang fenomenologi adalah membaca fenomena sebagaimana adanya fenomena itu sendiri tanpa ada prasangka. Atau, menghadirkan fenomena secara “genuine”.

Dua,

Dalam melihat korupsi, fenomenologi memandang secara alamiah tanpa prasangka atau pra-konsepsi tentang korupsi sehingga memunculkan pemahaman asli, yang darinya memunculkan kesadaran tentang sikap yang harus diambil secara tepat. Fenomenologi mengantarkan kita pada  pemahaman korupsi sebagai bentuk relasional dengan dunia-kehidupan, sebagai respons atas tafsir sosial yang dilekatkan pada aktor pelaku korupsi.

Tiga,

Secara fenomenologis, korupsi merupakan bentuk relasi dengan dunia-kehidupannya yakni bentuk cara-berada (way of being); dan merupakan eksistensi jiwa yang rapuh dan sengsara dari aktor jika dibaca dari konsepsi Patocka tentang fenomenologi dan perawatan jiwa.

Empat,

Bagi pengamat korupsi dengan pendekatan fenomenologi, ditemukan kesadaran bahwa dari “pelabelan sosial” kepada aktor, yang melekat pada budaya manusia, telah merangkai makna simbolik dalam kerangka sistem yang dalam istilah Fritjof Capra[19], dilukiskan bahwa kelompok-kelompok manusia, masyarakat dan kebudayaan mempunyai jiwa kolektif, dan oleh karena itu juga memiliki kesadaran kolektif sebagai konsepsi yang digunakan manusia untuk menafsirkan hidup dan menentukan sikap terhadapnya. Kesadaran kolektif yang dimaksud adalah tentang bagaimana respons sosial terhadap korupsi ketika korupsi secara fenomenologis tertampakkan sebagai bentuk respons relasional atas label sosial yang dilekatkan kepada aktor pelaku korupsi yang kemudian ditafsir oleh aktor secara produktif-resiprokal berupa “tindak korupsi”. ***

 

 


Bacaan Lain:

Cultural Studies

Penelitian Kualitatif

Teori Feminis Eksistensialis Fenomenologis

Artikel Pendahuluan:

Memahami Realitas Sosial

Fenomenologi

 

Perempuan dan dunia perempuan, peran sosial perempuan, konstruk perempuan, konstruksi sosial atas perempuan, termasuk konstruksi media atas perempuan, adalah realitas sosial. Bagaimana kita memahaminya?

 

Teori Feminis Eksistensialis Fenomenologis

Teori feminis muncul dan berkembang untuk menjawab problematika sosial yang menyangkut hubungan sosial antara aktor laki-laki dan perempuan dalam praktik sosial, agar tercipta keadilan dan keseimbangan dalam hubungan sosial tersebut. Gelombang pemikiran feminis, yang dimulai pada abad ke-18 yang ditandai dengan pemikiran feminis liberal ketika itu, ditujukan untuk menciptakan masyarakat yang adil dan peduli pada kebebasan. Hanya dalam masyarakat yang seperti itu perempuan, dan juga laki-laki dapat mengembangkan diri (Putnam Tong, 2010: 18).  Tokoh penting feminis pada masa itu adalah Mary Wollstonecraft, dengan karyanya yang berjudul “A Vindication of the Right of Women”, yang menulis tentang perempuan “beruntung” yakni memperoleh cara bereksistensi secara lebih manusiawi, dan perempuan yang terkekang, yakni perempuan “peliharaan” yang digambarkan sebagai “burung  yang disimpan dalam sangkar yang tidak memiliki pekerjaan kecuali memamerkan sayapnya dan berjalan dengan keagungan yang palsu”.  Wollstonecraft mencatat, bahwa perempuan kelas menengah ini tidak diijinkan untuk beraktivitas di luar rumah seperti berolah raga karena kawatir akan menggelapkan kulitnya yang putih seperti bunga lili. Karenanya, mereka dihambat untuk mengambil keputusan sendiri dan tidak memiliki kebebasan (ibid, halm. 19). Inilah awal mula pembedaan-pembedaan sosial antara perempuan dan laki-laki sehingga memunculkan pemikiran dan teori feminis liberal, untuk membebaskan perempuan dari usaha pembedaan peran jender yang dikonstruksi secara sosial oleh masyarakat (yang didominasi oleh laki-laki). Dari sini lahirlah budaya patriarkhi dengan dominasi pada laki-laki, dan tentu saja, perempuan sebagai pihak yang didominasi dan ter-subordinasi.

 

Putnam Tong mencatat, bahwa subordinasi perempuan berakar dari serangkaian hambatan berdasarkan adat kebiasaan dan hambatan hukum, yang membatasi masuknya –serta keberhasilan-  perempuan pada apa yang disebut sebagai dunia publik, karena masyarakat mempunyai keyakinan yang salah bahwa perempuan secara alamiah tidak secerdas dan sekuat laki-laki, masyarakat meminggirkan perempuan dari akademi,  forum dan pasar. Sebagai akibat dari politik peminggiran ini, potensi yang sesungguhnya dari perempuan tidak terpenuhi. Feminis liberal menekankan, pertama, bahwa  keadilan jender menuntut kita untuk membuat aturan permainan yang adil, kedua, untuk memastikan tidak satupun dari pelomba untuk kebaikan dan pelayanan bagi masyarakat dirugikan secara sistematis (ibid., halm. 2-3). Akan tetapi,  lanjut Putnam Tong, teori feminis liberal tidak cukup drastis dalam menjelaskan fenomena opresi terhadap perempuan. Muncullah pemikiran feminis radikal, yang mengklaim bahwa sistem patriarkhal ditandai oleh kuasa, dominasi, hirarki dan kompetisi. Sistem patriarkhal tidak dapat dibentuk ulang tetapi harus dicabut dari akar dan cabang-cabangnya (ibid halm 3).

 

Fenomena opresi terhadap perempuan yang berisi subordinasi, peminggiran dan pelenyapan identitas sosial dan eksistensi sosial manusia perempuan ini bisa dijelaskan dengan merunut teori feminis mulai dari teori feminis liberal sebagai pembuka jalan atau pendobrak pertama paham subordinasi dan peminggiran terhadap perempuan sebagaimana ditulis Putnam Tong, yang kemudian terfokus pada teori feminis eksistensialis-fenomenologis, yang diperkenalkan oleh Simone de Beauvoir yang merupakan pemikir feminis yang menawarkan analisis fenomenologis dan eksistensial. Beauvoir memberikan penjelasan ontologis-eksistensial atas marginalisasi perempuan sebagai Other dalam kultur yang diciptakan laki-laki. Rumusan klasik tema ini ada dalam analisis eksistensial oleh Beauvoir  dalam bukunya “The Second Sex”, ia mencatat bahwa dunia yang didiami manusia dikembangkan dari kultur yang diciptakan laki-laki dan mengasumsikan  pria sebagai subjek yakni sebagai kesadaran yang darinya dunia dilihat didefinisikan. Kultur yang paling banter mendorong pengalaman perempuan dan cara mengenal diri mereka sendiri ke pinggiran kerangka konseptual dan, yang paling mengerikan, menciptakan sebuah konstruk tentang perempuan sebagai “orang lain” (the Other), sebuah makhluk yang diobjektifkan (objectified), yang pembawaannya mempresentasikan sisi yang bertentangan dari pria (Ritzer, 2014:395). Lebih detil, dalam tulisan yang dihimpun oleh Putnam Tong (2010:8-9), analisis Beauvoir ini berargumentasi bahwa perempuan diopresi melalui ke-liyan-annya (otherness). Perempuan  adalah “Liyan” (the Other) karena perempuan adalah “bukan laki-laki”. Laki-laki adalah bebas, makhluk yang menentukan dirinya sendiri yang mendefinisi makna esksistensinya. Perempuan adalah “Liyan” (the Other), objek yang tidak menentukan makna eksistensinya sendiri. Konsepsi subjek (perempuan) yang dalam teori feminis eksistensialis-fenomenologis disebutkan adanya konstruk atas perempuan sebagai “orang lain” (“liyan, the other”), atau yang diobjektifkan (objectified) dalam relasinya dengan laki-laki, Beauvoir (mengikuti Hegel, Heidegger dan Sartre) telah menerima begitu saja bahwa otherness adalah kategori fundamental dari pemikiran manusia. Perbedaan perempuan dan laki-laki sebagian berasal dari konstruksi sosial yang meminggirkan perempuan dan sebagian dari internalisasi dari “the otherness” (Ritzer, op.cit., halm.395).***

Sisi lain (pendapat tentang) feminisme….

Bagaimana pendapat anda?

