Beranda

 

Selamat Datang di blog WK

Blog ini tidak menjanjikan apa-apa, kecuali wkwk aja… hahaha…. eh, wkwkwkwk….

Blog ini berisi pandangan saya, pikiran saya, apa-apa yang saya pelajari, bicarakan dan perbuat. Ya pertama untuk pengarsipan atau sejenis dokumentasi elektronik biar ndak hilang. Kemudian dari pada itu, sekalian untuk bahan sharing aja.. barangkali ada manfaatnya, setidaknya untuk saya sendiri. Dan khususnya untuk mahasiswa saya. Ya. Konten blog ini saya dedikasikan untuk mahasiswa saya, makhluk yang sedang berkembang. Yang mengaku sedang galau… wkwk… #temen tah rek… πŸ˜€ Paling galaumu nek menjelang akhir bulan thok.. Yo gak…. ? πŸ˜€ Lha wong mahasiswa iku makhluk paling berbahagia sedunia… wkwk.. πŸ˜€

Lha wong dunia akademik itu kan membahagiakan to… meskipun bagi sebagian orang cukup menjemukan, bahkan menakutkan wkwkwk…. πŸ˜€

Mahasiswa pun sekiranya terjebak dalam pemikiran yang sesat bahwa dunia akademik malah membuatnya pusing, sejatinya ia belum menemukan kasunyatan dalam hakikat ilmu dan ngelmu.. wkwkwk..


Makanya, sejak awal blog ini saya beri nama “wkwk”…. Supaya pembaca (khususnya mahasiswa) ikut-ikutan ber-wkwk juga…. Yaa.. karena pemilik blog ini, Wawan Kuswandoro, di kampus dipanggil “WK”. Ini juga karena ulah sebagian mahasiswa. Saya menafsir, mereka menamai saya demikian karena sedang terdorong oleh kecintaan mereka pada saya.. wkwkwk…. (GR rapopo to… :D) Yang pasti, saya mencintai kalian semua rek, para mahasiswa, para pembelajar sejati.. πŸ˜€

Rek, “pembelajar sejati” iku ndak sebatas pada kuliah methentheng, moco buku nggethu.. trus mari ngunu lali ndak membekas blas begitu nilai keluar… Bukan itu rek.. ndak sebatas itu. Itu yo boleh aja, tapi yang jauh lebih penting adalah kemauan untuk mempelajari realitas sosial, yo pake teori sing bendino mbok parani nang kelas ikuΒ  (ontologi), memaknainya, memahami asal-usulnya sekaligus belajar darinya (epistemologi) dan ngefek ke perilaku kita (aksiologi), sehingga setiap hari ada perubahan signifikan walaupun sedikit (jare wak kiai, walau sebesar zarrah.. Eh, zarrah iku opo rek… wkwkwk… :D)Β Yooawakmu dadi mahasiwa ndak harus pinter pinter amat sih… cuma mau belajar. Gitu aja. Belajar dari keseharianmu. Lha keseharianmu iku opo

Keseharianmu adalah dirimu. You are what you do. Wis… miliho takdirmu dhewe.. wkwkwk…. Create your own future !

Karena, yang penting, adalah apa yang dilakukan (menjadi pengalaman). Setiap pengalaman itu adalah pembelajaran (pendidikan). Lha… iki jenenge ilmu yang bermanfaat… Insya Allah… wkwk. Kuliahmu sing (kudu lulus) 4 tahun iku ono gunane. Wong tuwamu mbandani yo ndak rugi.. wkwk…. πŸ™‚

Jadi itu ya… syarat belajar-nya.. uborampe-nya… πŸ˜€ Sebagai setting-an belajar. Supaya dirimu bisa ‘menjadi’. Menjadi apa? Dadi opo? Embuh. Dadi guyon be’e… wkwkwk… Iku lho… sing maeng iku lho, “You are what yo do” iku lho rek... Atene dadi opo sak karepmu. Aku cuma mbukakno dalan, menunjukkan jalan. Awakmu dhewe sing mlebu dan berbuat. ngunu yo… Deal..?

wis.. pokoke ai lop yu pul wis…..

Dan.. sebagai sebuah sajian untuk mbarengi awakmu mlaku… blog ini isinya ya sebetulnya serius… tapi kalau dianggap guyonan ya ndak apa-apa.. wkwkwk…. Bukankah hidup ini, dunia ini mung mampir guyon.. wkwkwk…. πŸ˜›

Kapan-kapan saya ajak anda ngobrol kenapa kita kok harus guyon, ketawa, wkwkwk, senyum…. wkwkwk…. πŸ˜€

