Social Entrepreneur

Social Entrepreneur

Apa itu?

Mengapa?

Bagaimana?

Social entrepreneur, atau entrepreneur sosial, seringkali menjadi istilah yang membingungkan dan kurang jelas, kadang  mengalami kesalahkaprahan penafsiran. Wajar, karena istilah ‘entrepreneur‘ sendiri seringkali disalahtafsirkan, bahkan seringkali direduksi menjadi ‘wirausaha’ yang sebatas melakukan aktivitas bisnis. Mengacu pada Gregory Dees, tidak semua pelaku atau leader bisnis adalah entrepreneur. Nah lo…

Entrepreneur

Sebelum kita bahas ‘social entrepreneur’, ada baiknya kita pahami dulu ‘entrepreneur’. Kita mulai dari pemahaman yang diberikan Joseph Schumpeter, yang mendeskripsikan ‘entrepreneur’ sebagai inovator, yang mengarahkan ide ‘kreatif-destruktif’ dalam proses kapitalisme menjasi sikap reformis dan revolusionis dalam pola-pola produksi. Di sini, seorang entrepreneur melakukan eksploitasi, penemuan (invention) dan inovasi. Sedangkan Peter Drucker, memfokuskan pada ‘opportunity’ (peluang) pada pengertian entrepreneur. Bagi Drucker, entrepreneur tidak harus menjadi penyebab perubahan, tetapi mengambil peluang dari perubahan itu. Selanjutnya Drucker menyatakan, the entrepreneur always searches for change, responds to it, and exploits it.

Entrepreneur selalu mencari perubahan, meresponsnya dan mengeksploitasinya. Saya  lebih suka menyebutnya “me-utilisasi” perubahan. Di sini, ‘opportunity’ adalah peluang untuk menciptakan nilai (value). Mind-set entrepreneur adalah lebih melihat ‘kemungkinan’ (possibilities)   ketimbang ‘masalah’ dalam menyikapi perubahan sosial yang terjadi. Inilah nilai (value) entrepreneur.

Bagi Drucker, menjalankan bisnis tidaklah cukup untuk menjelaskan gagasan entrepreneur. Katanya, “not every new small business is entrepreneurial or represents entrepreneurship”. Tidak semua bisnis adalah atau merepresentasi entrepreneur. Nah loo… binun ya… 🙂 . So.. entrepreneur itu makhluk apaan? 🙂

Saya mencoba menjembatani pemahaman entrepreneur dari beberapa pemikiran, bahwa entrepreneur(ship) adalah kecakapan kreativitas dalam menciptakan atau menemukan peluang atau kemungkinan manfaat positif dalam setiap perubahan sosial yang terjadi. Entrepreneurs always see possibilities rather than problems created by change. Di sini meliputi inovasi, kreasi dan mindset positive thinking (berpemikiran positif) dengan selalu melihat peluang. Terdapat dinamisasi berpikir positif untuk me-utilisasi setiap kondisi atau perubahan yang terjadi menjadi peluang yang bermanfaat. Dalam situasi jelekpun (dalam pandangan orang lain), seorang entrepreneur selalu melihat celah yang bisa dimanfaatkan di situ. Nah, ini yang tidak mesti dimiliki orang, bahkan oleh seorang pebisnis sekalipun. Terbukti banyak pebisnis yang menyerah pada keadaan sulit.

Seorang entrepreneur selalu melihat ‘celah peluang positif’ dan memanfaatkannya! Dia selalu berpikiran positif ! Gampangnya, jika orang menganggap sesuatu sebagai masalah, seorang entrepreneur selalu menganggapnya sebagai peluang. Pada situasi sejelek apapun, pasti ada yang bisa dimanfaatkan. Contoh kecil, jika perubahan politik terjadi kemudian disusul dollar menguat, kita pasti akan galau dan memaki-maki entah siapa yang dimaki. Entrepreneur (bisa jadi sempat galau sih..) tapi langsung action: misalnya  trading forex, menyeser dollar-dollar kecil tidak apa-apa, yang penting bisa mengambil manfaat dari situasi sulit, daripada ngomel-ngomel ndak jelas yang pasti tidak menghasilkan apa-apa. Jika action di forex (ini hanya contoh) misalnya, ada dua kemungkinan:  dapat keuntungan atau tidak. Lumayan, ada secercah harapan, dibanding yang cuma ngomel, hanya ada satu kemungkinan: gak dapat apa-apa. Ini hanya contoh tentang mindset, untuk menunjukkan mind-set (entrepreneur), yang bisa menyebabkan tindakan positif, karena ia selalu berpikir tentang peluang ! Ingat: mindset menentukan hasil.