Bacaan lain:

Penggunaan Teori Feminis

Teori Kritis

 

 

Teori Kritis

Artikel Pendahuluan:

Kritik Atas Teori Modernitas

Teori Modernitas

Memahami Realitas Sosial

TEORI KRITIS:

Jembatan Emas Menuju Pemahaman Realitas Sosial Kontemporer

 

Diberi judul seperti di atas karena kontribusi besar Teori Kritis pada kritik atas pemikiran deterministik pada teori Marxis (determinisme ekonomi) dalam memahami realitas sosial yang cenderung positivistik yang memandang realitas sosial berjalan sebagai proses alamiah, gejala sosial ditimbulkan oleh gejala sosial yang lain secara searah. Padahal pemahaman terhadap realitas sosial tidak dapat dilakukan secara deterministik tunggal (ekonomi) saja; dan seperti dikatakan Ritzer, berparadigma ganda. Teori Kritis –dengan pemikiran dialektikanya-, berupaya membongkar tradisi pemikiran deterministik dan meletakkan dasar pemikiran revolusioner pada pemikiran-pemikiran baru, untuk lebih mampu memahami realitas sosial kontemporer (masa kini) secara lebih akurat. (WK).

 

Teori Kritis, adalah produk sekelompok pemikir neo-Marxis Jerman (didirikan di Frankfurt, karenanya disebut aliran atau mazhab Frankfurt) yang tidak puas terhadap teori Marxian. Mereka menentang determinisme ekonomi dalam teori Marx, yang dari padanya menjadi titik tolak  bagi kritik selanjutnya terhadap positivisme, kritik terhadap masyarakat modern yang disebutnya “didominasi oleh elemen kultural” dan mengalami “penindasan kultural atas individu”, dan kemudian, kritik terhadap kultur. Teori Kritis adalah sebuah gerakan. Yakni gerakan pemikiran baru, untuk menentang determinisme tunggal teori sosial Marxian tadi itu.

20131117_141253Kontribusi besar Teori Kritis adalah, pertama, analisis kebudayaan (fokus pada super-struktur kultural), yang berawal dari penggeseran orientasi pemikiran basis (struktur) ekonomi dari tradisi Marxian ke arah elemen subyektif dan kultural dari kehidupan sosial. Kedua, pendekatan dialektika, yang ditandai dengan pemikiran mengenai “umpan balik” dan interaksi timbal balik secara terus-menerus antara berbagai sektor masyarakat. Pemikiran dialektika ini berfokus pada “totalitas sosial”, dengan argumen bahwa kehidupan sosial tidak memiliki aspek parsial, dan tidak ada fenomena yang terisolasi, sehingga pemahaman terhadapnya harus dikaitkan dengan sejarah secara keseluruhan.

Teori Kritis menentang Teori Marx, yakni terhadap pemikiran determinisme ekonomi Marx yang dianggapnya mekanistis dan kurang lengkap. Menurut Teori Kritis, pemusatan perhatian pada determinan ekonomi seharusnya memperhatikan “kehidupan sosial yang lain” untuk dapat memberikan penjelasan yang lebih akurat pada realitas sosial. Penentangan tersebut dilandasi pula karena teori Marxian terpengaruh pemikiran positivisme yang cenderung melihat kehidupan sosial sebagai proses alamiah, terjadi secara mekanis, satu variabel (sosial) mempengaruhi variabel lain. Variabel ekonomi mempengaruhi seluruh aspek sosial yang lain. Aliran Kritis ini berpendapat bahwa realitas sosial tidak hanya dipahami melalui determinisme ekonomi saja, tetapi melibatkan elemen-elemen lain dalam kehidupan sosial.

20140115_084242Hal yang paling ditentang oleh Teori Kritis di sini adalah karena positivisme dianggap mengabaikan (peran) aktor (subyek). Atas dasar ini pula teori Kritis juga melakukan kritik terhadap sosiologi karena “keilmiahan” sosiologi sehingga bercorak positivistik. Juga, sosiologi yang terlalu memperhatikan masyarakat sebagai satu kesatuan daripada (interaksi) individu dalam masyarakat, menjadi  sasaran kritik pula dari Teori Kritis yang lebih menyukai aktivitas manusia sebagai fokus. Karenanya, Teori Kritis sebagian besar adalah kritik terhadap aspek kehidupan sosial dan intelektual yang menjadi dasar bagi struktur kebudayaan. Tujuan utamanya adalah mengungkapkan sifat masyarakat secara lebih akurat. Kelahiran Teori Kritis ini secara tidak langsung adalah atas “jasa” seorang pengikut Marx yang menentang teori Marx, yakni Georg Lukacs, yang membongkar ajaran Marx dengan memunculkan konsep “reifikasi” dan “kesadaran kelas”.  Konsep reifikasi Lukacs merujuk pada pengertian bahwa komoditas yang diciptakan manusia (konsepsi Marx) kemudian “menjadi hidup” dan berbalik menguasai manusia.

1337076134595Aliran Kritis ini percaya bahwa sistem kebudayaan itu bertumpu pada aktor (subyek, manusia). Akan tetapi, manusia tidak lagi berada pada struktur kebudayaannya karena kebudayaan telah mengalami pengorganisasian dan mengalami konstruksi dan terstruktur secara ekonomi dan berbalik menguasai manusia yang menciptakannya (sejalan dengan konsep reifikasi Lukacs). Inilah yang dicemaskan oleh para teoretikus Kritis. Subyek manusia menjadi terancam oleh struktur kebudayaan yang diciptakannya sendiri! Inilah yang terdapat pada masyarakat modern sekarang ini. Masyarakat modern ditandai dengan adanya dominasi oleh elemen kultural (yang tadinya elemen ekonomi, pada teori Marxian yang ditentangnya) atau “penindasan kultural atas individu dalam masyarakat”. Penindasan kultural atas individu ini terjadi pada elemen-elemen kehidupan sosial yang menjangkau relung-relung sosial hingga ke wilayah gaya hidup, pemikiran, penggunaan alat-alat dan apa yang disebut “(produk) teknologi modern”. Menurut pandangan teori Kritis, penindasan kultural dalam masyarakat modern (menggantikan dominasi ekonomi) dihasilkan oleh rasionalitas. Kemudian, dominasi dan penindasan kultural menghasilkan irasionalitas; sehingga muncullah “irrasionalitas di dalam rasionalitas” (ciri masyarakat modern!). Inilah yang menjadi perhatian Teori Kritis pada konteks analisis kebudayaan masyarakat modern, dengan elemen “rasionalitas dan teknologi modern”, yang berperan penting sebagai “metode pengendalian eksternal” terhadap individu! Teknologi modern (produk kebudayaan) telah menguasai rakyat!  Ia tampak “netral” ketika diciptakan tetapi kemudian ia menjelma menjadialat bantu efektif penindas individu! Seperti yang diyakini oleh Herbert Marcuse (salah seorang tokoh Teori Kritis, selain Max Horkheimer dan Theodore Adorno) bahwa teknologi tidaklah netral. Ia sebenarnya memperbudak, dan membantu menindas manusia! Kebebasan batin aktor (individu) dilanggar dan dikurangi oleh teknologi modern, sehingga memunculkan apa yang disebut Marcuse sebagai “masyarakat berdimensi tunggal”, yakni ketika individu telah kehilangan kontrol atas pikiran kritis dan masyarakatnya. Di sinilah munculnya apa yang disebut (dan dikritik keras) oleh para teoretisi Kritis sebagai “industri kultur”, yang bisa dibentuk, diatur, dimaterialkan, distrukturkan, dikonstruksikan, didefinisikan. Pelaku pengendali dari “sistem kultural baru” ini bisa jadi adalah elit baik individual maupun korporasi, menggunakan instrumen “produk kebudayaan” juga seperti media massa, berpadu dengan kekuatan kultural, sosial, politik dan ekonomi. Di titik inilah yang dikawatirkan dan dikritik keras oleh teoretisi Kritis sebagai “kultur yang diatur, tak spontan, dan palsu”, atau yang dikenal dengan “kultur massal” atau pop culture.

IMG_1685Kontribusi besar kedua dari Teori Kritis setelah analisis budaya, adalah pendekatan dialektika, yaitu pemikiran yang bertumpu pada interelasi berbagai level realitas sosial (kesadaran individu, superstruktur kultural, struktur ekonomi) yang berjalan secara timbal balik. Dialektika adalah rumusan metodologis untuk memahami realitas sosial, yang melibatkan elemen pengetahuan dan kepentingan, seperti yang dikembangkan oleh Jurgen Habermas. Namun, Teori Kritis gagal untuk mengintegrasikan teori dan praktik, karena ia sejak kelahirannya terdorong oleh kritik atas keterbatasan teori sebelumnya (Marxian), dan dianggap ahistori serta sempat disebut oleh Greisman sebagai “paradigma yang gagal”. Akan tetapi, Teori Kritis telah berjasa besar dalam pembongkaran pemikiran determinis dalam tradisi Marxian yang tidak relevan dengan konteks kekinian. Teori Kritis (terutama pelestarian pemikiran dialektika warisan Marx-Hegel) juga menjadi landasan pacu bagi pertumbuhan pemikiran kritis selanjutnya dalam pemahaman realitas sosial kontemporer yang tidak linier, kompleks, penuh kejutan dan full variasi.***

 

Wah.. jika Theodore Adorno ngobrol kayak gini sama Max Horkheimer….. 😀

Kritik Atas Teori Modernitas

 

KRITIK ATAS TEORI MODERNITAS

 

Setelah kemunculan Teori Modernitas yang berusaha menjelaskan realitas sosial dunia modern, kemudian diketahui terdapat beberapa “kekurang-cocokan” teori modernitas. Artikel ini juga menjelaskan realitas sosial dunia modern secara kritis.