Blog ini muncul dengan wajah begini hanya karena sayaΒ tidak ingin menambah daftar panjang kejenuhan khususnya mahasiswa, terhadap dunia akademik, yang masih dipersepsi “menyiksa”, berisi ritual rutin kuliah, tanpa menyadari “bagaimana ia sedang berproses menjadi dewasa” secara nyaman di lingkungan bertradisi ilmiah. Lha… aktivitas kuliah kan sebenarnya begitu rek… Tradisi ilmiahnya iku lho rek… yang bikin hebat, namun kadang kurang disadari. Alhasil, mahasiswa kadang terjebak (menjebakkan diri?) pada pemikiran untuk buru-buru menyelesaikan kuliah dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, menghabiskan teori kayak kejar tayang, bercita-cita luhur mendapat nilai maksimal (maunya… πŸ˜€ ) dan lulus. Sudah. Setelah lulus, embuh… wkwkwk…. Atau, kejenuhan mahasiswa terhadap agenda dan tulisan-tulisan akademik.. wkwk… πŸ˜€ Aaahh… hidupmu sungguh kering jika cuma menghabiskan waktu sedemikian, yang tanpa makna… wkwk… Okay, ndak apa-apa. Tapi, apa yang dilakukan agar pembelajaran menjadi efektif, sehingga ndak rugi buang waktu, umur dan duit.. πŸ˜€Β Opo hasilmu belajar 4 tahun? Ya memang cuma dapet 1 lembar ijazah itu doank.. wkwk.. Opo maneh. Tapi.. Kemampuan dasarmu untuk menangkap gejala sosial, memaknai realitas sosial dan mengendus peluang itu yang mahal reek.

Artikel-artikel di sini, dipersiapkan untuk mbarengi perjalanan singkatmu selama proses pembelajaran dan pendewasaan di kampus candradimuka Prabu Brawijaya ini, walaupun cuma secuil. Dan dengan segala keterbatasanku, tentu saja..Β  Sebagiannya memang merupakan refleksi pemikiran dan tindakan saya dalam kehidupan sosial yang terkadang menggalaukan ini… wkwk…. πŸ˜›

Yah, itulah realitas sosial. Unik, tidak linier, unpredictable, penuh perubahan sosial, dinamis, cepat, karenanya, mengasyikkan. Di arena inilah kita hidup. So, bagaimana kita bisa survive dan menjadi pemenang, bukan pecundang, dalam arena dan habitus yang sedemikian? Itulah gunanya belajar ilmu sosial. Minimal, menjadikan kita, ora kagetan (tidak mudah terkejut), ora gumunan (tidak mudah tertegun-tegun) terhadap realitas sosial. Sehingga memudahkan kita menjadi pemenang.

How to be a winner with social science?

Kira-kira itulah misi blog ini… wkwk…. Eh, social science itu termasuk juga ilmu politik, political science lho rek…. jolali..

Bagaimana anda menerjemahkan dalam kehidupan sosial keseharian…. yo terserah. Tiap orang punya keunikan dan habitus yang berbeda-beda satu sama lain. Tafsirmu pada duniamu (life-world)-mu adalah subjektivitasmu. Orang lain juga demikian. Pembelajar ilmu sosial (juga ilmu politik) musti menyadari bahwa subjektivitas dan kebenaran itu relatif. Insan sosial, insan politik, hanya memiliki kebenaran nisbi, relatif. Yang mutlak hanyalah The Ultima Reality, The Supreme, The True Source. Yang bikin kacau itu kan muncul tafsir “benere dhewe” dan dipaksakan kepada orang lain.

Pembelajar ilmu sosial itu, disamping menjadi paham sosial (termasuk politik), juga belajar untuk menjadi arif secara sosial.Β  Termasuk di dalamnya adalah, mampu memahami dan menguasai serta mengendalikan lingkungan sosialnya. Juga, menjadi makhluk penyabar, tidak terburu-buru menyimpulkan (apalagi jika data ndak memadai). Nah. Lapangan, dunia sosial, itu tempat ilmu. Kita tinggal memaknainya, dengan berbekal ilmu yang kita dapat dari kampus, untuk kita gunakan menyempurnakan ilmu setelah turun gunung.. wkwkwk…. πŸ™‚

Selebihnya….. terserah awakmu rek…

Perkoro awakmu (setelah lulus) ate dadi politikus, aktivis partai, birokrat, pegawai biasa, aktivis LSM, pengamat politik, analis politik, jurnalis, tukang bikin survey (pollster), tukang ikut survey, anggota DPR, KPU, KPK, KPI, bupati, walikota, kepala desa, ketua RT, wirausaha politik, makelar, pengacara (pengangguran intelektual banyak acara.. wkwkw.. rapopo.. sing penting duite akeh…. :D) dll, sesuai dengan kompetensimu, sak karepmu… tapi sing penting, ketajaman sosial-mu jolali yo rek... , karena itu bisa menyelamatkanmu… πŸ˜€ Untuk kebaikanmu, keluargamu, bangsamu.. πŸ˜€

Dan, keterampilan memaknai peristiwa dan realitas sosial menjadi sangat penting. Di situlah kita belajar menemukan kebenaran. Dan belajar menjadi manusia pembelajar kearifan. Menjadi manusia benar.

Ya.. sekarang ini kita kan masih berproses to reeek… maka, nikmatilah proses ini….

………hingga, somedays, temukan dirimu telah ‘menjadi.

Salaam,

WK

Β 

Leave a Comment

CAPTCHA Image

*