Social Entrepeneur

Social entrepreneur, dari beberapa referensi (Say, Dees, Drucker, Schumpeter, dsb), saya lebih cenderung memaknai social entrepreneur sebagai tindakan entrepreneur yang dilakukan dalam basis sosial, yakni meliputi misi dan aktivitas sosial yang dijalankan dalam paradigma entrepreneur, maupun aktivitas usaha ekonomi yang dijalankan dengan misi sosial, yang keduanya dimaksudkan untuk menciptakan nilai (value) kemanfaatan sosial secara terus menerus bagi para pelaku yang terlibat . Lha misi sosial ini bisa dilakukan oleh kalangan korporasi, pegiat sosial atau siapa saja, baik bagi dirinya maupun orang lain. Korporasi yang menjalankan misi sosial melalui social entrepreneurship akan dapat mempertahankan benefit sosial secara berkelanjutan. Aktivitas ini sambil sekaligus berisi edukasi publik pada masyarakat agar mampu menjalankan prinsip-prinsip social entrepreneur. Dan kalangan umum juga dapat ber-entrepreneur (inovatif, positive thinking, efektif, efisien dsb ciri-ciri entrepreneur) dalam aktivitas sosial mereka.

20130615_142752Social entrepreneur mencari metode efektif dalam aktivitas pelayanan misi sosial mereka. Gregory Dees memaknai social entrepreneur sebagai entrepreneur with social mission, dengan menempatkan kriteria yang berupa dampak  yang terkait dengan  misi sosial, bukan kekayaan. Terinspirasi Dees dan Drucker, saya memahami social entrepreneur sebagai usaha untuk valuing social improvement to make benefit for people who cannot afford to pay for resources and market. Maka yang dihasilkan oleh social entrepreneur adalah social value creation, not wealth ! Lhahh… lha untungnya apa? Ntaar.. sabar dulu ya….

Kita runut dulu pemikiran Say yang mengedepankan value creation, Schumpeter dengan innovation and change agents-nya, Drucker yang suka pursuit of opportunity dan Stevenson dengan ide resourcefulness-nya. Lha… dari ide-ide tersebut Dees memaknai social entrepreneur sebagai aksi revolusioner untuk menciptakan dan melanggengkan nilai-nilai kesosialan (social value) dengan pengejaran peluang-peluang yang sesuai dengan misi, melibatkan diri dalam proses inovasi, adaptasi dan pembelajaran yang berkesinambungan dan memiliki keberanian bertindak dalam keterbatasan sumberdaya serta menunjukkan akuntabilitas sosial yang tinggi. Nah… tu.. apaan tu…  🙂

20131124_095906Social entrepreneur ini mengutamakan “social impact” daripada “wealth”, karena ia mengejar a long-term social return on investment and sustaining the impact. Nah, ini untungnya..

Social entrepreneur bisa jadi merupakan aksi lokal, namun memiliki potensi merangsang pembaruan-pembaruan berskala global pada bidang-bidang sosial yang ditentukan misalnya pada bidang pendidikan, pelayanan kesehatan, pemberdayaan ekonomi masyarakat, lingkungan hidup, kesenian, dsb).

Menurut saya, social entrepreneur merupakan operasionalisasi konkret dari social engineering atau rekayasa sosial yang memberdayakan, achieving, sehingga tepat diaplikasikan pada upaya pemberdayaan masyarakat dengan jalinan civil society. Social entrepreneur meretas kebuntuan dan kebekuan sosial serta kegalauan sosial dalam menghadapi perubahan sosial dan perubahan politik.