Teori Modernitas, yang menjelaskan fenomena modernitas (dunia modern) yaitu suatu kondisi sosial yang bercirikan efisiensi, kecepatan, rasionalitas formal, praktis, cepat, instan, terstandard, serba uang, keterasingan pengalaman dan akhirnya (menjadi) tidak rasional yang terbalut rasionalitas.

 

Fenomena modernitas yang menawarkan aneka kemudahan, kecepatan, fasilitas, kenyamanan, kenikmatan hidup sejatinya menyisakan beberapa persoalan yang mengancam sosialitas dan eksistensi humanitas manusia: (1) grand narrative yang “mendesain” kehidupan sosial dan peradaban dunia dalam satu skenario tunggal-seragam yang mendominasi sehingga memunculkan (2) dominasi struktural budaya (dengan kesadaran palsu-nya) dan melahirkan (4) dunia berdimensi tunggal. Sedangkan ancaman ke-5, adalah apa yang saya namakan ”silence world” (dunia senyap) akibat pengaruh teknologi informasi yang berakhir pada alienasi (keterasingan), together but alone (kesepian dalam keramaian).

 

Tulisan singkat ini memberikan kritik atas Teori Modernitas yang didasarkan atas beberapa kelemahan karakteristikal fenomena modernitas tersebut.

 

Pendahuluan: Review Teori Modernitas

 

bareng Jember, Lumajang n PapuaTeori tentang modernitas adalah teori-teori sosial yang memberi penjelasan dan interpretasi umum tentang kekuatan-kekuatan sosial yang telah membentuk dunia modern, yakni pemikiran modern untuk memahami “dunia modern” yang berisi totalitas kekuatan-kekuatan yang bekerja dalam membentuk masyarakat modern[1]. Pemikiran ini tak lepas dari hakikat ilmu yang melekat dengan pembahasan terhadap konteks sosial dan gambaran “dunia modern”. Modernitas (modernity), atau “kemodernan”, atau merujuk pada kehidupan masyarakat modern, yaitu suatu masyarakat dengan keadaan sosial yang telah mengalami perubahan dan telah berbeda dari keadaan masyarakat sebelumnya yakni pada abad pertengahan. Modernitas ini muncul terdorong oleh perubahan pemikiran di bidang ilmu pengetahuan (revolusi ilmu pengetahuan), perubahan di bidang tata kelola ekonomi (revolusi industri Inggris) dan tata kelola sosial (revolusi Prancis). Perubahan-perubahan tersebut membawa konsekuensi kelahiran elemen-elemen modernitas: sains, teknologi, demokrasi dan kapitalisme[2]. Kondisi keberbedaan (dari masyarakat sebelumnya/ “pra-modern”) yang melambari pemahaman ‘modernitas; ini juga diberikan oleh Outhwaite yang menyebut ‘modernitas’ sebagai “konsep yang bertentangan”. Dikatakannya, modernitas ini mengambil makna dari hal-hal yang ditolaknya dan dari hal-hal yang didukungnya[3]. Pengertian ini mengisyaratkan adanya perubahan kontinyu pada masyarakat, yaitu perubahan dari masyarakat tradisional, kemudian “berevolusi” menjadi masyarakat industri dengan adanya revolusi industri yang segera dibarengi kemunculan masyarakat ekonomi kapitalis dalam konsepsi Marx. Dengan mengumpulkan gagasan-gagasan modernitas dari Marx, Weber, Durkheim dan Simmel, dan dipadukan dengan pemikiran Outhwaite dan Donny Gahral Adian di atas, modernitas dapat diartikan suatu kondisi sosial yang telah berubah dan bertentangan dari kondisi sebelumnya dan perubahan itu ditentukan oleh ekonomi kapitalis (Marx), rasionalitas formal (Weber), solidaritas organik dan pelemahan kesadaran kolektif (Durkheim) serta dipenuhi oleh iklim ekslorasi potensi, besarnya pengaruh uang beserta akibat ikutannya terutama alienasi (Simmel).[4] Kondisi akumulatif yang seperti ini telah menjadikan masyarakatnya mengutamakan efisiensi, yang bermakna “cara terbaik untuk mencapai tujuan” dan itu berarti: cepat, praktis, tak jarang juga instan.

 

IMG_7109.jpgDan ketika konteks sosialnya adalah “masyarakat modern”, maka teori sosial  yang relevan adalah “teori (sosial) tentang modernitas. Teori-teori tentang modernitas bersumber dari karya pemikir sosiologi dari klasik hingga modern seperti Marx, Weber, Durkheim, Simmel, Giddens, Beck, Baumans, Habermas dan Castells. Modernitas, menurut Marx ditentukan oleh ekonomi kapitalis, sedangkan menurut Weber, rasionalitas formal. Adapun Durkheim, solidaritas organik dan pelemahan kesadaran kolektif. Sementara itu, Simmel memandang modernitas memberikan keuntungan karena memungkinkan untuk mengeksplorasi berbagai potensi dan kemampuan instrinsik manusia. Simmel juga mengajukan pemikiran tentang pengaruh uang beserta akibat ikutannya (terutama alienasi) dalam modernitas. Anthony Giddens, menggambarkan modernitas (kehidupan modern) laksana sebuah panser raksasa (disebut “juggernaut”) yang terlepas dan tak terkendalikan lagi, untuk menggilas kehidupan manusia, sehingga menghasilkan “dunia yang tak terkendali” juga (runaway world). Gagasan ini sejalan dengan teori Strukturasi Giddens, yakni tentang ruang dan waktu dan juggernaut ini melebihi kekuasaan agent dalam mempengaruhi struktur.[5]. Giddens  mendefinisikan modernitas dilihat dari empat institusi mendasar yaitu: kapitalisme, industrialisme, kemampuan mengawasi (surveillance capacities), dan pengendalian atas alat-alat kekerasan, dengan memusatkan kajian pada negara-bangsa (nation-state). Dinamisme modernitas dari teori strukturasi Giddens, melalui tiga aspek: distanciation (pemisahan ruang dan waktu), disembedding (keterlepasan), dan reflexivity (refleksivitas). Ketiga aspek ini yang kemudian menyeret “manusia modern” menuju “keterasingan pengalaman” (sequestration of experience) yaitu suatu proses yang berkait dengan penyembunyian yang memisahkan rutinitas kehidupan sehari-hari dari fenomena-fenomena seperti kegilaan, kriminalitas, penyakit, kematian dan seksualitas. Keterasingan pengalaman ini sebagai akibat dari meningkatnya peran sistem abstrak dalam kehidupan sehari-hari.[6]

 

20130723_225035Sementara itu, Beck, mengusung gagasan tentang “masyarakat berisiko”, yakni “masyarakat baru” yang terlahir dari pelarutan masyarakat industri, atau yang disebut masyarakat dengan “tipe modernitas lain” (modernitas refleksif, reflexive modernity).[7]. Zygmunt Bauman,  mengajukan gagasan bahwa modern rasionalitas formal adalah holocaust atau pembunuhan massal (seperti pada zaman Nazi Hitler terhadap Yahudi) yakni “pembunuhan massal” melalui birokrasi rasional-modern (meminjam rasionalitas Weber) dan menggunakan kekuasaan. Ciri-ciri rasionalisasi yang sesuai dengan holocaust adalah irrasionalitas dari rasionalitas dan dehumanisasi[8]. Habermas, menyatakan bahwa modernitas sebagai “proyek yang belum selesai”.  Dan, Castells, berkontribusi dengan pemikirannya tentang informasionalisme dan masyarakat jaringan sebagai akibat dari revolusi teknologi informasi yang kemudian melahirkan “kultur virtual”, kultur virtualitas riil dan kapitalisme informasional. Castells menyebut bahwa di titik ini negara semakin tak berdaya dan tergantung pasar kapital global.[9]

 

Kritik Atas Teori Modernitas: Ancaman Terhadap Sosialitas dan Humanitas

 

 

IMG_0078Kritik atas teori modernitas, saya mengadopsi pemikiran F. Budi Hardiman sebagai pembuka jalan, yakni gagasannya tentang corak-corak kesadaran yang terungkap dari studi tentang manusia modern, yang menurutnya lebih merupakan proses daripada esensi yang dialami dalam kesadaran manusia tersebut yakni individuasi, distansi, progress, rasionalisasi, dan sekularisasi.[10]. Proses-proses tersebut memberi pencerahan  akan makna konteks kehidupan modern yang melibatkan individuasi (pengindividuan) sebagai antitesis “grand narrative” yang mendominasi masyarakat modern. Distansi individu baik antar individu maupun dalam konteks sosial dalam progress, rasionalisasi dan sekularisasi memunculkan beberapa pemahaman kritis akan adanya ancaman humanitas dan sosialitas kehidupan dan peradaban manusia. Yaitu: grand narrative (beserta fenomena juggernaut) versus little winner,  dominasi struktural budaya (beserta kesadaran palsu-nya), dunia berdimensi tunggal, dan apa yang saya namakan ”silence world” (dunia senyap).

 

Grand Narrative versus Little Winner

 

wkklom1Modernitas, mengasumsikan masyarakat modern dan perubahannya, yakni yang meliputi perilaku, sosial, politik, seksualitas, dan segenap skenario perkembangannya, didasarkan atas sebuah narasi besar (grand narratives) yakni suatu konstruks dunia yang meliputi kriteria kebenaran dan validasi ilmu pengetahuan tentang dunia modern, bahwa masyarakat (dan dunia) modern tunduk pada “aturan grand narasi” ini. Yaitu, dunia yang terstruktur, terdominasi oleh arus besar (struktur) piranti-piranti modernitas: efektif-rasional (Weber), cepat-instant yang menyerbu perilaku manusia, perikehidupan sosial, politik bahkan seksualitas. Grand naratives ini dalam dunia modern digambarkan oleh Giddens sebagai juggernaut yang melindas kehidupan manusia.

 

Fenomena ketakberdayaan subjek manusia dalam skenario grand narratives  ini mengisyaratkan dengan jelas, ketertundukan subjek atas struktur yang menghegemoni. Padahal realitas sosial senantiasa mengenal peran-peran subjek (aktor, individu) yang bersumber dari “kecerdasan budaya”, local wisdom, local genius, dan praktik-praktik sosial ini tak jarang membawa solusi bagi masalah sosial masyarakat, dan ini layak untuk diakui sebagai sumber pengetahuan. Peran-peran kecil dan “praktik-cerdas” (little winner) dari praktik-praktik sosial ini bahkan menjadi the sacred wisdom yang tumbuh dari masyarakat. Secara sosiologi pengetahuan, praktik “little winner” ini mampu menjadi “rujukan kecil” (mini narratives) yang berguna bagi kehidupan sosial, tidak hanya “grand narratives”.

 

Dominasi Budaya dan Runaway World

 

Karakter masyarakat modern, menurut Outhwaite, adalah masyarakat industrial dan ilmiah, berdasarkan filsafat rasionalisme dan utilitarianisme. Ia menolak kultur masa lalu, kultur yang tidak bisa dipahami. Modernitas selalu menatap masa depan[11]. Pandangan  Outhwaite tentang modernitas (masyarakat modern) sejalan dengan konsep dasar masyarakat yang berkarakter dinamis, senantiasa berubah. Karakter serba cepat dan instan berpadu dengan serba rasional (rasionalis) dan berdaya-guna (utilitarianis) yang didukung oleh teknologi (termasuk teknologi informasi) sebagai fasilitas penting masyarakat modern,  telah “sempurna” menjadikan masyarakat modern ini tergilas oleh “aturan modernitasnya sendiri” yang digambarkan oleh Anthony Giddens sebagai juggernaut (panser raksasa)[12] yang menggilas apa-apa yang di depannya termasuk kesadaran humanisme manusia dalam masyarakat modern tersebut tanpa dapat dikendalikan lagi sehingga disebut dunia yang tak terkendali (runaway world)[13].

 

Dominasi budaya yang kemudian merembes ke ranah gaya hidup dan cara hidup manusia modern, telah benar-benar menunjukkan bahwa masyarakat modern ditandai dengan adanya dominasi oleh elemen kultural atau “penindasan kultural atas individu dalam masyarakat”. Penindasan ini terjadi pada elemen-elemen kehidupan sosial yang menjangkau relung-relung sosial hingga ke wilayah gaya hidup, pemikiran, penggunaan alat-alat dan apa yang disebut “(produk) teknologi modern”. Penindasan kultural dalam masyarakat modern dihasilkan oleh rasionalitas. Kemudian, dominasi dan penindasan kultural menghasilkan irasionalitas; sehingga muncullah “irrasionalitas di dalam rasionalitas” yang menjadi ciri masyarakat modern.

 

Dunia Berdimensi Tunggal

 

 

Elemen “rasionalitas dan teknologi modern”, yang sejatinya berisi ketidakrasionalan tadi, berperan penting sebagai suatu “metode pengendalian eksternal” terhadap individu manusia modern. Teknologi modern (produk kebudayaan) telah menguasai manusia!  Ia tampak “netral” ketika diciptakan tetapi kemudian ia menjelma menjadi “alat bantu efektif” penindas individu! Seperti yang diyakini oleh Herbert Marcuse bahwa teknologi tidaklah netral. Ia sebenarnya memperbudak, dan membantu menindas manusia! Kebebasan batin aktor (individu) dilanggar dan dikurangi oleh teknologi modern, sehingga memunculkan apa yang disebut Marcuse sebagai “masyarakat berdimensi tunggal”, yakni ketika individu telah kehilangan kontrol atas pikiran kritis dan masyarakatnya. Di sinilah munculnya apa yang disebut sebagai “industri kultur”, yang bisa dibentuk, diatur, dimaterialkan, distrukturkan, dikonstruksikan, didefinisikan. Pelaku pengendali dari “sistem kultural baru” ini bisa jadi adalah elit baik individual maupun korporasi, menggunakan instrumen “produk kebudayaan” juga seperti media massa berpadu dengan kekuatan kultural, sosial, politik dan ekonomi. Di titik inilah muncul “kultur yang diatur, tak spontan, dan palsu”, atau yang dikenal dengan “kultur massal” atau pop culture.

 

Dunia Senyap (Silence World)

 

FB_20141115_09_14_00_Saved_PictureIstilah “dunia senyap (silence world) ini bikinan saya sendiri, belum ada dalam literatur ilmu sosial. Modernitas, salah satunya menampilkan fenomena kehidupan sosial yang dipenuhi oleh penggunaan alat-alat teknologi informasi-komunikasi semacam komputer, laptop, internet, yang memungkinkan orang untuk berinteraksi dengan siapa saja di mana saja dan dari mana saja bahkan tanpa beranjak dari tempat tidurnya. Dan kemudian fungsi-fungsi ini diperkecil dalam bentuk perangkat jinjing-gerak (portable) berbentuk “hand-phone” (telepon genggam) dengan kemampuan jelajah internet (online) yang kemudian dikemas dalam teknologi android, blackberry, windows phone, iPad dsb, sehingga memungkinkan setiap orang untuk tetap  bergerak dan beraktivitas sosial selayaknya orang-orang “biasa” namun sesungguhnya mereka ini sedang “berinteraksi sosial” dengan “orang-orang nun jauh di sana”. Fenomena yang seringkali kita saksikan adalah anak-anak muda yang berkelompok dan sedang asyik memainkan gadget mereka. Walaupun mereka duduk berkelompok dan secara fisik berdekatan, namun sebenarnya mereka  tidak sedang berinteraksi dan bersosialisasi dalam kelompok itu, tetapi sedang berinteraksi dan bersosialisasi dengan orang-orang di tempat lain yang jauh jaraknya, tanpa ada batas wilayah dan bahkan negara. Mereka dekat, tetapi tidak saling interaksi. Dari habituasi semacam ini melahirkan “filosofi pergaulan modern” yang berbunyi “teknologi informasi itu mendekatkan yang jauh dan sekaligus menjauhkan yang dekat”. Dunia para “manusia modern” seperti ini adalah “dunia senyap” (noiseless world), dunia bisu. Penghuninya merasa sepi di tengah keramaian (together but alone).

 

Modernitas, yang juga bercirikan penggunaan teknologi informasi secara masif dan berbaur  dengan “irasionalitas dalam rasionalitas” manusia modern, sehingga menambah asupan ke arah masyarakat konsumtif, masyarakat cepat, instant, praktis, masyarakat virtual (online community), maka lahirlah insan-insan “selfish” dan tampak “cuek” karena selalu fokus pada dirinya sendiri, dan gadget-nya sendiri daripada kepada lingkungan sosialnya. Produk “tongsis” (tongkat narsis) yakni sebuah tongkat yang berfungsi memotret diri sendiri yang dilakukan sendiri, adalah bukti produk budaya selfish modernitas. Apalagi didukung dengan gadget yang memenuhi kebutuhan selfish ini: online, bercakap-diri (sehingga “sepi dalam keramaian”), memotret diri sendiri secara swalayan! Benar-benar sendiri, senyap, dan akhirnya terasing dari dunia konteks (sosial)-nya! Mengerikan!