Masyarakat, siapapun diharapkan akan mampu berperilaku entrepreneur dalam aktivitas sosial mereka, yakni inovatif, kreatif, cakap dan selalu melihat peluang dalam setiap perubahan, selalu berinisiatif, kaya ide-ide baru, ber-positive thinking, berani bertindak termasuk mengambil risiko (taking risk), dan ber-mindset “everything and everytime is opportunity to make everything better. Gampangnya, apapun kondisinya, bisa dijadiin duit ! 🙂 hihi… kasar ya… biariin… yang penting gampang dipahami… hehe.. eh kliru, wkwkwk… 🙂

odik_atasDalam aktivitas dan relasi sosial yang para pelakunya memiliki wawasan entrepreneur, akan dapat menimbulkan econonomical benefit disamping social benefit. Pada kalangan korporasi (yang secara jelas mengejar economical benefit) yang mengaplikasikan social entrepreneur akan mengalami penguatan misi korporasi secara berkelanjutan. Social entrepreneur mengutamakan orientasi misi sosial, sehingga lebih mampu bertahan karena berjalin dan mengakar secara sosial.

Lha.. dalam praktik ada beberapa model social entrepreneur. Diantaranya yang bisa saya temui dan catat adalah:

Model pertama, punya usaha ekonomi produktif, dengan menjalankan misi sosial dalam usaha ekonominya itu (bukan ‘sambil menjalan misi sosial’ ya.. beda). Contohnya, seperti yang dilakukan Ibu Tatik Winarti, pengusaha tekstil bernama “Tiara”, yang beralamat di jalan Sidosermo Indah II/ 5 Surabaya. Bu Tatik menggunakan seluruh tenaga kerja dalam industrinya dari kalangan diffabel (penyandang cacat). Dia tidak menerima karyawan orang-orang non-diffabel (yang dalam bahasa awam disebut “orang normal”, tidak cacat). Bu Tatik ini menjalankan misi sosial dalam usaha ekonominya. Dia tidak sekedar ‘menolong orang cacat’ (ini disebut “sambil menjalankan misi sosial”), tetapi memberdayakan. Dengan menjadi pekerja terampil di sektor industri, para difabel tampil tidak berbeda dari orang-orang lain yang tidak cacat. Para difabel ini lebih memiliki percaya diri dan tidak merasa sebagai “orang yang kurang”. Lingkungan kerjanya pun (dimotori oleh pemilik usaha) tidak memperlakukan orang-orang difabel seperti orang yang patut dikasihani. Biasa saja. Dan orang-orang difabel ini merasa tersinggung jika dilihat dengan pandang mata kasihan. Tidak ada perbedaan dari produktivitas para difabel ini, terbukti hasil mereka sama bahkan lebih baik daripada hasil karya orang non-cacat. Dan para pembeli produk Tiara ini, menurut penuturan owner, Bu Tatik, membeli produknya bukan karena faktor kasihan, tetapi memang melihat kualitas. Produk Tiara diklaim ownernya awet sehingga disukai oleh para pembelinya. Dia berharap para pembelinya akan mereferensi orang lain untuk membeli produk Tiara. Nahh.. minat beli ? Silakan langsung cekidot ke TKP yaa….. 🙂 Nah kan.. bu Tatik dapat promosi gratis dari saya, dan saya pun tidak mendapat imbalan lho dari bu Tatik atas penjualan produknya karena orang membaca tulisan saya ini… Dan jika suatu saat saya tiba-tiba mendapat rejeki dari sektor lain terkait dengan tulisan ini, ini namanya “berkah”. Bisa dikata saya juga sedang menjalankan social entrepreneur. Saya melakukan misi sosial, dengan menulis artikel ini, memuat informasi tentang Tiara dan ternyata produknya disukai orang (karena membaca tulisan ini) dan tidak ada tujuan bisnis, tapi artikel saya menjadi banyak yang suka, kemudian saya mendapat berkah dari yang lain misalnya berupa pendapatan dari iklan online (manfaat ekonomi). Ini juga sosial entrepreneur. Menulis di sosmed juga bisa menjadi sosial entrepreneur. Facebook misalnya, kan mencari teman tu di situ, bikin status, komen, dst.. punya banyak jaringan pertemanan (aktivitas sosial), kemudian sambil mencari manfaat ekonomi di situ, misalnya membuat fanpage yang dijadikan lapak jualan. Dan dari lapak tersebut terjalin relasi sosial, yang nantinya keduanya berjalinan saling menguatkan. Kemudian, aktivitas bisnis secara online ini melibatkan karyawan difabel seperti yang dilakukan bu Tatik tadi, ya bagus. Kan kalau online kan ndak perlu kaki, kenapa tidak mengambil orang difabel yang cacat kaki misalnya. Lha yang membungkus (wrapping), packing barang para difabel pasti bisa melakukan dengan baik, bahkan mungkin lebih baik. Social media entrepreneur ini saya sebut sebagai social entrepreneur model kedua.