 

Kondisi yang disebut terakhir ini memunculkan generasi yang “kesepian dalam keramaian” dan menghasilkan filosofi baru “mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat” akibat penggunaan gadget yang begitu khusyuk sehingga menyandera pikiran dan tindakan manusia modern serta mencerabut kesadaran humanisnya terhadap kehidupan sosial. Dunia yang dihuni oleh “manusia-manusia jenis baru” ini adalah “dunia senyap” (noiseless world) namun high product (efisien dan efektif) tetapi pada suatu ketika “noiseless technology of human-race habituation” ini akan mengendalikan kehidupan dan nasib manusia seperti yang digambarkan dalam film “The Net” yang dibintangi oleh Sandra Bullock, tentang kehidupan otomasi-terkendali-terkomputerisasi sehingga nasib manusia tergantung tombol dan bisa dipermainkan dalam hitungan menit! Mengerikan. Inilah salah satu contoh juggernaut gambaran Giddens. Awas, HP-mu adalah juggernaut ! Renungkan, kamu yang mengendalikan HP atau HP yang mengendalikanmu? Wkwkwk… 😀

 

Produk modernitas (salah satunya adalah gadget online) telah membawa kemudahan, kepraktisan, kenyamanan, dan kecepatan. Intinya, memenuhi kriteria modernitas yang serba cepat dan rasional (Weber). Rasionalitas ini kemudian terganggu dengan adanya fenomena “mendekatkan yang jauh dan sekaligus menjauhkan yang dekat” tadi itu yang menyebabkan para manusia dalam masyarakat modern ini bergerak secara selfish. Muncullah irrasionalitas dalam rasionalitas, yang merupakan anomali dan bekerjanya fenomena juggernaut ilustrasi Giddens yang sedang menggilas para korbannya yakni “manusia rasional” yang tetap merasa rasional dan tetap tidak merasa terjajah ataupun terhegemoni oleh dominasi kultur modernitas yang tengah menyandera dan menindasnya dengan nikmat.***

 

___________________

Bacaan lain:

Teori Kritis (Mazhab Frankfurt)

 

Teori Fungsionalisme Struktural Parsons

Artikel Pendahuluan:

Memahami Realitas Sosial

TEORI FUNGSIONALISME STRUKTURAL PARSONS

Dasar dan gagasan utama teori Fungsionalisme Struktural ini memandang realitas sosial sebagai hubungan sistem: sistem masyarakat, yang berada dalam keseimbangan, yakni kesatuan yang terdiri dari bagian-bagian yang saling tergantung, sehingga perubahan satu bagian dipandang  menyebabkan perubahan lain dari sistem.

 

[youtube]https://youtu.be/mpDVs3Uifjg[/youtube]Teori fungsionalisme struktural, yang diperkenalkan oleh Talcott Parsons, merupakan teori dalam paradigma fakta sosial dan paling besar pengaruhnya dalam ilmu sosial di abad sekarang, sehingga dapat disinonimkan dengan sosiologi (Ritzer, 2005:117). Teori ini memfokuskan kajian pada struktur makro (sosiologi makro) yakni pada sistem sosial, yang melalui teori ini Parsons menunjukkan pergeseran dari teori tindakan ke fungsionalisme struktural. Kekuatan teoretis Parsons terletak pada kemampuannya melukiskan hubungan antara struktur sosial berskala besar dan pranata sosial (Ritzer 2005:82). Bangunan teori fungsionalisme struktural Parsons banyak terpengaruh oleh pemikiran Durkheim, Weber, Freud dan Pareto, dan yang disebut terakhir inilah yang paling besar pengaruhnya bagi pengembangan teori fungsionalisme struktural, terutama gagasan Pareto tentang masyarakat yang dilihatnya dalam hubungan sistem (Ritzer, 2011:280). Konsepsi Pareto yang sistematis tentang masyarakat, yang dipandangnya sebagai sebuah sistem yang berada dalam keseimbangan, yakni kesatuan yang terdiri dari bagian-bagian yang saling tergantung, sehingga perubahan satu bagian dipandang  menyebabkan perubahan lain dari sistem, dan dilebur dengan pandangan Comte, Durkheim dan Spencer yang menganalogikan masyarakat dengan organisme, memainkan peran sentral dalam pengembangan teori fungsionalisme struktural Parsons (Ritzer, 2005:54-55).

Cbs4Teori fungsionalisme struktural Parsons berkonsentrasi pada struktur masyarakat dan antar hubungan berbagai struktur tersebut yang dilihat saling mendukung menuju keseimbangan dinamis. Perhatian dipusatkan pada bagaimana cara keteraturan dipertahankan di antara berbagai elemen masyarakat (ibid., halm.83). Pemerhatian teori ini pada unsur struktur dan fungsi dalam  meneliti proses sosial dalam masyarakat (ibid., halm 118), dan pandangannya pada masyarakat sebagai sebuah sistem yang terdiri dari bagian-bagian atau subsistem yang saling tergantung, teori ini menganggap integrasi sosial merupakan fungsi utama dalam sistem sosial. Integrasi sosial ini mengonseptualisasikan masyarakat ideal yang di dalamnya nilai-nilai budaya diinstitusionalisasikan dalam sistem sosial, dan individu (sistem kepribadian) akan menuruti ekspektasi sosial. Maka, kunci menuju integrasi sosial menurut Parsons adalah proses kesalingbersinggungan antara sistem kepribadian, sistem budaya dan sistem sosial, atau dengan kata lain, stabilitas sistem (Ritzer 2011:280-281).

Kontribusi pada Perkembangan Teori Sosial

20131027_101749Kontribusi teori Parsons pada perkembangan teori sosial adalah pada pengembangan teori dan analisis sosial, sistem sosial, integrasi sosial dan sistem tindakan dalam sistem sosial (dioperasionalkan dalam empat skema tindakan: AGIL). Prioritas Parsons adalah bagaimana membakukan suatu teori yang memadai tentang sistem sosial, yang mampu memberikan seperangkat acuan struktural yang konsisten untuk analisis (Turner 2012:160). Analisis sistem sosial Parsons memandang sistem sosial sebagai satu kesatuan, meliputi semua jenis kehidupan kolektif (Ritzer 2005:127), sehingga ia mengutamakan dominasi sistem sosial atas bagian-bagian atau subsistem/ individu yang dikatakannya, mengendalikan individu, dan individu bertindak menurut ekspektasi logis dari sistem masyarakat. Dengan kata lain, subsistem  memang ingin patuh pada sistem. (Ritzer 2011:282). Dalam mengoperasionalkan fungsi sistem sosial yang terkait dengan subsistem, Parsons mengajukan empat skema fungsi penting untuk semua sistem tindakan, yang terkenal dengan sebutan “skema AGIL”, yang dipercaya Parsons diperlukan oleh semua sistem sosial. Menurut Parsons, suatu sistem sosial agar tetap bertahan (survive), harus memiliki empat fungsi AGIL ini, yaitu: A (Adaptation, adaptasi) – G (Goal Attainment, pencapaian tujuan) – I (Integration, integrasi) – L (Latency, latensi, pemeliharaan pola), yang keempat-empatnya  beroperasi dalam relasi input-output dalam pertemuan yang kompleks, dan didudukkan sebagai konsep analitis, bukan deskripsi empiris tentang kehidupan sosial (Ritzer 2011:301-302).

20130519_215208-2Skema AGIL ini yang dapat juga disebut sebagai “empat sistem tindakan”, merupakan inti pemikiran Parsons, dan merupakan jalan keluar dari problem Hobessian tentang keteraturan, dengan argumen keteraturan dan keseimbangan sistem, integrasi dan pemeliharaan keseimbangan diri. Argumen ini menyebabkan Parsons menempatkan analisis struktur keteraturan masyarakat pada prioritas utama (Ritzer 2005:123).

[Catatan: tentang skema A-G-I-L ini mengapa dimulai dari A (Adaptation), kemudian G dst. Mengapa tidak G (Goal Attainment) terlebih dahulu kemudian I (Integration) terus L (Latency) dan A (Adaptation)… pernahkah ditanyakan?] wkwk… 😀

Teori fungsionalisme struktural ini tampak konservatif, terlalu mengagungkan dominasi struktur dan enggan memberi ruang bagi konflik, sehingga seringkali dianggap “anti perubahan sosial”. Parsons sendiri menganggap perubahan sosial itu menyusahkan dan membahayakan imperatif-imperatif sistem. Namun, pemikiran Parsons masih relevan dengan studi perubahan sosial.

mendemsurveyPerubahan sosial dalam pemikiran Parsons dilakukan dari perspektif evolusioner yang tertib. Kompleksitas kemasyarakatan membutuhkan diferensiasi subsistem yang lebih luas dan transformasi terjadi sebagai akibat ketegangan-ketegangan sistem yang meningkat karena mal-integrasi di antara komponen-komponennya. Masyarakat digambarkan bergerak melewati tahap-tahap ekuilibrium temporer, perubahan sosial berlangsung mengikuti urutan tertib dan dipolakan sesuai kebutuhan sistem yang bersifat swatata. (Ritzer 2011:281). Integrasi sosial, menurut Parsons, bisa dicapai jika bagian-bagian saling sesuai dan setelah tercapai ekuilibrium, selanjutnya tidak memerlukan syarat mekanisme khusus apapun. (ibid., halm 282). Dapat disimpulkan bahwa isu teoretis utama teori fungsionalisme struktural Parsons, sebagaimana dikatakan oleh Alexander yang dikutip Ritzer (2011:297) adalah tatanan  sosial dan tindakan sosial. Pemikiran fungsionalisme struktural Parsons dikembangkan –dengan beberapa perubahan- oleh Robert Merton, murid Parsons, yang lebih menyukai teori yang terbatas dan menengah. (Ritzer 2005:136).

Kritik dan Perkembangan Berikutnya

20140301_143402-1Dominasi dan penetrasi sistem sosial kepada sistem kepribadian Parsons, dikritik oleh Niklas Luhmann dan para teoretikus kritis mazhab Frankfurt yang berkiblat pada karya-karya Marx. Luhmann menyatakan bahwa hubungan antar sistem dan lingkungannya lebih kompleks daripada apa yang dideskripsikan oleh Parsons. Luhmann menganggap penekanan Parsons pada konsensus nilai dan penetrasi sistem sosial terhadap sistem kepribadian, membatasi jenis-jenis hubungan sosial. (Ritzer 2011:287). Walaupun teori Parsons sempat dinyatakan cacat dan tidak layak hingga akhir 1960-an dan 1970-an, namun kembali mencuat pada 1980-an bahkan melahirkan mazhab neofungsionalisme yang dipelopori Jeff Alexander. Dan pemikiran Parsons tentang sistem-tindakan dan sistem sosial merupakan titik tolak bagi kajian selanjutnya dalam teori sistem, teori pertukaran sosial, teori kekuasaan, tatanan konflik, dan dengan bantuan rekannya, Neil Smelser, diperluas dalam bidang sosiologi ekonomi, sosiologi institusi dsb sehingga Parsons dianggap pembaru kreatif dari tradisi sosiologi klasik.***

 

Bacaan lain:

Teori Modernitas

Teori Kritis (Mazhab Frankfurt)

Belajar Dengan Hati n Pikiran Positif - FULL

Memahami Realitas Sosial

Memahami Realitas Sosial

DSCF5414Pokok penting dalam teori sosial adalah kemampuan untuk menjelaskan dan memahami realitas sosial. Berikut ini adalah penjelasan dan pemahaman  atas realitas sosial dan pengetahuan manusia tentang realitas sosial yakni posisi teori sosial dalam menjelaskan dan memahami realitas sosial sehingga memunculkan aneka perspektif teori sosial dalam beberapa paradigma.

Realitas sosial, merupakan kehidupan manusia yang terbentuk dalam proses yang terus-menerus, yakni gejala sosial sehari-hari, yang dalam pengertian sehari-hari dinamakan “pengalaman bermasyarakat”. Atau dengan kata lain, realitas sosial itu tersirat dalam pergaulan sosial yang diungkapkan secara sosial melalui tindakan sosial seperti komunikasi lewat bahasa, bekerjasama lewat organisasi-organisasi sosial. “Pengalaman bermasyarakat” inilah sebenarnya esensi masyarakat itu. Realitas sosial seperti ini ditemukan dalam pengalaman intersubjektif (intersubjektivitas), merujuk pada struktur kesadaran umum ke kesadaran individual dalam kelompok yang saling berinteraksi. Maka jika ingin mengetahui, mempelajari, menjelaskan dan memahami esensi masyarakat, didapat melalui mempelajari “pengalaman bermasyarakat” atau realitas sosial (Berger, 2013:xv).

DSCF5446Dan “pengalaman bermasyarakat”, yang merupakan agregasi pengalaman-pengalaman individual yang membawa subjektivitasnya masing-masing, mengandung unsur pengetahuan sosial, kesadaran, persepsi individual (sistem nilai, dsb) dan memiliki dimensi subjektif  dan objektif yang berbeda-beda sehingga berciri paradoksal dan kompleks, membawa kompleksitas realitas sosial. Pengalaman intersubjektivitas ini dapat dijelaskan, bahwa pada proses sosial, masing-masing individu pada dimensi subjektif-nya menghadirkan kenyataan sosial dalam konstruksinya dan ia memanifestasikannya melalui proses eksternalisasi (sebagai kenyataan objektif, dimensi objektif) yang kemudian mempengaruhi kembali manusianya melalui proses internalisasi (realitas subjektif). Di sini terdapat dialektika antara diri (self) dengan dunia sosio-kultural, yang berlangsung dalam satu proses, melibatkan 3 momen simultan: eksternalisasi (penyesuaian diri dengan dunia sosio-kultural), objektivasi (interaksi sosial dalam dunia intersubjektivasi), dan internalisasi (identifikasi diri dengan lembaga sosial). Maka dapat dikatakan bahwa “masyarakat sebagai produk manusia dan manusia sebagai produk masyarakat” seperti dikatakan Berger. Inilah realitas sosial yang dikonstruksikan, atau konstruksi sosial atas realitas (social construction of reality).

Maka bagaimana menjelaskan dan memahami realitas sosial yang sebenarnya?

IMG-20161025-WA0020Untuk menjelaskan dan memahami realitas sosial (dengan kompleksitasnya tersebut), diperlukan perangkat sistem pengetahuan sosial yang mampu menangkap gejala-gejala sosial yang bersifat intersubjektif (relativitas sosial) itu dan men-sintesa-kan gejala sosial yang kelihatan paradoksal dan kontradiktif ke dalam suatu sistem penafsiran yang sistematis, ilmiah dan meyakinkan; yakni yang disebut ‘teori sosial’. Teori sosial ini dibangun di atas bangunan sosial dari realitas yang paradoksal-kontradiktif, intersubjektif dan relatif itu tadi. Karenanya, bangunan teori yang memadai adalah yang bercorak dialektis, yaitu pendekatan dialektika untuk menjelaskan dan memahami realitas sosial yang berciri relativitas sosial, paradoksal, dan intersubjektif, yang berlangsung dalam 3 momen simultan tadi itu.  Jika di-meta-konsepkan (meminjam terminologi “meta-teori), konsepsi “relativitas sosial, paradoksal, dan intersubjektif” terdiri dari anasir konteks sosial spesifik dan hubungan-hubungannya yakni pengetahuan-pengetahuan “kecil” yang tumbuh di masyarakat, konstruksi individual atas realitas sosial dan proses-proses sosial yang membawa serta perangkat “pengetahuan kecil” tadi. Variasi empiris ini semua terpelihara dalam  berbagai situasi sosial yang akhirnya membentuk suatu kenyataan, atau pembentukan kenyataan oleh masyarakat (social construction of reality). Di sinilah bidang gerak teori sosial (sosiologi) dimaksud, teori sosial yang relevan dengan konteksnya, memuat analisis sosiologis yang memadai mengenai konteks-konteks itu. Konteksnya adalah berbasis pada berbagai kenyataan yang dianggap sebagai “diketahui”  oleh masyarakat, atau dengan kata lain, suatu “sosiologi pengetahuan”, yang akan menjawab social construction of reality tadi itu.

20131103_081544Sosiologi pengetahuan ini lebih kepada konsep filosofis keilmuan sosial, yang memberikan napas bahkan ruh pada teori sosial yang “relevan dengan konteks” tadi itu. Konsep sosiologi pengetahuan ini awal diciptakan oleh Max Scheler yang kemudian diperbarui rumusannya oleh Karl Mannheim (dalam bukunya “Ideologi dan Utopia), -dan Berger juga menggunakannya-, menjelaskan bahwa masyarakat telah memiliki pengetahuannya sendiri atau interpretasi tentang kehidupannya sendiri, yang bersifat kompleks, maka dalam melihat realitas sosial harus memperhatikan pengetahuan dalam struktur kesadaran masyarakat. Karena itulah, sosiologi pengetahuan memfokuskan kajiannya pada hubungan antara pemikiran manusia dan konteks sosial di mana pemikiran itu timbul, sehingga kesadaran manusia ditentukan  oleh keberadaan sosialnya. Rumusan Mannheim memberikan ruh pada sosiologi pengetahuan, dengan konsep “relasionisme” sebagai perspektif epistemologis dari sosiologi pengetahuannya, yakni pengetahuan yang senantiasa berelasi dalam relativitas sosio-historisnya, sehingga pengetahuan itu selalu merupakan pengetahuan dari segi suatu posisi tertentu.