IMG_7109Model ketiga, aktivitas ekonomi yang dibangun di atas pelibatan komunitas sosial. Contohnya, industri pengolahan hasil pertanian yang dilakukan secara kemitraan dengan petani baik petani pemilik lahan maupun petani penggarap. Model ini dilakukan oleh  Aaron (warga Amerika Serikat) yang membuat pabrik mete di desa Karangasem, Bali dengan menggunakan tenaga kerja masyarakat lokal di areal lahan mete seluas 60.000 ha. Pekerja lokal yang mayoritas perempuan itu merupakan penduduk lokal yang berlokasi terisolir. Sebelum ada pabrik, masyarakat lokal menjual hasil mete sebagai bahan mentah, penjualan hingga ekspor ke Vietnam. Karena ekspor bahan mentah maka harganya murah. ternyata mete Bali ini kualitasnya terbagus di dunia, namun karena tercampur dengan aneka mete lain di Vietnam, maka kualitas mete Bali terbenam. Dengan adanya pabrik milik Aaron ini, yakni “East Bali Cashews”, kualitas mete Bali sudah dikenal di pasaran internasional. Di Jawa Timur ada model kemitraan dengan petani lokal dalam komoditas agrobis yakni Kaliandra di Pandaan dan Agrobis Tamandayu, Pandaan.

20131027_101749Model keempat, full aktivitas sosial berupa kegiatan pendampingan komunitas sosial. Ini seperti layaknya aktivitas pegiat LSM di Indonesia. Model ini paling berat dijalankan kecuali oleh orang yang benar-benar memiliki passion sosial dan tidak dipermasalahkan oleh lingkungan terdekatnya misalnya keluarga. Ini dikarenakan ya tidak jelas profitnya. Aktivitas sosial memang tidak mencari profit (keuntungan materiil/ finansial), namun komunitas dan sistem sosial yang terbangun dapat bernilai ekonomi. Sebentaar.. jangan ngeres dulu… misalnya dituduh “menjual atau mengkomersialkan komunitas sosial”.  Tapi monetizing yang terjadi dalam konteks ini digunakan untuk menghidupkan komunitas. Ini memang agak rumit dijelaskan. Lebih baik nyebur langsung di komunitas sungai Brantas di Surabaya aja. Yuk kita nemuin Mas Prigi, aktivis sungai Brantas… eh.  :). Dia ini pegiat sosial yang secara tidak disadari “bergelar” social entrepreneur model keempat. Selama 20 tahun mas Prigi yang sarjana ilmu biologi ini beraksi menyelamatkan air sungai Brantas dari pencemaran. Dia melakukan pendampingan dan penyadaran komunitas pada warga sekitar sungai sehingga menjadi mini civil society yang sadar lingkungan, sadar sungai. Mungkin jika bukan mas Prigi akan susah menjalani hidup seperti ini. Mungkin dari sononya mas Prigi ini. Kalau dilihat dari namanya aja “Prigi” (perigi) artinya “sumber air” atau “sumur”. Nah lo…. 🙂

IMG_7107Masih banyak model lain… Dan penjelasan lebih dalam lagi tunggu buku saya “Social Entrepreneur: Mindset Produktivitas Dalam Keterbatasan dan Perubahan Sosial” rampung ya… Disamping teoritik -tentu saja-, dengan balutan konsep-konsep rekayasa sosial (social engineering), perubahan sosial (social change) dan perubahan mindset (mindset changing) juga memuat banyak contoh praktik social entrepreneur dari yang sederhana dan kasat mata hingga yang “rumit” dan “tidak kasat mata”. “Social entrepreneur is soft power to make a better life without leaving social wealth andsense of humanity”, kata WK. ***

A simple question is…

How do we start a social entrepreneur?

How we build spirit of social entrepreneur?

Social entrepreneur and it’s spirit, started from personality with compatible human factors.

First things first is….

Ensure your mindset of entrepreneur enabled. Check it. Change your mindset!

 

TIPS MEMAHAMI ISI BUKU TEKS DENGAN EFEKTIF DAN LEBIH MUDAH!

 

Leave a Comment

CAPTCHA Image

*