Pada perkembangan teori sosial, konsepsi sosiologi pengetahuan Mannheim (yang lebih  mengemuka ke gejala ideologi) ini hadir pada pemikiran sosiologi misalnya Robert Merton pada teori struktural fungsional yang merupakan “pembaruan” dari gurunya, Talcott Parsons yang tidak terlalu memasukkan ide sosiologi pengetahuan dalam bangunan teorinya, C. Wright Mills yang membahas sosiologi pengetahuan berupa penjelasan. Yang menarik adalah apa yang dilakukan Werner Stark, yang menggeser sosiologi pengetahuan dari ideologi ala Mannheim ke telaah sistematis kondisi-kondisi sosial bagi pengetahuan sebagai pengetahuan, sehingga mengarah pada sosiologi kebenaran.

20131027_101749Ringkasnya, sosiologi pengetahuan menekuni segala sesuatu yang dianggap sebagai pengetahuan oleh masyarakat. Pada perumusan teoretisnya, sosiologi pengetahuan pertama-tama harus sibuk dengan “apa saja yang “diketahui” oleh masyarakat sebagai “kenyataan” dalam kehidupan sehari-hari, yang tidak teoretis (prateoretis) atau pra-ilmiah, yakni pengetahuan akal sehat (common sense), yang hidup di masyarakat. Karenanya, sosiologi pengetahuan harus mengarahkan perhatiannya pada pembentukan kenyataan oleh masyarakat (social construction of reality).

Artinya, bahwa sosiologi pengetahuan merupakan konsep dasar, yang menyemangati teori sosial dan upaya teorisasi sosial. Karena untuk menjelaskan dan memahami realitas sosial, (dengan segala karakter seperti deskripsi di atas) diperlukan teori yang relevan dengan karakter itu. Sosiologi pengetahuan, hadir sebagai suluh-pemandu.

Pada perkembangan teori sosial, tentu saja tidak semua teori sosial bersemangatkan esensi konsepsi sosiologi pengetahuan ini karena konsep sosiologi pengetahuan baru dikenal dan diperkenalkan oleh Max Scheler pada tahun 1925 melalui eseinya “Probleme einer Soziologie des Wissens” yang terbit pada tahun itu.

Pada periode sebelumnya, ketika munculnya teori-teori sosial sejak zaman August Comte (positivisme) hingga periode Max Scheler dan Karl Mannheim ini dst: Talcott Parsons, Robert Merton (fungsionalisme struktural) dst hingga teori modernitas dan teori kritis, -dengan  aneka teori yang diperkenalkan dan dikembangkan– adalah tahap-tahap perkembangan teori sosial yang ingin menjelaskan dan memahami realitas sosial. Tidak ada yang salah dengan teori-teori sosial yang telah berkembang itu. Penjelasannya adalah, bagaimana teori-teori itu bisa menjelaskan dan memahami realitas sosial, tergantung dari paradigma yang digunakan, bagaimana teori dan pemikirnya memandang atau memaknai realitas sosial. Dan, teori terdahulu merupakan penyumbang ide bagi teori berikutnya, tentu saja dengan beberapa pembaruan.

Pada era Comte (1798 – 1957), pertama kali nama “sosiologi” diperkenalkan, realitas sosial dipandang sebagai mirip gejala alam, dengan mengembangkan “fisika sosial” yang kemudian disebut “sosiologi”, Comte menghendaki sosiologi meniru “hard science”. Lahirlah positivisme (filsafat positif), sebagai perlawanan dari “filsafat negatif dan destruktif” dari Abad Pertengahan (Ritzer, 2014:17). Comte berada pada garis terdepan pada perkembangan sosiologi positif, dan sebagai peletak dasar perkembangan teori sosiologi berikutnya.

Pengaruh  pemikiran Comte besar sekali pada Herbert Spencer dan Emile Durkheim (1858 – 1917). Tradisi konservatif Comte berlanjut ke Durkheim, namun karya Durkheim menjadi kekuatan dominan pada perkembangan sosiologi. Durkheim mengembangkan konsep pokok  sosiologi melalui uji empiris, yakni melalui karyanya “The Rule of Sociological Methods”, ia menekankan bahwa sosiologi mempelajari apa yang ia sebut “fakta sosial”, yang dibedakan menjadi: fakta sosial materiel dan non-materiel. (Ritzer, 2014:24).

mendemsurveyPerkembangan berikutnya, fakta sosial non-materiel menempati posisi lebih sentral, yang dalam karya terakhirnya, The Elementary Forms of Religious Life”, Durkheim memusatkan bentuk terakhir fakta sosial non-materiel yakni agama. Dari sini kita mengenal arus besar paradigma sosiologi, yakni: fakta sosial, definisi sosial dan perilaku sosial.

Dari overview di atas, maka ada beberapa teori sosial yang digunakan untuk menjelaskan dan memahami realitas sosial yang relevan dengan karakter realitas sosial tersebut; yang pokok untuk diketahui adalah (sambil kita perhatikan perkembangan dan perbedaannya).

 

Jadi kesimpulan dari deskripsi dan brainstorming di atas, adalah, bahwa yang disebut ‘realitas’ atau ‘realitas sosial’ itu bukanlah realitas yang sebenarnya, tetapi ‘persepsi atas realitas’ atau ‘realitas sosial yang telah dikonstruksikan’. Dan dalam persepsi itu, terdapat anasir prasangka, modal pengetahuan, harapan, asumsi, dan kepentingan, yang semuanya itu turut serta bermain ketika melihat “realitas” (WK)

Karenanya, ada dua macam realitas sosial, yaitu realitas sosial subjektif yakni ‘realitas sosial hasil konstruksi individu; dan realitas sosial objektif, yakni ‘realitas sosial yang dikonstruksikan secara kolektif’.

Lha………. yang manakah ‘realitas sosial yang sebenarnya’….?

Selanjutnya, boleh kita baca:

Baca: Fenomenologi: Membaca Realitas Sosial Tanpa Prasangka

 ______________________________________

Struktural Fungsional (Talcott Parsons)

Teori Modernitas

Kritik Atas Teori Modernitas

Teori Kritis (Mazhab Frankfurt)

Teori Postmodern

Teori Feminis

Fenomenologi

Fenomenologi Husserlian

Penjelajahan Fenomenologi Husserlian Untuk Memahami Masyarakat

Cultural Studies

Metode dan Teori Dalam Cultural Studies

Teori Pierre Bourdieu

 

________________________________

Bacaan lain:

Memahami Metode Penelitian Sosial

Realitas Sosial Baru: Social Entrepreneur

 

Belajar Dengan Hati n Pikiran Positif - FULL

Penjelajahan Fenomenologi Husserlian Dalam Memahami Masyarakat

Penjelajahan Fenomenologi Husserlian Dalam Memahami Masyarakat

Artikel sebelumnya:

Fenomenologi Husserlian

Berikut, beberapa tulisan tentang fenomenologi Husserlian yang saya kompilasi dalam satu tulisan ringkas ini, dari pengalaman penjelajahan fenomenologi Husserlian dari beberapa artikel jurnal.

bareng Jember, Lumajang n PapuaFenomenologi dalam artikel “Phenomenology of Everyday Expertise and the Emancipatory Interest, yang ditulis oleh yang Brian O’Connor, memperkenalkan Axel Honneth, yang mengemukakan rekonseptualisasi teori reifikasi, mengadopsi ide-ide John Dewey untuk mengembangkan pengertian tentang: keaslian (an originality), single, immediate, pengalaman kualitatif, analitik atau retroaktif atau refleksif. Konsep reifikasi Honneth dikenal dalam pengembangan pengalaman individual dalam perspektif teori kritis berimplikasi pada pemikiran fundamental tentang pengalaman refleksif[1]. Kerangka analitik refleksif yang diperkenalkan oleh Honneth ini merujuk pada pengalaman original pada aktivitas kognitif dalam koridor teori kritis dengan argumen-argumen konsisten tentang pengalaman manusia, telah menggugah sikap kritis yang terbingkai oleh kepentingan emansipatoris dalam pandangan Habermas. Pemikiran ini merepresentasikan  relasi antara elemen-elemen konstitutif pengalaman manusia yang perspektif teori kritis, berupaya untuk memahami beliefs masyarakat, alasan-alasan, norma-norma yang membuat masyarakat bertahan, dsb, yang lebih memungkinkan penggunaan metode fenomenologi, yaitu “Phenomenology of Everyday Expertise” (PEE) yang diperkenalkan oleh Hubert Dreyfus. Pengembangan dari teori kritis yang berupaya memahami pengalaman-pengalaman original dalam kehidupan sosial. PEE mencari pengembangan status pengalaman-pengalaman tersebut dengan segala rekam-jejak dari dualisme subjek-objek. PEE Dreyfus bertitik tolak dari ajaran fenomenologi “mind-body”, tertarik untuk memahami pengalaman keseharian manusia yang berasal dari bawah.

100_3931Setiap struktur pengalaman subjek (manusia, masyarakat) dapat ditarik dari konsepsi relasi intersubjektif yang menghadirkan pergumulan “self” – “other” yang membentuk relasi antar subjek sebagaimana ditulis oleh Paul Simpson tentang inter-subjektivitas pada artikelnya yang berjudul  What Remains of  The Intersubjectives[2]. Intersubjektivitas, dalam pemahaman relasinya, mengumpamakan bahwa masing-masing subjek membawa atribut subjektivitasnya masing-masing dalam berinteraksi antar subjek. Subjektivitas dalam ekspresi tutur kata sehari-hari (keseharian), seperti ketika misalnya seseorang mengungkapkan kata “I love you” kepada seseorang lain, maka sejatinya ia telah menautkan makna tentang kebersatuan (union), penyelesaian dari seseorang untuk seseorang yang lain, durasi emosi, spiritual, dan hubungan fisik serta kesalinghubungan secara terus menerus antara dua pribadi. Inilah kajian fenomenologis. Mengikut konsepsi ini, ungkapan kata sehari-hari, seperti juga dalam contoh “I love you”  ini (dikenal baik dalam konsep PEE),  yang dibutuhkan seseorang (subjektivitas) membawa perangkat subjektivitasnya ke dalam dunia subjektivitas orang lain. Di sini tidak hanya bermakna hubungan dalam pengertian biasa (fakta/ realitas), tetapi jauh lebih dalam, yakni membawa dunia subjektif seseorang ke dalam dunia subjektif seseorang lain lagi (di balik fakta/ realitas) secara kolaboratif.

DSCF0717Pertautan dua subjektivitas ini (one subjectifying others) terdapat proses subjektivikasi afektif yang diproduksi  dari penggandaan relasi yang ditunjukkan, dan setiap orang, setiap hari saling terkena afeksi ini, maka terjadilah subjectifying relations with the world, atau, terdapat relasi-relasi penyubjektivan dengan “dunia luar”. Gagasan bertemunya antar-subjektif yang melampaui batas-batas subjektivitas-diri ini memberi pengertian akan adanya gagasan “kolektivitas subjektivitas” dalam suatu komunitas. Jika dalam pemahaman “biasa”, komunitas berarti  “sekumpulan individu”, maka dalam pemahaman fenomenologis ini komunitas berarti “kolaborasi subjektivitas”. Maka gagasan Stein dan Nancy tentang fenomenologi komunitas, yang ditulis oleh Peter S. Costello dalam artikelnya yang berjudul “Toward A Phenomenology of Community”[3] akan membawa pemahaman yang lebih mendekati dan mengarah pada bagaimana memahami komunitas beserta dinamikanya dalam hubungannya dengan peran sosialnya secara lebih mendalam. Kita akan melihat inter-relasi yang tidak hanya melibatkan batas-batas fisik (antar-individu) atau batas-batas ideologi, kepentingan semata, namun lebih dari itu, melibatkan intensitas dan komitmen serta elemen life-world dalam pola hubungan intersubjektivitas dalam skala komunitas. Bahasan komunitas,  secara kontekstual membingkai empati, berisi kontinuitas dan keasadaran untuk sebuah kesamaan (sameness).

with Kang Jalal 2Husserl memfokuskan perhatian fenomenologi pada situasi di mana pengalaman (yang mengandung anasir: persepsi, memori, empati) disatukan dan bahwa fenomenologi tertarik pada “konstitusi objek dalam kesatuan” sebagai gugusan adaptasi resiprokal atau koherensi. Stein mendeskripsikan empati sebagai aktivitas sekarang yang membedakan antara “self” dan “other”. Dalam kaitan ini, deskripsi tentang komunitas didasarkan atas pemahaman yang melekat pada komunitas – individu yang memiliki keintiman untuk saling memahami orang lain secara mendalam dengan kemampuan untuk menyerahkan diri bagi orang lain. Keberadaan komunitas dianggap sebagai suatu “hadiah” bagi manusia sehingga apapun pengalaman manusia”, dan  bagaimanapun buruknya pengalaman seseorang dengan komunitasnya, Stein berargumen bahwa pengalaman tetap memelihara mereka dengan komunitasnya. Dalam pandangan Stein dan Nancy, komunitas sebagai suatu “hadiah”, bukan mekanisme.

20131124_093536Komunitas merupakan persepsi sebuah ‘penampakan’ yang terkontrol sebagai suatu “hadiah”. Komunitas bisa bangkit sesuai intuisinya dan berkembang dalam mekanisme “giving oneself over” dari para anggotanya. Karakter kebajikan seperti ini embedded (menyatu) dalam suatu komunitas. Dikatakannya, community is a gift but its is not given. Jadi, membutuhkan upaya manusianya untuk bisa tetap berkembang dalam “kebajikan “giving oneself over”. Ada nilai “shared-meanings” yang berkembang dalam hubungan ini yang membentuk bangunan utuh komunitas, ketika manusia dalam komunitas itu memiliki keterikatan emosi, sehingga interseksi (irisan) antara emosi dan lingkungan kerja komunitasnya atau sebagai “himpunan   bagian” dari komunitasnya sebagaimana ditulis oleh Kathryn Pratt, dalam artikelnya yang berjudul “Rethinking Community: Conservation, Practice and Emotion”[4] yang menulis tentang “himpunan bagian” dalam kajian lingkungan yakni tentang peran komunitas dalam usaha-usaha konservasi lingkungan yang diteropong dari keberadaan relasi komunitas dan manusianya dalam pemahaman “himpunan bagian”. Bagi Kathryn Pratt, tidak mudah menjelaskan dan berharap tentang pengelolaan lingkungan dalam konteks politik ekologi yang melibatkan (peran) komunitas secara bottom-up, karena komunitas, menurutnya, merupakan  suatu konsep fundamental yang memiliki asumsi-asumsi normatifnya sendiri, yang berakar pada realitas sosial-politik pada aras lokal. Argumennya adalah, perlu menggeser pemahaman masyarakat untuk fokus pada jaringan kerja (networking), institusi atau kolaborasi spesifik. Tulisan Pratt ini mengelaborasi pandangan alternatif tentang formasi kelompok yang melibatkan praktik-praktik sosial dan emosi sosial. Ia mengetengahkan konsep kebersamaan (togetherness), struktur pengalaman sosial sebagai “materi yang terbayang”. Walaupun komunitas secara normatif adalah sentral, tetapi ia tidak mungkin melokal pada soliditas komunitas secara khusus tanpa memainkan suatu “identitas politik” yang mengikat mereka secara alamiah. Dalam pendekatan ini, upaya  konservasi lingkungan berbasis komunitas yang diambil Pratt sebagai fokus studi, dengan setting di Costa Rica, perlu ditempuh upaya pemejalan (solidifying) elemen-elemen organisasional sebagai properti sosial untuk dikomunikasikan antar anggota kelompok untuk mendorong keterlibatan-bersama (collective engagement). Collective engagement merupakan pendorong koherensi kelompok dan solidified elementer dalam kelompok yang terkoherensi ini sejalan dengan gagasan collective feelings yang berisi intensitas emosional yang melekatkan anggota kelompok dalam formasi togetherness (kebersamaan) yang berciri open-ended sosial (becoming social). Praktik pengalaman ini disebut “practical-affect-emotion-spiral”. Formasi keterkaitan dalam gagasan becoming social, collective feelings, open-ended dan practical-affect ini mengisyaratkan relasi resiprositas antara manusia dan properti sosial elementer dalam komunitas untuk memejalkan collective engagement.

IMG-20161025-WA0023Gagasan ini menemukan bentuknya yang makin memejal untuk menjelaskan aktivitas komunitas dan aspek “social engineering” yang mengaktivasi peran komunitas pada upaya sosial atau yang berkaitan dengan peran-peran civil society, seperti yang ditulis oleh Matteo Bianchin, dalam artikelnya “Reciprocity, Individual and Community: Remarks on Phenomenology, Social Theory and Politics”[5], yang mengusung agenda fenomenologi Husserl sebagai kontribusi yang mendasari teori sosial dan politik pada konteks metodologi.

 


Bacaan lain:
Fenomenologi Korupsi